cerpen Bona Pasogit
Slamat Parsaoran Sinambela
Sudah lama aku tinggalkan
bona-pasogit ku ini. Sekarang semuanya berubah.
Saba sudah tidak subur lagi. Mata air yang sering kami gunakan
mandi telanjang semasa kecil dulu juga sudah kering. Udara yang aku
hirup lebih bau dari Jakarta, salah satu kota dengan polusi terburuk
di dunia.
Jarang aku punya kesempatan dan
waktu untuk pulang, namun kampung ini nyaris tidak akan bisa kulupakan.
Kampung tempat aku belajar merangkak, melompat dari batu ke sungai,
manjat pohon kelapa, dan dididik dengan ketegasan bapakku, seorang guru
merangkap petani --sampai sekarang aku rasanya masih sulit untuk sekedar
membayangkan perpaduan dua jenis pekerjaan ini --dan keteduhan hati
seorang ibu.
Dan dalam kesempatan dan waktu yang
jarang itu, aku berada di kampungku dengan urusan yang tidak menyenangkan.
Banyak sudah berita buruk yang aku dengar begitu aku duduk di kursi
dapur rumah kami.
"Tulang , bapak disepak
tentara, dipukuli, sampai sekarang tangan kanannya tidak bisa dipakai
mangombak lagi. Aku sudah bilang ke dia supaya tidak ikut-ikut
demo. Tapi jawabnya selalu: 'Ah, mau berapa lama lagi kampung kita ini
ditindas, Mang !'" suara bere-ku anak Ito Dorkas.
Ito Dorkas lebih sengit lagi
menyambung,"Iya Ito Tumpal, udah tak bisa lagi kami panen
di saba. Kau lihatlah di dolok sana, sampai ke toruan
, tak ada lagi eme yang bagus. Kepala kampung, sampai bupati tak ada
yang sanggup menghentikannya. Pastor, pandita, ustad, sama aktivis LSM
juga banyak yang dikejar-kejar tentara. Ada juga yang dipenjara."
Aku belum sempat menarik kembali
kenangan masa kecilku di kampungku ini, untuk menjauhkan diri sebentar
dari bau busuk yang menyebar sekarang ini dan Ito Dorkas sudah
menggebu-gebu melanjutkan keluhannya.
"Tak tau lagi negara macam
apa negara kita ini! Bertahun-tahun kita protes pabrik itu. Banyak zat
kimianya yang merusak. Bahkan, si Mangapul anaknya guru Situmorang yang
kuliah di teknik kimia ITB bilang kalau pabrik itu masih di sini, tak
sampai lima tahun lagi akan banyak anak-anak huta ini yang IQ-nya rendah
karena zat kimia yang dibuangnya. Si Ros juga, boru Tulang Simanjuntak
yang kuliah di Kedokteran UI bilang begitu!"
Masih banyak lagi suara sumbang
lain. Semuanya protes, semuanya meringis.
Puluhan, ratusan bahkan ribuan mengeluh.
Belum kutemukan yang gembira, yang senang atau yang terbahak-bahak.
Entahlah, aku juga meringis menghirup udara berbau busuk. Setiap kali
melewati daerah ini, setiap orang menutup hidungnya. Bau busuk!
"Heran, Tumpal! Semua bisa
dibeli pengusaha pabrik itu, bahkan pejabat menteri, bahkan presidenpun
tampaknya turut sama mereka. Dibuka, ditutup, dibuka lagi dengan nama
baru. Ah, permainan macam apa ini? Magigi iba!" kata Mangasi,
kawan kecilku.
"Aku tak bisa komentar, kita
harus terus berjuang. Jangan sampai putus asa!" kataku mendukungnya.
"Kek mana lagi mau kita buat.
Dulu dongan sahuta yang sekarang berhasil di Jakarta, mendukung
usaha ini. Sekarang? Taik kucing, mungkin marrara matanya dengan
posisi mereka sekarang. Uang bikin buta, uang memang benar-benar akar
kejahatan!"
"Kau lihat aja Bang, jarang
ada lagi Pinus di sekeliling kita. Semua habis ditebas, dikuras. Kawanku
yang tinggal di dekat danau bilang kalau airnya makin lama makin dangkal.
Sekarang tiap kali hujan, ada saja yang longsor.
Semua orang selalu berharap-harap
cemas. Rumah siapa lagi yang ditimpa longsor. Pakaian-pakaian juga gampang
rusak sekarang. Tak ada yang tahan. Kek mana mau tahan, airnya juga
sudah tercemar Bang," imbuh adikku Uli yang paling kecil.
