edisi 78
sabtu 3 juli 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 78

laporan Perpustakaan, Pusat Hidup Modern
Maya Maniez

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis      


sajak Beberapa Ponsel Mengajaknya Makan Siang
T. Wijaya.

Aku membuka bungkus permen, saat mereka menceritakan ilmu pengetahuan yang
mahal. Asap rokok itu menghisapku. Seperti perempuan-perempuan nakal yang
memberiku susu dan nasi bungkus.

Permen kutelan. Dingin. Mataku berbeda dengan mata mereka. Bau mulutku pun
dibenci ketiak mereka. Kami tidak sama di tepi Sungai Musi ini. Dan, aku tidak
tahu bagaimana limbah amoniak itu merusak otakku yang selalu gagal menghitung
tangga di meja belajar.

Permen habis kuhisap. Mereka terus menceritakan ilmu pengetahuan yang mahal.
Setiap gerak mulut mereka, abahku batu berdahak. Kental dan bernanah. Hanyut ke
hilir dimakan seluang-seluang yang tidak pernah sekolah. Siapa presiden malam ini.

Sebaiknya, mungkin, kukumpulkan bungkus permen sekota ini. Kumasukan ke mulut
mereka. Membusuk. Dan aku pergi bersama mobil mereka. Tabrak Ayam, tabrak batu,
tabrak babi, tabrak angin, tabrak toko pakaian yang selalu diceritakan istriku.

Sapi. Sapi jiwaku yang ingin berenang mengejar pakaian dan buku sekolah anakku.

Air mata dari panci, kasur kapuk, perahu, dan tiang-tiang kayu gelam
mengasinkan Sungai Musi. Mulut mereka tidak suka. Mereka menyulingnya dengan
mesin dari Jerman. Aku tidak benci Michel Ballack! Tapi mengapa ilmu
pengetahuan itu mahal, meskipun di Sekolah Dasar panggung dengan seorang guru
honor yang berdoa agar dilamar perwira TNI.

Aku kembali membuka bungkus permen. Mereka terus bercerita. Mulut mereka
membesar. Membesar. Pintu menuju neraka.
2004

Jangan Menunggu

Di sepanjang dapur piring yang kering menghantam kepala anak-anak kita. Kita
anjing hingga subuh. Sekian tahun menunggu, tidak ada yang baru. Habis sudah
batu janji batu. Kita harus pergi seperti matahari di dalam kulkas mereka.

Tajamkan piring yang kering agar membara. Dan, tidak lagi menunggu batu janji
batu. Semua tahu kita harus membangunkan mereka pada pukul 4 subuh.
2004

***