edisi 72
rabu 25 februari 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 72

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

cerpen Cerita Sastra
Qizink La Aziva


cerpen
Juan dan Malaikat
Dony Anggoro

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


komentar
Bajaj Bajuri
Wajah, Keseharian, juga Kekonyolan Kita

Dodiek Adyttya Dwiwanto

Oneng bingung. Emak mencalonkan diri menjadi Ketua RT. Begitu juga dengan suaminya Bajuri yang mencalonkan diri. Berarti ada tiga bakal calon ketua RT karena Bapak RT juga kepengen memperpanjang masa kekuasaan.

Masing-masing kontestan pun kemudian 'menjual kecap' alias berkampanye mempromosikan kelebihan dirinya. Masing-masing juga memasang gambar diri. Setiap Bajuri memasang gambar dirinya, eh tiba-tiba Emak juga memasang gambar dirinya. Bukan di sebelahnya tetapi menutupi gambar Bajuri! Semuanya melakukan hal itu. Kecurangan dibalas kecurangan. Kira-kira mirip dengan kelakuan para politikus kita.

Akhirnya tibalah hari penentuan itu. Hari pemilihan Ketua RT. Pertarungan ketiga kontestan itu akhirnya berakhir imbang! Enam puluh warga yang memiliki hak suara terbagi ketiga kontestan. Emak mendapat 20 suara, Pak RT mendapat 20 suara dan juga Bajuri juga mendapat 20 suara.

Satu-satunya yang belum menggunakan hak suaranya adalah Oneng. Ketua pemilihan segara memanggil Oneng untuk menggunakan hak suaranya. Dengan langkah agak diseret dan digelayuti sejuta beban pikiran, Oneng maju untuk mengambil kertas suara dan masuk bilik. Setelah selesai, Oneng menyerahkan kepada ketua pemilihan yang segera membacakan siapa pilihan Oneng.

Emak menjadi pilihan Oneng? Bajuri sang suaminya? Atau malah Pak RT? Ternyata Oneng malah memilih Pak RT!

Seusai pemilihan Oneng menemui Pak Ustadz. Oneng bertanya apakah surga di telapak kaki ibu. Ustadz mengatakan itu sama artinya seorang anak harus patuh dengan ibunya. Oneng balik bertanya lagi, apakah ia juga harus mematuhi sang suami? Ustadz kembali menjawab kalau perempuan juga harus mematuhi suaminya supaya selamat dunia akhirat. Oneng yang tengah dilanda kebingungan, kembali bertanya, "Apakah Pak RT bisa menolong kalau saya masuk neraka nanti?"
***

ceritanet
©listonpsiregar2000

Kisah ini adalah salah satu episode sinetron Bajaj Bajuri yang ditayangkan Trans TV setiap hari Senin sampai Kamis pada pukul 18.30 petang. Sebelum bulan Ramadhan, Bajaj Bajuri hanya tayang dua kali seminggu kemudian ditayangkan setiap hari di bulan Ramadhan.

Sosok sentral dalam sinetron ini adalah Bajuri yang diperankan komedian Mat Solar. Ia memiliki seorang istri cakep tapi bloon bernama Oneng yang diperankan artis yang juga aktivis perempuan dan penyair, Rieke Dyah Pitaloka. Juga ada tokoh Emak, ibunda Oneng, yang diperankan oleh Nani Wijaya. Selain ketiga tokoh ini ada tokoh lain seperti Ucup, Mpok Minah, Mpok Hindun, Pak RT, Said dan juga Intan.

Cerita-cerita dalam sinetron ini bukanlah seperti sinetron kebanyakan di negeri ini. Sinetron ini tidak bertutur tentang dunia hitam putih, dunia yang selalu digambarkan sinetron kebanyakan di televisi. Tidak ada sosok yang superganteng, superkaya, superbaik, superjahat, superburuk.

Yang ada hanyalah cerita sehari-hari di belantara metropolitan Jakarta, cerita tentang keseharian masyarakat kelas bawah Jakarta yang tengah menumpuk mimpi dan berupaya menggapainya-bisa jadi ini cerita tentang diri kita sendiri. Cerita seputar ingin hidup enak, ingin mendapat pekerjaan, ingin mendapatkan pacar, ingin punya usaha yang lebih bagus.

Figur sentral Bajuri, Oneng dan Emak kepengen hidup senang. Semua orang di belahan dunia di manapun ingin seperti itu juga 'kan? Apalagi Emak yang selalu memimpikan punya menantu yang kaya dan ganteng, bukan Bajuri yang gendut dan hanya menjadi supir bajaj-angkutan roda tiga yang kalau belok, hanya supir dan Tuhan yang tahu ke mana arahnya!

