sajak
Hutang-hutang Yang Tak Kunjung Tumbang
Amir
Ramdhani
kugaduhi laci batinmu.
sebuah laci yang selalu
terkunci. kau meletakkannya di pinggiran got.
aku ingin mengkampaki kuncinya dan membakarnya
di atas tumpukan sampah.
kugaduhi kardus bengis
pembungkus nyawamu.
tapi setiap kegaduhan berubah menjadi jebakan.
setiap pesan berubah menjadi ancaman.
got di mana kau meletakkan
laci itu,
seperti membangun daerah kekuasaannya sendiri
seperti tikus-tikus busuk
serupa cicak-cicak
yang tak tidur menterori nyamuk-nyamuk
tapi desing nyamuk tak juga bungkam
mei, 2004
Keramaian
Mengeroyok Kesepianmu
keramaian telah mengeroyok kesepianmu
muka-muka penuh murka
tembok-tembok yang dekil oleh cipratan pilox
tongkrongan-tongkrongan kehilangan napas
ah, kekonyolan itu
dan kau cuma gitar bolong terbengong
dibungkus cemas
"cepat, pergilah!
karena kepergian akan cepat menghapus kenangan"
setengah mendadak, setengah menjebak
tiba-tiba meledak
sisanya, asap trotoar begitu pendiam begitu kejam
dan kamu sendirian
cicak-cicak jatoh dari tembok
nyamuk-nyamuk oleng sayapnya
keramaian membajak kesepianmu
mei, 2004
Sepasang
Mata Dalam Reot Bus Kota
kau datang hanya untuk
sial
dan siang segera menyambutmu
dengan tusukan sepasang mata
dalam reot bus kota
dan sepasang mata itu berkuasa
kepada isi dompetmu
sekali kau lengah
sekali kau terengah-engah
sebab sepasang mata itu begitu kompak begitu khianat
dengan geliat tubuh begitu licik begitu cerdik
dan kecerdikan adalah petaka bagimu
12 mei 2004
Makam
sesekali memang harus diam. membuka
kembali
laci ingatan masa lampau, lalu meletakkan
beberapa kamper di dalamnya
agar kecoa peliharaanmu tergelepar
terkadang ban mobil mesti dikempeskan,
ditusuk oleh paku atau diiris dengan golok keji
agar angin lama berganti dengan angin baru
tapi perjalananmu belum sampai
dan takkan pernah kau temukan tujuan
tujuan adalah dusta paling laknat
sebab apa yang kau genggam saat ini
adalah yang mesti dirawat baik-baik.
juga takkan pernah ada janji
takkan pernah terkuak harapan
mei, 2004
***