edisi 71
jumat 6 februari 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 71
sajak Di Luar Angkasa
Pedje

cerpen Penyesalan
Nyoman Dani

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Dalam sedikit hari kemudian sadarlah ia betapa ia terpencil. Tak ada yang salah, pikirnya. Ia hanya menerima yang sepantasnya.

Anehnya, kawan-kawannya telah menjadi kabur tak berwarna. Tak seorang dari mereka masih punya pandangan dan dunianya sendiri. Mereka lebih hidup dalam kenangannya. Ia tentu menilaikan mereka terlalu tinggi dulu.

Berbuat begitu adalah gampang, selama keadaan mengijinkan orang-orang yang mampu untuk menuruti kegilaan dan perbuatan mereka yang bukan-bukan, dengan merugikan si miskin. Berbuat kegila-gilaan tanpa bekerja seperti yang dinikmati minoritet, padahal kebanyakan orang menderita, dengan sendirinya menggunakan anggapan kosong tentang adanya watak murni dan keaslian.

Tetapi sesudah kelas-kelas rendahan naik dan orang-orang kaya kehilangan privilesi mereka, alangkah cepatnya mereka ini jatuh! Kebiasaan berpikir bebas mereka lepaskan dengan mudah saja, dengan senang hati, kebiasaan yang tentunya tak pernah menjadi milik mereka yang sebenar-benarnya!

Sekarang Yury hanya dapat begaul senang dengan Tonya, ayahnya serta dua tiga rekannya, orang-orang dengan pekerjaan biasa dan sederhana tanpa ribur-ribut atau omong berbelit-belit.

Pesta dengan bebek dan vodka diadakan menurut rencana, sedikit hari sesudah ia pulang. Waktu itu ia telah ketemu lebih dulu dengan kebanyakan mereka yang datang hingga pesta makan itu sebetulnya bukanlah merayakan pertemuan kembali.

ceritanet
©listonpsiregar2000

Bebek besar merupakan kemewahan istimewa di jaman kelaparan itu, sayanglah tak disertai roti, hingga kemegahannya tak bermakna, malah sedikit tak menyenangkan.

Minuman kerasnya, yang disukai sangat laku di pasar gelap, dibawa oleh Gordon dalam botol obat-obat dengan tutup dari gelas. Tonya meraih botol itu dan diencerkannya alkohol dalam bagian-bagian kecil dengan sedikit banyak air menurut seleranya. Campuran yang selalu terlalu encer atau terlalu kental itu oleh sesuatu sebab agaknya lebih beracun daripada kalau dibuat kian kental dan ini adalah pula gangguan.

Tapi yang paling menyedihkan ialah bahwa pesta itu tak serasi dengan keadaan jaman. Tak dapat dibayangkan seseorang dalam rumah-rumah di sebarang sedang makan minum dengan cara yang sama pada waktu yang sama. Dia luar di sebelah sana dari jendeala, Kota Moskow berdiam diri, gelap, lapar, toko-tokonya kosong dan rakyat telah lupa apa itu permainan atau vodka, bahkan tak berpikir lagi tentang hal-hal demikian.

Begitulah cara hidup satu-satunya yang nyata, ialah hidup seperti tiap orang lain, lenyap dalam penghidupan orang-orang lain tanpa bekas, pun bahagia sendirian bukanlah bahagia; maka jikalau bebek dan vodka mungkin hanya satu-satunya bebek dan vodka di kota itu bukanlah lagi bebek dan vodka.

Dari tamu-tamu mereka tak memeperolah banyak hiburan. Gordon dulu menyenangkan, ketika ia mempunyai pikiran-pikiran berat yang diungkapkannya dengan kata-kata muram lagi bimbang. Dia teman terbaik bagi Yury dan iapun digemari orang di sekolah.

