Hari masih pagi. Beberapa
perempuan di rumah kami sudah berkumpul di halaman belakang -yang disulap
menjadi sebuah ruang darurat untuk masak. Mereka duduk melingkar. Para
perempaun itu sibuk mencampur ketan dan beras. Beberapa perempuan tampak
saling berbisik. Sudah pasti membicarakan keanehan resep kue ibu pagi
itu.
"Mau jadi apa
ketan dan beras dicampur. Saya belum pernah buat kue dengan adonan seperti
ini," celutuk seorang perempuan, ketus.
"Iya, ya. Adonan lemper bukan! Dodol bukan! Nogosari bukan juga!,"
sambut perempuan lainnya yang bersuara berat.
"Kita lihat saja nanti. Siapa tahu kita dapat resep kue yang baru,
kan bisa dijual," kata seorang perempuan, yang suaranya aku yakin
pernah kudengar di pasar kue di mall Palembang Indah.
"Tapi ini aneh! Selama saya membantu di beberapa rumah, saya baru
sekali ini menemukan adonan kue ketan dengan beras," perempuan
yang pertama menegaskan kebingungannya.
"Saya juga begitu, lho. Jangan-jangan..." perempuan lain berbisik
agak curiga.
"Sssst, jangan berprasangka buruk dulu. Kita ikuti dulu permintaan
ibu. Nanti kan juga ketahuan," perempuan pedagang kue di Palembang
Indah menenangkan.
"Tapi, saya akan larang suami saya datang kesini. Saya takut kalau
suami saya nanti kena keracunan," komentar perempuan bersuara berat.
"Bukan! Ini bukan soal keracunan. Tapi boleh jadi, ibu sedang merencanakan
sesuatu terhadap warga di sini," seorang perempuan baru nimbrung,
" sebentar lagi kan akan ada pilihan lurah secara langsung. Siapa
tahu, ibu akan..."
"Ssssst, ibu datang," desis si perempuan berbisik yang curiga
tadi.
Para perempuan itu
pun menghentikan obrolan -sambil bersikut-sikutan karena ibuku, si penggagas
format beras dan ketan, sudah di belakang mereka.
"Bagaimana ibu-ibu
semua?," ibuku membuka pembicaraan, sepertinya menangkap gelagat
kekakuan kerumunan koleganya. Para perempuan itu masih tampak kikuk.
Mereka senyum, tapi terpaksa, sebatas untuk membuang sangkaan buruk.
"Kalau sudah selesai, beras ini nanti langsung dicuci, dan dicampur
dengan gula merah, santan dan sedikit pandan untuk pewangi. Dan saya
minta tolong ibu yang mengatur segala sesuatunya."
"Beres bu," balas suara pedagang kue Palembang Indah, yang
rupanya ditunjuk ibu jadi koordinator perlaksana.
Tapi perempuan pedagang
kue Palembang Indah malah jadi makin kikuk. Sebab dia sendiri juga masih
bingung dengan resep kue ibu hari itu.
"Nah, untung
bukan saya yang disuruh. Kalau saya, waaah bisa berabe," tukas
perempuan yang baru saja nimbrung.
"Aduh, ibu, saya juga masih bingung kok!"
**
Menjelang siang,
mereka yang membantu di rumah sudah mengumpulkan puluhan kelapa, katanya,
untuk santan adonan ketan dan biasa. Ibu kemudian menyuruhku, yang tadinya
cuma pendengar dari ruang tamu, untuk mengambil parang dan baskom untuk
menampung air kelapa.
"Bu, kenapa
santannya tidak langsung beli saja di supermarket. Kan ada santan yang
sudah dikemas. Tinggal beli, jadi tidak perlu repot-repot seperti ini,"
protesku karena tidak mau kehilangan kesempatan memonitor para perempuan
yang membantu ibu.
"Nak, kalau kita beli santan di supermarket, kita tidak bisa berbagi
rejeki dengan penjual kelapa di kampung ini. Lagi pula, kalau kita beli
di supermarket, sama saja kita sedang menimbun gunung. Sebab yang punya
toko besar itu bukan orang yang sembarangan, tapi pasti orang yang duitnya
sudah menggunung, bukan orang seperti penjual kelapa. Nah, kalau kita
masih diberi kesempatan untuk membantu orang seperti penjual kelapa,
kenapa harus kita sia-siakan?" jelas ibu sambil tersenyum.
