cerpen
Anyir
Galang
Jamparing
Ah! Omong kosong apalagi
ini? Harian Nasional yang dari tadi tidak lepas dari pandangannya itu
dibanting. Headline hari itu seperti merajam, mencabik-cabik harga dirinya
sebagai tokoh yang selama ini diagung-agungkan kalangannya.
'Orang Tak Lengkap
Tak Bisa jadi Pemimpin Nasional' judul headline itu.
Juragan Hanyir benar-benar
marah. Emosinya menggelegak seperti lava gunung merapi yang meluap-luap.
Kemarahan, sudah tidak cukup lagi untuk menggambarkan suasana hatinya
saat ini.
Selama ini, walaupun
dia tidak lengkap sebagai manusia pada umumnya, tidak ada masalah atau
mempermasalahkan dengan keberadaannya. Orang-orang di sekelilingnya
masih mendengarkannya. Menganggung-agungkannya. Menghormatinya.
Mereka menganggap setiap
kalimat yang mengalir darinya seperti ayat-ayat suci. Umatnya akan mengatakan
'daun' jika dia bilang 'daun' walaupun dalam kenyataannya, apa yang
dia persepsikan itu adalah 'buah' atau bahkan 'batu' sekalipun. Dengan
kemampuannya itu pulalah, dia bisa membalik-balikkan persepsi massa.
Dia telah menjadi kebenaran itu sendiri.
Malah sedikit orang
di antaranya, telah menganggap dia itu orang suci, santa, bahkan tuhan!
Apa yang keluar dari mulutnya selalu dianggap kebenaran. Kalaupun ada
yang salah orang menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu, jenaka atau
intermezzo. Juragan Hanyir adalah kebenaran.
Dengan kemampuan itulah,
dia bisa mengendalikan massanya. Kecerdikan, culas, dan akal busuk ternyata
dengan gampang menginjak kebodohan rakyat kebanyakan. Ha! Omong kosong
dengan kepemimpinan nasional. Persetan dengan kesejahteraan rakyat,
pengangguran, penggusuran, pembunuhan, penjarahan, penyeludupan inflasi,
korupsi yang mengkanker menggerogoti semua kalangan, bangsa yang semakin
bengis, kejahatan di mana-mana, penggusuran, harga-harga naik.
Namun yang pasti, toh
di atas semua persoalan itu dirinya dapat menikmati semua kemewahan
seorang pemimpin. Kekayaan, jalan-jalan ke luar negeri, seluruh negeri-negeri
di dunia hampir dijejaki. Serta kerabat keluarga yang ditempatkan di
banyak jabatan juga keuntungan tersendiri.
Pemimpin adalah puncak
dari segala keserakahan. Para cukong, penjudi, koruptor, semua akan
merangkak-rangkak menjilat. Mereka akan merubung seperti anjing mengharap
iba tuannya yang juga raja-raja anjing.
Jika berkumpul, omongan mereka seperti serigala yang berebut daging
mentah karena yang dibicarakan hanya soal upeti dan korupsi uang rakyat.
Mulutnya berlidah ular.
Apa yang mereka katakana selalu bercabang-cabang tak tentu arah.
Hatinya adalah batu granit berbalut darah.
Tak ada belas kasihan.
Yang ada adalah kepura-puraan dan munafik. Berapa pun nyawa gampang
dikorbankan untuk kepentingannya. Kalau perlu massa dibagi-bagi, diberi
beragam senjata untuk saling membunuh. Perang dan kerusuhan adalah juga
kesenangan karena bau amis darah seperti harum cendana yang memabukan.
Matanya adalah kelicikan.
Pandangan mata simpati
cumalah palsu karena jauh di hatinya yang berbalut darah itu berinti
kebengisan.
Tawanya adalah bisa. Senyumnya adalah racun. Karena dibalik semua itu
hanyalah kepalsuan, munafik, kepura-puraan untuk membokong siapa saja
dari belakang.
Penampilannya adalah
setan.
Berbalut kemewahan
dan kejumaan seorang tokoh yang memabukan. Para pemimpin sebenarnya
sudah seperti setan yang memalsukan segala keadaan.
