cerpen
Bambu Ungu
Juni Poppin
Kinanti Satryandini
Pelukis 12 tahun itu sekonyong-konyong
tanpa alasan mengganggu tidur Dinar malam tadi. Padahal di usia kehamilannya
yang sudah 8 bulan itu, tanpa bayangan gadis bernama Kinanti itu pun,
Dinar sudah sering sulit tidur.
Sialnya, saat terkantuk-kantuk
pagi hari, ditengah kerusuhan pagi hari di rumahnya, saat 2 anaknya
merajam tubuhnya dengan seratus kerepotan sebelum berangkat sekolah
mereka, Dinar juga diteror khayalannya tentang sosok pelukis cilik bernama
Kinanti Satryandini.
Seperti apa mukanya,
pendek atau tinggi semampai, sexy-kah, apakah dia gadis indo dengan
kecantikan menjanjikan dan rambut kemerahan, apakah dia cacat tubuh,
melukis dengan lidahnya, anak seorang pesohor, seorang gadis misterius
yang sebelumnya tidak tersentuh peradaban, dan sosok-sosok lain yang
membuat Dinar setengah ngeri setengah geli.
Kalau saja, seorang
Kinanti itu hanya salah satu mahasiswinya yang bermasalah, atau mahasiswi
yang jatuh cinta pada Anton-nya yang tampan itu.
Gadis itu tidak seharusnya
menggantung di benak Dinar. Tapi Gadis pelukis itu sudah membuat Anton-nya
yang tampan itu sepucat mayat siang kemarin.
"Dia seperti Van Gogh kecil
berkelamin betina Ton!" seru Taufik sang kurator muda sahabat Anton-nya,
saat makan siang bertiga siang kemarin.
Respon "Oh ya?!" Anton-nya
dengan mata berbinar kemudian, sebetulnya sangat biasa.
Dinar paham respon dan binar mata
suaminya saat itu. Sejak pagi harinya, Anton-nya memang riang sekali,
karena sehari sebelumnya ia baru saja diangkat menjadi pembantu rektor
2 di Universitas tempatnya mengajar.
"Siapa namanya Fik?" pertanyaan
itu terlontar dari mulut Anton-nya sambil menuangkan teh manis dari
gelas Dinar ke gelasnya yang sudah kosong. Amat biasa.
Hampir saja lolos dari perhatian
Dinar, beberapa detik setelah setelah Taufik si kurator menyebutkan
nama gadis itu, Anton seperti telah menelan teh manis berserta gelasnya
ke dalam tenggorakan. Anton terpaku, entah tercekik apa, dengan gelas
setengah terangkat di tangan kanannya. Mengapa nama Kinanti Satryandini
membuat suaminya pucat dan terpaku?
***
Bangun tidur dengan kepala terjepit
gelangan besi seberat 5 kg memang sangat menyakitkan. Gelangan besi
itu pasti berkarat dan tajam sisi-sisinya, karena Anton merasa sekeliling
kulit luar batok kepalanya nyeri dan perih. "Dinar
"
Apa ya yang dibutuhkannya dari istrinya
itu? Apa ini gelangan besi di kepala karena
Ah tidak. Ia tidak ingin istri tercintanya
dengan perut buncit terengah-engah memenuhi keinginannya. Nanti kalau
ada apa-apa dengan anak ke-3 mereka yang ada di perut Dinar itu, ia
akan kerepotan sendiri.
Terhuyung ke depan cermin, Anton
kemudian tahu bahwa gelangan besi itu hanya dalam imajinya saja. Mencoba
memijit-mijit kepalanya sendiri untuk menghentikan imajinya itu ternyata
tidak mudah. Mungkin saja karena ia telah melewatkan semburan matahari
pagi setengah jam yang lalu, yang kata orang punya kekuatan membuat
orang tersenyum di pagi hari. Atau karena semalam ia melewatkan kehangatan
tubuh bunting Dinar? Atau karena Kinanti Satryandini?
