novel
Dokter Zhivago
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan,
Maret 1960.
Rencana Tonya telah
diterima dan keluarganya menghuni tiga kamar di loteng paling atas selama
musim dingin.
Hari Minggu dingin
dan banyak angin, muram akibat mendung salju yang besar-besar. Yury
sedang libur.
Api dinyalakan waktu
pagi dan tungku mulai berasap. Nyusha kerepotan dengan balok-balok basah.
Tonya yang tak tahu menahu tentang tungku, memberinya nasehat-nasehat
yang bertentangan. Yury yang tahu seluk beluknya, hendak campur tangan
tapi istrinya memegang bahunya dan mendorongnya ke luar dengan lemah
lembut. "Jangan ikut-ikut. Kau hanya menuang minyak ke dalam api."
"Syukur kalau
ada minyak. Susahnya tak ada minyak ataupun api."
"Jangan main-main pula. Bukan waktunya."
Kesulitan dengan
tungku ini merancukan keinginan tiap orang. Mereka tadinya berharap
akan merampungkan kesibukan masing-masing sebelum malam, hingga mengaso
waktu senja, tapi kini makan siang akan terlambat. Tonya tak sempat
cuci rambut dan berbagai rancangan lainnya terpaksa dibatalkan.
Api kian lama kian
berasap. Ketika angin meniup, asap turun dari cerobong, gumpalkan-gumpalannya
yang berjelaga memenuhi kamar, laksana hantu hitam dalam hutan mujixat.
Kesudahannya Yury
menyingkirkan semua orang ke kedua kamar lainnya, membuka jendela, mengambil
separoh dari balok-balok dan merenggangkan sisanya,. lalu ditaruhnya
banyak serpih dan serutan kayu berk di celah-celahnya.
Hawa menyerbu ke
dalam, tirai tersirap dan terayun, kertas tersembur dari lesenar, pintu
dalam gang terbanting dan angin mengejar-ngejar sisa asap.
Balok-balok menyala
dan berkerasak. Tungku menggelegak karena api, nampaknya di beberapa
tempat seperti logam menyala merah yang panasnya menghabiskan mangsanya.
Kamar menjadi lebih
terang. Jendela beruap. Yury telah menutup rekah-rekahnya dengan dempul
yang dibikin menurut resep ahli kimia, baunya bagai bau lemak yang hangat.
Dari balok-balok yang dikeringkan dekat tungku timbul bau tajam kulit
pohon berk yang hangus dan bau pohon esepan yang harum bagai air wangi.
Nikolay Nikolayevich
masuk buru-buru, rusuh seperti angin.
"Orang bertempur
di jalan. Kadet berjuang untuk pemerintah sementara lawan prajurit dari
tangsi yang menyokong kaum bolsjewik. Mereka berkelahi dimana-mana,
jumlah titik bakar pemberontakan tak bisa dihitung. Waktu ke sini, aku
dapat kesulitan, sekali di pojok Jalan Dmitrovka Besar, sekali di Gerbang
Nikitsky. Sekarang kita sama sekali tak bisa lewat di sana, harus berjalan
memutar. Mari Yura, pakailah jasmu dan ke luar. Kau harus melihat. Ini
sejarah. Satu kali terjadi seumur hidup.
Namun ia tinggal di
situ berjam-jam. Mereka lantas makan dan ketika ia hendak pulang, masuklah
Gordon dengan cara yang sama dan dengan kabar yang kebanyakan sama.
Tapi ada pula kelanjutannya.
Gordon bicara tentang tembakan yang tambah ramai, tentang orang-orang
lewat yang terbunuh oleh peluru kesasar. Menurut dia seluruh lalu lintas
berhenti. Tak tersangka ia dapat lolos ke lorong cabang tapi jalan di
belakang tertutup. Nikolay Nikolayevich tak mau percaya, lalu bergegas
ke luar, tapi semenit kemudian ia pun kembali. Katanya peluru berdesing-desing
di lorong-lorong menanggalkan repih-repih batu bata dan kapur dari pojok-pojok.
Tak seorang pun ada di luar. Lalu lintas berhenti sama sekali.
Pekan itu Sasha kecil
masuk angin.
"Sekali kukatakan,
seratus kali kusebut, ia tak boleh main-main dekat tungku," kata
Yuri dengan marah. "Kepanasan baginya jauh lebih buruk daripada
kedinginan."
Sasha panas dan kerongkongannya
nyeri. Ketakutannya pada penyakit adalah khusus dan luar biasa ketika
Yury hendak memeriksa tenggorokannya, ia mengelakkan tangan ayahnya,
menekankan gigi, memekik dan gelagapan. Ancaman dan bujukan tak mempan
sedikitpun. Tapi satu kali ia kurang hati-hati, lalu menguap lebar;
Yury menggunakan kelupaannya ini dengan meyodokkan sendok teh dan menekan
lidahnya cukup lama, hingga sempat melihat pangkal tenggorokan yang
merah serta amandel yang bengkak dan berbintik-bintik putih. Bintik-bintik
ini menggelisahkannya. Dengan cara sama berhasillah ia memperoleh sebuah
specimen dan karena ia punya mikropskop, iapun dapat memeriksanya. Syukurlah
bukan diphteria.
Tapi pada malam ketiga
Sasha diserang krup urat syaraf. Suhunya meloncat tinggi, ia tak sanggup
bernafas. Yury tak berdaya meringankan penderitaannya dan tak tahan
melihatnya. Tonya mengira anaknya akan mati. Mereka bergiliran menggendongnya
di dalam kamar dan ini agaknya membuatnya sembuh.
Mereka perlukan susu
dan air soda untuknya. Tapi pertempuran di lorong-lorong sedang menjadi-jadi.
Tak sesaatpun tembakan meriam dan bedil berhenti. Andaikatapun Yury
melintasi daerah perang dengan mempertaruhkan nyawanya, ia tak akan
menemukan siapa-siapa di lebuh-lebuh di seberangnya. Kota berhenti hidup,
sebelum keadaan menetap.
Namun hasilnya sudah
terang. Dari segenap penjuru datang desas-desus bahwa kaum pekerja mencapai
kemenangan. Kelompok-kelompok kadet masih berjuang, tapi mereka sudah
pecah-pecah dan tak berhubungan dengan pemimpinnya.
Distrik Sivtsov diduduki
regu-regu prajurit yang mendesak ke pusat kota. Prajurit-prajurit dari
medan perang melawan Jerman serta para pekerja remaja duduk dalam parit
yang digali di lorong cabang: mereka sudah mulai mengenal orang-orang
yang tinggal di jalanan itu dan bercanda dengan mereka yang lewat atau
berdiri di depan gerbang. Di kota sebelah ini orang mulai bergerak sedikit.
Gordon dan Nikolay
Nikolayevich yang tersangkut di rumah Zhivago, lepas dari kurungan tiga
hari. Yury senang dengan kehadiran mereka selama Sasha sakit dan Tonya
memaafkan mereka meskipun menambah kerancuan. Tapi mereka merasa perlu
membayar hutang budi dengan menghibur tamu-tamu itu dengan percakapan
yang tak habis-habisnya. Yury letih karenanya dan senang ketika mereka
pergi.
***bersambung