Banyak yang pindah ke Balige, ke
Parapat, bahkan jauh lagi. Kampungku serasa neraka sekarang. Masing-masing
curiga. Masing-masing takut. Semua serasa tercerai-berai. Semua kontras
berlawanan. Pabrik itu mengubah tatanan kekeluargaan yang dulu sangat
erat di kampung ini. Banyak usaha yang penduduk lakukan. Mulai dari
musyawarah dari lembaga kampung yang paling kecil sampai bupati, bahkan
sampai tingkat menteri. Semua sia-sia.
Orang-orang kampungku bahkan mulai
menggunakan cara-cara yang kasar seperti: menghambat truk-truk mereka
yang melintas, memaki sopir-sopirnya. Semua ditumpahkan seenak perut.
Hilang sudah tata-krama daerah yang sangat dijunjung tinggi dulunya.
Pantasnya memang pabrik itu lenyap dari bona pasogit. Lenyap. Dan jangan
muncul lagi....
***
Kudengar teriakan-teriakan
itu, pintu rumah bapakku ditendang-tendang. Beberapa orang berbadan
tegap mulai merusak. Tanaman pagar yang tumbuh di depan diinjak-injak,
beberapa pot bunga juga dihancurhancurkan, pecah-pecah sampai berantakan.
Saat itu belum terlalu
gelap. Tampaknya rumah tetangga-tetangga di sebelah di depan sunyi.
Seperti tidak ada penghuninya lagi. Kampung ini seperti tak bertuan.
Semuanya kusaksikan sendiri lewat jendela kecil yang mulai lapuk. Suara-suara
mereka sangat kuat, penuh makian dalam bahasa daerahku. Sepertinya dikomando.
Dengan berusaha untuk
tetap tenang aku buka engsel pintu. Tiba-tiba, seorang dari mereka yang
perawakannya paling tinggi menunjuk-nunjuk mukaku, memaki dengan kata-kata
tidak senonoh, lalu menarik kerah bajuku dengan paksa. Masih kuingat
wajahnya yang sengaja dicoreng cairan hitam. Gurat wajahnya sangat kasar.
Ada suatu kebencian kulihat di matanya. Merah-menyala seperti terbakar.
Rambutnya cepak, dan otot-ototnya yang tampak terlatih dan kekar sangat
kuat menarik tubuhku sampai jatuh dari lantai papan rumah bapakku yang
berkolong.
"Kau penghianat!
Perusuh! Ngapain aja Kau di kampung ini? Mau bikin rusuh ya, nanti kupijak-pijak
Kau!" teriaknya sambil menyeret-nyeret tubuhku.
Kedua kakiku luka
bergesekan dengan batu-batu jalanan yang tajam. Beberapa temannya langsung
mendaratkan pukulan dan tendangan tanpa henti-hentinya. Perih rasanya
sekujur tubuh ini. Entah udah berapa puluh kali aku merasakannya. Sampai
satu saat aku merasakan laras sepatu itu
menyentuhku dengan cepat,"Krek!" Suara tulang rusukku yang
patah.
Wajahku sudah bisa
kupastikan berantakan, bibirku perih dan bengkak, aku mengecap cairan
asin yang meleleh dari pelipisku, sepertinya darah. Kepalaku basah,
mungkinkah darah semua? Aku tidak jelas lagi, suasana sangat gelap.
Dengan mudah mereka mencampakkanku ke atas bak truk, yang tampaknya
sudah
mereka siapkan. Tubuhku jatuh membentur lantainya. Tenagaku terasa hilang,
hampir tidak bisa bergerak lagi. Sayup-sayup kudengar mereka tertawa-tawa
senang diiringi suara mesin truk yang berjalan. Ada dua sosok yang berada
di tepi bak truk. Tampaknya mereka yang mengawasiku agar tidak bisa
meloloskan diri.
"Orang ini bikin
masalah aja. Nanti kita bantai dia," ujar seseorang dengan suara
berat. Yang lain tertawa, senang sekali. Setelah itu aku tidak ingat
apa-apa lagi....
***
Kulihat cahaya kecil
dari lilin yang menyadarkanku. Aku dalam ruangan berbau lapuk, gelap.
Tampaknya sebuah rumah tua. Terdengar suara-suara jangkrik di sekelilingku.
