edisi 75
rabu 12 mei 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 75

laporan TCIODITNT
Liston Siregar

sajak Ayat-ayat Waktu
Pedje

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


cerpen Bambu Ungu
Juni Poppin

Kinanti Satryandini
Pelukis 12 tahun itu sekonyong-konyong tanpa alasan mengganggu tidur Dinar malam tadi. Padahal di usia kehamilannya yang sudah 8 bulan itu, tanpa bayangan gadis bernama Kinanti itu pun, Dinar sudah sering sulit tidur.

Sialnya, saat terkantuk-kantuk pagi hari, ditengah kerusuhan pagi hari di rumahnya, saat 2 anaknya merajam tubuhnya dengan seratus kerepotan sebelum berangkat sekolah mereka, Dinar juga diteror khayalannya tentang sosok pelukis cilik bernama Kinanti Satryandini.

Seperti apa mukanya, pendek atau tinggi semampai, sexy-kah, apakah dia gadis indo dengan kecantikan menjanjikan dan rambut kemerahan, apakah dia cacat tubuh, melukis dengan lidahnya, anak seorang pesohor, seorang gadis misterius yang sebelumnya tidak tersentuh peradaban, dan sosok-sosok lain yang membuat Dinar setengah ngeri setengah geli.

Kalau saja, seorang Kinanti itu hanya salah satu mahasiswinya yang bermasalah, atau mahasiswi yang jatuh cinta pada Anton-nya yang tampan itu.

Gadis itu tidak seharusnya menggantung di benak Dinar. Tapi Gadis pelukis itu sudah membuat Anton-nya yang tampan itu sepucat mayat siang kemarin.

"Dia seperti Van Gogh kecil berkelamin betina Ton!" seru Taufik sang kurator muda sahabat Anton-nya, saat makan siang bertiga siang kemarin.

Respon "Oh ya?!" Anton-nya dengan mata berbinar kemudian, sebetulnya sangat biasa.

Dinar paham respon dan binar mata suaminya saat itu. Sejak pagi harinya, Anton-nya memang riang sekali, karena sehari sebelumnya ia baru saja diangkat menjadi pembantu rektor 2 di Universitas tempatnya mengajar.

"Siapa namanya Fik?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Anton-nya sambil menuangkan teh manis dari gelas Dinar ke gelasnya yang sudah kosong. Amat biasa.

Hampir saja lolos dari perhatian Dinar, beberapa detik setelah setelah Taufik si kurator menyebutkan nama gadis itu, Anton seperti telah menelan teh manis berserta gelasnya ke dalam tenggorakan. Anton terpaku, entah tercekik apa, dengan gelas setengah terangkat di tangan kanannya. Mengapa nama Kinanti Satryandini membuat suaminya pucat dan terpaku?
***

Bangun tidur dengan kepala terjepit gelangan besi seberat 5 kg memang sangat menyakitkan. Gelangan besi itu pasti berkarat dan tajam sisi-sisinya, karena Anton merasa sekeliling kulit luar batok kepalanya nyeri dan perih. "Dinar…"

Apa ya yang dibutuhkannya dari istrinya itu? Apa ini gelangan besi di kepala karena…

Ah tidak. Ia tidak ingin istri tercintanya dengan perut buncit terengah-engah memenuhi keinginannya. Nanti kalau ada apa-apa dengan anak ke-3 mereka yang ada di perut Dinar itu, ia akan kerepotan sendiri.

Terhuyung ke depan cermin, Anton kemudian tahu bahwa gelangan besi itu hanya dalam imajinya saja. Mencoba memijit-mijit kepalanya sendiri untuk menghentikan imajinya itu ternyata tidak mudah. Mungkin saja karena ia telah melewatkan semburan matahari pagi setengah jam yang lalu, yang kata orang punya kekuatan membuat orang tersenyum di pagi hari. Atau karena semalam ia melewatkan kehangatan tubuh bunting Dinar? Atau karena Kinanti Satryandini?

