edisi 74
sabtu 24 april 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 74

komentar Calon Presiden dan Indonesia
Wartawan

sajak Kembali Pulang ke Taman!
Bungarumputliar

cerpen Batanghari dan Keponakanku
Syam Asinar Radjam.

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


memoar Edi, Adikku (2)
Susan Ismianti

Setelah melewati serangkaian gejala yang berkepanjangan, adik saya divonis gagal ginjal dan harus menjalani proses cuci darah atau hemodialisis seminggu 2 kali untuk jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Ini bukan untuk proses penyembuhan, melainkan sebagai proses untuk memperpanjang hidup saja.

Berbagai upaya penyembuhan kami lakukan. Obat-obatan medik, penyembuhan alternatif, paranormal, dan upaya transplantasi di Beijing. Tapi semuanya gagal. Pihak Beijing tidak mampu menyediakan donor ginjal seukuran ginjal adik saya untuk proses pencangkokan. Adik saya terlalu gendut, beratnya ketika itu sekitar 125 kg dengan tinggi badan 170 cm.

Berbagai kegagalan itu membuat kami sekeluarga tertekan. Proses pengobatan yang memerlukan biaya cukup besar menimbulkan tekanan psikologis pada kami semua. Biaya untuk satu kali hemodialisis sampai Rp 750.000,-, dan seminggu dilakukan 2 kali. Artinya dalam sebulan kami memerlukan Rp 6 juta, plus obat-obatan penunjang lainnya. Jelas penghasilan kami sekeluarga setiap bulannya tidak mencapai jumlah itu.

Bukannya kami tidak siap miskin, sama sekali tidak. Kami pernah menjadi orang miskin dan kami tidak gentar untuk menjalaninya kembali. Tapi tidak adanya harapan sembuh menimbulkan situasi keputus-asaan yang menekan. Ibaratnya seperti menggenggam air di telapak tangan.

Kami masing-masing mencari upaya mengatasi tekanan ini. Saya misalnya, memilih untuk berkonsentrasi mengelola dana sedemikian rupa sehingga biaya pengobatan terpenuhi. Orientasi pada target mengakibatkan saya tidak peka pada hal-hal lain di luar itu. Dan saya mengesampingkan banyak hal, demi untuk memenuhi target belaka.

Saya alpa bahwa adik saya tidak cuma memerlukan proses hemodialisis untuk memperpanjang usianya, tapi juga semangat untuk menjalani hidup itu sendiri. Dan semangat tidak hanya diperoleh dari supply darah bersih setelah proses cuci darah, tapi terlebih utama adalah dari jati diri. Dari penghargaan terhadap diri sendiri dan dari orang lain. Tapi atas nama target saya mengesampingkan faktor utama ini. Inilah kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan dalam hidup ini. Kesalahan yang membuat saya tidak bisa memaafkan diri sendiri, hingga detik ini dan untuk selama-lamanya.

Waktu itu krisis ekonomi mengakibatkan bunga deposito sedemikian tinggi, sampai mencapai lebih dari 50 % pertahun. Bunga deposito inilah sumber dana untuk biaya hemodialisis itu. Ketika adik saya terpaksa harus keluar dari tempatnya bekerja dan bermaksud untuk berwiraswasta, saya tidak mendukungnya. Saya menghadangnya dengan pertimbangan finansial : " Usaha apa yang mampu memberikan profit sebanding dengan bunga deposito dengan tingkat resiko minimal?"

Betapa kejam, kerdil dan piciknya saya. Saya tidak berpikir bahwa manusia bekerja dan melakukan sesuatu tidak hanya demi keuntungan finansial belaka.

Dengan melakukan sesuatu manusia mendapatkan penghargaan atas dirinya. Dengan menghargai dirinya sendiri, manusia mempunyai semangat dan alasan untuk menjalani hidup.

Saya mengupayakan dana untuk pengobatan adik saya, tapi di sisi lain saya menghadangnya untuk mendapatkan semangat menjalani hidup. Adakah kesalahan yang lebih besar dari ini? Sekarang saya yakin; TIDAK ADA.

Apa yang saya lakukan itu dengan sesungguhnya telah membuat segala upaya penyembuhan, doa, dan dukungan dari berbagai pihak menjadi sama sekali tidak berguna. Ibaratnya apa yang telah saya lakukan menempatkan adik saya pada suatu titik nol.

Adik saya itu, Edi namanya, meninggal dalam usia 30 tahun, pada bulan Agustus 1999 setelah menjalani proses hemodialisis sekitar 2 tahun.

Saya tahu bahwa hari itu akan datang. Mulanya saya merasa akan siap menerimanya, apalagi bila melihat kondisi fisiknya yang makin memburuk dan harus berulangkali masuk rumah sakit. Tapi ketika hari itu datang, ternyata saya tidak pernah siap. Sampai sekarang.

Ada beberapa hal yang patut disesalkan dalam hidup saya. Tapi hal-hal itu hanya membuat saya menyesal sambil lalu. Penyesalan yang menipis bersama perjalanan waktu, atau penyesalan yang hilang timbul di kemudian hari. Tapi penyesalan saya atas kesalahan yang satu itu mengikat saya selama-lamanya.

Dulu semasa kuliah, suatu kali saya bersama teman-teman menjalani praktek di media massa. Di antaranya kami mengamati suasana deadline dan proses pencetakan koran serta distribusinya hingga dini hari. Di antara kejenuhan menunggu, seorang teman melontarkan imajinasinya yang unik. Yaitu bahwa ia ingin mengalami suatu hal, semacam perjalanan menembus waktu, dimana ia terlempar pada suatu masa, suatu tempat. Entah dimana dan tahun berapa.

Waktu itu saya menganggapnya sebagai keisengan belaka, sebagai bagian dari keunikannya karena dia adalah seorang yang selalu penuh dengan pemikiran. Tapi sekarang saya ingin hal itu terjadi pada diri saya. Saya ingin berada pada suatu masa, pada tahun-tahun yang telah menjadi sejarah hidup saya dan adik saya.

Ada sebuah film Korea. Seorang tokok beretnis Korea hidup pada suatu tahun di masa yang akan datang. Ternyata pada masa itu Korea berada di bawah kekuasaan Jepang dan dia adalah seorang penegak hukum yang menumpas pejuang-pejuang Korea. Lalu sesuatu hal terjadi dan dia menemukan suatu hal bahwa di masa lalu dia gagal menjalankan tugas negara.

Lalu dia menembus waktu, mengulang sejarah dan menuntaskan tugasnya yang dulu gagal ia emban. Dan sejarahpun berganti. Yang terjadi kemudian, di masa sekarang Korea adalah negara merdeka dan dia menemukan dirinya berada di antara para pejuang dan dikenang sebagai pahlawan oleh anak-anak yang sedang belajar sejarah Korea.

Itu film. Di kehidupan ini, mungkinkah saya mempunyai peluang yang sama?
***

Akan diterbitkan dalam kumpulan memoar ceritanet