edisi 76
sabtu 29 mei 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 76

cerpen Adil
Farah Riziani Rahmat

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


cerpen Anyir
Galang Jamparing

Ah! Omong kosong apalagi ini? Harian Nasional yang dari tadi tidak lepas dari pandangannya itu dibanting. Headline hari itu seperti merajam, mencabik-cabik harga dirinya sebagai tokoh yang selama ini diagung-agungkan kalangannya.

'Orang Tak Lengkap Tak Bisa jadi Pemimpin Nasional' judul headline itu.

Juragan Hanyir benar-benar marah. Emosinya menggelegak seperti lava gunung merapi yang meluap-luap. Kemarahan, sudah tidak cukup lagi untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini.

Selama ini, walaupun dia tidak lengkap sebagai manusia pada umumnya, tidak ada masalah atau mempermasalahkan dengan keberadaannya. Orang-orang di sekelilingnya masih mendengarkannya. Menganggung-agungkannya. Menghormatinya.

Mereka menganggap setiap kalimat yang mengalir darinya seperti ayat-ayat suci. Umatnya akan mengatakan 'daun' jika dia bilang 'daun' walaupun dalam kenyataannya, apa yang dia persepsikan itu adalah 'buah' atau bahkan 'batu' sekalipun. Dengan kemampuannya itu pulalah, dia bisa membalik-balikkan persepsi massa.
Dia telah menjadi kebenaran itu sendiri.

Malah sedikit orang di antaranya, telah menganggap dia itu orang suci, santa, bahkan tuhan! Apa yang keluar dari mulutnya selalu dianggap kebenaran. Kalaupun ada yang salah orang menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu, jenaka atau intermezzo. Juragan Hanyir adalah kebenaran.

Dengan kemampuan itulah, dia bisa mengendalikan massanya. Kecerdikan, culas, dan akal busuk ternyata dengan gampang menginjak kebodohan rakyat kebanyakan. Ha! Omong kosong dengan kepemimpinan nasional. Persetan dengan kesejahteraan rakyat, pengangguran, penggusuran, pembunuhan, penjarahan, penyeludupan inflasi, korupsi yang mengkanker menggerogoti semua kalangan, bangsa yang semakin bengis, kejahatan di mana-mana, penggusuran, harga-harga naik.

Namun yang pasti, toh di atas semua persoalan itu dirinya dapat menikmati semua kemewahan seorang pemimpin. Kekayaan, jalan-jalan ke luar negeri, seluruh negeri-negeri di dunia hampir dijejaki. Serta kerabat keluarga yang ditempatkan di banyak jabatan juga keuntungan tersendiri.

Pemimpin adalah puncak dari segala keserakahan. Para cukong, penjudi, koruptor, semua akan merangkak-rangkak menjilat. Mereka akan merubung seperti anjing mengharap iba tuannya yang juga raja-raja anjing.
Jika berkumpul, omongan mereka seperti serigala yang berebut daging mentah karena yang dibicarakan hanya soal upeti dan korupsi uang rakyat.

Mulutnya berlidah ular. Apa yang mereka katakana selalu bercabang-cabang tak tentu arah.
Hatinya adalah batu granit berbalut darah.

Tak ada belas kasihan. Yang ada adalah kepura-puraan dan munafik. Berapa pun nyawa gampang dikorbankan untuk kepentingannya. Kalau perlu massa dibagi-bagi, diberi beragam senjata untuk saling membunuh. Perang dan kerusuhan adalah juga kesenangan karena bau amis darah seperti harum cendana yang memabukan.

Matanya adalah kelicikan.

Pandangan mata simpati cumalah palsu karena jauh di hatinya yang berbalut darah itu berinti kebengisan.
Tawanya adalah bisa. Senyumnya adalah racun. Karena dibalik semua itu hanyalah kepalsuan, munafik, kepura-puraan untuk membokong siapa saja dari belakang.

Penampilannya adalah setan.

