edisi 77
minggu 20 juni 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 77

memoar Ke Timor Lorosae Aku kembali
Titi Irawati

sajak Hutang-hutang Yang Tak Kunjung Tumbang
Amir Ramdhani

sajak Para Presiden Nusantara
Luqman Hakim

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis      


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Rencana Tonya telah diterima dan keluarganya menghuni tiga kamar di loteng paling atas selama musim dingin.

Hari Minggu dingin dan banyak angin, muram akibat mendung salju yang besar-besar. Yury sedang libur.

Api dinyalakan waktu pagi dan tungku mulai berasap. Nyusha kerepotan dengan balok-balok basah. Tonya yang tak tahu menahu tentang tungku, memberinya nasehat-nasehat yang bertentangan. Yury yang tahu seluk beluknya, hendak campur tangan tapi istrinya memegang bahunya dan mendorongnya ke luar dengan lemah lembut. "Jangan ikut-ikut. Kau hanya menuang minyak ke dalam api."

"Syukur kalau ada minyak. Susahnya tak ada minyak ataupun api."
"Jangan main-main pula. Bukan waktunya."

Kesulitan dengan tungku ini merancukan keinginan tiap orang. Mereka tadinya berharap akan merampungkan kesibukan masing-masing sebelum malam, hingga mengaso waktu senja, tapi kini makan siang akan terlambat. Tonya tak sempat cuci rambut dan berbagai rancangan lainnya terpaksa dibatalkan.

Api kian lama kian berasap. Ketika angin meniup, asap turun dari cerobong, gumpalkan-gumpalannya yang berjelaga memenuhi kamar, laksana hantu hitam dalam hutan mujixat.

Kesudahannya Yury menyingkirkan semua orang ke kedua kamar lainnya, membuka jendela, mengambil separoh dari balok-balok dan merenggangkan sisanya,. lalu ditaruhnya banyak serpih dan serutan kayu berk di celah-celahnya.

Hawa menyerbu ke dalam, tirai tersirap dan terayun, kertas tersembur dari lesenar, pintu dalam gang terbanting dan angin mengejar-ngejar sisa asap.

Balok-balok menyala dan berkerasak. Tungku menggelegak karena api, nampaknya di beberapa tempat seperti logam menyala merah yang panasnya menghabiskan mangsanya.

Kamar menjadi lebih terang. Jendela beruap. Yury telah menutup rekah-rekahnya dengan dempul yang dibikin menurut resep ahli kimia, baunya bagai bau lemak yang hangat. Dari balok-balok yang dikeringkan dekat tungku timbul bau tajam kulit pohon berk yang hangus dan bau pohon esepan yang harum bagai air wangi.

Nikolay Nikolayevich masuk buru-buru, rusuh seperti angin.

"Orang bertempur di jalan. Kadet berjuang untuk pemerintah sementara lawan prajurit dari tangsi yang menyokong kaum bolsjewik. Mereka berkelahi dimana-mana, jumlah titik bakar pemberontakan tak bisa dihitung. Waktu ke sini, aku dapat kesulitan, sekali di pojok Jalan Dmitrovka Besar, sekali di Gerbang Nikitsky. Sekarang kita sama sekali tak bisa lewat di sana, harus berjalan memutar. Mari Yura, pakailah jasmu dan ke luar. Kau harus melihat. Ini sejarah. Satu kali terjadi seumur hidup.

Namun ia tinggal di situ berjam-jam. Mereka lantas makan dan ketika ia hendak pulang, masuklah Gordon dengan cara yang sama dan dengan kabar yang kebanyakan sama.

Tapi ada pula kelanjutannya. Gordon bicara tentang tembakan yang tambah ramai, tentang orang-orang lewat yang terbunuh oleh peluru kesasar. Menurut dia seluruh lalu lintas berhenti. Tak tersangka ia dapat lolos ke lorong cabang tapi jalan di belakang tertutup. Nikolay Nikolayevich tak mau percaya, lalu bergegas ke luar, tapi semenit kemudian ia pun kembali. Katanya peluru berdesing-desing di lorong-lorong menanggalkan repih-repih batu bata dan kapur dari pojok-pojok. Tak seorang pun ada di luar. Lalu lintas berhenti sama sekali.

Pekan itu Sasha kecil masuk angin.

"Sekali kukatakan, seratus kali kusebut, ia tak boleh main-main dekat tungku," kata Yuri dengan marah. "Kepanasan baginya jauh lebih buruk daripada kedinginan."

Sasha panas dan kerongkongannya nyeri. Ketakutannya pada penyakit adalah khusus dan luar biasa ketika Yury hendak memeriksa tenggorokannya, ia mengelakkan tangan ayahnya, menekankan gigi, memekik dan gelagapan. Ancaman dan bujukan tak mempan sedikitpun. Tapi satu kali ia kurang hati-hati, lalu menguap lebar; Yury menggunakan kelupaannya ini dengan meyodokkan sendok teh dan menekan lidahnya cukup lama, hingga sempat melihat pangkal tenggorokan yang merah serta amandel yang bengkak dan berbintik-bintik putih. Bintik-bintik ini menggelisahkannya. Dengan cara sama berhasillah ia memperoleh sebuah specimen dan karena ia punya mikropskop, iapun dapat memeriksanya. Syukurlah bukan diphteria.

Tapi pada malam ketiga Sasha diserang krup urat syaraf. Suhunya meloncat tinggi, ia tak sanggup bernafas. Yury tak berdaya meringankan penderitaannya dan tak tahan melihatnya. Tonya mengira anaknya akan mati. Mereka bergiliran menggendongnya di dalam kamar dan ini agaknya membuatnya sembuh.

Mereka perlukan susu dan air soda untuknya. Tapi pertempuran di lorong-lorong sedang menjadi-jadi. Tak sesaatpun tembakan meriam dan bedil berhenti. Andaikatapun Yury melintasi daerah perang dengan mempertaruhkan nyawanya, ia tak akan menemukan siapa-siapa di lebuh-lebuh di seberangnya. Kota berhenti hidup, sebelum keadaan menetap.

Namun hasilnya sudah terang. Dari segenap penjuru datang desas-desus bahwa kaum pekerja mencapai kemenangan. Kelompok-kelompok kadet masih berjuang, tapi mereka sudah pecah-pecah dan tak berhubungan dengan pemimpinnya.

Distrik Sivtsov diduduki regu-regu prajurit yang mendesak ke pusat kota. Prajurit-prajurit dari medan perang melawan Jerman serta para pekerja remaja duduk dalam parit yang digali di lorong cabang: mereka sudah mulai mengenal orang-orang yang tinggal di jalanan itu dan bercanda dengan mereka yang lewat atau berdiri di depan gerbang. Di kota sebelah ini orang mulai bergerak sedikit.

Gordon dan Nikolay Nikolayevich yang tersangkut di rumah Zhivago, lepas dari kurungan tiga hari. Yury senang dengan kehadiran mereka selama Sasha sakit dan Tonya memaafkan mereka meskipun menambah kerancuan. Tapi mereka merasa perlu membayar hutang budi dengan menghibur tamu-tamu itu dengan percakapan yang tak habis-habisnya. Yury letih karenanya dan senang ketika mereka pergi.
***bersambung