Pada pertumbuhannya
kemudian dia menjadi anak yang gembul. Dia sangat suka makan. Apa saja
dilahapnya hingga menjadi sedemikian gendut. Di kemudian hari, seringkali
kala melihatnya saya mesti bergumam heran pada diri sendiri; mengenang
dia yang dulu begitu kecilnya dan saya gendong kemana-mana.
Kegendutannya ini pula yang menghambatnya untuk belajar naik sepeda.
Sebagai keluarga tak mampu, orangtua tak mampu membeli sepeda kecil
untuk kami. Yang ada hanyalah sepeda besar yang dipakai Ayah untuk pergi
bekerja, tapi saya dan adik sulung saya agak beruntung karena bisa belajar
bersepeda dengan sepeda pinjaman. Kami berdua dengan mudah mendapatkan
sepeda pinjaman dari tetangga, tapi tidak demikian halnya dengan adik
bungsu saya itu. Karena kegendutannya maka teman-teman kuatir sepedanya
akan rusak bila dipinjamkan kepadanya dalam proses belajar. Tidak bisa
disalahkan, karena memang begitulah kenyataannya.
Tapi sesungguhnya dunia
tidak pernah kekurangan orang baik. Pada masa itu ada saja orang yang
mau memberi tumpangan pada adik saya untuk pulang bersama seusai sekolah
bila kebetulan kami sedang berhalangan menjemputnya. Barangkali wajah
lucu dan kegendutannya itu menimbulkan iba di hati banyak orang.
Saya ingat ada satu
anak teman sekelasnya yang paling sering mengantarnya pulang. Mereka
berboncengan naik sepeda. Teman ini sama gendutnya dengan adik saya.
Untuk membalas kebaikan hati anak itu, Ibu saya cukup membalasnya dengan
bon-bon, sekantung kerupuk, semangkuk kolak, atau bahkan hanya segelas
air sirup karena memang hanya itulah yang kami mampu pada saat itu.
Entah dimana teman ini sekarang. Patut disesali betapa mudahnya kami
melupakan budi baik orang lain.
Masa SMP barulah
adik bungsu saya itu terpacu untuk belajar naik sepeda. Pemacu semangatnya
adalah janji Ayah untuk membeli sepeda motor baru untuknya bila dia
berhasil lulus SMP. Seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi, orangtua
kami berhasil membelikan masing-masing sepeda motor untuk ketiga anaknya
ketika masuk SMA. Padahal saat itu dia sudah sangat gemuk, barangkali
sudah mencapai sekitar 70 kg.
Tapi naik sepeda
bukan ketrampilan langsung begitu jadi yang dibawa sejak lahir, walau
dengan iming-iming sepeda motor sekalipun. Dan bagi adik saya ada masalah
kondisi berat badan yang menyulitkan, begitu pula untuk pengajarnya.
Tapi tidak ada pilihan
lain. Dan dilaksanakanlah proses itu. Pengajarnya adalah Ayah dan adik
sulung. Waktunya dipilih malam hari, dengan pertimbangan jalan raya
sudah sepi dari lalu lalang kendaraan lain, dan juga para tetangga sudah
tidur sehingga kami tidak menjadi bahan tontonan.
Saya selalu terharu
mengingat masa-masa itu. Saya dan Ibu menahan napas dan berdebar-debar
menyaksikan adegan itu. Sementara adik bungsu saya belajar mengayuh
sepeda, Ayah dan adik sulung saya harus berlari-lari mengiringnya sambil
menahan sepeda supaya tidak jatuh, padahal sepeda itu sendiri harus
menahan beban seberat dia. Dan itu terjadi berulang-ulang, bermeter-meter,
lengkap dengan jatuh bangunnya dan lecet sana sini. Bermalam-malam mereka
bertiga bersimbah keringat. Bayangkan.
Lucunya, para tetangga
ternyata penasaran dengan apa yang kami lakukan dan ternyata melihat
kejadian itu bukan dijadikan sebagai bahan tontonan seperti yang kami
kuatirkan; mereka justru memberi semangat dan membantu bergantian menahan
sepeda.
Pada malam ke lima,
berkat bantuan Ayah dan adik sulung dan juga para tetangga, adik saya
itu sudah lancar bersepeda. Di ujung jalan kami bersama para tetangga
berteriak-teriak dan bertepuk tangan seperti layaknya supporter menyambut
pemenang lomba maraton. Lucu sekaligus mengharukan.
Ada satu hal yang tak pernah saya lupakan. Dulu setiap kali Ayah dan
Ibu bertengkar, yang kemudian biasanya berlanjut dengan saling mengancam
untuk berpisah, maka di antara rasa takutnya itu adik bungsu ini selalu
mengatakan tidak mau ikut Ayah atau ikut Ibu. Bila sesuatu terjadi dia
hanya mau ikut saya.
Pernyataan yang sederhana,
yang barangkali dikatakan tanpa proses pertimbangan apapun juga, melainkan
sekedar naluri alamiah anak-anak untuk mengatasi rasa takut. Tapi sesungguhnya
pernyataan itu tanpa sadar berpengaruh pada proses pendewasaan saya
di kemudian hari. Pada lingkungan keluarga, dalam banyak hal saya menempatkan
diri sebagai pihak yang mengambil alih tanggungjawab.
Pada perkembangannya
kemudian kondisi keluarga kami mulai membaik, baik secara ekonomi maupun
psikologis. Kami bertiga usai menyelesaikan sekolah langsung mendapatkan
pekerjaan yang layak. Bahkan adik sulung saya sudah berkeluarga, dan
adik bungsu dalam tahap bertunangan.
Dan datanglah musibah
itu.
***bersambung
Akan
diterbitkan dalam kumpulan memoar ceritanet