edisi 74
sabtu 24 maret 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 74

memoar Edi, Adikku
Susan Ismianti

sajak Setelah Kau Pergi
Novy Noorhayati Syahfida

kcerpen Bona Pasogit
Slamat Parsaoran Sinambela


ceritanet

©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Agustus sudah lewat dan kini September hampir lampau. Musim dingin menjelangdam di dunia insani udara berat oleh sesuatu yang tak dapat dielakkan, seperti ajal alam yang mendatang. Itulah buah bibir orang.

Makanan serta kayu balok harus diperoleh. Tapi dalam jaman kemenangan materialesme itu alat telah menjadi pengertian mujarad, maka makanan dan kayu bakar diganti oleh masalah gizi dan masalah persediaan bahan bakar.

Penduduk kota tak berdaya seperti kanak-kanak dalam menghadapi yang tak dikenal, hal yang tak dikenal itu menyapu bersih segala kebiasaan yang dikenal dan hanya meninggalkan ketandusan belaka --sungguhpun itu hasil ciptaan kota-kota.

Orang masih saja bicara dan menipu diri sendiri dalam hidup sehari-hari yang bergulat terus, pincang lagi tersuruk-suruk ke arah nasib tak tertentu..Tapi Yury menangkap yang sebenarnya, ia dapat melihat bahwa kehidupan sudah terkutuk, bahwa dia dan yang seperti dia telah dihukum untuk dibinasakan. Hukuman Tuhan menunggu, barangkali maut. Nasib mereka telah ditentukan dan hari-hari kini sedang berlari di depan mata mereka.

Akal sehatnya terpelihara, berkat hal ihwal sehari-hari dalam hidupnya, pekerjaannya serta kesukarannya. Istri, anaknya, keperluan cari nafkah, faal prakteknya sehari-hari yang bersahaja, inlah juru selamatnya.

Ia paham bahwa ia kerdil di depan mesin raksasa masa depan. Ia takut, tapi juga cinta pada masa depan ini: diam-diam dibanggakannya itu dan seolah untuk akhir kalinya, seolah hendak berpamit iapun mempunyai kesadaran berhasrat di lebuh akan kota besar Rusia yangbegulat di tengah bencana --maka bersedialah ia mengorbankan diri untuk memperbaiki keaaan namun tak berbuat apa-apa.

Biasanya ia terharu oleh langit dan orang-orang, bila ia menyeberangi Jalan Arbat di pojok Jalan Taman Kereta, dekat rumah obat Perkumpulan Dokter Rusia.

Ia kembali bekerja di rumah sakt, yang masih disebut Rumah Sakit Salib Kudus, walaupun himpunan yang memakai nama itu sudah bubar --sampai sekarang tak ada yang menemukan nama yang lebih tepat.

 

Personilnya sudah terbagi dalam golongan-golongan: kaum moderat yang kebodohannya mengganggunya dan yang menganggapnya, berbahaya, lalu mereka yang lebih lanjut politiknya dan menganggapnya tak cukup Merah: begitulah maka tak ada yang menyukainya.

Kecuali tugas-tugasnya yang biasa, ia diserahi mengasuh statistik oleh direktur. Beribu pertanyaan melewati tangannya, beribu formulir harus diisi. Jumlah kematian, jumlah orang sakit, gaji pegawai, tingkat kesadaran politiknya serta peranannya dalam pemilihan umum,

Yury bekerja di depan mejanya yang dulu dekat jendela kamar pegawai; meja itu ditumpuki kartu serta formulir dengan format dan bentuk aneka ragam. Tumpukan itu dikesampingkan: kebetulan ia beristirahat sejurus, tak hanya untuk catatannya tentang kedokteran, tapi juga untuk 'Boneka dan Manusia' nya, sebuah buku harian yang muram tentang jamannya, terdiri atas prosa, sajak, dan serba-serbi, diwarnai oleh perasaannya bahwa separoh dunia sudah kehilangan pribadinya dan memainkan entah peranan apa.

Kamar terang dengan tembok-temboknya bercat putih dipenuhi cahaya matahari keemasan yang kusam pada musim rontok yang menyusul Hari Mi'radj Maria, ketika salju beku pertama-tama dimbul waktu fajar dan burung-burung Prinjak dan Jalak terbang pesat dalam hutan dengan dedaunan yang mengkilap dan makin menipis. Pada hari-hari demikian langit mencapai ketinggian paling atas dan cahaya dingin yang biru hitam dari Utara menyelinap dalam hawa transparaN anTara langit dan bumi. Segala hal di bumi menjadi lebih mudah dilihat dan didengar.. Tiap bunyi mendengung bukan main jauhnya, lantang lagi sejuk. Tanah terbuka luas, seolah menunjukkan seluruh penghidupan untuk masa depan bertahun-tahun. Kegemilangan ini tak akan tertahankan, andaikan umurnya panjang: datangnya pada akhir hari yang pendek di musim rontok, dekat sebelum permulaan magrib.

Beginilah kini cahaya dalam kamar pegawai itu, cahaya matahari yang terbenam kepagian di musim rontok, berair dan mengaca seperti buah 'Grany Smith' yang matang.

Yury duduk menulis depan lesenarnya, berhenti berpikir, lalu mencelupkan pena dalam tinta, sedangkan burung-burung tak bersuara terbang lewat jendela tinggi di kamar pegawai serta melemparkan bayang-bayang ke tangannya yang bergerak di halaman teras, ke atas meja dengan formulir-fomulirnya dan ke tembok-tembok kamar, lantas lenyap.

Yury menengadah. Burung-burung ajaib yang tadi seliweran di depan jendela adalah daun Ahorn. Daun-daun itu lepas dari pohon, melayang setinggi pohonnya, lalu berubah jadi bintang-bintang jingga melengkung dan jatuh agak jauh di padang rumput.
***bersambung