Suara yang mengingatkanku masa kecil dulu. Saat-saat ayahku bercerita
meninabobokkan kami anak-anaknya. Suara itu selalu menambah suasana
yang membawa kami larut dengan cerita-cerita rakyat khas dari daerahku.
Iya, suara jangkrik itu membuatku sedikit lupa nyeri luka-lukaku.
Terdengar di ruangan
sebelah beberapa orang bercakap-cakap dengan suara pelan. Sesekali ada
yang tertawa. Ada pula suara yang selalu mengingatkan mereka.
"Hati-hati, jangan
pernah menyebut nama!"
Entah sudah berapa
kali kalimat yang sama kudengar. Aku tidak awas lagi, badanku seperti
dibakar rasanya, jika bergerak sedikit saja, nyeri sekali. Tangan kananku
tidak berdaya. Aku baru tahu kalau kelingkingnya ada yang patah, bengkok
dan tidak pada posisinya lagi.
Kudengar lagi suara
itu,"Ayo, kita habisi si kurang ajar itu!"
"Siap, Komandan!"
Sebuah pintu terbuka,
suara-suara sepatu laras mereka mendekati tubuhku.
"Ya, Tuhan. Cobaan apa lagi ini?" batinku.
"Hey, Biang! Buat apa data-data yang Kau kumpulkan ini.?
Kau mau bikin kami repot ya? Kau pikir kau hebat?" si suara berat
teriak. Ditunjukkannya sebuah amplop surat berisi map penuh dengan kertas-kertas,
kaset, beberapa disket, puluhan lembar foto.
Aku ingat sekali,
paket itu aku titipkan ke temanku yang melewati kantor pos setiap-harinya.
Semuanya kukirim untuk teman-teman wartawan, pengacara, dan asistenku
di UI untuk bahan diskusi dan penelitian. Semuanya masih utuh. Tidak
kusangka, semuanya bisa mereka dapatkan dengan mudah.
"Sebegitu-parahkah
hak orang-orang kampungku dirampas?" gumamku. Aku terdiam, aku
menangis, meringis, tak kuasa lagi rasanya. Semua file-file itu aku
susun untuk memberikan pembelaan atas keserakahan pabrik itu. Hasil
rekaman wawancara, survey, dan data-data yang hampir satu bulan setengah
aku kumpulkan dengan susah payah, harus jatuh ditangan mereka.
"Saonari ta
pamate ma bayon, pintor tembakkon ma di ulu na i!" si suara
berat kasih aba-aba. Dijambaknya rambutku ke atas, sakit rasanya. Lengannya
yang satu kemudian mencekik leherku, dia tertawa lagi, tertawa lepas.
Wajahnya masih dilumuri
cairan hitam. Setelah tubuhku duduk dengan tegak tersandar di dinding,
dia mulai menjauhiku. Yang lainnya juga menjauh. Seorang dari mereka
memegang senjata laras panjang yang diarahkan ke kepalaku. Ada cahaya
merah kecil dari bagian atas senapan itu yang berkali-kali menyentuh
mataku. Cahaya itu seperti di film-film yang sering aku tonton.
Kurasakan hatiku,
pikiranku, kosong sekali. Hampa, sepertinya akan kehilangan sesuatu,
sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti. "Bodoh!" aku maki
diriku. Aku benar-benar lupa. Aku belum beritahu Uli, adikku, kalau
laptop, kaset dan semua copy file-file itu aku simpan di lumbung padi
yang tidak dipakai lagi.
Tak mungkin ada yang
bisa tahu. Sudah lama lumbung itu tidak dipakai, lama sekali. Mungkin
puluhan tahun. Tiba-tiba kurasakan sebuah benda kecil masuk kepalaku
dengan kecepatan yang sangat tinggi diiringi sebuah suara letusan. Panas.
Aku berteriak. Perih, perih sekali.
Masih kuingat tubuhku
bergetar dengan hebat sampai beberapa detik.
***
Bona
pasogit: kampung halaman
saba: sawah
tulang: saudara ibu laki-laki
mangombak: mencangkul
mang/amang: panggilan sayang untuk anak laki-laki
bere: keponakan
ito: panggilan untuk saudara berbeda jenis kelamin
dolok: dataran tinggi
toruan:
dataran rendah
magigi iba: aku jijik
dongan sahuta: kawan sekampung
marrara: memerah
biang: anjing
saonari ta pamate ma bayon, pintor tembakkon ma di ulu na i:
sekarang kita bunuh saja orang ini, langsung tembak saja di batok kepalanya.