laporan
Insiden Seekor Anjing di Malam Hari Yang Memancing Rasa Ingin Tahu
(alias TCIODITNT)
Liston
Siregar
Itulah
kira-kira terjemahan judul karya Mark Haddon: The Curious Incident of
The Dog in The Night Time. Untuk sebuah buku fiksi, judul yang panjang,
biasanya tidak tepat --baik secara editorial maupun secara komersial.
Sebuah buku teks mungkin harus rinci, antara lain karena waktu yang
satu akan membuahkan pengamatan yang lain pada waktu yang berbeda. Tapi
judul sebuah buku fiksi, biasanya, singkat dan sedikit memberi ruang
fantasi.
Tapi
memang buku ini tidak biasa. Salah satunya karena TCIOTDITNT --kita
singkat saja untuk merujuknya- meraih hadiah Whitbread Novel Award 2003,
salah satu penghargaan buku bergengsi di Inggris, walau masih kalah
tenar dengan Booker Prize. Beberapa penulis terkenal yang pernah meraih
Whitbread --sebuah perusahaan jaringan hotel dan restoran-- antara lain
pemenang nobel Seamus Heaney, J.K. Rowling --pengarang Harry Potter--
dan Zadie Smith.
Yang
juga rada tidak biasa adalah ketika masih menjadi salah satu calon peraih
Whitbread kategori novel, covernya lebih mencerminkan buku anak. Gambar
kartun seekor anjing terbalik dengan sekop garpu di perutnya, dan mobil
merah, memang seperti buku anak-anak. Apalagi Mark Haddon memang seorang
penulis buku anak --bahkan belakangan Harian The Guardian Inggris memilihnya
sebagai fiksi anak terbaik. Jelas tidak biasa, rasanya, jika sebuah
buku yang berkesan untuk anak ternyata masuk dalam kategori novel.
Tapi
iklannya, di rak buku sebuah toko buku di London, agak biasa. Di bagian
TCIOTDITNT ada tulisan yang intinya berpesan: "belilah dua sekaligus
supaya kalau satu dipinjam orang dan tak kembali maka anda masih tetap
punya satu." Agak kuno, tapi covernya dan juga isinya --tentang
seorang anak autis-- tetap menggoda.
Mulailah
petualangan Christopher Boone untuk menemukan siapa pembunuh Wellington,
seekor anjing poodle milik Nyonya Shears, yang ditemukan mati
Pukul 7 malam dengan tikaman sekop garpu kebun di perutnya. Christopher,
penyayang anjing --karena anjing tidak pernah berbohong-- sedih dan
mengelus mayat Wellingon, namun tiba-tiba datang Nyonya Shears yang
marah dan menduga Christopher membunuh Wellington dan kemudian polisi
datang membawa Christopher ke kantor polisi.
Dan
karakter utama Christopher
muncul dalam insiden awal ini: dia pengidap syndrom Asperger,
salah satu jenis autisme berciri kemampuan matematika luar biasa namun
kemampuan sosial terbelakang --seperti Dustin Hoffman di Rain Man. Chritopher
bisa menghitung secepat kalkulator, tapi dia tak bisa mengerti kiasan-kiasan,
dan punya keteraturan serta peraturan yang tidak bisa diusik.
Karena
Christopher ingin menulis buku, dan dia suka buku misteri, maka dia
putuskan untuk menulis buku tentang penyelidikan pembunuh Wellington
dan menyusun langkah-langkah penyelidikan terhadap seluruh tetangganya
--denah rumah Christopher serta tetangga menjadi salah satu ilustrasi
hidup
dalam TCIOTDITNT. Tapi ayah Christopher menentang rencana Christopher,
dan belakangan ayahnya mengaku telah membunuh Wellington karena Nyonya
Shears ternyata lebih cinta Wellington daripada ayah Christopher --begitulah
rumitnya kehidupan orang normal.
Sebelumnya,
Christopher menemukan surat-surat dari ibunya, yang sengaja disembunyikan
ayahnya supaya Christopher kehilangan kontak dari ibunya, yang lari
bersama Tuan Shears --memang hubungan orang normal sering-sekali rumit.
Karena kemarahan, dan ketidak-percayaan pada ayahnya --"kalau dia
membunuh anjing, berarti bisa saja juga membunuh aku"- Christopher
menjelajah naik kereta api dari Swindon sampai ke flat tempat tinggal
ibunya di London.
