Anak penjual koran
dengan mengepit seberkas tebal surat kabar yang baru dicetak, sambil
berteriak : "Kabar terakhir," mengejarnya dengan cepat di
suatu simpanan jalan.
"Tak usah uang
kembali," kata Yury. Anak itu mencabut selembar dari tumpukannya,
menyodokkannya ke tangan Yury, lantas lenyap dalam badai salju.
Yury berhenti di bawah
lampu lorong untuk membaca judul-judul. Koran itu koran ekstra yang
terakhir, tercetak hanya pada halaman sebelah: beritanya ialah pemberitaan
resmi dari Petesburg bahwa sudah dibentuk suatu Dean Komisaris Rakyat
Soviet, dan bahwa kekuasaan Soviet serta Diktator Proletariat sudah
didirikan di Rusia. Menyusul dekrit-dekrit pertama pemerintahan baru
dan pelbagai kabar singkat yang diterima dengan telegram ataupun telepon.
Badai memecut mata
Yury dan menutup halaman tercetak itu dengan bubur salju abu-abu yang
berkerisik, tapi bukanlah badai salju menghalangi Yury membaca. Ia terharu
dan tercengkam oleh keagungan jaman dan berpikir betapa pentingnya itu
untuk abad-abad yang akan datang.
Lantaran ia mesti
terus membaca juga, ia memandang keliling, mencari tempat yang lebih
terang dan lebih terlindung. Ia berdiri sekali lagi di persimpangan
Jalan Perak dan Jalan Sunyi yang angker itu, di depan sebuah gedung
tinggi berloteng lima, dengan pintu berlapis kaca dan serambi depan
yang luas lagi benderang.
Ia masuk, berdiri
di bawah cahaya dari plafon dan membaca berita.
Langkah orang berbunyi
diatasnya. Dia turun pelan-pelan sampai separuh tangga, berhenti seolah
bimbang, lalu berpaling dan lari lagi ke bordes loteng pertama. Ada
pintu dibuka dan dua suara mengalun ke luar, memar oleh gema, hingga
tak dapat ditentukan apakah yang bicara itu laki-laki atau perempuan.
Pintu lantas terbanting dan langkah orang tadipun turun, kali ini tegap.
Yury tekun membaca
koran dan tak bermaksud mendongak tapi orang tak dikenal itu sekonyong-konyong
berhenti di kaki tangga, hingga iapun menegakkan kepala.
Di depannya berdirilah
anak muda yang umurnya kira-kira delapan belas tahun, pakai peci dari
kulit kijang serta jas kaku dari kulit kijang seeprti yang dipakai di
Siberia, bulu-bulunya di sebelah luar. Rambutnya hitam dan matanya Kirghis
yang sipit. Raut mukanya bercorak kebangsawanan, berseri sepintas lintas
dengan kelembutan bersipu-sipu yang mengesankan kesunyian, seperti kadang-kadang
terjumpa pada orang yang asalnya campuran berganda.
Pemuda itu rupanya
menyangka Yury orang lain. Ia memandang padanya dengan malu dan ragu-rahu
seakan kenal tapi tak bertetap hati untuk bicara. Untuk mengakhiri kesalah-pahaman,
Yury mengukurnya dengan pandangan dingin yang megecilkan hati.
Beberapa menit kemudian
Yurypun pergi. Pikirannya dipenuhi oleh berita tadi, dia lupakan tak
hanya si pemudah tapi juga rencana yang tadi hendak dikunjunginya, lantas
baliklah ia langsung ke rumah. Tapi di tengah jalan di disasarkan pula
oleh kejadian lainnya: itulah salah satu soal kecil dalam penghidupan
sehari-hari yang di jaman itu menjadi penting, sungguhpun tak pada tempatnya.
Tak jauh dari rumahnya
ia tersandung dalam gelap pada setumpukan papan. Di jalan itu ada sesuatu
lembaga pemerintahan dan papan itu yang nampaknya dirombak dari rumah
kayu di sekitar kota, tentunya disediakan sebagai bahan bakar untuk
lembaga itu. Tak seluruhnya
dapat masuk ke pekarangan, maka sisanya ditinggal di trototar. Seorang
pengawal bertugas pada bukit balok ini, ia mundar-mandir di perkarangan,
sesekali menegok ke luar pekarangan.
Tanpa berpikir dua
kali, Yury menggunakan saat ketika si pengawal berpaling dan angin melambungkan
sekelompok salju, ia mengendap-endap ke tempat yang gelap, menghindari
cahaya lampu; dengan hati-hati dilepaskannya sebatang balok dari bawah
sekali lalu ditariknya; dengan susah payah dibebankannya itu atas pundaknya
dan seperti tak dirasakannya beratnya (berat badan sendiri bukanlah
beban), lalu pergilah ia mengendap-nendap dengan merapatkan diri pada
tembok yang berbayangan, maka dibawanya kayu itu dengan selamat ke rumah.
Tepatlah kedatangannya
sebaba kayu bakar sudah habis. Kayu itu dipotong, batang-batangnya ditumpuk,
Yury menjalankan tungku dan jongkok di depanya berdiam diri, sedangkan
Alexander Alexndrovich menggeserkan kursinya dan duduk berdiang.
Yury mengambil koran
dari kantong disebelah jasnya dan mengulurkan padanya:
"Sudah tahu ini?
Penting betul. Lihatlah."
Masih jongkok dan
sambil menyodok balok-balok ia bicara dengan diri sendiri.
"Hebat pemebedahan
itu! Ambil pisau dan potong segala penyakit busuk. Mudah saja, tanpa
omong kosong; si hantu kelaliman yang kawakan, yang berabad-abad sudah
bisa dielus-elus, dihormati dan disembah, kini ditangkap dan dihukum
mati.
"Keberanian ini,
cara melihat sesuatu sampai ujungnya, mempunyai corak kebangsaan. Di
dalamnya ada kecepatan berapi-api seperti Pushkin dan rasa terikat sebagai
fakta seberani Tolstoy."
"Pushkin, katamu.
Tunggu sedetik. Biar aku habis membaca. Aku tak bisa baca dan bicara
berbareng," tukas Alexander Alexandrovich, yang sudah mengira bahwa
Yury menegurnya.
"Dan gagasan
yang betul-betul jenial ialah begini, andai kita suruh orang menciptakan
dunia baru, membuka jaman baru, orang akan minta supaya disediakan ruangan
dulu. Orang akan menunggu sampai abad-abad yang lama itu habis, sebelum
mulai membina abad baru, ingin mendapat daftar neraca, angka bulat,
halaman kosong."
"Tapi di sini
hal-hal itu tak dihiraukan. Ini dia, terima atau tolaklah. Hal yang
baru ini, sejarah akan mengagumkan dan tak terduga ini telah meletus
di tengah-tengah penghidupannya sejari-hari tanpa tinjauan sedikitpun
atas jalannya nanti. Mulainya tidak pada permulaan, mulainya di tengah
tanpa tangguhan yang khusus, begitu saja pada hari yang kebetulan ada,
pada saat orang kerja sesibuk-sibuknya. Itu benar-benar jenial. hanya
keagungan yang tulen bisa lepas dari ikatan tempat dan waktu seperti
itu."
***