Kisah ini adalah
salah satu episode sinetron Bajaj Bajuri yang ditayangkan Trans TV setiap
hari Senin sampai Kamis pada pukul 18.30 petang. Sebelum bulan Ramadhan,
Bajaj Bajuri hanya tayang dua kali seminggu kemudian ditayangkan setiap
hari di bulan Ramadhan.
Sosok sentral dalam
sinetron ini adalah Bajuri yang diperankan komedian Mat Solar. Ia memiliki
seorang istri cakep tapi bloon bernama Oneng yang diperankan artis yang
juga aktivis perempuan dan penyair, Rieke Dyah Pitaloka. Juga ada tokoh
Emak, ibunda Oneng, yang diperankan oleh Nani Wijaya. Selain ketiga
tokoh ini ada tokoh lain seperti Ucup, Mpok Minah, Mpok Hindun, Pak
RT, Said dan juga Intan.
Cerita-cerita dalam
sinetron ini bukanlah seperti sinetron kebanyakan di negeri ini. Sinetron
ini tidak bertutur tentang dunia hitam putih, dunia yang selalu digambarkan
sinetron kebanyakan di televisi. Tidak ada sosok yang superganteng,
superkaya, superbaik, superjahat, superburuk.
Yang ada hanyalah
cerita sehari-hari di belantara metropolitan Jakarta, cerita tentang
keseharian masyarakat kelas bawah Jakarta yang tengah menumpuk mimpi
dan berupaya menggapainya-bisa jadi ini cerita tentang diri kita sendiri.
Cerita seputar ingin hidup enak, ingin mendapat pekerjaan, ingin mendapatkan
pacar, ingin punya usaha yang lebih bagus.
Figur sentral Bajuri,
Oneng dan Emak kepengen hidup senang. Semua orang di belahan dunia di
manapun ingin seperti itu juga 'kan? Apalagi Emak yang selalu memimpikan
punya menantu yang kaya dan ganteng, bukan Bajuri yang gendut dan hanya
menjadi supir bajaj-angkutan roda tiga yang kalau belok, hanya supir
dan Tuhan yang tahu ke mana arahnya!
Emak juga digambarkan
terlalu berkuasa di rumah-sangat kelewatan otoriter dan selalu merasa
benar. Bajuri dan Oneng tidak bisa berkutik kalau Emak sudah 'bersabda'.
Emak suka sekali menonton televisi dan juga menyuruh Ucup untuk membeli
ini itu. Ini mirip sekali dengan gambaran orang Indonesia yang kehidupan
sudah diatur oleh televisi. Juga gambaran orang Indonesia yang suka
sok berkuasa karena merasa punya kekuatan untuk memerintah orang lain
Emak pernah mencari
Ucup ke mana-mana, bahkan ke warung langganan. Si Ucup yang dicari malah
berada di rumah Emak. Ucup kemudian diperintahkan Emak untuk membeli
minyak tanah di warung langganannya padahal Emak baru saja mampir ke
warung itu! Tidak hanya itu saja, Emak juga pernah memaksa Ucup mengawini
seorang perempuan yang tengah hamil, dengan juga menawarkan beragam
macam janji-janji surga.
Bajuri sendiri digambarkan
sebagai figur lelaki kebanyakan. Sebagai lelaki, ia jelas-jelas egois
dan sangat patriarkis. Kala orang-orang bertanya kenapa ia tak kunjung
punya anak. Bajuri langsung berpikir kalau Onenglah yang mandul. Kalau
Oneng memaksa agar Bajuri juga memeriksakan diri ke dokter, Bajuri makin
menuduh Oneng yang justru mandul.
Suatu hari, Bajuri
juga pernah memaksa Oneng untuk bekerja di Arab Saudi. Penyebabnya sepele.
Tetangga yang sering ditemuinya punya banyak uang dan berlaku royal
termasuk kepada Bajuri. Si tetangga ini memang pengangguran dan hanya
menunggu kiriman uang istrinya yang bekerja di Arab Saudi.
