edisi 78
sabtu 3 juli 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 78

sajak Beberapa Ponsel Mengajaknya Makan Siang
T. Wijaya

laporan Perpustakaan, Pusat Hidup Modern
Maya Maniez

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis      


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Mereka dapat kabar bahwa tamu-tamu itu sudah pulang dengan selamat, namun masih belum boleh dikatakan bahwa di kota sudah ada perdamaian. Di pelataran-pelataran masih ada pertempuran, sedangkan distrik-distrik masih tertutup. Yury tak dapat pergi ke rumah sakit. Ia kehilangan naskahnya serta catatan selidik ilmiah dan tulisannya yang ditinggalkanya dalam laci lesenar di kamar pegawai.

Orang hanya ke luar dekat-dekat di sekitar tempat tinggalnya waktu pagi, jalan-jalan sekedar untuk beli roti atau mengerumuni seorang tak dikenal yang membawa sebotol susu, sambil menanyakan dimana ia mendapatkannya.

Sekali-sekali tembakan mulai lagi di seluruh kota. Diduga bahwa kedua pihak sedang berunding, bahwa tembakan yang lenyap atau meningkat itu tergantung dari perundingan yang menurut gelagatnya akan berhasil atau gagal.

Suatu malam pada akhir Oktober (menurut penanggalan tua) Yury tanpa keperluan tertentu pergi mengunjungi seorang rekan. Lebih nyaris kosong: selama berjalan itu ia hampir tak berjumpa siapa-siapa. Ia melangkah cepat. Salju pertama lagi turun, lembut bagai serbuk, ceria berai oleh angin yang mengembus.

Ia membelok kepada banyak lorong cabang, sampai ia tak dapat menghitungnya, ketika salju menebal dan angin menjelma badai, badai dari jenis yang suka bersiul di padang serta menyelimutinya dengan salju, tapi yang di dalam kota suka menghantam kanan-kiri, kegila-gilaan, seolah kesasar.

Ada persamaannya antara kejadian-kejadian di dunia rohani dan dunia jasmani, antara segala pergolakan dekat dan jauh, di bumi dan di langit. Di sana-sini ada letusan dari tempat-tempat terpencil dalam pertahanan yang setengah bobol. Nyala yang menggelegak dan reda sedang naik dan pecah di kaki langit. Dan saljupun menggelegak dan terbang membujur dibawa angin serta menguap di batu-batu basah di bawah kaki Yury.

ceritanet
©listonpsiregar2000

Anak penjual koran dengan mengepit seberkas tebal surat kabar yang baru dicetak, sambil berteriak : "Kabar terakhir," mengejarnya dengan cepat di suatu simpanan jalan.

"Tak usah uang kembali," kata Yury. Anak itu mencabut selembar dari tumpukannya, menyodokkannya ke tangan Yury, lantas lenyap dalam badai salju.

Yury berhenti di bawah lampu lorong untuk membaca judul-judul. Koran itu koran ekstra yang terakhir, tercetak hanya pada halaman sebelah: beritanya ialah pemberitaan resmi dari Petesburg bahwa sudah dibentuk suatu Dean Komisaris Rakyat Soviet, dan bahwa kekuasaan Soviet serta Diktator Proletariat sudah didirikan di Rusia. Menyusul dekrit-dekrit pertama pemerintahan baru dan pelbagai kabar singkat yang diterima dengan telegram ataupun telepon.

Badai memecut mata Yury dan menutup halaman tercetak itu dengan bubur salju abu-abu yang berkerisik, tapi bukanlah badai salju menghalangi Yury membaca. Ia terharu dan tercengkam oleh keagungan jaman dan berpikir betapa pentingnya itu untuk abad-abad yang akan datang.

Lantaran ia mesti terus membaca juga, ia memandang keliling, mencari tempat yang lebih terang dan lebih terlindung. Ia berdiri sekali lagi di persimpangan Jalan Perak dan Jalan Sunyi yang angker itu, di depan sebuah gedung tinggi berloteng lima, dengan pintu berlapis kaca dan serambi depan yang luas lagi benderang.

Ia masuk, berdiri di bawah cahaya dari plafon dan membaca berita.

Langkah orang berbunyi diatasnya. Dia turun pelan-pelan sampai separuh tangga, berhenti seolah bimbang, lalu berpaling dan lari lagi ke bordes loteng pertama. Ada pintu dibuka dan dua suara mengalun ke luar, memar oleh gema, hingga tak dapat ditentukan apakah yang bicara itu laki-laki atau perempuan. Pintu lantas terbanting dan langkah orang tadipun turun, kali ini tegap.

Yury tekun membaca koran dan tak bermaksud mendongak tapi orang tak dikenal itu sekonyong-konyong berhenti di kaki tangga, hingga iapun menegakkan kepala.