Apa atau siapa nama itu…

Sebuah bayangan dari masa lalunya tiba-tiba muncul di balik cermin yang ditatapnya. Anton memaksa ingatannya kembali ke suatu waktu saat gemuruh ombak terdengar teramat syahdu. Ia dan perempuan berambut cepak yang tak pernah menahan tawanya itu duduk rapat di segelondong palem di antara hamparan pasir pantai.

" Aku ingin punya anak perempuan…"
"Aku tidak boleh hamil sampai tahun depan sayangku…"
"Kita akan menunggu dengan sabar…"
" Perempuan atau laki-laki?"
" Apa saja!"
" Akan kau beri nama apa kalau laki-laki?"
"Bintang Merah!"

Lalu perempuan cepak itu tertawa lepas. Tawa yang selalu disukai Anton karena membangkitkan berahinya.
" Kalau perempuan, akan kunamai Kinanti Satryandini!"
"Artinya?"
" Sesuatu yang diingat-ingat dan menjadi pahlawan perempuan yang datang sebelum dibutuhkan!"
"Panjang amat nama perempuannya, kok tidak sesederhana nama laki-laki"
"Perempuan memang tidak sederhana sayang…"

Pakkk! Anton menampar mukanya sendiri. Lumayan keras untuk mematikan mesin waktu itu. Otak dosennya bekerja, nama itu mungkin saja dipakai orang-orang lain yang menyukai sastra Jawa seperti dirinya. Ia tidak berhak mematenkan nama itu. Apalagi sosok perempuan cepak itu sudah belasan tahun raib dari dunianya.

"Telepon dari Taufik sayaaaang!"
Teriakan Dinar sang istri membuat kepalanya bergerak ke arah pintu kamar mandi.
Taufik pasti ingin memastikan apakah ia akan ikut dengannya ke Bali. Di sana gadis pelukis itu akan berpameran tunggal.

Kalau benar gadis itu terbawa mesin waktu yang mengganggunya beberapa saat lalu itu, pasti dia bukan seorang pelukis. Siapa diantara ia dan perempuan cepak itu yang berbakat sebagai perupa? Tidak seorangpun.

Perempuan itu hanya berminat untuk cuap-cuap di depan mikropon sebagai penyiar radio, lalu dirinya selalu terekat dengan keyboard komputer menulis semua isi batok kepalanya dan membiarkan orang-orang yang tidak pernah tahu bentuk wajahnya membaca semua hasil tulisannya.

Sebentar, biar ku pause.

Anton kecil adalah anak yang senang mencoret-coret di buku, sembarang kertas, dinding dan sofa kesayangan ibunya. Tapi kemudian pelajaran melukis di SMP tidak pernah disukainya, meski sang bapak guru memuji lukisan bebasnya yang diberi judul 'Dusun Simbah.'

Almarhumah ibunda yang seperti bibi titi teliti dalam komik kesayangannya waktu kecil, selalu menyimpan rapi benda-benda yang membanggakan yang dihasilkannya. Beberapa piala lomba cerdas cermat, lomba mengarang dan piala juara sepak bola bercampur dengan lukisan yang menggambarkan kampung tempat ibunya dilahirkan itu.

Semua disimpan ibunya dalam kotak kayu cantik. Jadi sepertinya gadis itu bukan siapa-siapa-nya.
***

Dinar seperti asesoris terbaiknya. Saat bertemu dengan teman-teman lama para sastrawan idealis di lobi hotel tempat Anton dan Taufik di-inapkan di Tampak Siring, Dinar amat terampil membuat Anton bangga. Dengan gerakan tangan mengelus-elus perut buncitnya, menggenggam erat tangan Anton saat ia menceritakan 2 anaknya yang lain yang dititipkan di rumah orang tua Dinar karena keterbatasan anggaran mereka.