Berbalut kemewahan dan kejumaan seorang tokoh yang memabukan. Para pemimpin sebenarnya sudah seperti setan yang memalsukan segala keadaan.
***

Juragan Hanyir masih menggelegak. Gumamannya masih seperti lava panas yang sepertinya langsung membakar panas seluruh ruangan. Sejumlah orang itu yang mengelilinginya-orang menyebutnya Begundal-tampak terbungkuk-bungkuk. Satu dua orang di antaranya salah berbisik seolah-olah membicarakan kegundahan pemimpinnya. Yang lainnya, berusaha menyabar-nyabarkannya.

"Memang keterlaluan, Juragan. Mereka telah berusaha menjegal kita," kata Drs Lepek. Dia pun mengeluarkan analisanya mengenai aturan dari Lembaga Aturan soal ketentuan "orang tak lengkap tak bisa menjadi pemimpin nasional " itu. Mereka telah menjegal Juragan Hanyir untuk ikut serta dalam pemilihan raya dengan syarat-syarat sesuka mereka.

Lepek berbusa-busa. Aturan itu merupakan hasil dari persekongkolan para elit politik yang memang tidak suka kepada mereka. Mereka sengaja mengothak-athik gathuk aturan, seolah-olah hanya orang-orang yang sempurnalah yang bisa menjadi presiden. "Bahkan, nabi pun tidak ada yang sempurna," kata Lepek. Dalam setiap pembicaraanya, dia memang selalu menabur ayat-ayat Kitab Suci, seolah-olah orang yang calakan mengutip ayat-ayat adalah nabi yang selalu menebar kebenaran.

Bengus, begundal lainnya, pun mengiyakan. Mengompori. "Kita harus ambil tindakan. Kalau perlu kita ajak semua massa kita untuk menduduki kantor-kantor Lembaga Aturan," kata Bengus. AC ruangan tak mampu menahan kegerahan hatinya. Sengkelit, begundal yang memang dikenal memiliki daya analisa yang tajam pun segera menyodorkan teori-teori bagaimana melabrak Lembaga Aturan.

Semua jalur disiapkan agar perjalanan dalam perjuangan itu bisa mulus berujung tercapainya kekuasaan. Jalur-jalur itu sudah melembaga, tinggal bagaimana Juragan Hanyir dan para Begundal memanfaatkannya.
Hukum.

Banyak peluang di sini. Lembaga peradilan sudah sangat dikenal sebagai lembaga busuk. Tempat sampah lebih bersih dari lembaga itu. Jaksa, hakim bahkan mahkamah agung dan kejaksaan agung adalah pelanggaran hukum itu sendiri. Siapa menguasai siapa, dia yang menang. Dia seperti rimba belantara, siapa kuat, siapa dapat membeli siapa kemudian dia dengan gampang akan menjadi hukum itu sendiri.

Mengendalikan hukum. Mempermainkan hukum. Meludahi. Mengunyahnya Memperkosanya. Apa saja yang mereka suka.

Semua orang bersandar kepada hukum. "Itulah, yang menyebabkan semuanya menjadi busuk: ketika orang-orang menyandarkan diri kepada yang busuk. Bukankah kebusukan sudah tak terpisahkan dari kita," kata Bengus. Para begundal mengiyakan. Sebagian bertepuk tangan, kegirangan.

Pers. Media.
Ah, omong kosong itu pers adalah pilar demokrasi keempat. Taik kucing pers itu amanat suara rakyat. Sudah lama lembaga itu seperti kompleks pelacuran. Pemilik koran, radio, televisi adalah kapitalis sialan. Bercadar idealisme dia akan memperdagangkan medianya sebagai lembaga demokrasi. Tajuknya adalah puisi-puisi dan filsafat tajam menganalisa semua persoalan. Menyentuh hati terdalam untuk memperjuangkan kebenaran. Di balik kata-kata dan gambar-gambar mereka senyatanya adalah adalah berpikir bagaimana mengeruk keuntungan dari iklan para binatang kapitalis lainnya.

Wartawan sudah demikian menjijikkan karena mereka seperti pelacur-pelacur bertelanjang badan menawarkan diri. (Bahkan, pelacur pun lebih terhormat karena mereka masih menyembunyikan kehormatannya dengan gincu dan pupur tebal).