Tapi
tak mudah tinggal bersama seorang anak autis, dan Tuan Shear
kehilangan kesabaran sehingga Christopher dan ibunya kembali ke Swindon
dan sesekali ia mengunjungi rumah ayahnya. Cerita ditutup dengan Christopher
yang yakin akan lulus ujian sekolah dan bisa menjadi ilmuwan: "...karena
saya berani sendirian ke London dan karena saya berhasil memecahkan
misteri siapa yang membunuh Wellington..."
Ini
mungkin plot klasik, tapi Mark Haddon --penulis buku anak dan naskah
film berusia 41 tahun yang tinggal di Oxford-- berhasil menghadirkan
kerangka pandang seorang anak pengidap autisme terhadap kehidupan
normal. Christopher, misalnya, memutuskan baik buruknya sebuah hari
berdasarkan jumlah warna mobil yang dia temui dalam perjalanan dari
rumahnya ke sekolah khususnya.
Empat
mobil merah berarti hari baik, dan 5 mobil merah artinya amat baik,
sedangkan 4 mobil kuning sama dengan hari buruk, jadi 5 mobil kuning
amat buruk. Jika barisan warna mobil itu sudah memutuskan hari buruk,
maka Christopher tidak akan bersemangat lagi sepanjang hari. Tapi ada
kalanya Christopher waswas akan kemungkinan terjadinya hari buruk, sehingga
ia pejamkan saja matanya sepanjang perjalanan.
Atau
ketika di stasiun kereta api dia bertanya kepada seorang polisi tentang
harga ticket kereta api dari Swindon ke London. Polisi mengatakan "20
quid" -kata tidak resmi untuk Poundsterling. Christopher
bertanya: "Apakah itu Poundsterling?" Dan polisinya tertawa
karena Christopher tidak tahu quid dan secara logika --menurut
polisi yang normal itu-- tentulah tidak mungkin ticket kereta api seharga
20 pence atau 20 ribu Poundsterling. Tapi Christopher
kesal kalau orang tertawa padanya, apalagi ketika dia bertanya yang
masuk akal.
Dan
ini memang soal sederhana yang amat masuk akal: orang bertanya karena
tidak tahu tapi kemudian orang yang mengaku normal langsung melompat
kepada kesimpulan: "lha, iya dong 20 Poundsterling, kok lu bodoh
banget sih" --apakah orang normal tidak kesal kalau mendengar ucapan
seperti itu? Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya orang normal menganggap
pertanyaan yang sesuai dengan akal sehat sebagai pertanyaan bodoh --karena
pikirannya sudah diset: sudah dipandu oleh asumsi-asumsi yang seringkali
salah.
Dan
untuk mendukung pembaca memahami kerangka pikir atau cara pandang Christopher,
TCIOTDITNT dilengkapi dengan ilustrasi yang sederhana, seperti bagan
lingkungan tempat tinggal Christopher, denah stasiun kereta api, atau
yang rumit, seperti rumus matematika, maupun sekedar informasi jadwal
kedatangan dan keberangkatan kereta bawah tanah.
Hasilnya
adalah pembaca seperti menjalani hidup sehari-hari namun dengan pola
yang berbeda: seperti sebuah perjalanan liburan yang menyenangkan karena
keluar dari rutinitas dan ikatan-ikatan kebiasaan maupun asumsi. Dan
ada kemungkinan tersadarkan pula pada betapa rumitnya kehidupan yang
dibuat sendiri oleh manusia normal di jaman modern ini --cilakanya kehidupan
normal itu tidak mungkin untuk disederhanakan kembali.
Buku
TCIOTDITNT yang pertama saya beli --ketika masih belum percaya pada
iklan "belilah dua sekaligus..."-- saya berikan kepada seorang
teman, yang kebetulah punya anak autis walau syndromnya berbeda
dengan Christopher. "Sekedar gambaran bahwa mereka melihat dunia
memang berbeda," pesan saya pada kawan itu. Dan sayapun kemudian
membeli TCIOTDITNT
yang kedua, khusus untuk saya --yang merasa normal dan punya dua anak
yang tidak mengidap autisme.
Mungkin
pembaca di Indonesia masih perlu bersabar sebelum menikmati perjalanan
liburan ala TCIOTDITNT.
Tapi ada pula kabar baiknya: sebuah penerbitan kecil, rencananya, akan
menterjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia.
***