edisi 72
rabu 25 februari 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 72

komentar Bajaj Bajuri
Dodiek Adyttya Dwiwanto

cerpen Cerita Sastra
Qizink La Aziva


cerpen
Juan dan Malaikat
Dony Anggoro


ceritanet

©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Demikian pertemuan mereka yang mula-mula: tapi sejak itu mereka berjumpa bersama orang-orang lain, padahal dalam hadirat orang lain sikap Paman Kolya berlainan sama sekali.

Ia sadar ia seorang tamu di Moksow, dan ia suka sekali menjadi tamu, sekalipun belum terang apakah yang dianggapnya tempat kediamannya itu Petersburg atau kota lain. Ia senang disebut pahlawan salon politik --boleh jadi dibayangkannya bahwa salon-salon politik dengan gaya salon Madame Roland di Paris pada malam sebelum konvensi itu bisa jadi juga di Moskow.

Bila mengunjungi teman-teman wanitanya yang senang menerimanya dalam flet mereka di lorong-lorong kecil yang sepi di Moskow, iapun dengan cara seramah-ramahnya suka mengusik mereka beserta para suami dengan cara berpikir mereka yang picik, terbelakang dan bersifat lokal itu. Iapun bangga bahwa diketahuinya isi surat-surat kabar, seperti dulu ia banggakan pengetahuannya yang patut diragukan, lagipula tak jelas.

Konon ia pernah punya hubungan asmara yang tak berkeputusan, punya banyak urusan terbengkalai dan sebuah buku yang belum selesai di Swiss dan ia hanya datang untuk menyelam dalam putaran air; ini berarti bila ia dapat meluputkan diri, ia akan langsung kembali ke pegunungan Alpen yang disayanginya.

Ia pro Bolsjewik dan sering menyebut-nyebut dua orang Sosial Revolusioner dari sayap kiri yang sepaham dengannya, dua wartawan yang menulis dengan nama samaran Miroshka Pomor dan Sylvia Coterie.

"Mengerikan betul jadinya, Nikolay Nikolayevich," kata mertua Yury kepadanya, "dengan segala Miroshka ini; sampah melulu. Dan Lydia Pokori pula."
"Coterie." Nikolay Nikolayevich meralatnya, "dan Sylvia,"
"Pokori atau Potpourri, sama saja. Apa artinya nama."
"Sama saja dan kebetulan Coterie," Nikolai Nikolayevich bertahan dengan sabar. Percakapan mereka berdua adalah seperti ini.

"Apa yang perlu dibantah? Sudah terang, hingga malulah kita kalau masih harus mencari bukti-bukti. Itulah A-B-C dari segalanya. Berabad-abad kebanyakan manusia terpaksa hidup tak semestinya. Ambilah buku sejarah yang mana saja,. Apapun namanya, feodalisme dan perbudakan, atau kapitaslisa dan industri, keadaanya tidak fitri dan tidak adil. Ini sudah lama diketahui dan dunia telah bersiap-siap untuk pembalikan yang akan membawa terang pada rakyat serta menempatkan segalanya di tempat yang sewajarnya.

 

"Kau tahu benar, tak ada gunaya menambal-nambal susunan lama. Kita harus menggali sampai ke dasar-dasar. Tak bakal menghasilkan runtuhnya seluruh gedung. Apa salahnya? Hal itu menakutkan, tapi tak akan mencegah terjadinya. Ini soal waktu. Bagaimana dapat kau bantah?"

"Bukan itu soalnya, bukan itu yang kubicarakan," Alexander Alexanderovich menjadi rusah dan perdebatan berkobar-kobar.

"Kaum Potpourri dan Miroshka itu orang-orang tanpa hati nurani. Lain bicara,. lain perbuatan. Betapa juga dimana logikamu? Sama sekali tak ada mantiknya. Tunggu sebentar, kukasih lihat sesuatu."

Lalu mulailah ia mencari koran yang memuat karangan yang membantah bunyinya sendiri; dibantingnya laci-laci meja tulis dan dipakainya segala keributannya itu guna memperkuat kefasihannya.

