edisi 72
rabu 25 februari 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 72

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

komentar Bajaj Bajuri
Dodiek Adyttya Dwiwanto

cerpen Juan dan Malaikat
Dony Anggoro

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


cerpen
Cerita Sastra

Qizink La Aziva

Sastra, begitulah perempuan tua yang dulu pernah tinggal di perkampungan kumuh Kali Code menyebut namanya, perempuan berkulit jeruk purut yang telah mengasuh dan membesarkan dirinya. Ia tak tahu (dan tak mau tahu) mengapa perempuan yang seminggu lalu mati diserang diare itu memberinya nama Sastra.

Sastra tak perduli dengan sebuah nama!

Dari perempuan yang dipanggilnya 'Mbok Tua' itu pula, Sastra tahu tentang asal-usul dirinya. Semasa hidupnya Mbok Tua pernah bercerita, jika dirinya adalah hasil dari persetubuhan seorang penyair kere dengan pelacur kawakan di Pasar Kembang. Ibunya telah mati bunuh diri saat dirinya berumur tiga tahun. Setahun kemudian bapaknya menyusul ke liang kubur, karena siphilis yang dideritanya.

Sastra termasuk makhluk langka. Tulang-tulang wajahnya menampakkan keperkasaan seorang gladiator yang siap bertarung di medan laga, sementara dua payudara yang tumbuh di dadanya begitu besar dan seksi. Langkahnya gemulai bagai Putri Solo. Bulu-bulunya tumbuh tak beraturan di atas bibir dan janggutnya. Suaranya terkadang lembut dan renyah seperti suara sinden jaipongan, namun terkadang pula sekeras vokal demonstran yang sedang menuntut keadilan di gedung dewan.

Sastra waria? Sastra banci?

Sastra bukan waria atau banci. Waria atau banci masih memiliki kelamin. Sedangkan Sastra tak jelas kelaminnya, karena sejengkal di bawah pusar Sastra tak ada organ tubuh yang dapat memastikan jenis kelamin dirinya. Sastra tak berkelamin!

"Sastra adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Komposisi tubuhnya memadukan antara kelembutan wanita dan keperkasaan pria…." seorang yang dianggap sebagai pemerhati Sasta berucap dengan ludah membuncah.

ceritanet
©listonpsiregar2000

"Ya… Sastra telah mengembalikkan kesadaran kita pada kebesaran Tuhan. … Sastra sang ratu adil!" seorang pria berwajah paranormal menimpali dengan lebih semangat. "Sastra adalah titisan pertapa yang bersemayam di puncak Merapi, " lanjutnya yakin.

"Tapi sastra juga berbahaya bagi orang lain. Sastra sangat menakutkan!" sela pria bergaya pemuka agama.

Tek! Sastra menekan tombol off pada remote control. TV 14" di hadapannya mati.

Sastra muak dengan segala komentar tentang dirinya. Hampir saban hari dirinya dijadikan objek pembicaraan di televisi, radio, kampus, sekolah, ruang seminar, … Bahkan di warung angkringan pojok gang.

Keunikan Sastra telah menjadi perhatian banyak orang. Namanya dikenal hingga ke pelosok negeri.
Sastra ingin hidup apa adanya, hidup normal seperti manusia lainnya. Tapi keinginan itu hanya menjadi mimpi di siang bolong, karena pada kenyataannya orang lain tak bisa menerima kehadiran Sastra di tengah-tengah mereka. Orang-orang yang berpapasan dengannya selalu memandangi dirinya dengan sorot mata aneh. Bahkan tak sedikit anak-anak yang langsung lari terbirit-birit atau mentertawakan dirinya.

Menyakitkan!

"Puah!"

Sastra meludah. Matanya melotot. Otot-otot di pergelangan tangan dan lehernya menegang. Dilemparkannya remote control yang masih dipegangnya ke arah televisi.

Prang! Kaca televisi pecah berantakan.

"Aaaaggghhhh…." Sastra menjerit. Suaranya bergema di dalam kamar 3x3 meter miliknya. Beberapa jenak kemudian tubuhnya jatuh lunglai dengan air mata yang mengembang di ujung matanya yang bening. Sastra menangis!
***

22. 45, burung gagak mengoak.

Di sebuah jembatan penyeberangan, Sastra memandangi beberapa kendaraan yang berlalu-lalang di bawahnya. Tekadnya sudah bulat. Malam ini ia akan melakukan apa yang telah dilakukan ibunya dua puluh tahun yang lalu. Sastra ingin bunuh diri! Sastra merasa telah lelah menjalani hidupnya.

"Tuhan…. Izinkan aku untuk menentukan cara kematianku…."

Sastra menaiki pagar pembatas jembatan. Matanya mulai dipejamkan ketika kabut mulai menyelimuti bulan yang pucat sendirian di langit. Sedetik kemudian tubuh Sastra meluncur….

Bruk!

Sastra membuka matanya. Sekelilingnya nampak begitu putih. Surgakah? Sastra sampai di surga? Tidak! Sastra belum sampai surga. Surga terlalu mahal bagi Sastra. Sastra terkapar di atas kasur sebuah rumah sakit. Semalam seorang juragan sayur yang membawanya ke rumah sakit.

Sastra tidak mati! Saat bunuh diri, tubuh Sastra jatuh di atas bak truk yang penuh sayur mayur. Sastra hanya pingsan selam dua malam.

"Tuhan… kenapa tak Kau ambil saja nyawa sialanku ini!"

Sastra mencabut slang infus yang menancap di lengan kanannya. Setelah melepas seluruh pakaiannya, Sastra berjalan meninggalkan ruang rawat.

Orang-orang yang bertemu dengannya terkejut, berteriak, menjerit… lalu lari ketakutan. Sastra tak peduli. Ia terus melangkah, meninggalkan rumah sakit. Lalu berkeliaran di jalanan dengan telanjang!

"Aku bebas… aku bebas…." ucap Sastra sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Sastra merasakan sebuah kebahagian.

"Sastra gila…! gendeng…!" teriak seorang ibu sambil menarik lengan anaknya, menjauhi Sastra.

"Awas ada Sastra!" seorang satpam mengingatkan.

Sastra tertawa terbahak-bahak. Suasana makin kacau. Orang-orang berlarian, jalanan macet, toko-toko tutup, anak-anak menangis, polisi berusaha meringkus Sastra….

Sastra terus berkeliaran di jalanan, sampai sebuah radio milik pemerintah menyiarkan berita: "... demi stabilitas keamanan, Sastra dipenjara!"
***
Anyer, 30 Desember 2003
Diinspirasi dari cerpen Firman 'Balelol' Venayaksa.