Emak juga digambarkan terlalu berkuasa di rumah-sangat kelewatan otoriter dan selalu merasa benar. Bajuri dan Oneng tidak bisa berkutik kalau Emak sudah 'bersabda'. Emak suka sekali menonton televisi dan juga menyuruh Ucup untuk membeli ini itu. Ini mirip sekali dengan gambaran orang Indonesia yang kehidupan sudah diatur oleh televisi. Juga gambaran orang Indonesia yang suka sok berkuasa karena merasa punya kekuatan untuk memerintah orang lain

Emak pernah mencari Ucup ke mana-mana, bahkan ke warung langganan. Si Ucup yang dicari malah berada di rumah Emak. Ucup kemudian diperintahkan Emak untuk membeli minyak tanah di warung langganannya padahal Emak baru saja mampir ke warung itu! Tidak hanya itu saja, Emak juga pernah memaksa Ucup mengawini seorang perempuan yang tengah hamil, dengan juga menawarkan beragam macam janji-janji surga.

Bajuri sendiri digambarkan sebagai figur lelaki kebanyakan. Sebagai lelaki, ia jelas-jelas egois dan sangat patriarkis. Kala orang-orang bertanya kenapa ia tak kunjung punya anak. Bajuri langsung berpikir kalau Onenglah yang mandul. Kalau Oneng memaksa agar Bajuri juga memeriksakan diri ke dokter, Bajuri makin menuduh Oneng yang justru mandul.

Suatu hari, Bajuri juga pernah memaksa Oneng untuk bekerja di Arab Saudi. Penyebabnya sepele. Tetangga yang sering ditemuinya punya banyak uang dan berlaku royal termasuk kepada Bajuri. Si tetangga ini memang pengangguran dan hanya menunggu kiriman uang istrinya yang bekerja di Arab Saudi.

Oneng juga gambaran perempuan kebanyakan. Oneng nrimo dengan keadaan finansial Bajuri, meski begitu ia membantu menghidupi keluarga dengan membuka salon kecil-kecilan. Ia juga tidak neko-neko kepada suaminya, tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan. Sesekali saja Oneng hanya meminta sesuatu yang masih bisa dijangkau oleh penghasilan Bajuri misalnya saat Oneng kepengen makan kue taart. Meski begitu Oneng terlihat begitu lugu, naif, bloon dan seringkali tak nyambung kalau diajak ngomong. Seringkali yang ada di benak Oneng adalah masalah seputar kasur, dapur dan sumur-terutama masalah kasur!

Tokoh lain seperti Said dan Ucup juga gambaran generasi muda Indonesia pada umumnya. Mereka tak berpendidikan tinggi, kepengen kaya, ingin kerja kantoran, berharap punya pacar cantik. Ucup terlihat seringkali mendekati Intan, gadis manis yang seringkali justru memanfaatkan Ucup.

Ucup seringkali ditawari pekerjaan tetapi karena ia hanya tamatan SMP dan tak punya ketrampilan khusus maka melayanglah semua kesempatan itu. Beragam macam profesi kemudian dilakoni Ucup dari mulai menyapu jalanan hingga menjadi supir bajaj. Sedangkan Said memang digambarkan tak jauh beda dengan Ucup yang pengangguran, tetapi Said terlihat lebih sering menjadi pedagang barang-barang. Maklum Said keturunan Arab yang katanya pandai berdagang.
***

Pesan yang terkandung dalam Bajaj Bajuri ini selalu ada tetapi tidak pernah menggurui. Oneng dan Bajuri yang kepengen punya momongan, juga berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa kalau ini memang cobaan semata. Oneng dan Bajuri menganggap kemampuan mereka untuk menghadapi cobaan hanya sebesar ini maka Tuhan memberi cobaan dengan kapasitas yang sama. Begitu juga kalau Bajuri tidak mendapatkan rezeki yang banyak. Oneng dan Bajuri tetap bersyukur dengan semua itu. Toh masih banyak yang kekurangan bila dibandingkan dengan mereka.

Kelucuan-kelucuan dalam Bajaj Bajuri juga sangat terasa berbeda. Tetapi jangan bayangkan slapstick gaya Warkop. Lelucon dalam Bajaj Bajuri sangat cerdas dan mengena. Bajuri yang dalam beberapa episode terakhir tak lagi ngebut di jalanan ibukota dengan bajaj kebanggaannya, kini beralih profesi menjadi supir pribadi seorang ekspatriat.

Si bule meski bisa berbahasa Indonesia selalu saja tak bisa nyambung dengan Bajuri. Adat istiadat dan budaya kedua menjadi penghalang. Suatu hari, keduanya tersesat di belantara jalanan Jakarta. Si bule membuka peta dan mencari nama jalan kemudian bertanya kepada seseorang letak jalan lengkap dengan namanya. Orang yang ditanya tak mengerti tetapi baru paham saat Bajuri yang bertanya dengan sangat sederhana. Bukan dengan nama jalan tetapi kalau lurus ke mana, kalau belok ke mana dan seterusnya.

Kebiasaaan orang-orang Indonesia yang tak pernah menghapal nama jalan.

Yang paling konyol saat Bajuri salah menangkap pesan bosnya untuk membelikan pizza keju empat rasa. Bajuri mengira kalau ia harus memesan empat pizza rasa keju. Hasilnya sang bos marah-marah dan pizza yang banyak itu diserahkan kepada Bajuri. Di rumah, Oneng menganggap pizza sebagai martabak sedangkan Emak malah berpendapat kalau pizza itu sebagai telur dadar! Mereka bertiga memakan pizza sebagai lauk, dengan nasi dan sayur!
***