edisi 77
minggu 20 juni 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 77

memoar Ke Timor Lorosae Aku kembali
Titi Irawati

sajak Para Presiden Nusantara
Luqman Hakim

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis      


sajak Hutang-hutang Yang Tak Kunjung Tumbang
Amir Ramdhani

kugaduhi laci batinmu. sebuah laci yang selalu
terkunci. kau meletakkannya di pinggiran got.
aku ingin mengkampaki kuncinya dan membakarnya
di atas tumpukan sampah.

kugaduhi kardus bengis pembungkus nyawamu.
tapi setiap kegaduhan berubah menjadi jebakan.
setiap pesan berubah menjadi ancaman.

got di mana kau meletakkan laci itu,
seperti membangun daerah kekuasaannya sendiri
seperti tikus-tikus busuk
serupa cicak-cicak
yang tak tidur menterori nyamuk-nyamuk
tapi desing nyamuk tak juga bungkam
mei, 2004

Keramaian Mengeroyok Kesepianmu

keramaian telah mengeroyok kesepianmu
muka-muka penuh murka
tembok-tembok yang dekil oleh cipratan pilox
tongkrongan-tongkrongan kehilangan napas
ah, kekonyolan itu
dan kau cuma gitar bolong terbengong
dibungkus cemas

"cepat, pergilah!
karena kepergian akan cepat menghapus kenangan"

setengah mendadak, setengah menjebak
tiba-tiba meledak
sisanya, asap trotoar begitu pendiam begitu kejam

dan kamu sendirian
cicak-cicak jatoh dari tembok
nyamuk-nyamuk oleng sayapnya
keramaian membajak kesepianmu
mei, 2004

Sepasang Mata Dalam Reot Bus Kota

kau datang hanya untuk sial
dan siang segera menyambutmu
dengan tusukan sepasang mata
dalam reot bus kota
dan sepasang mata itu berkuasa
kepada isi dompetmu
sekali kau lengah
sekali kau terengah-engah
sebab sepasang mata itu begitu kompak begitu khianat
dengan geliat tubuh begitu licik begitu cerdik
dan kecerdikan adalah petaka bagimu
12 mei 2004

Makam

sesekali memang harus diam. membuka kembali
laci ingatan masa lampau, lalu meletakkan
beberapa kamper di dalamnya
agar kecoa peliharaanmu tergelepar

terkadang ban mobil mesti dikempeskan,
ditusuk oleh paku atau diiris dengan golok keji
agar angin lama berganti dengan angin baru

tapi perjalananmu belum sampai
dan takkan pernah kau temukan tujuan
tujuan adalah dusta paling laknat
sebab apa yang kau genggam saat ini
adalah yang mesti dirawat baik-baik.
juga takkan pernah ada janji
takkan pernah terkuak harapan
mei, 2004

***