Di depannya berdirilah anak muda yang umurnya kira-kira delapan belas tahun, pakai peci dari kulit kijang serta jas kaku dari kulit kijang seeprti yang dipakai di Siberia, bulu-bulunya di sebelah luar. Rambutnya hitam dan matanya Kirghis yang sipit. Raut mukanya bercorak kebangsawanan, berseri sepintas lintas dengan kelembutan bersipu-sipu yang mengesankan kesunyian, seperti kadang-kadang terjumpa pada orang yang asalnya campuran berganda.

Pemuda itu rupanya menyangka Yury orang lain. Ia memandang padanya dengan malu dan ragu-rahu seakan kenal tapi tak bertetap hati untuk bicara. Untuk mengakhiri kesalah-pahaman, Yury mengukurnya dengan pandangan dingin yang megecilkan hati.

Beberapa menit kemudian Yurypun pergi. Pikirannya dipenuhi oleh berita tadi, dia lupakan tak hanya si pemudah tapi juga rencana yang tadi hendak dikunjunginya, lantas baliklah ia langsung ke rumah. Tapi di tengah jalan di disasarkan pula oleh kejadian lainnya: itulah salah satu soal kecil dalam penghidupan sehari-hari yang di jaman itu menjadi penting, sungguhpun tak pada tempatnya.

Tak jauh dari rumahnya ia tersandung dalam gelap pada setumpukan papan. Di jalan itu ada sesuatu lembaga pemerintahan dan papan itu yang nampaknya dirombak dari rumah kayu di sekitar kota, tentunya disediakan sebagai bahan bakar untuk lembaga itu. Tak seluruhnya dapat masuk ke pekarangan, maka sisanya ditinggal di trototar. Seorang pengawal bertugas pada bukit balok ini, ia mundar-mandir di perkarangan, sesekali menegok ke luar pekarangan.

Tanpa berpikir dua kali, Yury menggunakan saat ketika si pengawal berpaling dan angin melambungkan sekelompok salju, ia mengendap-endap ke tempat yang gelap, menghindari cahaya lampu; dengan hati-hati dilepaskannya sebatang balok dari bawah sekali lalu ditariknya; dengan susah payah dibebankannya itu atas pundaknya dan seperti tak dirasakannya beratnya (berat badan sendiri bukanlah beban), lalu pergilah ia mengendap-nendap dengan merapatkan diri pada tembok yang berbayangan, maka dibawanya kayu itu dengan selamat ke rumah.

Tepatlah kedatangannya sebaba kayu bakar sudah habis. Kayu itu dipotong, batang-batangnya ditumpuk, Yury menjalankan tungku dan jongkok di depanya berdiam diri, sedangkan Alexander Alexndrovich menggeserkan kursinya dan duduk berdiang.

Yury mengambil koran dari kantong disebelah jasnya dan mengulurkan padanya:

"Sudah tahu ini? Penting betul. Lihatlah."

Masih jongkok dan sambil menyodok balok-balok ia bicara dengan diri sendiri.

"Hebat pemebedahan itu! Ambil pisau dan potong segala penyakit busuk. Mudah saja, tanpa omong kosong; si hantu kelaliman yang kawakan, yang berabad-abad sudah bisa dielus-elus, dihormati dan disembah, kini ditangkap dan dihukum mati.

"Keberanian ini, cara melihat sesuatu sampai ujungnya, mempunyai corak kebangsaan. Di dalamnya ada kecepatan berapi-api seperti Pushkin dan rasa terikat sebagai fakta seberani Tolstoy."

"Pushkin, katamu. Tunggu sedetik. Biar aku habis membaca. Aku tak bisa baca dan bicara berbareng," tukas Alexander Alexandrovich, yang sudah mengira bahwa Yury menegurnya.

"Dan gagasan yang betul-betul jenial ialah begini, andai kita suruh orang menciptakan dunia baru, membuka jaman baru, orang akan minta supaya disediakan ruangan dulu. Orang akan menunggu sampai abad-abad yang lama itu habis, sebelum mulai membina abad baru, ingin mendapat daftar neraca, angka bulat, halaman kosong."

"Tapi di sini hal-hal itu tak dihiraukan. Ini dia, terima atau tolaklah. Hal yang baru ini, sejarah akan mengagumkan dan tak terduga ini telah meletus di tengah-tengah penghidupannya sejari-hari tanpa tinjauan sedikitpun atas jalannya nanti. Mulainya tidak pada permulaan, mulainya di tengah tanpa tangguhan yang khusus, begitu saja pada hari yang kebetulan ada, pada saat orang kerja sesibuk-sibuknya. Itu benar-benar jenial. hanya keagungan yang tulen bisa lepas dari ikatan tempat dan waktu seperti itu."
***