komentar
Calon Presiden dan Indonesia
Wartawan
Kawanku,
Baiklah, ada yang mengumpamakan Susilo Bambang Yudhoyono, SBY, dan Wiranto
seperti ayam goreng.
SBY ibarat KFC, Kentucky
Fried Chicken, enak dilihat dan dipajang di mana-mana, tapi rasanya
plain.
Sedangkan Wiranto,
seperti ayam goreng juga, tapi di pelosok Pasar Senen sana. Untuk membelinya,
orang harus berbecek-becek ke kawasan busuk. Rasanya memang enak, tapi
barang itu susah untuk dijual.
Saya enggak tahu, apa
perumpamaan teman saya soal ayam terhadap dua mantan jenderal itu bisa
nyambung atau enggak. Yang jelas, mereka itu tetap tentara.
Mereka kayaknya masih
berbahaya. Dari beberapa kali pembicaraan, sangat terlihat sekali bahwa
mereka itu masih laten militer-orde baru, yang salah satu prinsipnya
adalah 'hantam dulu, urusan belakangan.'
Dalam satu pembicaraan,
beberapa waktu lalu, ditanyakan bagaimana sikap Wiranto terhadap kebebasan
pers? Dia masih bilang tetap diperlukan aturan-aturan untuk pers.
Hah! apakah kebebasan
yang pers reguk belakangan ini --dengan segala kekurangan dan kekonyolannya--
berarti akan berakhir jika mereka berkuasa?
Pengalaman setidaknya
memperkuat kecurigaan kita bahwa era pers dirantai mengancam jika militer
berkuasa lagi.
Soal siapa yang akan
menang dalam pemilihan presiden nanti memang masih panjang.
Lobi-lobi terus dilakukan--tentu
saja-- dengan cuma urusan dagang sapi: siapa dapat apa? Atau, di kabinet
saya akan menjadi apa?
Negara macam apa ini
coba: ketika semua orang berlomba untuk menjadi presiden namun mereka
para calon itu sama sekali tidak memiliki GBHN program atau cetak biru
jika mereka berkuasa nanti.
Urusannya ya itu tadi,
mereka menang duluan dan urusan ngurus negara lain lagi. Akibatnya,
kita pers nyari-nyari isu, menginventarisasi persoalan negara dan mencoba
menanya para calon presiden itu apa yang akan mereka lakukan terhadap
persoalan-persoalan itu nantinya.
Tapi setidaknya, mereka
sekarang mempunyai keterbatasan. Karena mereka hanya mengantar 'paket'
para calonnya untuk kemudian ditentukan rakyat memilihnya? Ini
berbeda dengan pemilihan presiden lalu, ketika 700 orang anggota MPR
ramai-ramai bancakan menentukan siapa presiden mereka, yang artinya
siapa presiden negeri kita, negeri Indonesia.