Aku tercenung sesaat
dengan ucapan ibu yang filosofis.
Benar juga kata ibu.
Batinku membenarkan. Aku jadi ingat dengan nasib salah satu pedagang
sikat sabut kelapa yang kini harus menjadi penarik becak, setelah orang-orang
memilih membeli sikat produksi pabrik yang terbuat dari plastik. Padahal,
kalau mau hitung-hitungan untung rugi, sikat sabut buatan tukang becak
itu lebih awet dibanding dengan sikat plastik buatan pabrik.
Tentu saja, karena
prinsipnya dengan pabrik berbeda. Pabrik berprinsip, hari ini terjual,
besok pagi kalau bisa sudah rusak dan orang beli lagi. Sementara pedagang
sikat sabut kelapa, berprinsip hari ini terjual satu, besok atau lusa
harus terjual lebih dari satu, kalau perlu orang bersedia membantu menjual
melalui warungnya.
Pembuat gasing di belakang
rumahku juga tak jauh beda nasbinya. Sejak tahun 80-an dia membuat gasing
kelas wahid, begitulah tinjauan kami, para pembelinya. Kepiawaian gasingnya
bukan hanya di kalangan anak-anak kampung kami saja, tapi menyebar sampai
ke para pedagang suvenir. Dalam satu hari, pembuat gasing yang handal
itu bisa meraup untung 50-100 ribu.
Tapi sejak televisi
banyak menampilkan film-film tembak-tembakan, para orang tua lebih suka
mengenalkan anak-anak dengan pistol-pistolan plastik buatan pabrik,
dari pada gasing. Kini, mantan pembuat gasing itu banting tulang menjadi
buruh bangunan, mengasarkan dan melambankan jari-jarinya yang suatu
saat pernah amat gesit dan dinamis untuk membuat gasing. Aku yakin jari-jarinya
tak akan mampu lagi membuat gasing; hancur sudah jari jemarinya, gerakannya,
dan sentuhannya disikat bata merah, semen kering, dan gagang sekop.
Jadi segera aku ambil
parang dan mulai bekerja mengupas kelapa sambil membayangkan senyum
pedagang kelapa bisa bertahan lebih lama atau bahkan selama-lamannya.
***
Lepas dluhur, adonan
sudah hampir rampung. Ibu mulai meramu bumbu dan racikan khusus untuk
kue istimewa hari itu. Sementara, perempuan pedagang kue Palembang Indah
yang diberi mandat untuk memimpin perempuan lainnya sudah ada di hadapan
Ibu. Sekalipun koordinatornya adalah pedagang kue yang handal, namun
kali ini ia hanya mengikuti saja petunjuk ibu. Karena, bagi perempuan
pedagang kue Palembang Indah itu, ramuan dan adonan ketan dan beras
masih asing. Sampai sore itu, bentuk dan jenis kue yang akan dibuat
belum juga terjawab. Kontan saja masih ada yang iseng.
"Ibu, boleh
saya bertanya?" tanya seorang perempuan yang baru lagi, namun bukan
perempuan baru yang tadi karena suara perempuan baru ini terdengar terpelajar..
Ibu hanya tersenyum, lalu mempersilakan.
"Tapi maaf, lho, bu... Sebenarnya, adonan yang seperti ini akan
dijadikan kue macam apa? Saya ini masih bingung?," lanjut perempuan
terpelajar.
";Saya akan buat kejutan di kampung ini. Ini sajian istimewa, dan
akan diperuntukkan kepada orang-orang yang istimewa pula," jawab
ibu tegas.
Para perempuan itu
kembali saling pandang. Perempuan terpelajar tak berani lagi mendesak
karena kuatir ibu tersinggung. Masing-masing mulai menebak-nebak.
"Apa ini resep
dari Devi, anak ibu yang kuliah di jurusan tata boga?," gumam perempuan
terpelajar tadi dengan nada yang kurang menekan.
"Atau dari buku resep kiriman keponakan ibu yang jadi pelaut itu,"
tanya perempuan bersuara berat.
