edisi 73
senin 15 maret 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 73

memoar Edi, Adikku
Susan Ismianti

Setelah Kau Pergi
Novy Noorhayati Syahfida

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


cerpen
Bona Pasogit

Slamat Parsaoran Sinambela

Sudah lama aku tinggalkan bona-pasogit ku ini. Sekarang semuanya berubah. Saba sudah tidak subur lagi. Mata air yang sering kami gunakan mandi telanjang semasa kecil dulu juga sudah kering. Udara yang aku hirup lebih bau dari Jakarta, salah satu kota dengan polusi terburuk di dunia.

Jarang aku punya kesempatan dan waktu untuk pulang, namun kampung ini nyaris tidak akan bisa kulupakan. Kampung tempat aku belajar merangkak, melompat dari batu ke sungai, manjat pohon kelapa, dan dididik dengan ketegasan bapakku, seorang guru merangkap petani --sampai sekarang aku rasanya masih sulit untuk sekedar membayangkan perpaduan dua jenis pekerjaan ini --dan keteduhan hati seorang ibu.

Dan dalam kesempatan dan waktu yang jarang itu, aku berada di kampungku dengan urusan yang tidak menyenangkan. Banyak sudah berita buruk yang aku dengar begitu aku duduk di kursi dapur rumah kami.

"Tulang , bapak disepak tentara, dipukuli, sampai sekarang tangan kanannya tidak bisa dipakai mangombak lagi. Aku sudah bilang ke dia supaya tidak ikut-ikut demo. Tapi jawabnya selalu: 'Ah, mau berapa lama lagi kampung kita ini ditindas, Mang !'" suara bere-ku anak Ito Dorkas.

Ito Dorkas lebih sengit lagi menyambung,"Iya Ito Tumpal, udah tak bisa lagi kami panen di saba. Kau lihatlah di dolok sana, sampai ke toruan , tak ada lagi eme yang bagus. Kepala kampung, sampai bupati tak ada yang sanggup menghentikannya. Pastor, pandita, ustad, sama aktivis LSM juga banyak yang dikejar-kejar tentara. Ada juga yang dipenjara."

Aku belum sempat menarik kembali kenangan masa kecilku di kampungku ini, untuk menjauhkan diri sebentar dari bau busuk yang menyebar sekarang ini dan Ito Dorkas sudah menggebu-gebu melanjutkan keluhannya.

"Tak tau lagi negara macam apa negara kita ini! Bertahun-tahun kita protes pabrik itu. Banyak zat kimianya yang merusak. Bahkan, si Mangapul anaknya guru Situmorang yang kuliah di teknik kimia ITB bilang kalau pabrik itu masih di sini, tak sampai lima tahun lagi akan banyak anak-anak huta ini yang IQ-nya rendah karena zat kimia yang dibuangnya. Si Ros juga, boru Tulang Simanjuntak yang kuliah di Kedokteran UI bilang begitu!"

Masih banyak lagi suara sumbang lain. Semuanya protes, semuanya meringis.

Puluhan, ratusan bahkan ribuan mengeluh. Belum kutemukan yang gembira, yang senang atau yang terbahak-bahak. Entahlah, aku juga meringis menghirup udara berbau busuk. Setiap kali melewati daerah ini, setiap orang menutup hidungnya. Bau busuk!

"Heran, Tumpal! Semua bisa dibeli pengusaha pabrik itu, bahkan pejabat menteri, bahkan presidenpun tampaknya turut sama mereka. Dibuka, ditutup, dibuka lagi dengan nama baru. Ah, permainan macam apa ini? Magigi iba!" kata Mangasi, kawan kecilku.

"Aku tak bisa komentar, kita harus terus berjuang. Jangan sampai putus asa!" kataku mendukungnya.

"Kek mana lagi mau kita buat. Dulu dongan sahuta yang sekarang berhasil di Jakarta, mendukung usaha ini. Sekarang? Taik kucing, mungkin marrara matanya dengan posisi mereka sekarang. Uang bikin buta, uang memang benar-benar akar kejahatan!"

"Kau lihat aja Bang, jarang ada lagi Pinus di sekeliling kita. Semua habis ditebas, dikuras. Kawanku yang tinggal di dekat danau bilang kalau airnya makin lama makin dangkal. Sekarang tiap kali hujan, ada saja yang longsor.

