edisi 75
rabu 12 mei 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 75

cerpen Bambu Ungu
Juni Poppin

sajak Ayat-ayat Waktu
Pedje

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet     
situs nir-laba untuk karya tulis                


laporan Insiden Seekor Anjing di Malam Hari Yang Memancing Rasa Ingin Tahu
(alias TCIODITNT)
Liston Siregar

Itulah kira-kira terjemahan judul karya Mark Haddon: The Curious Incident of The Dog in The Night Time. Untuk sebuah buku fiksi, judul yang panjang, biasanya tidak tepat --baik secara editorial maupun secara komersial. Sebuah buku teks mungkin harus rinci, antara lain karena waktu yang satu akan membuahkan pengamatan yang lain pada waktu yang berbeda. Tapi judul sebuah buku fiksi, biasanya, singkat dan sedikit memberi ruang fantasi.

Tapi memang buku ini tidak biasa. Salah satunya karena TCIOTDITNT --kita singkat saja untuk merujuknya- meraih hadiah Whitbread Novel Award 2003, salah satu penghargaan buku bergengsi di Inggris, walau masih kalah tenar dengan Booker Prize. Beberapa penulis terkenal yang pernah meraih Whitbread --sebuah perusahaan jaringan hotel dan restoran-- antara lain pemenang nobel Seamus Heaney, J.K. Rowling --pengarang Harry Potter-- dan Zadie Smith.

Yang juga rada tidak biasa adalah ketika masih menjadi salah satu calon peraih Whitbread kategori novel, covernya lebih mencerminkan buku anak. Gambar kartun seekor anjing terbalik dengan sekop garpu di perutnya, dan mobil merah, memang seperti buku anak-anak. Apalagi Mark Haddon memang seorang penulis buku anak --bahkan belakangan Harian The Guardian Inggris memilihnya sebagai fiksi anak terbaik. Jelas tidak biasa, rasanya, jika sebuah buku yang berkesan untuk anak ternyata masuk dalam kategori novel.

Tapi iklannya, di rak buku sebuah toko buku di London, agak biasa. Di bagian TCIOTDITNT ada tulisan yang intinya berpesan: "belilah dua sekaligus supaya kalau satu dipinjam orang dan tak kembali maka anda masih tetap punya satu." Agak kuno, tapi covernya dan juga isinya --tentang seorang anak autis-- tetap menggoda.

Mulailah petualangan Christopher Boone untuk menemukan siapa pembunuh Wellington, seekor anjing poodle milik Nyonya Shears, yang ditemukan mati Pukul 7 malam dengan tikaman sekop garpu kebun di perutnya. Christopher, penyayang anjing --karena anjing tidak pernah berbohong-- sedih dan mengelus mayat Wellingon, namun tiba-tiba datang Nyonya Shears yang marah dan menduga Christopher membunuh Wellington dan kemudian polisi datang membawa Christopher ke kantor polisi.

Dan karakter utama Christopher muncul dalam insiden awal ini: dia pengidap syndrom Asperger, salah satu jenis autisme berciri kemampuan matematika luar biasa namun kemampuan sosial terbelakang --seperti Dustin Hoffman di Rain Man. Chritopher bisa menghitung secepat kalkulator, tapi dia tak bisa mengerti kiasan-kiasan, dan punya keteraturan serta peraturan yang tidak bisa diusik.

Karena Christopher ingin menulis buku, dan dia suka buku misteri, maka dia putuskan untuk menulis buku tentang penyelidikan pembunuh Wellington dan menyusun langkah-langkah penyelidikan terhadap seluruh tetangganya --denah rumah Christopher serta tetangga menjadi salah satu ilustrasi hidup dalam TCIOTDITNT. Tapi ayah Christopher menentang rencana Christopher, dan belakangan ayahnya mengaku telah membunuh Wellington karena Nyonya Shears ternyata lebih cinta Wellington daripada ayah Christopher --begitulah rumitnya kehidupan orang normal.

Sebelumnya, Christopher menemukan surat-surat dari ibunya, yang sengaja disembunyikan ayahnya supaya Christopher kehilangan kontak dari ibunya, yang lari bersama Tuan Shears --memang hubungan orang normal sering-sekali rumit. Karena kemarahan, dan ketidak-percayaan pada ayahnya --"kalau dia membunuh anjing, berarti bisa saja juga membunuh aku"- Christopher menjelajah naik kereta api dari Swindon sampai ke flat tempat tinggal ibunya di London.