"Hushh, di luar negeri mana ada ketan ," komentar perempuan
berbisik.
"Lho jangan salah, tempe saja sudah banyak dijual di luar negeri,
jadi makanan mewah lagi," kata perempuan terpelajar.
"Sudah jangan bertengkar, tunggu saja nanti jadinya seperti apa,"
celutuk perempuan ketus, yang sudah lama tak bersuara.
Masih banyak pertanyaan
yang muncul, tapi aku sudah kurang tertarik berhubung perempuan-perempuan
itu, menurutku, sudah kurang kritis karena makin cenderung menerima
eksistensi eksperimen ibu. Jadi aku pun mulai melaksanakan instruksi
ibu selanjutnya; mengatur puluhan undangan yang harus diantar untuk
menyambut format beras dan ketan.
Karena ibu dibantu
beberapa perempuan, aku tak mau kalah pula dengan memanggil para laki-laki
di kampungku. Bedanya para lelaki di kampungku memang tak se-kritis
para perempuan yang membantu ibu di dapur. Apalagi setelah disodorkan
kopi dan rokok, sama sekali tak ada tantangan atau pertanyaan halus
sekalipun yang harus kuhadapi dari para laki-laki itu, walaupun aku
sendiri sebenarnya tertanya-tanya karena daftar nama undangan adalah
daftar nama yang sering disebut-sebut oleh koran, radio, dan TV . Daftar
nama undangan ibu persis sama dengan daftar lengkap nama caleg ketika
kampanye pemilihan parlemen dulu. Lengkap dari 24 partai.
Aku pun terburu-buru
mencari ibu.
"Bu, yang diundang
itu semua caleg, ya?!"
"Ya."
"Tapi yang ibu undang itu caleg-caleg yang gagal terpilih jadi
anggota Dewan!"
"Justru itu," jawab ibu memutus pertanyaanku.
Aku makin penasaran.
Ibu kemudian menyodorkan beberapa kliping koran. Ada sederet nama caleg
yang tidak jadi anggota Dewan. Kubaca dari kulit ke kulit. Ada ragam
berita dan kenyataan konyol yang menimpa para caleg gagal itu.
Salah seorang jadi
setengah sinting karena hampir separo hartanya terkuras untuk proses
pencalegan. Gagal jadi angggota parlemen, kini setiap pagi dia keliling
sawah mengenakan jas lengkap di atas tapi bercelana pendek. Dasinya
besar, bergambar Gedung parlemen. Di sawah, dia menjumpai setiap petani,
dan mencatat semua keluhan mereka, persis seperti anggota parlemen yang
sedang turba untuk langsung berdialog dengan konstituennya.
Ada juga yang sinting
total dan sempat masuk rumah sakit jiwa Palembang. Awalnya depresi karena
hartanya ludes total. Kebun kopi yang menjadi andalan nafkahnya terjual
untuk biaya kampaye. Keluar dari rumah sakit dia selalu berdasi, tapi
tak pakai baju. Setiap pagi, pria berdasi tanpa baju ini membawa map
hitam, lalu mencegat setiap orang yang berlalu di depan rumahnya. Aku
ingat sempat jadi sasarannya, dan baru dari arsip klipin koran ibu aku
tahu kalau dia mantan juragan kopi yang gagal jadi anggota parlemen.
Waktu itu juragan kopi
itu masih juga berkampanye walau penghitungan suara sudah disahkan KPU.
"Jangan lupa nanti pilih saya. Kalau saya di DPRD dapat proyek,
nanti kamu juga dapat bagian" begitulah salah satu pesan kampanyenya
yang kukenang. Isteri Karisun dilaporkan hanya bisa menangis, sampai
hampir setengah sinting juga. Dan tak ada yang bisa mereka lakukan karena
biaya perawatan di rumah sakit jiwa tak terjangkau lagi. Harta sudah
ludes.
Masih banyak lagi kisah
konyol dan unik para caleg gagal. Hampir semua beritanya dikliping Ibu.
Dan besok mereka akan dihadirkan di rumahku, dengan resep beras dan
ketan lagi.. Heran, kenapa ibu mengundang mereka?! Aku masih penasaran.