Semua orang selalu berharap-harap cemas. Rumah siapa lagi yang ditimpa longsor. Pakaian-pakaian juga gampang rusak sekarang. Tak ada yang tahan. Kek mana mau tahan, airnya juga sudah tercemar Bang," imbuh adikku Uli yang paling kecil.

Banyak yang pindah ke Balige, ke Parapat, bahkan jauh lagi. Kampungku serasa neraka sekarang. Masing-masing curiga. Masing-masing takut. Semua serasa tercerai-berai. Semua kontras berlawanan. Pabrik itu mengubah tatanan kekeluargaan yang dulu sangat erat di kampung ini. Banyak usaha yang penduduk lakukan. Mulai dari musyawarah dari lembaga kampung yang paling kecil sampai bupati, bahkan sampai tingkat menteri. Semua sia-sia.

Orang-orang kampungku bahkan mulai menggunakan cara-cara yang kasar seperti: menghambat truk-truk mereka yang melintas, memaki sopir-sopirnya. Semua ditumpahkan seenak perut. Hilang sudah tata-krama daerah yang sangat dijunjung tinggi dulunya. Pantasnya memang pabrik itu lenyap dari bona pasogit. Lenyap. Dan jangan muncul lagi....
***

Kudengar teriakan-teriakan itu, pintu rumah bapakku ditendang-tendang. Beberapa orang berbadan tegap mulai merusak. Tanaman pagar yang tumbuh di depan diinjak-injak, beberapa pot bunga juga dihancurhancurkan, pecah-pecah sampai berantakan.

Saat itu belum terlalu gelap. Tampaknya rumah tetangga-tetangga di sebelah di depan sunyi. Seperti tidak ada penghuninya lagi. Kampung ini seperti tak bertuan. Semuanya kusaksikan sendiri lewat jendela kecil yang mulai lapuk. Suara-suara mereka sangat kuat, penuh makian dalam bahasa daerahku. Sepertinya dikomando.

Dengan berusaha untuk tetap tenang aku buka engsel pintu. Tiba-tiba, seorang dari mereka yang perawakannya paling tinggi menunjuk-nunjuk mukaku, memaki dengan kata-kata tidak senonoh, lalu menarik kerah bajuku dengan paksa. Masih kuingat wajahnya yang sengaja dicoreng cairan hitam. Gurat wajahnya sangat kasar. Ada suatu kebencian kulihat di matanya. Merah-menyala seperti terbakar. Rambutnya cepak, dan otot-ototnya yang tampak terlatih dan kekar sangat kuat menarik tubuhku sampai jatuh dari lantai papan rumah bapakku yang berkolong.

"Kau penghianat! Perusuh! Ngapain aja Kau di kampung ini? Mau bikin rusuh ya, nanti kupijak-pijak Kau!" teriaknya sambil menyeret-nyeret tubuhku.

Kedua kakiku luka bergesekan dengan batu-batu jalanan yang tajam. Beberapa temannya langsung mendaratkan pukulan dan tendangan tanpa henti-hentinya. Perih rasanya sekujur tubuh ini. Entah udah berapa puluh kali aku merasakannya. Sampai satu saat aku merasakan laras sepatu itu
menyentuhku dengan cepat,"Krek!" Suara tulang rusukku yang patah.

Wajahku sudah bisa kupastikan berantakan, bibirku perih dan bengkak, aku mengecap cairan asin yang meleleh dari pelipisku, sepertinya darah. Kepalaku basah, mungkinkah darah semua? Aku tidak jelas lagi, suasana sangat gelap. Dengan mudah mereka mencampakkanku ke atas bak truk, yang tampaknya sudah
mereka siapkan. Tubuhku jatuh membentur lantainya. Tenagaku terasa hilang, hampir tidak bisa bergerak lagi. Sayup-sayup kudengar mereka tertawa-tawa senang diiringi suara mesin truk yang berjalan. Ada dua sosok yang berada di tepi bak truk. Tampaknya mereka yang mengawasiku agar tidak bisa meloloskan diri.

"Orang ini bikin masalah aja. Nanti kita bantai dia," ujar seseorang dengan suara berat. Yang lain tertawa, senang sekali. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi....
***

Kulihat cahaya kecil dari lilin yang menyadarkanku. Aku dalam ruangan berbau lapuk, gelap. Tampaknya sebuah rumah tua. Terdengar suara-suara jangkrik di sekelilingku. Suara yang mengingatkanku masa kecil dulu. Saat-saat ayahku bercerita meninabobokkan kami anak-anaknya. Suara itu selalu menambah suasana yang membawa kami larut dengan cerita-cerita rakyat khas dari daerahku. Iya, suara jangkrik itu membuatku sedikit lupa nyeri luka-lukaku.