"Sebenarnya yang terpenting adalah mereka tidak boleh bolos sekolah!" ujar Dinar terdengar luar biasa bijaksana.

Sementara teman-teman lamanya mengangguk-angguk mengamini ucapan istrinya, Anton memuji kalimat istrinya itu dalam hati. Betapa Dinar adalah asesoris yang menyelamatkan harga dirinya, selalu.

Setelah menunaikan tugasnya sebagai asesoris terbaik Anton, usai makan siang, dia memutuskan untuk berbelanja layaknya istri-istri yang tidak tahu untuk apa memelototi lukisan anak berusia 12 tahun. Anton bernafas lega karena kenyamanan yang menyeruak. Yah seperti itulah istri yang ideal versinya, harus tahu kapan harus berada disamping suami menjaga harga diri dan kelelakiannya, kapan harus angkat kaki dan mengembalikannya ke surga dunia.

Taufik yang tidak ber-asesoris kemudian menyeretnya ke lantai atas. Tiga ruangan penuh lukisan yang dijadikan satu areal terbuka menyambut langkah Anton dan teman kurator mudanya.

Seorang lelaki muda berpakaian etnis Bali menyentuh siku kanannya dan mengantarnya melihat deretan lukisan berukuran besar-besar di satu sisi dinding. Sebagian tampak ditandai 'Sold' di bagian bawahnya.

Tak tertahan Anton menyorotkan kekagumannya, demi melihat harga lukisan-lukisan itu yang mahal sekali untuk ukuran pelukis muda.

" Silahkan melihat-lihat tuan-tuan! Beberapa menit lagi Anti akan menemani anda. Dia sedang diwawancara stasiun TV!" ucap sang pemuda ramah.

Anti? Panggilan yang terdengar "ganas". Anton tersenyum. Tetap dalam kekaguman yang mengharu biru. Taufik berada sejurus di depannya, dan ia tampak berminat pada salah satu lukisan yang belum ditandai 'Sold" di bawahnya.

Anton berseru dalam hati: "Ayo Fik… beli saja, dan kamu akan meneleponku seminggu kemudian untuk meminjam uang." Anton terkekeh membenarkan pikirannya.

Kekeh itu nyaris berubah jadi tawa ketika Taufik si kurator menyentuh pigura lukisan itu dan menatap dari dekat lukisan bernuansa ungu itu. Tawa Anton tertahan di jakunnya. Seorang gadis berbalut baju etnis Bali yang seksi menghampiri Taufik dengan senyum yang benderang.

Senyum gadis itu mengingatkan Anton kepada perempuan cepak yang memoroti perasaan romantisnya, di tepi pantai di atas gelondongan palem. Dulu...

Itukah Kinanti Satryandini? Betapa mirip wajahnya dengan Astrid, perempuan cepak yang seksi yang pernah mencintainya belasan tahun lalu. Tapi Astrid bekas pacarnya itu pengidap kanker otak, dan diramalkan mati dalam beberapa bulan setelah Anton menyetubuhinya, tanpa rencana, di tepi pantai itu. God! Gila aku seperti mengharapkan Astrid mati, pikir Anton.

Otak dosennya bekerja lagi. Mungkin saja Astrid sembuh dan menikah. Lalu gadis berambut panjang seksi bernama Kinanti itu adalah anak Astrid. Astrid pasti telah sengaja menamai anak gadisnya dengan nama yang diucapkannya di pantai itu untuk mengenang dirinya, pikir Anton serius.

Langkahnya agak ragu mendekati gadis yang sedang dirangkul Taufik si kurator itu.

"Hei Fik! Kau sembarangan merangkul anak gadisku!" Ups, itu tidak akan terucap, pikirnya pada dirinya sendiri.

Kemungkinan besar, gadis itu memang anak Astrid bekas pacarnya. Tapi bukan anaknya! Tidak ada kemiripan gadis itu dengan dirinya.