***
Juragan Hanyir masih
menggelegak. Gumamannya masih seperti lava panas yang sepertinya langsung
membakar panas seluruh ruangan. Sejumlah orang itu yang mengelilinginya-orang
menyebutnya Begundal-tampak terbungkuk-bungkuk. Satu dua orang di antaranya
salah berbisik seolah-olah membicarakan kegundahan pemimpinnya. Yang
lainnya, berusaha menyabar-nyabarkannya.
"Memang keterlaluan,
Juragan. Mereka telah berusaha menjegal kita," kata Drs Lepek.
Dia pun mengeluarkan analisanya mengenai aturan dari Lembaga Aturan
soal ketentuan "orang tak lengkap tak bisa menjadi pemimpin nasional
" itu. Mereka telah menjegal Juragan Hanyir untuk ikut serta dalam
pemilihan raya dengan syarat-syarat sesuka mereka.
Lepek berbusa-busa.
Aturan itu merupakan hasil dari persekongkolan para elit politik yang
memang tidak suka kepada mereka. Mereka sengaja mengothak-athik gathuk
aturan, seolah-olah hanya orang-orang yang sempurnalah yang bisa menjadi
presiden. "Bahkan, nabi pun tidak ada yang sempurna," kata
Lepek. Dalam setiap pembicaraanya, dia memang selalu menabur ayat-ayat
Kitab Suci, seolah-olah orang yang calakan mengutip ayat-ayat adalah
nabi yang selalu menebar kebenaran.
Bengus, begundal lainnya,
pun mengiyakan. Mengompori. "Kita harus ambil tindakan. Kalau perlu
kita ajak semua massa kita untuk menduduki kantor-kantor Lembaga Aturan,"
kata Bengus. AC ruangan tak mampu menahan kegerahan hatinya. Sengkelit,
begundal yang memang dikenal memiliki daya analisa yang tajam pun segera
menyodorkan teori-teori bagaimana melabrak Lembaga Aturan.
Semua jalur disiapkan
agar perjalanan dalam perjuangan itu bisa mulus berujung tercapainya
kekuasaan. Jalur-jalur itu sudah melembaga, tinggal bagaimana Juragan
Hanyir dan para Begundal memanfaatkannya.
Hukum.
Banyak peluang di
sini. Lembaga peradilan sudah sangat dikenal sebagai lembaga busuk.
Tempat sampah lebih bersih dari lembaga itu. Jaksa, hakim bahkan mahkamah
agung dan kejaksaan agung adalah pelanggaran hukum itu sendiri. Siapa
menguasai siapa, dia yang menang. Dia seperti rimba belantara, siapa
kuat, siapa dapat membeli siapa kemudian dia dengan gampang akan menjadi
hukum itu sendiri.
Mengendalikan hukum.
Mempermainkan hukum. Meludahi. Mengunyahnya Memperkosanya. Apa saja
yang mereka suka.
Semua orang bersandar
kepada hukum. "Itulah, yang menyebabkan semuanya menjadi busuk:
ketika orang-orang menyandarkan diri kepada yang busuk. Bukankah kebusukan
sudah tak terpisahkan dari kita," kata Bengus. Para begundal mengiyakan.
Sebagian bertepuk tangan, kegirangan.
Pers. Media.
Ah, omong kosong itu pers
adalah pilar demokrasi keempat. Taik kucing pers itu amanat suara rakyat.
Sudah lama lembaga itu seperti kompleks pelacuran. Pemilik koran, radio,
televisi adalah kapitalis sialan. Bercadar idealisme dia akan memperdagangkan
medianya sebagai lembaga demokrasi. Tajuknya adalah puisi-puisi dan
filsafat tajam menganalisa semua persoalan. Menyentuh hati terdalam
untuk memperjuangkan kebenaran. Di balik kata-kata dan gambar-gambar
mereka senyatanya adalah adalah berpikir bagaimana mengeruk keuntungan
dari iklan para binatang kapitalis lainnya.
Wartawan sudah demikian menjijikkan
karena mereka seperti pelacur-pelacur bertelanjang badan menawarkan
diri. (Bahkan, pelacur pun lebih terhormat karena mereka masih menyembunyikan
kehormatannya dengan gincu dan pupur tebal).