Terdengar di ruangan sebelah beberapa orang bercakap-cakap dengan suara pelan. Sesekali ada yang tertawa. Ada pula suara yang selalu mengingatkan mereka.

"Hati-hati, jangan pernah menyebut nama!"

Entah sudah berapa kali kalimat yang sama kudengar. Aku tidak awas lagi, badanku seperti dibakar rasanya, jika bergerak sedikit saja, nyeri sekali. Tangan kananku tidak berdaya. Aku baru tahu kalau kelingkingnya ada yang patah, bengkok dan tidak pada posisinya lagi.

Kudengar lagi suara itu,"Ayo, kita habisi si kurang ajar itu!"
"Siap, Komandan!"

Sebuah pintu terbuka, suara-suara sepatu laras mereka mendekati tubuhku.
"Ya, Tuhan. Cobaan apa lagi ini?" batinku.
"Hey, Biang! Buat apa data-data yang Kau kumpulkan ini.? Kau mau bikin kami repot ya? Kau pikir kau hebat?" si suara berat teriak. Ditunjukkannya sebuah amplop surat berisi map penuh dengan kertas-kertas, kaset, beberapa disket, puluhan lembar foto.

Aku ingat sekali, paket itu aku titipkan ke temanku yang melewati kantor pos setiap-harinya. Semuanya kukirim untuk teman-teman wartawan, pengacara, dan asistenku di UI untuk bahan diskusi dan penelitian. Semuanya masih utuh. Tidak kusangka, semuanya bisa mereka dapatkan dengan mudah.

"Sebegitu-parahkah hak orang-orang kampungku dirampas?" gumamku. Aku terdiam, aku menangis, meringis, tak kuasa lagi rasanya. Semua file-file itu aku susun untuk memberikan pembelaan atas keserakahan pabrik itu. Hasil rekaman wawancara, survey, dan data-data yang hampir satu bulan setengah aku kumpulkan dengan susah payah, harus jatuh ditangan mereka.

"Saonari ta pamate ma bayon, pintor tembakkon ma di ulu na i!" si suara berat kasih aba-aba. Dijambaknya rambutku ke atas, sakit rasanya. Lengannya yang satu kemudian mencekik leherku, dia tertawa lagi, tertawa lepas.

Wajahnya masih dilumuri cairan hitam. Setelah tubuhku duduk dengan tegak tersandar di dinding, dia mulai menjauhiku. Yang lainnya juga menjauh. Seorang dari mereka memegang senjata laras panjang yang diarahkan ke kepalaku. Ada cahaya merah kecil dari bagian atas senapan itu yang berkali-kali menyentuh mataku. Cahaya itu seperti di film-film yang sering aku tonton.

Kurasakan hatiku, pikiranku, kosong sekali. Hampa, sepertinya akan kehilangan sesuatu, sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti. "Bodoh!" aku maki diriku. Aku benar-benar lupa. Aku belum beritahu Uli, adikku, kalau laptop, kaset dan semua copy file-file itu aku simpan di lumbung padi yang tidak dipakai lagi.

Tak mungkin ada yang bisa tahu. Sudah lama lumbung itu tidak dipakai, lama sekali. Mungkin puluhan tahun. Tiba-tiba kurasakan sebuah benda kecil masuk kepalaku dengan kecepatan yang sangat tinggi diiringi sebuah suara letusan. Panas. Aku berteriak. Perih, perih sekali.

Masih kuingat tubuhku bergetar dengan hebat sampai beberapa detik.
***

Bona pasogit: kampung halaman
saba: sawah
tulang: saudara ibu laki-laki
mangombak: mencangkul
mang/amang: panggilan sayang untuk anak laki-laki
bere: keponakan
ito: panggilan untuk saudara berbeda jenis kelamin
dolok: dataran tinggi
toruan: dataran rendah
magigi iba: aku jijik
dongan sahuta: kawan sekampung
marrara: memerah
biang: anjing
saonari ta pamate ma bayon, pintor tembakkon ma di ulu na i: sekarang kita bunuh saja orang ini, langsung tembak saja di batok kepalanya.