edisi 75
rabu 12 mei 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 75

laporan TCIODITNT
Liston Siregar

cerpen Bambu Ungu
Juni Poppin

sajak Ayat-ayat Waktu
Pedje

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

"Jendela sudah dibetulkan dengan dempul?"
"Belum." Yury terus menulis
"Sudah waktunya, bukan?"
Yury tekun dalam kerjanya dan tidak menjawab.
"Sayang, Tarasyuk tak ada," sambung ahli kimia itu. "Ia patut dinilai dengan emas, betul. Melap sepatu atau reparasi arloji --semuanya itu dia bisa. DAn dia carikan apa saja untuknya. Sekarang kita harus membetulkan jendela sendiri."
"Tak ada dempul."
"Bisa dibikin. Kuberi resepnya."
Diterangkannya bagaimana membuat dempul dengan minyak lin dan kapur. "Nah aku pergi sekarang. Kurasa kau ingin meneruskan kerjamu."

Ia berjalan ke jendela lainnya dan melentikkan jari di atas botol-botol dan hasil-hasil percobannya. "Kau rusakkan matamu," ujarnya sejurus kemudian. "Mulai gelap. Dan tak akan dikasih lampu. Mari pulang."

"Aku kerja dua puluh menit lagi kira-kira."
"Istrinya dulu pelayan di sini."
"Istri siapa?"
"Istri Tarasyuk."
"Aku tahu."
"Dimana dia sendiri tak ada yang tahu. Ia berkeliaran di seluruh negeri. Musim panas yang lampau ia datang dua kali untuk ketemu istrinya, kini ia enyah lagi. Ia menyusun hidupnya secara baru. Ia salah seorang bolsjewik --serdadu yang kita jumpai di mana-mana yang berjalan di lorong-lorong atau naik kereta api. Boleh aku cerita tentang mereka? Ambil saja si Tarasyuk. Dengan kerja tangan ia bisa bikin apa saja. Segala kerjanya mesti baik. Itulah pula yang terjadi dengannya dalam tentara --ia belajar perang, seperti ia belajar pekerjaan-pekerjaan lainnya. Ia menjadi penembak nomor wahid. Reaksinya sempurna, antara mata dan tangan ada kerja sama yang baik. Ia dihadiahi bintang --bukan lantaran keberanian atau otaknya, tapi karena sasarannya selalu kena. Nah apa saja dimulainya, menimbulkan hasrat kuat padanya, jadi berjuanglah ia dengan hebatnya. Ia mengalami apa makna bedil bagi manusia --bedil itu memberi kekuasaan, membawa keistimewaan. Ia ingin menjadi kekuasaan dalam diri sendiri. Manusia dengan bedil bukan manusia sembarangan. Dukukala orang begitu menjadi bandit. Coba saja sekarang mengambil bedilnya dari padanya! Nah lalu muncullah semboyan: todongkan sangkurmu pada majikanmu, maka menodonglah Tarasyuk. Begitulah ceritanya. Itulah Marxisme.'
"Itu jenis yang murni, langsung dari penghidupan. Tak tahu kau?"

Ahli kima itu balik ke tube-tubenya.
" Bagaimana hasilmu dengan spesiasli perapian itu?" tanyanya.
"Aku berterima-kasih sekali padamu, karena kau kirim dia. Orang itu menarik benar. Kami berjam-jam bicara tentang Hegel dan Croce."
"Tentu! Ia dapat doktorat filsafatnya di Heidelberg. Bagaimana tungkunya?"
"Tak begitu baik."
"Masih keluar asapnya?"
"Tak henti=henti."
"Ia tak sanggup membetulkan cerobong. Pipanya mestinya disambungkan pada saluran api. Apa dia pegang itu lewat jendela?"
"Tidak, lewat saluran api. Tapi asap masih ke luar juga."
"Kalau begitu ia tak dapat menemukan lobang hawa yang tepat. Sayang Tarasyuk tak ada! Tapi tungku itu akhirnya akan baik juga. Moskow tak dibangun dalam satu hari. Membetulkan tungku sampai bisa dipergunakan bukanlah seperti main piano, perlu keahlian. Kau sudah dapat kayu?"
"Dari mana bisa didapat?"
"Kusuruh jurukunci gereja datang padamu nanti. Dia pencuri bahan bakar. Dia potong pagar-pagar untuk dijadikan kayu bakar. Tapi harus tawar menawar dengan dia. Lebih baik si penangkap tikus saja/"

Mereka turun menuju kamar pakaian, mengenakan mantel, lalu keluar.

"Penangkap tikus? Tapi tak ada tikus di sini."
"Tak ada hubungannya dengan tikus. Aku bicara tentang kayu. Si penangkap tikus itu perempuan tua yang banyak berdagang kayu. Dia kerjakan itu benar-benar atas dasar perusahaan, dibelinya rumah-rumah untuk bahan bakar. Wah gelap, awas kalau melangkah. Dulu aku dapat membawa kau kemana-mana dengan mata tertutup di kota ini, kukenal tiap batu, aku lahir dekat sini. Tapi sesudah tiap pagar dirombak, tak dapat kutemukan jalan, juga tidak wakti siang. Seperti di kota asing saja. Tapi juga ada tempat-tempat hebat mulai nampak. Lihat tidak? Ada rumah-rumah kecil bergaya Empire yang tak pernah kita ketahui, dengan meja bundar hijau dan kursi-kursi taman yang lapuk di atas rumput. Tempo hari aku lewat di tempat seperti itu, semacam rimba kecil di simpang tiga: ada wanita tua mengais-ngais dengan tongkat --kira-kira seratus tahun umurny: Halo nenek, tegurku, kamu cari cacing untuk mancing?" Aku main-main tentunya tapi dia bersungguh-sungguh. Bukan cacing, ujarnya, jamur. Danm itu benar, kota lambat laun jadi hutan. Ada bau daun busuk dan bau cendawan."
"Agaknya kutahu tempat yang kau maksud --antara Jalan Perak* dan Jalan Sunyi bukan? Aneka hal yang aneh-aneh kualami di situ, tiada mengherankan: di belakangnya ada padang kelinci, jaringan lorong-lorong yang menuju ke tempat persembunyian yang tua untuk maling-maling dekat Smolensky. Sebelum kita sadar di mana kita berada, mereka telah menelanjangi kita dan lenyap."
"Dan tengoklah lampu-lampu jalanan itu --sisanya hampir tak ada. Tak heran orang menyebutnya 'penjotos'. Awas jangan ketabrak apa-apa."
***bersambung