"Kau tahu benar,
tak ada gunaya menambal-nambal susunan lama. Kita harus menggali sampai
ke dasar-dasar. Tak bakal menghasilkan runtuhnya seluruh gedung. Apa
salahnya? Hal itu menakutkan, tapi tak akan mencegah terjadinya. Ini
soal waktu. Bagaimana dapat kau bantah?"
"Bukan
itu soalnya, bukan itu yang kubicarakan," Alexander Alexanderovich
menjadi rusah dan perdebatan berkobar-kobar.
"Kaum
Potpourri dan Miroshka itu orang-orang tanpa hati nurani. Lain bicara,.
lain perbuatan. Betapa juga dimana logikamu? Sama sekali tak ada mantiknya.
Tunggu sebentar, kukasih lihat sesuatu."
Lalu
mulailah ia mencari koran yang memuat karangan yang membantah bunyinya
sendiri; dibantingnya laci-laci meja tulis dan dipakainya segala keributannya
itu guna memperkuat kefasihannya.
Alexander
Alexandrovich senang kalau ada rintangan bila ia bicara; penyimpangan
pikiran itu memberinya alasan untuk gumam dan gerutu. Kefasihan lidahnya
datang, bila ia kehilangan dan mencari sesuatu --hendak menemukan sepatu
saljunya yang kedua dalam kamar pakaian yang temaram-- atau kalau ia
berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk tersampir di lengannya
atau kalau waktu makan ia lagi mengulurkan piring berat penuh hidangan
atau jika menuangkan anggur dalam gelas kawan-kawannya.
Yury
suka mendengarkannya. Ia sayang pada bahasa Moskow kunonya yang seperti
tembang serta huruf r yang mendegkur lembut, khusus bahi kaum Gromeko.
Bibir
Alexander Alexandrovich sebelah atas dengan kumis terpotong kecil mendobrak
atas bibir sebelah bawah, tepat seperti dasi kupunya yang menonjol dari
kuduknya; antara yang dua itu ada persamaannya, maka hal ini membuatnya
mirip pada seoarng anak yang menimbulkan haru dan kepercayaan.
Pada
malam pesta itu Shura Schlesinger tiba sangat terlambat; ia datang langsung
dari rapat dan memakai stelan serta peci lelaki. Dengan langkah besar
ia masuk kamar, lalu mengeluh dan menuduh-nuduh sambil berjabatan tangan.
"Apa
kabar Tonya. Apa kabar Alexander? Bikin malu, akuilah. Seluruh Moskow
tahu bahwa ia sudah pulang, tiap orang bicara tentang dia, sedangkan
kau tak bilang apa-apa padaku. Wah rupa-rupanya aku tak pantas. Mana
dia, si Yura? Boleh aku ketemu dia. Ha, apa kabar? Sidah kubaca, hebatlah;
aku tak mengerti sepatah katapun, tapi nampak segera itu penuh bakat.
Apa kabar Nikolay Nikolayevich? Tunggu sebentar, Yura sayang, aku mesti
bicara denganmu. Hallo anak-anak. Kaupun di sini Gogochka, Gangsa Jantan"
(ini ditujukan pada seorang famili Gromeko yang jauh yang dengan berapi-api
mengagumi tiap bintang yang sedang naik terkenal sebagai si Gangsa,
berkat ketawanya yang dulu dan sebagai si Cacing Pita sebab tinggi kurus).
"Makan
minum ya? Nanti segera kukejar kau. Nah kawan-kawan tersayang, tak kamu
duga, betapa banyak kamu rugi. Kamu tak tahu apa-apa, tak lihat apa-apa.
Sayang kamu tak tahu apa yang terhjadi, apa yang sedang dikerjakan di
dunia! Pergilah melihat rapat raksasa yang benar-benar, dengan pekerja
dan prajurit yang sungguh-sungguh dan bukannya dari buku. Coba sampaikan
pada mereka soal berperang hingga kemenangan tercapai! Mereka akhirnya
akan menang! Aku barusan mendengarkan seorang kelasi --Yura sayang,
kau bisa dibikinnya edan! Wah semangatnya! Tulusnya!."
Shura
terus menerus disela orang. Tiap mereka berteriak. Ia melintas ke Yura,
menggapai tangannya dan dengan mendekatkan mukanya pada muka Yura, iapun
berseru bagai megafon, mengatasi hiruk pikuk.
"Mari
kubawa kau Yura sayang, kuperlihatkan padamu manusia-manusia yang riil.
Kau harus, ya harus mencecap bumi sendiri, seperti Antheus. Mengapa
kau tatap aku senanar itu? Aku kuda-kuda perang tua, kau tahu, bukan?
Mahasiswa tua dari Bestuzhov*. Aku lihat penjara dari dalam, aku bertempur
di barikade. Betul, percaya tidak? Tapi akuilah, kita belum kenal rakyat
sama sekali. Betul, percaya tidak? Tapi akuilah, kita belum kenal rakyat
sama sekali. Aku baru saja dari sana, dari tengah-tengah mereka. Aku
dirikan perpustakaan umum untuk mereka.
Ia
telah minum dan rupa-rupanya agak mabuk. Tai Yurapun kepalanya pusing
Tak tahulah ia bagaimana terjadinya bahwa Shura kini di satu sudut kamar
dan dia di sudut lainnya; ia berdiri depan ujung meja dan agaknya sedang
berpidato, tak tersangka oleh dirinya sendiri. Diperlukan beberapa jurus
untuk beroleh suasana tenang.
***
bersambung
* mahasiswa yang mengikuti kuliah untuk
wanita pada Universitas Bestuzhov. Banyak dari mereka masuk sayap kiri.