"Ya
Sastra
telah mengembalikkan kesadaran kita pada kebesaran Tuhan.
Sastra
sang ratu adil!" seorang pria berwajah paranormal menimpali dengan
lebih semangat. "Sastra adalah titisan pertapa yang bersemayam
di puncak Merapi, " lanjutnya yakin.
"Tapi sastra juga
berbahaya bagi orang lain. Sastra sangat menakutkan!" sela pria
bergaya pemuka agama.
Tek! Sastra menekan
tombol off pada remote control. TV 14" di hadapannya mati.
Sastra muak dengan
segala komentar tentang dirinya. Hampir saban hari dirinya dijadikan
objek pembicaraan di televisi, radio, kampus, sekolah, ruang seminar,
Bahkan di warung angkringan
pojok gang.
Keunikan Sastra telah
menjadi perhatian banyak orang. Namanya dikenal hingga ke pelosok negeri.
Sastra ingin hidup apa adanya, hidup normal seperti manusia lainnya.
Tapi keinginan itu hanya menjadi mimpi di siang bolong, karena pada
kenyataannya orang lain tak bisa menerima kehadiran Sastra di tengah-tengah
mereka. Orang-orang yang berpapasan dengannya selalu memandangi dirinya
dengan sorot mata aneh. Bahkan tak sedikit anak-anak yang langsung lari
terbirit-birit atau mentertawakan dirinya.
Menyakitkan!
"Puah!"
Sastra meludah. Matanya
melotot. Otot-otot di pergelangan tangan dan lehernya menegang. Dilemparkannya
remote control yang masih dipegangnya ke arah televisi.
Prang! Kaca televisi
pecah berantakan.
"Aaaaggghhhh
."
Sastra menjerit. Suaranya bergema di dalam kamar 3x3 meter miliknya.
Beberapa jenak kemudian tubuhnya jatuh lunglai dengan air mata yang
mengembang di ujung matanya yang bening. Sastra menangis!
***
22. 45, burung gagak
mengoak.
Di sebuah jembatan
penyeberangan, Sastra memandangi beberapa kendaraan yang berlalu-lalang
di bawahnya. Tekadnya sudah bulat. Malam ini ia akan melakukan apa yang
telah dilakukan ibunya dua puluh tahun yang lalu. Sastra ingin bunuh
diri! Sastra merasa telah lelah menjalani hidupnya.
"Tuhan
.
Izinkan aku untuk menentukan cara kematianku
."
Sastra menaiki pagar
pembatas jembatan. Matanya mulai dipejamkan ketika kabut mulai menyelimuti
bulan yang pucat sendirian di langit. Sedetik kemudian tubuh Sastra
meluncur
.
Bruk!
Sastra membuka matanya.
Sekelilingnya nampak begitu putih. Surgakah? Sastra sampai di surga?
Tidak! Sastra belum sampai surga. Surga terlalu mahal bagi Sastra. Sastra
terkapar di atas kasur sebuah rumah sakit. Semalam seorang juragan sayur
yang membawanya ke rumah sakit.
Sastra tidak mati!
Saat bunuh diri, tubuh Sastra jatuh di atas bak truk yang penuh sayur
mayur. Sastra hanya pingsan selam dua malam.
"Tuhan
kenapa tak Kau ambil saja nyawa sialanku ini!"
Sastra mencabut slang
infus yang menancap di lengan kanannya. Setelah melepas seluruh pakaiannya,
Sastra berjalan meninggalkan ruang rawat.
Orang-orang yang bertemu
dengannya terkejut, berteriak, menjerit
lalu lari ketakutan. Sastra
tak peduli. Ia terus melangkah, meninggalkan rumah sakit. Lalu berkeliaran
di jalanan dengan telanjang!
"Aku bebas
aku bebas
." ucap Sastra sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Sastra merasakan sebuah
kebahagian.
"Sastra gila
!
gendeng
!" teriak seorang ibu sambil menarik lengan anaknya,
menjauhi Sastra.
"Awas ada Sastra!"
seorang satpam mengingatkan.
Sastra tertawa terbahak-bahak.
Suasana makin kacau. Orang-orang berlarian, jalanan macet, toko-toko
tutup, anak-anak menangis, polisi berusaha meringkus Sastra
.
Sastra terus berkeliaran
di jalanan, sampai sebuah radio milik pemerintah menyiarkan berita:
"... demi stabilitas keamanan, Sastra dipenjara!"
***
Anyer, 30
Desember 2003
Diinspirasi dari cerpen Firman 'Balelol' Venayaksa.