"Media bukan lagi watchdog
yang seharusnya mengawasi tegaknya kebenaran. Para awaknya tidak lebih
dari pelacur-pelacur bertelanjang, bodoh, dan mau menjual dirinya sekalipun,"
kata Lepek.
Lumayan. Juragan Hanyir agar terhibur.
Dia terkekeh. Dia tertawa keras dan ingat bagaimana media massa, dia
main-mainkan dengan segala pernyataannya yang menurut dia bernilai berita.
Omongannya selalu menjadi headline, termasuk headline Koran Nasional
sialan itu.
Lobby politik.
Masih banyak jalan lain. Dagang
sapi! Politik negeri ini belumlah beranjak dari tawar-menawar kekuasaan,
bagi-bagi porsi menteri, dirjen, dan direktur perusahaan negara. Membela
rakyat, memperjuangkan rakyat kecil, menghapus pengangguran, menciptakan
lapangan kerja, meningkatkan pendidikan adalah barang dagangan yang
selalu mereka jual di saat kampanye pemilihan. Selebihnya itu hanya
menjadi kliping koran.
Setelah kekuasaan di tangan, dan
tahta diduduki: politik tidak lebih dari bagaimana melanggengkan kekuasaan,
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, korupsi dan menginjak rakyat
sekeras-kerasnya. Bancakan dari hasil jarahan: hutan, tambang dan segala
kekuasaan negeri hanyalah semudah membuat undang-undang palsu atas nama
rakyat belaka.
"Kita masih bisa buka koalisi
dengan partai ini-itu. Kesempatan kita masih terbuka di sini. Kita masih
bisa mendukung calon presiden lain. Yang penting ada kesepakatan dan
janji politik," kata Sengkelit.
Lepek, Bengus, Sengkelit dan para
begundal lainnya memang dilanda kegundahan luar bisa. Kalau saja, Juragan
Hanyir tidak bisa menjadi presiden jadi apa mereka. Kembali menjadi
kacung? Kembali ke paguron, mengajarkan moral taik kucing itu kepada
murid-muridnya? Tidak akan ada lagi kemewahan, upeti, harta, wanita,
penjilatan dan segala bunga-bunga kekuasaan yang mereka nikmati?
Pembicaraan masih terus
berlanjut hingga dini hari di antara cangkir-cangkir kopi yang telah
mengering. Diantara dengungan nyamuk yang kekenyangan karena darah-darah
yang mereka sedot dari para begundal.
Moral.
Apa alasannya orang yang tak
lengkap tidak menjadi presiden? Apakah Lembaga Aturan itu Tuhan bisa
mengatur-ngatur takdir seseorang bisa menjadi presiden atau tidak? Apakah
kelengkapan seseorang menjamin bahwa moral mereka lengkap tak tercela?
Apakah kepura-kepuraan dari para calon yang yang berbau darah bukan
ketidaklengkapan? Apakah dajal-dajal peminum darah seperti mereka bisa
menjadi pemimpin negeri? Dajal, seperti di cerita kitab-kitab itu, yang
akan menguasai dunia dengan kelaliman yang luar biasa?
Para begundal dipimpin
Lepek, Bengus dan Sengkelit seperti kesurupan. Mereka mulai membicarakan
bagaimana mengelompok-ngelompokan rakyat dengan kebodohannya. Mempersenjatainya.
Mengomporinya. Mengajari membunuh, memenggal kepala, membakar kehormatan.
Bagaimana cara kelompok-kelompok itu menjadi seperti zombie yang bergerak
berkelompok, saling mencakar, menerkam dan saling membunuh.
Ruangan itu selanjutnya
seperti berbau amis. Anyir, berbau darah.
Sekelompok orang itu
masih tetap menunggu, mengerumuni sebuah otak yang sudah membusuk. Berbelatung,
bernanah, dan menyebarkan bau busuk. Isyarat-isyarat kebusukan itulah
yang kemudian menyebar. Memberi sinyal-sinyal kepada para pengerubungnya,
yang kemudian menyebarkannya. Mengoyak-ngoyak, mengobrak-abrik opini
dan omongan yang beredar di mana-mana
Sebenarnya yang tersisa
dari Juragan Hanyir, memang tinggal itu: otak yang sudah berbelatung,
bernanah dan menyebarkan bau amis-busuk ke mana-mana...
***
Cisauk Banten, Mei 2004