edisi 77
minggu 20 juni 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 77

memoar Ke Timor Lorosae Aku kembali
Titi Irawati

sajak Hutang-hutang Yang Tak Kunjung Tumbang
Amir Ramdhani

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis      


sajak Para Presiden Nusantara
Luqman Hakim

Presiden pertamaku pandai bicara
Ngomongnya sambung-menyambung menjadi satu
Bukan penjual jamu bukan pula ratu ngegosip
Suaranya rangkai nusantara
Sayang,
Dia binasa tak dipercaya nusantara

Presiden keduaku tak pandai bicara
Bukan berarti tuna wicara
Ia presiden terduka
Duka luka kar'na terlalu erat genggam nusantara

Presiden ketigaku tak suka bicara
Begitu bicara cuil nusantara
Maklum dia orang sementara
Pengganti orang lama

Presiden keempatku terlalu suka bicara
Hingga guncang nusantara
Dia pun terusir dari nusantara gara-gara tak kuasa tak bicara
Maklum dia terlalu ahli olah kata

Presiden kelimaku bukan pembicara
Begitu bicara ia dicerca
Begitu bersuara ia dihina
Kini nusantara enggan menyapanya

Kini calon presidenku dikelilingi para pandai bicara
Maklum nusantara baru bisa bicara
Desember 2003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

Presiden dan Kyai

Kyai,
Sudah tak adakah insan bijak di negeri ini
Sedemikian recokkah moral bangsa ini
Hingga kau putus turun surau,
Tutup kitabmu,
Buang terompamu,
Ganti sepatu,
Buka buku putih,
Berdiri di podium,
Kampanyekan diri,
Jadi presiden di negeri ini

Kyai,
Benarkah bangsa ini telah keblinger
Jangan-jangan!
Kyai yang terlalu serakah
Serakah terhadap umat
Serakah terhadap pangkat

Kyai,
Tak cukupkah sorga
Hingga harus mengkapling neraka
Jangan-jangan !
Neraka kini telah hilang keangkerannya
Desember 2003
***