Apa atau siapa nama itu
Sebuah bayangan dari masa lalunya
tiba-tiba muncul di balik cermin yang ditatapnya. Anton memaksa ingatannya
kembali ke suatu waktu saat gemuruh ombak terdengar teramat syahdu.
Ia dan perempuan berambut cepak yang tak pernah menahan tawanya itu
duduk rapat di segelondong palem di antara hamparan pasir pantai.
" Aku ingin punya anak perempuan
"
"Aku tidak boleh hamil sampai tahun depan sayangku
"
"Kita akan menunggu dengan sabar
"
" Perempuan atau laki-laki?"
" Apa saja!"
" Akan kau beri nama apa kalau laki-laki?"
"Bintang Merah!"
Lalu perempuan cepak itu tertawa
lepas. Tawa yang selalu disukai Anton karena membangkitkan berahinya.
" Kalau perempuan, akan kunamai Kinanti Satryandini!"
"Artinya?"
" Sesuatu yang diingat-ingat dan menjadi pahlawan perempuan yang
datang sebelum dibutuhkan!"
"Panjang amat nama perempuannya, kok tidak sesederhana nama laki-laki"
"Perempuan memang tidak sederhana sayang
"
Pakkk! Anton menampar mukanya sendiri.
Lumayan keras untuk mematikan mesin waktu itu. Otak dosennya bekerja,
nama itu mungkin saja dipakai orang-orang lain yang menyukai sastra
Jawa seperti dirinya. Ia tidak berhak mematenkan nama itu. Apalagi sosok
perempuan cepak itu sudah belasan tahun raib dari dunianya.
"Telepon dari Taufik sayaaaang!"
Teriakan Dinar sang istri membuat kepalanya bergerak ke arah pintu kamar
mandi.
Taufik pasti ingin memastikan apakah ia akan ikut dengannya ke Bali.
Di sana gadis pelukis itu akan berpameran tunggal.
Kalau benar gadis itu terbawa mesin
waktu yang mengganggunya beberapa saat lalu itu, pasti dia bukan seorang
pelukis. Siapa diantara ia dan perempuan cepak itu yang berbakat sebagai
perupa? Tidak seorangpun.
Perempuan itu hanya berminat untuk
cuap-cuap di depan mikropon sebagai penyiar radio, lalu dirinya selalu
terekat dengan keyboard komputer menulis semua isi batok kepalanya dan
membiarkan orang-orang yang tidak pernah tahu bentuk wajahnya membaca
semua hasil tulisannya.
Sebentar, biar ku pause.
Anton kecil adalah anak yang senang
mencoret-coret di buku, sembarang kertas, dinding dan sofa kesayangan
ibunya. Tapi kemudian pelajaran melukis di SMP tidak pernah disukainya,
meski sang bapak guru memuji lukisan bebasnya yang diberi judul 'Dusun
Simbah.'
Almarhumah ibunda yang seperti bibi
titi teliti dalam komik kesayangannya waktu kecil, selalu menyimpan
rapi benda-benda yang membanggakan yang dihasilkannya. Beberapa piala
lomba cerdas cermat, lomba mengarang dan piala juara sepak bola bercampur
dengan lukisan yang menggambarkan kampung tempat ibunya dilahirkan itu.
Semua disimpan ibunya dalam kotak
kayu cantik. Jadi sepertinya gadis itu bukan siapa-siapa-nya.
***
Dinar seperti asesoris
terbaiknya. Saat bertemu dengan teman-teman lama para sastrawan idealis
di lobi hotel tempat Anton dan Taufik di-inapkan di Tampak Siring, Dinar
amat terampil membuat Anton bangga. Dengan gerakan tangan mengelus-elus
perut buncitnya, menggenggam erat tangan Anton saat ia menceritakan
2 anaknya yang lain yang dititipkan di rumah orang tua Dinar karena
keterbatasan anggaran mereka.
