edisi 72
rabu 25 februari 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 72

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

komentar Bajaj Bajuri
Dodiek Adyttya Dwiwanto

cerpen Cerita Sastra
Qizink La Aziva

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


cerpen
Juan dan Malaikat
Dony Anggoro

Selusin malaikat serupa cahaya berkelebat turun dari langit menembus eternit langit-langit kamar Juan seperti hujan lebat tanpa angin, tanpa suara badai dahsyat. Kilat malaikat berseragam putih itu menghampiri Juan. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi saat lelaki bertubuh gempal pendek itu menghapus air mukanya setelah mengucap salam dan mengusap rambutnya yang keriting berpotongan cepak ke belakang.

Juan termangu menyaksikan para malaikat yang segera mengambil posisi duduk di sekelilingnya. Malaikat? Terkejut. Tentu! Tak seorang pun bakal percaya kisah Juan. Mustahil, sekalipun nyata.

Cobalah pertanyakan kepada setiap orang. Mulai dari kalangan elite penghuni rumah-rumah mewah atau kepada para pedagang kaki lima yang menyelipkan mimpi-mimpinya di gang-gang sempit.

Malaikat-malaikat itu secara serempak turun ke bumi di kamar Juan seperti wartawan yang akan meliput acara jumpa pers. Juan bertanya, malaikat menjawab. Malaikat bertanya Juan menjawab. Luar biasa.

Para malaikat bahkan tidak sabar ingin menanyai Juan tentang keadaan bumi paling mutakhir. Hmm, pikir Juan. Apakah mereka, para malaikat-malaikat itu takut ketinggalan zaman?

Seperti ekspresi kanak-kanak yang kehausan kisah Cinderella, malaikat-malaikat itu mulai menyimak Juan berkisah. Masyarakat langit menghargai kehalusan budi. Penghuni alam fana mengutamakan ketulusan, jujur, dan benar. Tapi keadaan di dunia terlalu hingar bingar sehingga menyebabkan udara panas menguap sampai ke ruang peristirahatan bidadari di khayangan.

Setelah melalui abad millenium, barangkali gravitasi bumi mulai merubah posisi ke poros langit sehingga anak-anak manusia yang hidup dalam dunia nyata mengapresiasikannya dengan istilah 'dunia sudah terbalik.' Abad serba abu-abu metalik bagi selebritis, ulah serba nekat manusia yang saling membunuh karena emosi, abad ego paranormal yang berniat membantu tapi malah membuat persoalan baru.

ceritanet
©listonpsiregar2000

Kelaparan mulai mengganggu. Serba tidak jelas bagi para petinggi-petinggi dunia yang terombang-ambing. Serba tak terbatas ulah pelaku bisnis menggoyang pasar saham di lantai Bursa Efek. Oleh karena serba ketidaktahuan para malaikat itu wajar saja. Kedua belas cahaya putih itu menghujani Juan dengan berbagai pertanyaan.

"Bagaimana cara menyelesaikan kemelut ini," tanya Juan.

Para malaikat-malaikat itu tampak berpikir keras. Sambil menengadah, Juan menghela nafas. Kekuatan alam pikir manusia yang mengalami proses panjang ternyata memuntahkan sistem gelombang energi yang tak terkoordinir, sehingga kekuatan positif menjadi negatif, pasif berubah aktif. Maka alam berkontraksi.

Tiba-tiba saja seluruh partikel bumi yang terikat udara bebas, dalam peraduan alam melakukan protes keras. Proses semua lantai keramik berbicara, sebagaimana lidah bersaksi.

Gerak lamban gunung-gunung tinggi yang berputar seperti sedang ber-Salsa, hamparan rumput bergoyang seperti permadani terbang di udara, matahari menuding ke segala penjuru, genteng-genteng berjiwa.

Segala pintu bernyawa dan kain gorden menyapa saat udara bernafas kepada cahaya.

Juan bertanya, tapi malaikat-malaikat itu kini tak berkenan menjawab. Ia kurang paham, apakah ini arti kiamat? Juan terkesima. Lelaki itu mengusap air mukanya berulangkali, namun ke dua belas malaikat itu telah pergi. Tanpa angin, tanpa suara badai yang dahsyat.
***
Rawamangun, dinihari Desember 1999.