Tapi tak mudah tinggal bersama seorang anak autis, dan Tuan Shear kehilangan kesabaran sehingga Christopher dan ibunya kembali ke Swindon dan sesekali ia mengunjungi rumah ayahnya. Cerita ditutup dengan Christopher yang yakin akan lulus ujian sekolah dan bisa menjadi ilmuwan: "...karena saya berani sendirian ke London dan karena saya berhasil memecahkan misteri siapa yang membunuh Wellington..."

Ini mungkin plot klasik, tapi Mark Haddon --penulis buku anak dan naskah film berusia 41 tahun yang tinggal di Oxford-- berhasil menghadirkan kerangka pandang seorang anak pengidap autisme terhadap kehidupan normal. Christopher, misalnya, memutuskan baik buruknya sebuah hari berdasarkan jumlah warna mobil yang dia temui dalam perjalanan dari rumahnya ke sekolah khususnya.

Empat mobil merah berarti hari baik, dan 5 mobil merah artinya amat baik, sedangkan 4 mobil kuning sama dengan hari buruk, jadi 5 mobil kuning amat buruk. Jika barisan warna mobil itu sudah memutuskan hari buruk, maka Christopher tidak akan bersemangat lagi sepanjang hari. Tapi ada kalanya Christopher waswas akan kemungkinan terjadinya hari buruk, sehingga ia pejamkan saja matanya sepanjang perjalanan.

Atau ketika di stasiun kereta api dia bertanya kepada seorang polisi tentang harga ticket kereta api dari Swindon ke London. Polisi mengatakan "20 quid" -kata tidak resmi untuk Poundsterling. Christopher bertanya: "Apakah itu Poundsterling?" Dan polisinya tertawa karena Christopher tidak tahu quid dan secara logika --menurut polisi yang normal itu-- tentulah tidak mungkin ticket kereta api seharga 20 pence atau 20 ribu Poundsterling. Tapi Christopher kesal kalau orang tertawa padanya, apalagi ketika dia bertanya yang masuk akal.

Dan ini memang soal sederhana yang amat masuk akal: orang bertanya karena tidak tahu tapi kemudian orang yang mengaku normal langsung melompat kepada kesimpulan: "lha, iya dong 20 Poundsterling, kok lu bodoh banget sih" --apakah orang normal tidak kesal kalau mendengar ucapan seperti itu? Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya orang normal menganggap pertanyaan yang sesuai dengan akal sehat sebagai pertanyaan bodoh --karena pikirannya sudah diset: sudah dipandu oleh asumsi-asumsi yang seringkali salah.

Dan untuk mendukung pembaca memahami kerangka pikir atau cara pandang Christopher, TCIOTDITNT dilengkapi dengan ilustrasi yang sederhana, seperti bagan lingkungan tempat tinggal Christopher, denah stasiun kereta api, atau yang rumit, seperti rumus matematika, maupun sekedar informasi jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta bawah tanah.

Hasilnya adalah pembaca seperti menjalani hidup sehari-hari namun dengan pola yang berbeda: seperti sebuah perjalanan liburan yang menyenangkan karena keluar dari rutinitas dan ikatan-ikatan kebiasaan maupun asumsi. Dan ada kemungkinan tersadarkan pula pada betapa rumitnya kehidupan yang dibuat sendiri oleh manusia normal di jaman modern ini --cilakanya kehidupan normal itu tidak mungkin untuk disederhanakan kembali.

Buku TCIOTDITNT yang pertama saya beli --ketika masih belum percaya pada iklan "belilah dua sekaligus..."-- saya berikan kepada seorang teman, yang kebetulah punya anak autis walau syndromnya berbeda dengan Christopher. "Sekedar gambaran bahwa mereka melihat dunia memang berbeda," pesan saya pada kawan itu. Dan sayapun kemudian membeli TCIOTDITNT yang kedua, khusus untuk saya --yang merasa normal dan punya dua anak yang tidak mengidap autisme.

Mungkin pembaca di Indonesia masih perlu bersabar sebelum menikmati perjalanan liburan ala TCIOTDITNT. Tapi ada pula kabar baiknya: sebuah penerbitan kecil, rencananya, akan menterjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia.
***