Lagipula, bagaimana mungkin Astrid hamil olehnya. Saat Astrid diseret orang tuanya di bandara menuju Singapura, kota yang menjanjikan dokter sakti untuk penyakit kanker otaknya itu, dia sangat langsing dan seksi. Perutnya rata saat itu. Tidak ada janin di dalamnya! Anton berjuang meyakinkan dirinya sendiri.
Waktu itu perut Astrid rata! Amat rata Anton!

Ya Anton yakin 150% bahwa Astrid tidak hamil saat itu. Perut rata Astrid sudah dilihatnya dalam keadaan telanjang, semalam sebelum keberangkatnnya ke Singapura.

Astrid tidak hamil saat meninggalkannya terbengong-bengong di ruang bandara saat itu! Jadi gadis itu bukan anaknya. "Sama Ssekali Bukan!" jerit Anton dalam hati.

"Ton, kau pikir aku bisa merayunya untuk memberiku diskon ?!" ujar Taufik si kurator sambil tetap merangkul bahu telanjang gadis itu. Kurang ajar!

Anton setengah mati memalingkan pandangannya dari tangan kasar Taufik yang sedang merangkul Kinanti Satryandini itu ke arah lukisan yang juga dipegang taufik. Betapa kemaruknya si Taufik itu! Anton membaca judul lukisan itu: Bambu Ungu.

Gambar serumpun bambu yang didominasi warna ungu yang membius. Lukisan itu misterius dan agak menakutkan. Tapi mungkin karena pigura berwarna keemasan dan mahal itu, membuat lukisan 'seram' itu tampak elegan.

Pakkk! Sebuah tamparan di wajah Anton yang entah darimana datangnya. Keras sekali!

Gadis pelukis seksi dan Taufik si kurator menatapnya curiga. Mata Anton menatap nanar keduanya, tapi sebuah mesin waktu dalam beberapa detik telah menyeret isi batok kepalanya ke sebuah masa, saat Anton kecil melukis di atas beranda kayu rumah kakek ibunya. Di rumah simbahnya.

"Wah gambarmu bagus banget Ton!" puji sang simbah.
"Tapi kok pohon-pohonnya diwarnai ungu, ndak hijau?"
"Ini pohon-pohon bambu Mbah… Kata Mbah Putri, pohon bambu yang kuat dan bagus itu warnanya bukan hijau, tapi ungu! Banyak sari tebunya yang rasanya manis!" jawab Anton kecil bangga.

Mesin waktu itu mogok lagi.

Otak dosennya me-recall berlembar-lembar pertemuan. Dengan siapa ia menceritakan kronologis lukisan kesayangan almarhumah bundanya itu.Ya Tuhan! Hanya dengan Astrid.

"Kenapa kau menamai lukisanmu bambu ungu?". Gadis seksi itu terkesiap mendengar pertanyaan Anton.
" Bapakku selalu melukis bambu dengan warna ungu…"
"Siapa bapakmu? Pelukis juga kah ia?" sejenak kelegaan mendobrak dada Anton.
"Bapakku sudah mati. Ibuku yang menceritakan hal itu padaku…'
"Mati?"
"Ya. Aku tidak pernah tau bapakku siapa, tapi almarhumah ibu waktu aku kecil selalu menceritakan semua hal tentang bapakku. Kenapa anda bertanya seperti itu?"
"Almarhumah ibu?"
"Ehg… Ya pak. Ibuku meninggal saat aku berusia 7 tahun karena penyakit kanker otaknya. Bapak kenal ibuku?"

Jadi Astrid mampu bertahan lebih dari 7 tahun setelah vonis kanker otaknya…

"Apa ibumu menyebutkan nama bapakmu?"
"Ibu hanya bilang bapakku pandai menulis dan menyukai sastra. Ibu mengaku tidak ingat namanya…"
***

Bandung, 5 Oktober 2003