"Sebenarnya yang
terpenting adalah mereka tidak boleh bolos sekolah!" ujar Dinar
terdengar luar biasa bijaksana.
Sementara teman-teman
lamanya mengangguk-angguk mengamini ucapan istrinya, Anton memuji kalimat
istrinya itu dalam hati. Betapa Dinar adalah asesoris yang menyelamatkan
harga dirinya, selalu.
Setelah menunaikan
tugasnya sebagai asesoris terbaik Anton, usai makan siang, dia memutuskan
untuk berbelanja layaknya istri-istri yang tidak tahu untuk apa memelototi
lukisan anak berusia 12 tahun. Anton bernafas lega karena kenyamanan
yang menyeruak. Yah seperti itulah istri yang ideal versinya, harus
tahu kapan harus berada disamping suami menjaga harga diri dan kelelakiannya,
kapan harus angkat kaki dan mengembalikannya ke surga dunia.
Taufik yang tidak
ber-asesoris kemudian menyeretnya ke lantai atas. Tiga ruangan penuh
lukisan yang dijadikan satu areal terbuka menyambut langkah Anton dan
teman kurator mudanya.
Seorang lelaki muda
berpakaian etnis Bali menyentuh siku kanannya dan mengantarnya melihat
deretan lukisan berukuran besar-besar di satu sisi dinding. Sebagian
tampak ditandai 'Sold' di bagian bawahnya.
Tak tertahan Anton
menyorotkan kekagumannya, demi melihat harga lukisan-lukisan itu yang
mahal sekali untuk ukuran pelukis muda.
" Silahkan melihat-lihat
tuan-tuan! Beberapa menit lagi Anti akan menemani anda. Dia sedang diwawancara
stasiun TV!" ucap sang pemuda ramah.
Anti? Panggilan yang
terdengar "ganas". Anton tersenyum. Tetap dalam kekaguman
yang mengharu biru. Taufik berada sejurus di depannya, dan ia tampak
berminat pada salah satu lukisan yang belum ditandai 'Sold" di
bawahnya.
Anton berseru dalam
hati: "Ayo Fik
beli saja, dan kamu akan meneleponku seminggu
kemudian untuk meminjam uang." Anton terkekeh membenarkan pikirannya.
Kekeh itu nyaris berubah
jadi tawa ketika Taufik si kurator menyentuh pigura lukisan itu dan
menatap dari dekat lukisan bernuansa ungu itu. Tawa Anton tertahan di
jakunnya. Seorang gadis berbalut baju etnis Bali yang seksi menghampiri
Taufik dengan senyum yang benderang.
Senyum gadis itu mengingatkan
Anton kepada perempuan cepak yang memoroti perasaan romantisnya, di
tepi pantai di atas gelondongan palem. Dulu...
Itukah Kinanti Satryandini?
Betapa mirip wajahnya dengan Astrid, perempuan cepak yang seksi yang
pernah mencintainya belasan tahun lalu. Tapi Astrid bekas pacarnya itu
pengidap kanker otak, dan diramalkan mati dalam beberapa bulan setelah
Anton menyetubuhinya, tanpa rencana, di tepi pantai itu. God! Gila aku
seperti mengharapkan Astrid mati, pikir Anton.
Otak dosennya bekerja
lagi. Mungkin saja Astrid sembuh dan menikah. Lalu gadis berambut panjang
seksi bernama Kinanti itu adalah anak Astrid. Astrid pasti telah sengaja
menamai anak gadisnya dengan nama yang diucapkannya di pantai itu untuk
mengenang dirinya, pikir Anton serius.
Langkahnya agak ragu
mendekati gadis yang sedang dirangkul Taufik si kurator itu.
"Hei Fik! Kau
sembarangan merangkul anak gadisku!" Ups, itu tidak akan terucap,
pikirnya pada dirinya sendiri.
Kemungkinan besar,
gadis itu memang anak Astrid bekas pacarnya. Tapi bukan anaknya! Tidak
ada kemiripan gadis itu dengan dirinya.