Oneng juga gambaran
perempuan kebanyakan. Oneng nrimo dengan keadaan finansial Bajuri, meski
begitu ia membantu menghidupi keluarga dengan membuka salon kecil-kecilan.
Ia juga tidak neko-neko kepada suaminya, tidak pernah meminta sesuatu
yang berlebihan. Sesekali saja Oneng hanya meminta sesuatu yang masih
bisa dijangkau oleh penghasilan Bajuri misalnya saat Oneng kepengen
makan kue taart. Meski begitu Oneng terlihat begitu lugu, naif, bloon
dan seringkali tak nyambung kalau diajak ngomong. Seringkali yang ada
di benak Oneng adalah masalah seputar kasur, dapur dan sumur-terutama
masalah kasur!
Tokoh lain seperti
Said dan Ucup juga gambaran generasi muda Indonesia pada umumnya. Mereka
tak berpendidikan tinggi, kepengen kaya, ingin kerja kantoran, berharap
punya pacar cantik. Ucup terlihat seringkali mendekati Intan, gadis
manis yang seringkali justru memanfaatkan Ucup.
Ucup seringkali ditawari
pekerjaan tetapi karena ia hanya tamatan SMP dan tak punya ketrampilan
khusus maka melayanglah semua kesempatan itu. Beragam macam profesi
kemudian dilakoni Ucup dari mulai menyapu jalanan hingga menjadi supir
bajaj. Sedangkan Said memang digambarkan tak jauh beda dengan Ucup yang
pengangguran, tetapi Said terlihat lebih sering menjadi pedagang barang-barang.
Maklum Said keturunan Arab yang katanya pandai berdagang.
***
Pesan yang terkandung
dalam Bajaj Bajuri ini selalu ada tetapi tidak pernah menggurui. Oneng
dan Bajuri yang kepengen punya momongan, juga berpasrah diri kepada
Tuhan Yang Maha Esa kalau ini memang cobaan semata. Oneng dan Bajuri
menganggap kemampuan mereka untuk menghadapi cobaan hanya sebesar ini
maka Tuhan memberi cobaan dengan kapasitas yang sama. Begitu juga kalau
Bajuri tidak mendapatkan rezeki yang banyak. Oneng dan Bajuri tetap
bersyukur dengan semua itu. Toh masih banyak yang kekurangan bila dibandingkan
dengan mereka.
Kelucuan-kelucuan dalam
Bajaj Bajuri juga sangat terasa berbeda. Tetapi jangan bayangkan slapstick
gaya Warkop. Lelucon dalam Bajaj Bajuri sangat cerdas dan mengena. Bajuri
yang dalam beberapa episode terakhir tak lagi ngebut di jalanan ibukota
dengan bajaj kebanggaannya, kini beralih profesi menjadi supir pribadi
seorang ekspatriat.
Si bule meski bisa
berbahasa Indonesia selalu saja tak bisa nyambung dengan Bajuri. Adat
istiadat dan budaya kedua menjadi penghalang. Suatu hari, keduanya tersesat
di belantara jalanan Jakarta. Si bule membuka peta dan mencari nama
jalan kemudian bertanya kepada seseorang letak jalan lengkap dengan
namanya. Orang yang ditanya tak mengerti tetapi baru paham saat Bajuri
yang bertanya dengan sangat sederhana. Bukan dengan nama jalan tetapi
kalau lurus ke mana, kalau belok ke mana dan seterusnya.
Kebiasaaan orang-orang
Indonesia yang tak pernah menghapal nama jalan.
Yang paling konyol
saat Bajuri salah menangkap pesan bosnya untuk membelikan pizza keju
empat rasa. Bajuri mengira kalau ia harus memesan empat pizza rasa keju.
Hasilnya sang bos marah-marah dan pizza yang banyak itu diserahkan kepada
Bajuri. Di rumah, Oneng menganggap pizza sebagai martabak sedangkan
Emak malah berpendapat kalau pizza itu sebagai telur dadar! Mereka bertiga
memakan pizza sebagai lauk, dengan nasi dan sayur!
***