memoar
Edi, Adikku (2)
Susan Ismianti
Setelah melewati serangkaian
gejala yang berkepanjangan, adik saya divonis gagal ginjal dan harus
menjalani proses cuci darah atau hemodialisis seminggu 2 kali untuk
jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Ini bukan untuk proses penyembuhan,
melainkan sebagai proses untuk memperpanjang hidup saja.
Berbagai upaya penyembuhan
kami lakukan. Obat-obatan medik, penyembuhan alternatif, paranormal,
dan upaya transplantasi di Beijing. Tapi semuanya gagal. Pihak Beijing
tidak mampu menyediakan donor ginjal seukuran ginjal adik saya untuk
proses pencangkokan. Adik saya terlalu gendut, beratnya ketika itu sekitar
125 kg dengan tinggi badan 170 cm.
Berbagai kegagalan
itu membuat kami sekeluarga tertekan. Proses pengobatan yang memerlukan
biaya cukup besar menimbulkan tekanan psikologis pada kami semua. Biaya
untuk satu kali hemodialisis sampai Rp 750.000,-, dan seminggu dilakukan
2 kali. Artinya dalam sebulan kami memerlukan Rp 6 juta, plus obat-obatan
penunjang lainnya. Jelas penghasilan kami sekeluarga setiap bulannya
tidak mencapai jumlah itu.
Bukannya kami tidak
siap miskin, sama sekali tidak. Kami pernah menjadi orang miskin dan
kami tidak gentar untuk menjalaninya kembali. Tapi tidak adanya harapan
sembuh menimbulkan situasi keputus-asaan yang menekan. Ibaratnya seperti
menggenggam air di telapak tangan.
Kami masing-masing
mencari upaya mengatasi tekanan ini. Saya misalnya, memilih untuk berkonsentrasi
mengelola dana sedemikian rupa sehingga biaya pengobatan terpenuhi.
Orientasi pada target mengakibatkan saya tidak peka pada hal-hal lain
di luar itu. Dan saya mengesampingkan banyak hal, demi untuk memenuhi
target belaka.
Saya alpa bahwa adik
saya tidak cuma memerlukan proses hemodialisis untuk memperpanjang usianya,
tapi juga semangat untuk menjalani hidup itu sendiri. Dan semangat tidak
hanya diperoleh dari supply darah bersih setelah proses cuci darah,
tapi terlebih utama adalah dari jati diri. Dari penghargaan terhadap
diri sendiri dan dari orang lain. Tapi atas nama target saya mengesampingkan
faktor utama ini. Inilah kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan
dalam hidup ini. Kesalahan yang membuat saya tidak bisa memaafkan diri
sendiri, hingga detik ini dan untuk selama-lamanya.
Waktu itu krisis ekonomi
mengakibatkan bunga deposito sedemikian tinggi, sampai mencapai lebih
dari 50 % pertahun. Bunga deposito inilah sumber dana untuk biaya hemodialisis
itu. Ketika adik saya terpaksa harus keluar dari tempatnya bekerja dan
bermaksud untuk berwiraswasta, saya tidak mendukungnya. Saya menghadangnya
dengan pertimbangan finansial : " Usaha apa yang mampu memberikan
profit sebanding dengan bunga deposito dengan tingkat resiko minimal?"
Betapa kejam, kerdil
dan piciknya saya. Saya tidak berpikir bahwa manusia bekerja dan melakukan
sesuatu tidak hanya demi keuntungan finansial belaka.
Dengan melakukan sesuatu
manusia mendapatkan penghargaan atas dirinya. Dengan menghargai dirinya
sendiri, manusia mempunyai semangat dan alasan untuk menjalani hidup.
Saya mengupayakan
dana untuk pengobatan adik saya, tapi di sisi lain saya menghadangnya
untuk mendapatkan semangat menjalani hidup. Adakah kesalahan yang lebih
besar dari ini? Sekarang saya yakin; TIDAK ADA.
Apa yang saya lakukan
itu dengan sesungguhnya telah membuat segala upaya penyembuhan, doa,
dan dukungan dari berbagai pihak menjadi sama sekali tidak berguna.
Ibaratnya apa yang telah saya lakukan menempatkan adik saya pada suatu
titik nol.
Adik saya itu, Edi
namanya, meninggal dalam usia 30 tahun, pada bulan Agustus 1999 setelah
menjalani proses hemodialisis sekitar 2 tahun.
Saya tahu bahwa hari
itu akan datang. Mulanya saya merasa akan siap menerimanya, apalagi
bila melihat kondisi fisiknya yang makin memburuk dan harus berulangkali
masuk rumah sakit. Tapi ketika hari itu datang, ternyata saya tidak
pernah siap. Sampai sekarang.
Ada beberapa hal yang
patut disesalkan dalam hidup saya. Tapi hal-hal itu hanya membuat saya
menyesal sambil lalu. Penyesalan yang menipis bersama perjalanan waktu,
atau penyesalan yang hilang timbul di kemudian hari. Tapi penyesalan
saya atas kesalahan yang satu itu mengikat saya selama-lamanya.
Dulu semasa kuliah,
suatu kali saya bersama teman-teman menjalani praktek di media massa.
Di antaranya kami mengamati suasana deadline dan proses pencetakan koran
serta distribusinya hingga dini hari. Di antara kejenuhan menunggu,
seorang teman melontarkan imajinasinya yang unik. Yaitu bahwa ia ingin
mengalami suatu hal, semacam perjalanan menembus waktu, dimana ia terlempar
pada suatu masa, suatu tempat. Entah dimana dan tahun berapa.
Waktu itu saya menganggapnya
sebagai keisengan belaka, sebagai bagian dari keunikannya karena dia
adalah seorang yang selalu penuh dengan pemikiran. Tapi sekarang saya
ingin hal itu terjadi pada diri saya. Saya ingin berada pada suatu masa,
pada tahun-tahun yang telah menjadi sejarah hidup saya dan adik saya.
Ada sebuah film Korea.
Seorang tokok beretnis Korea hidup pada suatu tahun di masa yang akan
datang. Ternyata pada masa itu Korea berada di bawah kekuasaan Jepang
dan dia adalah seorang penegak hukum yang menumpas pejuang-pejuang Korea.
Lalu sesuatu hal terjadi dan dia menemukan suatu hal bahwa di masa lalu
dia gagal menjalankan tugas negara.
Lalu dia menembus
waktu, mengulang sejarah dan menuntaskan tugasnya yang dulu gagal ia
emban. Dan sejarahpun berganti. Yang terjadi kemudian, di masa sekarang
Korea adalah negara merdeka dan dia menemukan dirinya berada di antara
para pejuang dan dikenang sebagai pahlawan oleh anak-anak yang sedang
belajar sejarah Korea.
Itu film. Di kehidupan
ini, mungkinkah saya mempunyai peluang yang sama?
***
Akan
diterbitkan dalam kumpulan memoar ceritanet