Personilnya sudah terbagi
dalam golongan-golongan: kaum moderat yang kebodohannya mengganggunya
dan yang menganggapnya, berbahaya, lalu mereka yang lebih lanjut politiknya
dan menganggapnya tak cukup Merah: begitulah maka tak ada yang menyukainya.
Kecuali tugas-tugasnya
yang biasa, ia diserahi mengasuh statistik oleh direktur. Beribu pertanyaan
melewati tangannya, beribu formulir harus diisi. Jumlah kematian, jumlah
orang sakit, gaji pegawai, tingkat kesadaran politiknya serta peranannya
dalam pemilihan umum,
Yury bekerja di depan
mejanya yang dulu dekat jendela kamar pegawai; meja itu ditumpuki kartu
serta formulir dengan format dan bentuk aneka ragam. Tumpukan itu dikesampingkan:
kebetulan ia beristirahat sejurus, tak hanya untuk catatannya tentang
kedokteran, tapi juga untuk 'Boneka dan Manusia' nya, sebuah buku harian
yang muram tentang jamannya, terdiri atas prosa, sajak, dan serba-serbi,
diwarnai oleh perasaannya bahwa separoh dunia sudah kehilangan pribadinya
dan memainkan entah peranan apa.
Kamar terang dengan
tembok-temboknya bercat putih dipenuhi cahaya matahari keemasan yang
kusam pada musim rontok yang menyusul Hari Mi'radj Maria, ketika salju
beku pertama-tama dimbul waktu fajar dan burung-burung Prinjak dan Jalak
terbang pesat dalam hutan dengan dedaunan yang mengkilap dan makin menipis.
Pada hari-hari demikian langit mencapai ketinggian paling atas dan cahaya
dingin yang biru hitam dari Utara menyelinap dalam hawa transparaN anTara
langit dan bumi. Segala hal di bumi menjadi lebih mudah dilihat dan
didengar.. Tiap bunyi mendengung bukan main jauhnya, lantang lagi sejuk.
Tanah terbuka luas, seolah menunjukkan seluruh penghidupan untuk masa
depan bertahun-tahun. Kegemilangan ini tak akan tertahankan, andaikan
umurnya panjang: datangnya pada akhir hari yang pendek di musim rontok,
dekat sebelum permulaan magrib.
Beginilah kini cahaya
dalam kamar pegawai itu, cahaya matahari yang terbenam kepagian di musim
rontok, berair dan mengaca seperti buah 'Grany Smith' yang matang.
Yury duduk menulis
depan lesenarnya, berhenti berpikir, lalu mencelupkan pena dalam tinta,
sedangkan burung-burung tak bersuara terbang lewat jendela tinggi di
kamar pegawai serta melemparkan bayang-bayang ke tangannya yang bergerak
di halaman teras, ke atas meja dengan formulir-fomulirnya dan ke tembok-tembok
kamar, lantas lenyap.
Yury menengadah. Burung-burung
ajaib yang tadi seliweran di depan jendela adalah daun Ahorn. Daun-daun
itu lepas dari pohon, melayang setinggi pohonnya, lalu berubah jadi
bintang-bintang jingga melengkung dan jatuh agak jauh di padang rumput.
***bersambung