edisi 74
sabtu 24 april 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 74

memoar Edi, Adikku (2)
Susan Ismianti

sajak Kembali Pulang ke Taman!
Bungarumputliar

cerpen Batanghari dan Keponakanku
Syam Asinar Radjam.

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

 


ceritanet

©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


komentar Calon Presiden dan Indonesia
Wartawan

Kawanku,
Baiklah, ada yang mengumpamakan Susilo Bambang Yudhoyono, SBY, dan Wiranto seperti ayam goreng.

SBY ibarat KFC, Kentucky Fried Chicken, enak dilihat dan dipajang di mana-mana, tapi rasanya plain.

Sedangkan Wiranto, seperti ayam goreng juga, tapi di pelosok Pasar Senen sana. Untuk membelinya, orang harus berbecek-becek ke kawasan busuk. Rasanya memang enak, tapi barang itu susah untuk dijual.

Saya enggak tahu, apa perumpamaan teman saya soal ayam terhadap dua mantan jenderal itu bisa nyambung atau enggak. Yang jelas, mereka itu tetap tentara.

Mereka kayaknya masih berbahaya. Dari beberapa kali pembicaraan, sangat terlihat sekali bahwa mereka itu masih laten militer-orde baru, yang salah satu prinsipnya adalah 'hantam dulu, urusan belakangan.'

Dalam satu pembicaraan, beberapa waktu lalu, ditanyakan bagaimana sikap Wiranto terhadap kebebasan pers? Dia masih bilang tetap diperlukan aturan-aturan untuk pers.

Hah! apakah kebebasan yang pers reguk belakangan ini --dengan segala kekurangan dan kekonyolannya-- berarti akan berakhir jika mereka berkuasa?

Pengalaman setidaknya memperkuat kecurigaan kita bahwa era pers dirantai mengancam jika militer berkuasa lagi.

Soal siapa yang akan menang dalam pemilihan presiden nanti memang masih panjang.

Lobi-lobi terus dilakukan--tentu saja-- dengan cuma urusan dagang sapi: siapa dapat apa? Atau, di kabinet saya akan menjadi apa?

Negara macam apa ini coba: ketika semua orang berlomba untuk menjadi presiden namun mereka para calon itu sama sekali tidak memiliki GBHN program atau cetak biru jika mereka berkuasa nanti.

Urusannya ya itu tadi, mereka menang duluan dan urusan ngurus negara lain lagi. Akibatnya, kita pers nyari-nyari isu, menginventarisasi persoalan negara dan mencoba menanya para calon presiden itu apa yang akan mereka lakukan terhadap persoalan-persoalan itu nantinya.

Tapi setidaknya, mereka sekarang mempunyai keterbatasan. Karena mereka hanya mengantar 'paket' para calonnya untuk kemudian ditentukan rakyat memilihnya? Ini berbeda dengan pemilihan presiden lalu, ketika 700 orang anggota MPR ramai-ramai bancakan menentukan siapa presiden mereka, yang artinya siapa presiden negeri kita, negeri Indonesia.

 

Sekarang Akbar Tanjung gigit jari, karena Wiranto yang akhirnya jadi capres Golkar --kita jadi ingat slogan: dari rakyat, oleh rakyat, untuk ABRI.

Baiklah, terlepas suka dan tidak sukanya terhadap Akbar, tapi dialah yang mengembalikan Golkar --kata orang-- termasuk dikejar-kejar massa saat kampanye tahun 1999. Eh giliran sekarang mau jadi calon presiden, malah orang yang baru setahun di Partai Golkar menjadi capresnya. (Tapi biarin sajalah, politik memang begitu busuk untuk saling memakan antara mereka).

Kita hanya tunggu kasak-kusuk mereka saja dalam mencari pasangan-pasangan. Apakah Megawati tetap akan berasyik masyuk bersama Hamzah Haz? Sementara orang-orang PPP merasa posisi Hamzah di wapres ternyata enggak memberi arti yang signifikan buat partainya? Orang PPP juga melirik-lirik Wiranto?

Atau Gus Dur masih ngotot maju menjadi capres? Atau dia akan menggandeng SBY atau Wiranto, asal capresnya orang NU, adiknya malah?

PKS juga begitu: ada juga yang menjagokan Wiranto, Amien Rais, atau yang netral saja untuk menjadi oposisi terhadap pemerintahan.

Mungkin akan mengherankan jika ada orang-orang PKS melirik Wiranto. Katanya, mereka merujuk pada Umar bin Khatab: seorang khalifah yang sebelum masuk Islam sangat bengal namun setelah menjadi muslim menjadi pahlawan dan malah jadi khalifah yang dicintai umatnya.

Belum lagi, dalam persoalan itu politik uang begitu busuk tercium.

Tapi bukankah, politik memang seperti itu: uang dan kekuasaan.Aatau kata orang jawa: tahta, harta dan wanita? Bedanya, di negeri ini, di negeri Indonesia, dilakukannya dengan sangat busuk dan menjijikan

Persoalan bukan itu saja. Kita juga disuruh jangan membedakan sipil atau militer? Padahal, persoalannya bukan cuma itu: di situ ada para pelanggar HAM, orang yang seharusnya bertanggungjawab terhadap Kerusuhan Mei.

Koalisi-koalisi capres itu hanya rebutan kekuasaan saja. Omong kosong mikirin rakyat.

Sialnya, kita-kita juga yang akhirnya menjadi korban karena sama sekali tidak ada pilihan di antara capres-capres yang tersajikan!
***