edisi 74
sabtu 24 april 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 74

komentar Calon Presiden dan Indonesia
Wartawan

memoar Edi, Adikku (2)
Susan Ismianti

cerpen Batanghari dan Keponakanku
Syam Asinar Radjam.

novel Dokter
Zhivago

Boris Pasternak

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


sajak Kembali Pulang ke Taman!
Bungarumputliar.

Spada!

Boleh aku main lagi? Disini? Sekarang? Hari ini?
Aku rindu pada padamu! Bangku-bangku kayu!

Satu…
Dua…
Tiga…
Hap!
Meluncuuurrr!!!!

Sudah lama aku tak merasa senang. Berlarian di luas padang. Barangkali tak seluas dirimu dulu. Tapi cukuplah bagiku.

Aku pulaaangggg!!!

Kembali berlarian dan berlompatan. Bersiul bertepuk tangan. Sampai aku lupa pada rasa kesepian.

Wuiiihhh… Kupu-kupu!
Kupu-kupu hinggap di jariku!
Wuiiihhh…Lucu!
Kupu kecil sayap ungu!

Aku, kaki kecil dan langkahku. Hatiku bernyanyi. Mataku mengkamera! Ligat merekam semuanya! Uh, senangnya!

Aku kembali! Kembali lagi!
Hei, apakah kelinci kecil itu masih tinggal disini? Di kolam tadi kulihat kura-kura. Kura-kura tua. Masih kura-kura yang sama!

20 April 2004

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

Mari menghadiahi diri sendiri!
: piglet dan pooh

Tak perlulah kita menciumi kaca! Ha ha ha!
Cukup tepuk bahumu saja. Beri penghargaan pada pemiliknya. Good job! Well done! Kau telah berusaha dan layak mendapatkan pujian!

Hore!
Kita telah melewati hari ini dengan baik sekali. Tentu besok bisa! Dan besoknya dan besoknya juga. Lagi dan lagi dan terus begitu. Tepuk lagi bahumu tiga kali! Tap! Tap! Tap! Hebat!

Pesanlah serangkai bunga. Rangkaian kecil saja. Alamatkan ke rumah kita. Kepada yang tercinta: "Saya" Lho…Buat diri sendiri, mbak? Ya. Buat siapa lagi? Kok pesen sendiri, kirim ke rumah sendiri? Memangnya kenapa? Kalau bukan saya yang cinta kepada saya lalu siapa? Ha ha ha!

Great!
Siapa lagi yang paling peduli pada diri ini kecuali diri sendiri?

Salam sayang:
Dari aku
Kepadaku!

20 April 2004

Sajak Menunggu Kakak Di Ujung Senja
: kawansyam

Aku menunggu kakak di ujung senja. Senja yang kubuat sendiri. Kujinggai saja langit biru pagi!. Supaya cepat berlalu hari. Hari ini, esok, lusa… segeralah berlari!

Aku menunggu kakak di ujung senja. Kata kawanku: Hati-hati! Nanti masuk angin. Jangan khawatir, sudah kukenakan jaket dan topi. Juga ada secangkir kopi.

Aku menunggu kakak di ujung senja. Menunggu bersama sekantung gula-gula yang engkau suka. Hei! jangan lupa gosok gigimu nanti, ya?!

Aku menunggu kakak di ujung senja. Melipat kapal kertas seperti yang kubaca dalam cerita. Di dalamnya juga kutuliskan surat, lalu kuterbanglayangkan ke Sumatera.

Wush!

Disini tadi sempat badai…

Akankah sampai?

4 April 2004