Alexander Alexandrovich senang kalau ada rintangan bila ia bicara; penyimpangan pikiran itu memberinya alasan untuk gumam dan gerutu. Kefasihan lidahnya datang, bila ia kehilangan dan mencari sesuatu --hendak menemukan sepatu saljunya yang kedua dalam kamar pakaian yang temaram-- atau kalau ia berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk tersampir di lengannya atau kalau waktu makan ia lagi mengulurkan piring berat penuh hidangan atau jika menuangkan anggur dalam gelas kawan-kawannya.

Yury suka mendengarkannya. Ia sayang pada bahasa Moskow kunonya yang seperti tembang serta huruf r yang mendegkur lembut, khusus bahi kaum Gromeko.

Bibir Alexander Alexandrovich sebelah atas dengan kumis terpotong kecil mendobrak atas bibir sebelah bawah, tepat seperti dasi kupunya yang menonjol dari kuduknya; antara yang dua itu ada persamaannya, maka hal ini membuatnya mirip pada seoarng anak yang menimbulkan haru dan kepercayaan.

Pada malam pesta itu Shura Schlesinger tiba sangat terlambat; ia datang langsung dari rapat dan memakai stelan serta peci lelaki. Dengan langkah besar ia masuk kamar, lalu mengeluh dan menuduh-nuduh sambil berjabatan tangan.

"Apa kabar Tonya. Apa kabar Alexander? Bikin malu, akuilah. Seluruh Moskow tahu bahwa ia sudah pulang, tiap orang bicara tentang dia, sedangkan kau tak bilang apa-apa padaku. Wah rupa-rupanya aku tak pantas. Mana dia, si Yura? Boleh aku ketemu dia. Ha, apa kabar? Sidah kubaca, hebatlah; aku tak mengerti sepatah katapun, tapi nampak segera itu penuh bakat. Apa kabar Nikolay Nikolayevich? Tunggu sebentar, Yura sayang, aku mesti bicara denganmu. Hallo anak-anak. Kaupun di sini Gogochka, Gangsa Jantan" (ini ditujukan pada seorang famili Gromeko yang jauh yang dengan berapi-api mengagumi tiap bintang yang sedang naik terkenal sebagai si Gangsa, berkat ketawanya yang dulu dan sebagai si Cacing Pita sebab tinggi kurus).

"Makan minum ya? Nanti segera kukejar kau. Nah kawan-kawan tersayang, tak kamu duga, betapa banyak kamu rugi. Kamu tak tahu apa-apa, tak lihat apa-apa. Sayang kamu tak tahu apa yang terhjadi, apa yang sedang dikerjakan di dunia! Pergilah melihat rapat raksasa yang benar-benar, dengan pekerja dan prajurit yang sungguh-sungguh dan bukannya dari buku. Coba sampaikan pada mereka soal berperang hingga kemenangan tercapai! Mereka akhirnya akan menang! Aku barusan mendengarkan seorang kelasi --Yura sayang, kau bisa dibikinnya edan! Wah semangatnya! Tulusnya!."

 

Shura terus menerus disela orang. Tiap mereka berteriak. Ia melintas ke Yura, menggapai tangannya dan dengan mendekatkan mukanya pada muka Yura, iapun berseru bagai megafon, mengatasi hiruk pikuk.

"Mari kubawa kau Yura sayang, kuperlihatkan padamu manusia-manusia yang riil. Kau harus, ya harus mencecap bumi sendiri, seperti Antheus. Mengapa kau tatap aku senanar itu? Aku kuda-kuda perang tua, kau tahu, bukan? Mahasiswa tua dari Bestuzhov*. Aku lihat penjara dari dalam, aku bertempur di barikade. Betul, percaya tidak? Tapi akuilah, kita belum kenal rakyat sama sekali. Betul, percaya tidak? Tapi akuilah, kita belum kenal rakyat sama sekali. Aku baru saja dari sana, dari tengah-tengah mereka. Aku dirikan perpustakaan umum untuk mereka.

Ia telah minum dan rupa-rupanya agak mabuk. Tai Yurapun kepalanya pusing Tak tahulah ia bagaimana terjadinya bahwa Shura kini di satu sudut kamar dan dia di sudut lainnya; ia berdiri depan ujung meja dan agaknya sedang berpidato, tak tersangka oleh dirinya sendiri. Diperlukan beberapa jurus untuk beroleh suasana tenang.
*** bersambung
* mahasiswa yang mengikuti kuliah untuk wanita pada Universitas Bestuzhov. Banyak dari mereka masuk sayap kiri.