cerpen Juan dan Malaikat
Dony
Anggoro
Selusin malaikat serupa
cahaya berkelebat turun dari langit menembus eternit langit-langit kamar
Juan seperti hujan lebat tanpa angin, tanpa suara badai dahsyat. Kilat
malaikat berseragam putih itu menghampiri Juan. Waktu menunjukkan pukul
delapan pagi saat lelaki bertubuh gempal pendek itu menghapus air mukanya
setelah mengucap salam dan mengusap rambutnya yang keriting berpotongan
cepak ke belakang.
Juan termangu menyaksikan
para malaikat yang segera mengambil posisi duduk di sekelilingnya. Malaikat?
Terkejut. Tentu! Tak seorang pun bakal percaya kisah Juan. Mustahil,
sekalipun nyata.
Cobalah pertanyakan
kepada setiap orang. Mulai dari kalangan elite penghuni rumah-rumah
mewah atau kepada para pedagang kaki lima yang menyelipkan mimpi-mimpinya
di gang-gang sempit.
Malaikat-malaikat
itu secara serempak turun ke bumi di kamar Juan seperti wartawan yang
akan meliput acara jumpa pers. Juan bertanya, malaikat menjawab. Malaikat
bertanya Juan menjawab. Luar biasa.
Para malaikat bahkan
tidak sabar ingin menanyai Juan tentang keadaan bumi paling mutakhir.
Hmm, pikir Juan. Apakah mereka, para malaikat-malaikat itu takut ketinggalan
zaman?
Seperti ekspresi kanak-kanak
yang kehausan kisah Cinderella, malaikat-malaikat itu mulai menyimak
Juan berkisah. Masyarakat langit menghargai kehalusan budi. Penghuni
alam fana mengutamakan ketulusan, jujur, dan benar. Tapi keadaan di
dunia terlalu hingar bingar sehingga menyebabkan udara panas menguap
sampai ke ruang peristirahatan bidadari di khayangan.
Setelah melalui abad
millenium, barangkali gravitasi bumi mulai merubah posisi ke poros langit
sehingga anak-anak manusia yang hidup dalam dunia nyata mengapresiasikannya
dengan istilah 'dunia sudah terbalik.' Abad serba abu-abu metalik bagi
selebritis, ulah serba nekat manusia yang saling membunuh karena emosi,
abad ego paranormal yang berniat membantu tapi malah membuat persoalan
baru.