***
Hari peluncuran beras
dan ketanpun tiba. Para undangan mulai berdatangan. Para perempuan yang
mengolah kue tak lagi bertanya-tanya tentang kue apa yang akan dibuat.
Para laki-laki yang membantu persiapan undangan kembali menikmati kopi
dan rokok gratis. Semua sudah digelar dihadapan undangan. Yang aneh,
tak seorang pun warga non-caleg gagal maupun non-pembantu yang diundang.
Tak ada ageda basa-basi
selain datang, -makan, dan pulang. Dengan masing-masing karakter penampilannya,
para tamu awal tiba. Ada yang pakai celana panjang hitam, dasi merah,
tapi hanya dengan kaos oblong putih. Ada yang mengendarai sepeda motor,
dengan poster nama serta partainya di bagian depan dan belakang motornya,
layaknya orang berkampaye. Undangan berikut langsung menyebarkan potongan
daun, katanya, kartu namanya. Dengan ulah dan gaya para undangan yang
unik dan konyol itu, para perempuan di pintu dapur dan para penonton
di luar pagar rumah tertawa terbahak-bahak. Hanya para lelaki di ruang
tamu yang tetap tenang, menikmati kopi dan rokok gratisnya.
"bu, kok rumah
ini jadi seperti RSJ. Mengumpulkan orang-orang yang kurang waras,"
celetuk perempuan terpelajar.
Ibu hanya tersenyum.
Di tengah riuhnya gelak
tawa itu, salah seorang caleg gagal, yang pakai jas dan celana pendek,
mengamati kue dengan serius, lalu berkata dengan serius pula, seserius
anggota DPR yang sedang turba.
"Ibu, kue ini
bisa menjadi komoditi ekspor non migas. Ini bisa menambah pendapatan
asli daerah kita. Nantilah, kalau saya sudah resmi dilantik jadi anggota
Dewan, kue ini akan kita tawarkan ke pihak asing. Tapi kalau boleh tahu,
kue ini terbuat dari apa, Bu?"
Semua orang menunggu
jawaban ibu, dan walau sadar kalau yang dihadapi adalah orang setengah
waras, ibu tetap menjawab serius caleg berjas dan bercelana pendek itu.
"Kue ini terbuat
dari dua jenis adonan. Setengah beras, setengah lagi ketan."
"Ssetengah beras, setengah ketan. Kok seperti parikan jawa yang
artinya, setengah waras, setengah edan", kta caleg yang berjas
dan bercelana pendek itu, tanpa beban. Lalu ia masukkan cuilan kue yang
sedari tadi ditangannya.
"Iya ya seperti puisi, setengah beras setengah edan," komentar
caleg bersepeda motor kampanye.
"Harus disosialisakian kepada masyrakat sipil lain," sambut
caleg berdasi dan beroblong.
"Kita perjuangkan menjadi peraturan daerah," sambung caleg
berbaju safari dengan celana batik.
Para perempuan tertawa
gelak, para penonton di luar pagar terbahak, sedang kerumunan lelaki
yang membantu undangan cuma berdesis tersenyum.
Tapi puluhan caleg
gagal dari 24 partai itu tidak perduli pada komentar orang, sama seperti
tidak perdulinya pada nasib orang ketika mereka berkampanye. Para caleg
tak sadar kalau aksi serius mereka justru jadi bahan tertawaan. Cilakanya
mereka tetap serius makan kue beras dan ketan sambil membahas pro dan
kontra untuk mengaturnya dalam peraturan daerah. Beberapa aku lihat
malah mulai kasak-kusuk menyusun koalisi beras dan ketan; waras dan
edan.
Dan tawa kami semua
semakin ramai, termasuk para lelaki yang mulai kehabisan kopi dan rokok.
Esok paginya, Ibu
menyuruhku membuang sisa kue berformat beras dan ketan itu ke kandang
kambing. Sambil berjalan ke kandang kambing aku merenung; bagaimana
kalau aku usul agar ibu mengundang para capres. Tapi kira-kira apa resep
ibu? Beras murni, ketan murni, atau ada yang lain?
***
Desa Telatang-Lahat
Sumsel, 11 Mei 2004