Tapi sekarang ia tak menyukai lagi bayangan batinnya sendiri; ia mencoba memperbaikinya, tapi gagal semata-mata, Ia berusaha menjadi gembira, mengisahkan cerita berturut-turut yang dianggapnya jenaka dan selalu berkata: "Lucu!" dan " Menggembirakan sekali!" kata-kata yang dulu tak berjumpa dalam kamusnya sebab Gordon tak pernah memandang penghidupan sebagai hiburan.

Sambil menunggu Dudorov, diceritakannya gunjingan yang berlaku tentang perkawinan Dudorov. Yury belum pernah mendengarnya.

Ternyata Dudorov telah kawin kira-kira setahun lamanya, kemudian cerai dari istrinya. Lelucon dalam cerita ini sealu dicari-cari, mulai dengan ketika Dudorov secara khilaf dimasukkan dinas militer. Tatkala ia berdinas dan persoalannya sedang diselidiki, ia harus mengalami banyak kesukaran, karena linglung dan lupa menyalami para perwira.

Berbulan-bulan sesudah lepasnya ia masih saja melihat epolet dimana-mana dan mengangkat tangan; ia lebih bingung lagi dan nyaris jatuh sakit urat syaraf. Justru waktu itulah, demikian menurut ceritanya, ia ketemu dua orang gadis bersaudara di stasiun di tepi Sunga Wolga --mereka menunggu kapal yahg sama-- maka dalam saat kebingungan waktu dilihatnya banyak uniform berkeliaran di sekitar mereka dan karena kenangannya masa dinas dalam tentara, iapun jatuh cinta pada yang termuda, lantas buru-buru meminangnya.

"Lucu, bukan?" kata Gordon, tapi ia terpaksa memotong penguncian certanya, sebab suara pelaku utamanya terdengar di pintu. Dudorov masuk.

Perobahan dia kebalikan dari perobahan Gordon,. Dulu dia suka bimbang dan tak menentu pikirannya; kini ia bersungguh-sungguh laksana sarjana.

Sebagai anak muda ia diusir dari sekolahan karena berkomplot untuk melarikan seorang tawanan politik, lantas pindahlah ia dari sekolah kesenian yang satu ke sekolah kesenian lainnya, tapi akhirnya hinggap di Fakultas Sejarah Klasik. Ia mencapai gelarnya kemudian dari kawan-kawnanya, lalu terus bekerja sebagai lektor dalam Sejarah Rusia dan Sejarah Dunia. Sekarang ia menulis buku tentang politik agraria Ivan Yang Dashyat dan sebuah lagi tentang Santo Just.

Ia bercakap ramah-tamah tentang tiap objek, suaranya tak pernah turun atau naik dari tingkat nada yang tenang dan agak sengau, sedang matanya nanar terpancang ke satu titik, seolah ia sedang mengajar.

Menjelang penutupan, ketika pesta mencapai puncak keramaiannya dan tiap orang berseru-seru dan bebantahan, tiba-tiba masuklah Shura Schlesinger yang sebagai biasanya mengusik mereka semua, hingga semuanya bertambah riuh dan besemangat. Dudurov yang sejak kecilnya menjadi teman Yury namun tak pernah menyapa dengan 'tuan' masih menegurnya dengan 'kau' dengan menanyakan berkali-kali sudah dibacanya Mayakovsky; Perang dan Damai serta Tulang Punggungku adala Suling.

Sebab tak mendapat jawaban Yury di tengah keriuhan itu, sejurus kemudian ia bertanya lagi: "Sudah kau baca Tulang Punggungku adalah Suling dan Manusia?"

"Sudah kujawab tapi tak kau dengar. Aku selalu suka Mayakovsky. Ia semacan penerusan dari Dostoyevsky. Atau lebih tepat ia seorang tokoh Dostoyevsky yang menulis lirik atay Hippolyte atau Raskolnikov. Daya puisinya menelan segala-galanya! Dan caranya menyatakan sesuatu: betul-betul tak mau damai, terus terang! Dan yang paling hebat keberanaiannya melontarkan semuanya kewajiban masyarakat, bahkan lebih jauh lagi, ke alam semesta!