Lagipula, bagaimana
mungkin Astrid hamil olehnya. Saat Astrid diseret orang tuanya di bandara
menuju Singapura, kota yang menjanjikan dokter sakti untuk penyakit
kanker otaknya itu, dia sangat langsing dan seksi. Perutnya rata saat
itu. Tidak ada janin di dalamnya! Anton berjuang meyakinkan dirinya
sendiri.
Waktu itu perut Astrid rata! Amat rata Anton!
Ya Anton yakin 150%
bahwa Astrid tidak hamil saat itu. Perut rata Astrid sudah dilihatnya
dalam keadaan telanjang, semalam sebelum keberangkatnnya ke Singapura.
Astrid tidak hamil
saat meninggalkannya terbengong-bengong di ruang bandara saat itu! Jadi
gadis itu bukan anaknya. "Sama Ssekali Bukan!" jerit Anton
dalam hati.
"Ton, kau pikir
aku bisa merayunya untuk memberiku diskon ?!" ujar Taufik si kurator
sambil tetap merangkul bahu telanjang gadis itu. Kurang ajar!
Anton setengah mati
memalingkan pandangannya dari tangan kasar Taufik yang sedang merangkul
Kinanti Satryandini itu ke arah lukisan yang juga dipegang taufik. Betapa
kemaruknya si Taufik itu! Anton membaca judul lukisan itu: Bambu Ungu.
Gambar serumpun bambu
yang didominasi warna ungu yang membius. Lukisan itu misterius dan agak
menakutkan. Tapi mungkin karena pigura berwarna keemasan dan mahal itu,
membuat lukisan 'seram' itu tampak elegan.
Pakkk! Sebuah tamparan
di wajah Anton yang entah darimana datangnya. Keras sekali!
Gadis pelukis seksi
dan Taufik si kurator menatapnya curiga. Mata Anton menatap nanar keduanya,
tapi sebuah mesin waktu dalam beberapa detik telah menyeret isi batok
kepalanya ke sebuah masa, saat Anton kecil melukis di atas beranda kayu
rumah kakek ibunya. Di rumah simbahnya.
"Wah gambarmu
bagus banget Ton!" puji sang simbah.
"Tapi kok pohon-pohonnya diwarnai ungu, ndak hijau?"
"Ini pohon-pohon bambu Mbah
Kata Mbah Putri, pohon bambu
yang kuat dan bagus itu warnanya bukan hijau, tapi ungu! Banyak sari
tebunya yang rasanya manis!" jawab Anton kecil bangga.
Mesin waktu itu mogok
lagi.
Otak dosennya me-recall
berlembar-lembar pertemuan. Dengan siapa ia menceritakan kronologis
lukisan kesayangan almarhumah bundanya itu.Ya
Tuhan! Hanya dengan Astrid.
"Kenapa kau menamai
lukisanmu bambu ungu?". Gadis seksi itu terkesiap mendengar pertanyaan
Anton.
" Bapakku selalu melukis bambu dengan warna ungu
"
"Siapa bapakmu? Pelukis juga kah ia?" sejenak kelegaan mendobrak
dada Anton.
"Bapakku sudah mati. Ibuku yang menceritakan hal itu padaku
'
"Mati?"
"Ya. Aku tidak pernah tau bapakku siapa, tapi almarhumah ibu waktu
aku kecil selalu menceritakan semua hal tentang bapakku. Kenapa anda
bertanya seperti itu?"
"Almarhumah ibu?"
"Ehg
Ya pak. Ibuku meninggal saat aku berusia 7 tahun karena
penyakit kanker otaknya. Bapak kenal ibuku?"
Jadi Astrid mampu
bertahan lebih dari 7 tahun setelah vonis kanker otaknya
"Apa ibumu menyebutkan
nama bapakmu?"
"Ibu hanya bilang bapakku pandai menulis dan menyukai sastra. Ibu
mengaku tidak ingat namanya
"
***
Bandung,
5 Oktober 2003