edisi 73
selasa 16 maret 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 73

memoar Edi, Adikku
Susan Ismianti

sajak Setelah Kau Pergi
Novy Noorhayati Syahfida

kcerpen Bona Pasogit
Slamat Parsaoran Sinambela


ceritanet

©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya... saya ingin...Misha! Gogochka! Tolong, Tonya, mereka tak mau dengar! Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, boleh saya ucapkan sepatak kata? Kita segera akan mengalami hal yang luar biasa, yang tak masuk akal. Sebelum kita dikejarnya, saya ingin kamu dengarkan., Bila tiba saatnya, hendaknya Tuhan nencegah bahwa kita kehilangan jiwa dan yang satu kehilangan yang lain. Gogochka, nanti kau boleh bersorak, aku belum selesai. Pergilah dari situ, datanglah dan dengarkan baik-baik."

"Dalam tahun ketiga peperangan ini, rakyat menjadi yakin bahwa perbedaan antara mereka di garis depan dan mereka di garis belakang sekali waktu harus hapus. Lautan darah akan naik dan sampai pada kita semua serta menenggelamkan tiap orang yang tak ikut perang. Banjir ini adalah revolusi."

"Bila ini terjadi, kamu akan sadar apa yang kami sadari di medan perang, yaitu bahwa penghidupan telah berhenti, bahwa tak ada lagi diri pribadi, bahwa tak terjadi apa-apa di dunia kecuali membuhnu dan mati. Kalau kita masih hidup nanti pada waktu orang menulis kronik serta kenang-kenangan itu, akan kita lihatkan bahwa dalam lima atau sepuluh tahun ini telah kita alami lebih dari yang dialami orang-orang lain dalam seabad. Apakah rakyat akan naik dengan sendirinya serta maju secara spontan bagaikan air pasang ataukah semuanya bakal dikerjakan atas nama rakyat saja?"

" Entahlah. Orang tak dapat meminta peristiwa sebesar itu dalam surat kepercayaan, tak perlu diberi bukti dramatis tentang hadiratnya: kita menerimanya atas penggandelan. Adalah daif dan hina kalau kita hendak menggali sebab musabab dari kejadian-kejadian raksasa. Sebenarnyalah sebab musabab itu tak da. Yang ada asal mulanya hanyalah pertengkaran dalam keluarga, maka sesudah orang saling menjambak rambut dan membanting barang-barang pecah belah, orangpun hendak ingat siapa yang memulainya. Apa yang betul-betul besar tak adalah asal mulanya, tak ubahny dengan alam semesta. Tiba-tiba saja kita dihadapinya, seolah ia selalu ada di situ atau seolah ia jatuh dari langit."

"Saya pikir juga, Rusia ditakdirkan selaku negeri sosialis yang pertama sejak dunia mulai berkembang. Bila itu terjadi, kita akan lama terperanjat, pun jika kita sadarkan diri masih saja kita setengah sadar dan kehilangan separoh ingatan kita. Kita lupa nama yang mula-mula datang dan mana yang menyusul dan kitapun tak akan mencari sebab musabab dari yang tak dapat diuraikan ini. Tata tertib baru akan mengelilingi kita dan tak lebih asing bagi kita daripada hutan di kaki langit atau awan di atas kita. Tak apa-apa lagi yang tinggal."

 

Ia bicara sedikit lagi dan ketika itu ia sudah siuman sama sekali, tetapi pada waktu duduk ia masuh belum juga dapat mendengar jelas apa yang orang katakan padanya, lalu menjawab secara merambang. Ia tahu, mereka semua menunjukkan simpati, namun ia merasa tertindih oleh kemalangan. Ujarnya: "Terima kasih, terima kasih. Saya hargai perasaan kamu, tapi itu tak patut bagi saya. Jangan seperti itu menaruh hati. Serasa kamu onggokkan kesayangan, sebagai cadangan kalau-kalau di hari depan kamu menaruh kesayangan lebih banyak lagi."

Mereka semua ketawa dan bertepuk tangan, menganggap ucapannya itu lelucon yang disengaja, sedangkan dia sendiri tak tahu apa yang dikatakannya tadi sebab amat beratlah filsafatnya tentang bencana serta perasaannya yang tak berdaya terhadap masa depan, sekalipun ia amat haus akan kebaikan budi dan sanggup benar mencapai bahagia. Tamu-tamu hendak pergi. Muka mereka panjang, sebab letih, Mereka menguap dengan mengatup dan membuka rahang hingga tampak seperti kuda.

Orangpun pamit sambil menguak tirai dan membuka jendela. Fajar kekuning-kuningan di langit lembab, penuh dengan mendung bercelekeh yang hijau-tanah bagai kacang polong. "Rupa-rupanya ada taufan, waktu kita omong-omong tadi," kata seorang." Waktu jalan tadi aku kehujanan, ketika baru tiba di sini," Shura menjelaskan.

Lorong-lorong yang lenggang itu masih gelap dan deraian air dari pohon-pohon bersahutan dengan cicitan tak henti-hentinya dari burung-burung sriti yang kebasahan.

Sekali terdengar guruh, seakan ada bajak diseret melintasi langit. Lalu sepi. Lalu empat kali berdebuk seperti ada kentang-kentang yang terlalu matang terlontar dari persemaian empuk yang baru digali di musim rontok.

Guruh tadi memberishkan ruangan dalam kamar berdebu yang penuh asap. Seketika itu bagai aliran-aliran lsitrik, unsur-unsur yang membentuk hidup menjadi kelihatan: udara dan air, kebutuhan untuk bergembira, bumi dan langit.

Lorong-cabang canbag dipenuhi suara tamu-tamu yang pulang. Mereka telah berbantahan dengan cara tertentu di dalam rumah dan kini masih bantah membantah dengan caranya yang perssi sama di jalanan. Lama kelamaan suara mereka melembut di kejauhan dan akhirnya berangsur-angsur lenyap.

"Malam larut," kata Yury. " Mari tidur. Di dunia ini kucinta hanyalah kau dan ayah."
***bersambung