novel
Dokter Zhivago
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan,
Maret 1960.
"Tuan-tuan dan
nyonya-nyonya... saya ingin...Misha! Gogochka! Tolong, Tonya, mereka
tak mau dengar! Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, boleh saya ucapkan sepatak
kata? Kita segera akan mengalami hal yang luar biasa, yang tak masuk
akal. Sebelum kita dikejarnya, saya ingin kamu dengarkan., Bila tiba
saatnya, hendaknya Tuhan nencegah bahwa kita kehilangan jiwa dan yang
satu kehilangan yang lain. Gogochka, nanti kau boleh bersorak, aku belum
selesai. Pergilah dari situ, datanglah dan dengarkan baik-baik."
"Dalam tahun ketiga
peperangan ini, rakyat menjadi yakin bahwa perbedaan antara mereka di
garis depan dan mereka di garis belakang sekali waktu harus hapus. Lautan
darah akan naik dan sampai pada kita semua serta menenggelamkan tiap
orang yang tak ikut perang. Banjir ini adalah revolusi."
"Bila ini terjadi,
kamu akan sadar apa yang kami sadari di medan perang, yaitu bahwa penghidupan
telah berhenti, bahwa tak ada lagi diri pribadi, bahwa tak terjadi apa-apa
di dunia kecuali membuhnu dan mati. Kalau kita masih hidup nanti pada
waktu orang menulis kronik serta kenang-kenangan itu, akan kita lihatkan
bahwa dalam lima atau sepuluh tahun ini telah kita alami lebih dari
yang dialami orang-orang lain dalam seabad. Apakah rakyat akan naik
dengan sendirinya serta maju secara spontan bagaikan air pasang ataukah
semuanya bakal dikerjakan atas nama rakyat saja?"
" Entahlah. Orang
tak dapat meminta peristiwa sebesar itu dalam surat kepercayaan, tak
perlu diberi bukti dramatis tentang hadiratnya: kita menerimanya atas
penggandelan. Adalah daif dan hina kalau kita hendak menggali sebab
musabab dari kejadian-kejadian raksasa. Sebenarnyalah sebab musabab
itu tak da. Yang ada asal mulanya hanyalah pertengkaran dalam keluarga,
maka sesudah orang saling menjambak rambut dan membanting barang-barang
pecah belah, orangpun hendak ingat siapa yang memulainya. Apa yang betul-betul
besar tak adalah asal mulanya, tak ubahny dengan alam semesta. Tiba-tiba
saja kita dihadapinya, seolah ia selalu ada di situ atau seolah ia jatuh
dari langit."
"Saya pikir juga,
Rusia ditakdirkan selaku negeri sosialis yang pertama sejak dunia mulai
berkembang. Bila itu terjadi, kita akan lama terperanjat, pun jika kita
sadarkan diri masih saja kita setengah sadar dan kehilangan separoh
ingatan kita. Kita lupa nama yang mula-mula datang dan mana yang menyusul
dan kitapun tak akan mencari sebab musabab dari yang tak dapat diuraikan
ini. Tata tertib baru akan mengelilingi kita dan tak lebih asing bagi
kita daripada hutan di kaki langit atau awan di atas kita. Tak apa-apa
lagi yang tinggal."