"Media bukan lagi watchdog yang seharusnya mengawasi tegaknya kebenaran. Para awaknya tidak lebih dari pelacur-pelacur bertelanjang, bodoh, dan mau menjual dirinya sekalipun," kata Lepek.

Lumayan. Juragan Hanyir agar terhibur. Dia terkekeh. Dia tertawa keras dan ingat bagaimana media massa, dia main-mainkan dengan segala pernyataannya yang menurut dia bernilai berita. Omongannya selalu menjadi headline, termasuk headline Koran Nasional sialan itu.

Lobby politik.
Masih banyak jalan lain. Dagang sapi! Politik negeri ini belumlah beranjak dari tawar-menawar kekuasaan, bagi-bagi porsi menteri, dirjen, dan direktur perusahaan negara. Membela rakyat, memperjuangkan rakyat kecil, menghapus pengangguran, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendidikan adalah barang dagangan yang selalu mereka jual di saat kampanye pemilihan. Selebihnya itu hanya menjadi kliping koran.

Setelah kekuasaan di tangan, dan tahta diduduki: politik tidak lebih dari bagaimana melanggengkan kekuasaan, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, korupsi dan menginjak rakyat sekeras-kerasnya. Bancakan dari hasil jarahan: hutan, tambang dan segala kekuasaan negeri hanyalah semudah membuat undang-undang palsu atas nama rakyat belaka.

"Kita masih bisa buka koalisi dengan partai ini-itu. Kesempatan kita masih terbuka di sini. Kita masih bisa mendukung calon presiden lain. Yang penting ada kesepakatan dan janji politik," kata Sengkelit.

Lepek, Bengus, Sengkelit dan para begundal lainnya memang dilanda kegundahan luar bisa. Kalau saja, Juragan Hanyir tidak bisa menjadi presiden jadi apa mereka. Kembali menjadi kacung? Kembali ke paguron, mengajarkan moral taik kucing itu kepada murid-muridnya? Tidak akan ada lagi kemewahan, upeti, harta, wanita, penjilatan dan segala bunga-bunga kekuasaan yang mereka nikmati?

Pembicaraan masih terus berlanjut hingga dini hari di antara cangkir-cangkir kopi yang telah mengering. Diantara dengungan nyamuk yang kekenyangan karena darah-darah yang mereka sedot dari para begundal.

Moral.
Apa alasannya orang yang tak lengkap tidak menjadi presiden? Apakah Lembaga Aturan itu Tuhan bisa mengatur-ngatur takdir seseorang bisa menjadi presiden atau tidak? Apakah kelengkapan seseorang menjamin bahwa moral mereka lengkap tak tercela? Apakah kepura-kepuraan dari para calon yang yang berbau darah bukan ketidaklengkapan? Apakah dajal-dajal peminum darah seperti mereka bisa menjadi pemimpin negeri? Dajal, seperti di cerita kitab-kitab itu, yang akan menguasai dunia dengan kelaliman yang luar biasa?

Para begundal dipimpin Lepek, Bengus dan Sengkelit seperti kesurupan. Mereka mulai membicarakan bagaimana mengelompok-ngelompokan rakyat dengan kebodohannya. Mempersenjatainya. Mengomporinya. Mengajari membunuh, memenggal kepala, membakar kehormatan. Bagaimana cara kelompok-kelompok itu menjadi seperti zombie yang bergerak berkelompok, saling mencakar, menerkam dan saling membunuh.

Ruangan itu selanjutnya seperti berbau amis. Anyir, berbau darah.

Sekelompok orang itu masih tetap menunggu, mengerumuni sebuah otak yang sudah membusuk. Berbelatung, bernanah, dan menyebarkan bau busuk. Isyarat-isyarat kebusukan itulah yang kemudian menyebar. Memberi sinyal-sinyal kepada para pengerubungnya, yang kemudian menyebarkannya. Mengoyak-ngoyak, mengobrak-abrik opini dan omongan yang beredar di mana-mana…

Sebenarnya yang tersisa dari Juragan Hanyir, memang tinggal itu: otak yang sudah berbelatung, bernanah dan menyebarkan bau amis-busuk ke mana-mana...
***

Cisauk Banten, Mei 2004