Tapi yang paling menarik malam itu tentulah Paman Kolya. Tonya salah sangka bahwa ia ke luar kota, ia telah kembali pada hari kemenakannya pulang. Mereka sudah ketemu berulang-ulang, sudah pula mengungkapkan segala 'O' dan 'Ah' pada mulanya dan omong-omong serta ketawa sesuka hati.

Pertama kalinya adalah pada malam kelabu yang menjemukan, waktu ada gerimis selembut debu cair. Yury mencarinya di hotel-hotel. Hotel-hotel sudah tak hendak menerima orang kecuali kalau didesak oleh para penguasa kota, tapi Nikolay Nikolayevich sudah dikenal dam masih ada beberapa kenalannya di situ.

Hotel itu seperti perlindungan orang sakit jiwa yang diserahkan pada pasien-pasiennya, kosong, kacau, dan dipasrahkan pada nasib.

Pelatarannya yang besar seolah meninjau ke dalam kamar tak tersapu itu lewat jendela besar, lenggang lagi mengerikan, lebih mirip pada pelataran dalam mimpi malam dari pada pelataran yang biasa nampak di depan hotel.

Bagi Yury pertemuan itu peristiwa hebat tak terlupakan. Ia ketemu dengan yang didewa-dewakannya semasa kecil, guru yang menguasai pikirannya waktu remajanya.

Uban Paman Kolya patut baginya, pun pakaian asingnya yang longgar itu serasi dengannya; menilik usianya, ia sangat muda lagi tampan.

Tak dapat disangkal lagi bahwa ia dibayangi oleh keraguan peristiwa-peristiwa, di samping mana ia kehilangan perbawa Tapi Yuri tak pernah hendak mengukurnya dengan ukuran begitu.

Ia heran menyaksikan ketenangan Paman Kolya serta nada suaranya yang ringan lagi objektif, bila bicara tentang politik. Ia lebih tenang dari kebanyakan orang Rusia waktu itu, tanda bahwa ia orang baru, suatu hal yang nampaknya kolot dan sedikit memalukan.

Tapi perduli apa itu selama jam-jam pertama dalam pertemuan kembali yang mempesona itu? Bukan politiknya, tapi hal yang lain sekali yang membikin mereka ketawa dan menangis dan saling memeluk leher dan bicara menggagap dan tercenung kegairahan.

Yang mempertemukan mereka adalah kenyataan bahwa kedua-duanya berwatak seniman kreatif dan sungguhpun mereka juga sekerabat dan jaman lampau muncul dan hidup lagi dan mereka tuturkan segala kejadian serta keadaan dalam hidup masing-masing, namun dalam saat mereka sampai pada soal terpenting yang hanya dikenal oleh orang yang sanggup bekreja kreatif maka lenyaplah segenap perbedaan seta pertalian lainnya antara mreka, tak lagi paman dan kemenakan atau orang yang lebih tua dan lebih muda, yang tinggal hanyalah kekerabatan tenaga dengan tenaga, prinsip utama dengan prinsip utama.

Sepuluh tahun lamanya, Nikolay Nikolayevitch tiada bicara tentang masalah mengarang serta arti tugas pengarang seara cepat mengenai soalnya ataupun dengan seseorang yang pendapatnya secocok itu dengan gagasanya sendiri. Tiada pula Yury menemukan sebanyak itu kesenyawaan, rangsangan, atau dorongan.

Demikianlah mereka berseru-seru, mundar-mandir resah dalam kamar dan memegang kepala, ataupun berdiri hening di depan jendela seraya mengetuk-ngetuk kaca, yang satu tergoncang dan terbius oleh instuisi yang lain dan oleh mendalamnya kesepahaman yang terbukti dengan begitu.
*** bersambung