Lalu Mang Suar beranjak
dari pangkal jembatan menju lubuk. Di akar batang rengas dia berhenti.
Membuka bungkusan daun pisang, mengeluarkan cacing. Dipotongnya cacing
seukuran mata kai. Lalu, plung.
Lemparan mata kail ke air membuat
bulatan gelombang yang membesar, menghilang.
Mulanya aku hanya ingin memperhatikan
dari jauh, lalu pulang jika matahari meninggi. Karena jika pulang sekarang,
keponakanku pasti merengut. Terlanjur jika sudah melihat batanghari.
Keponakanku menarik tungkai lengan kiriku, mengajaknya ke dekat pohon
Rengas.
Aku mau saja menolak, karena dia
serta merta melepas bajunya biasanya. Kepingin mandi di batanghari.
Aku biasanya meringis saja, sebab aku sendiri belum pernah mandi di
batanghari ini. Seumur aku, hampir seperempat abad.
Kemudian beranjak juga kami dari
pangkal jerambah, mendekati Mang Suar. Kailnya seperti ditarik dari
bawah. Pelampung dari busa sendal itu timbul tenggelam kecil. Tapi pemegang
teran membiarkan saja. Sering sesekali setap diangkat, seluang terkait
bibirnya. Kemudian berpindah ke dalam ember. Tak jarang Mang Suar hanya
mendapati kailnya bersih tanpa umpan lagi.
"Ya, sudah bagus dibandingkan
dulu, sekalipun masih seluang yang banyak."
"Mengapa tak meminta mereka untuk menanam bibit ikan, bukankah
itu juga bagian dari rehabilitasi sungai seperti kesepakatan kalian
dulu?" Aku memancing.
"Aku pikir mereka tak harus disuruh, toh?" Kami tertawa. Keponakanku
mungkin tidak mengerti. Dia malah melempar-lempar daun kering ke air
sungai. Air sungai yang tak lagi hitam, tak lagi berjelagah, tak lagi
berlinang seperti dilapisi minyak. Meski tidak jernih tening-tening.
Bahasa dusun kami begitu untuk menyebut sesuatu yang sangat jernih.
Karena dasarnya masih tertutup lumpur yang lama, belum seluruhnya terbilas
gerus arus.
"Bagaimana Mamang bisa mengukur bahwa mereka tidak pernah lagi
membuang minyak?" Aku memancing otak Mang Suar.
"Kalau ikan berkurang lagi, atau malah habis, ada yang tidak beres
berarti." Dia tertawa. "Dan kami akan berbaris berduyun lagi
mendatangi mereka," dia mengimbuhkan pula.
"Andot, mandi!" Dia berkata kepadaku. Tangannya sudah siap
melepas kausnya. Dia memang memanggilku dengan nama saja, tak harus
memakai sebutan Oom, atau Mamang.
Aku melompat menahannya. Kubisikan
sesuatu ke telinga dia. Dia tak dengar apa-apa mungkin, kecuali larangan.
Karena aku hanya menemaninya mengenali kampung diumurnya sekarang. Mengenalkan
batanghari, mengenalkan belukar karamunting, mengenalkannya pada bunga
merawan, mengenalkan buah para, mengenalkan wangi getah karet, mengenalkan
pacat, mengenalkan jalan setapak, burung, kupu-kupu, kumbang penyengat,
sinar matahari pagi. Suatu saat akan kusilahkan saja dia mau berenang
di lebak, di banatang hari, dia memetik kelapa muda, mencuri ubi tetangga.
Jika bisa akan kusertai pula. Suatu saat, bukan sekarang.
Aku membaca raut kesedihan, juga
warna premberontakan. Dan aku senang. Kuberi dia satu permen. Dia menelannya.
Bungkusnya dia hanyutkan ke air yang mengalir. Aku tak tahu harus berkata
apa.
"Hei jangan buang sampah di
batanghari," Nasehat Mang Suar.
Mungkin keponakanku tak mengerti. Mungkin malah tak mendengar.
"Mang Suar, malam nanti aku ke rumah."
"Boleh, nanti kupanggil pula Mang Mardin, Sunar, Iwin, dan yang
lain."
"Salir, juga. Kami pulang sekarang." Lalu kuajak keponakanku.
Dia tak mau kalau tidak dibujuk akan dibelikan permen.
***
Hampir tengah malam
aku baru pulang dari tempat kumpul, rumah Mang Suar. Mengukur kemajuan
kerja mereka meminta perusahaan bertanggungjawab atas berjelaganya batanghari
dusun kami. Bertanggung jawab atas ketidakadilan pembangunan. Sekarang
batanghari sudah dibersihkan, perusahaan tidak lagi pula membuang kotoran
cair, sumur dibuatkan, mereka mengakui bahwa mereka sudah merusak, dan
siap mengganti rugi semuanya.
Tapi belum ada ganti
rugi, entah kenapa.
Kudapati keponakanku
tidur. Kelak jika dia bangun, suatu saat akan kuceritakan lebih banyak
tentang batanghari dusun kami. Kalau dia sudah bisa memancing. Akan
kuceritakan pula batanghari itu bersih bukan dengan sendirinya. Bukan
kebaikan hati perusahaan semata. Tapi juga karena Mang Suar, dengan
barisan kawan-kawannya yang mendatangi perusahaan. Suatu saat pasti
kuceritakan, setiap dia mau tidur. * ***
Catatan:
Kerengga
: sejenis semut berwarna merah dan hidup di pohon, telurnya bisanya
digunakan sebagai umpan pancing. Masyarakat Sunda menyebutnya Kararangge
Teran : (teghan) dalam bahasa prabumulih berarti tangkai pancing/ joran.
Seluang : Sejenis ikan sungai
Bungur : Sejenis tumbuhan berbunga merah
Anak buah : (Rambang) keponakan
Jernih tening-tening : ungkapan masyarakat rambang untuk menyebut kondisi
air yang sangat jernih.