sajak
Beberapa Ponsel Mengajaknya Makan Siang
T.
Wijaya.
Aku membuka bungkus
permen, saat mereka menceritakan ilmu pengetahuan yang
mahal. Asap rokok itu menghisapku. Seperti perempuan-perempuan nakal
yang
memberiku susu dan nasi bungkus.
Permen kutelan. Dingin.
Mataku berbeda dengan mata mereka. Bau mulutku pun
dibenci ketiak mereka. Kami tidak sama di tepi Sungai Musi ini. Dan,
aku tidak
tahu bagaimana limbah amoniak itu merusak otakku yang selalu gagal menghitung
tangga di meja belajar.
Permen habis kuhisap.
Mereka terus menceritakan ilmu pengetahuan yang mahal.
Setiap gerak mulut mereka, abahku batu berdahak. Kental dan bernanah.
Hanyut ke
hilir dimakan seluang-seluang yang tidak pernah sekolah. Siapa presiden
malam ini.
Sebaiknya, mungkin,
kukumpulkan bungkus permen sekota ini. Kumasukan ke mulut
mereka. Membusuk. Dan aku pergi bersama mobil mereka. Tabrak Ayam, tabrak
batu,
tabrak babi, tabrak angin, tabrak toko pakaian yang selalu diceritakan
istriku.
Sapi. Sapi jiwaku
yang ingin berenang mengejar pakaian dan buku sekolah anakku.
Air mata dari panci,
kasur kapuk, perahu, dan tiang-tiang kayu gelam
mengasinkan Sungai Musi. Mulut mereka tidak suka. Mereka menyulingnya
dengan
mesin dari Jerman. Aku tidak benci Michel Ballack! Tapi mengapa ilmu
pengetahuan itu mahal, meskipun di Sekolah Dasar panggung dengan seorang
guru
honor yang berdoa agar dilamar perwira TNI.
Aku kembali membuka
bungkus permen. Mereka terus bercerita. Mulut mereka
membesar. Membesar. Pintu menuju neraka.
2004
Jangan
Menunggu
Di sepanjang dapur piring yang kering
menghantam kepala anak-anak kita. Kita
anjing hingga subuh. Sekian tahun menunggu, tidak ada yang baru. Habis
sudah
batu janji batu. Kita harus pergi seperti matahari di dalam kulkas mereka.
Tajamkan piring yang kering agar
membara. Dan, tidak lagi menunggu batu janji
batu. Semua tahu kita harus membangunkan mereka pada pukul 4 subuh.
2004
***