Bebek
besar merupakan kemewahan istimewa di jaman kelaparan itu, sayanglah
tak disertai roti, hingga kemegahannya tak bermakna, malah sedikit tak
menyenangkan.
Minuman
kerasnya, yang disukai sangat laku di pasar gelap, dibawa oleh Gordon
dalam botol obat-obat dengan tutup dari gelas. Tonya meraih botol itu
dan diencerkannya alkohol dalam bagian-bagian kecil dengan sedikit banyak
air menurut seleranya. Campuran yang selalu terlalu encer atau terlalu
kental itu oleh sesuatu sebab agaknya lebih beracun daripada kalau dibuat
kian kental dan ini adalah pula gangguan.
Tapi
yang paling menyedihkan ialah bahwa pesta itu tak serasi dengan keadaan
jaman. Tak dapat dibayangkan seseorang dalam rumah-rumah di sebarang
sedang makan minum dengan cara yang sama pada waktu yang sama. Dia luar
di sebelah sana dari jendeala, Kota Moskow berdiam diri, gelap, lapar,
toko-tokonya kosong dan rakyat telah lupa apa itu permainan atau vodka,
bahkan tak berpikir lagi tentang hal-hal demikian.
Begitulah
cara hidup satu-satunya yang nyata, ialah hidup seperti tiap orang lain,
lenyap dalam penghidupan orang-orang lain tanpa bekas, pun bahagia sendirian
bukanlah bahagia; maka jikalau bebek dan vodka mungkin hanya satu-satunya
bebek dan vodka di kota itu bukanlah lagi bebek dan vodka.
Dari
tamu-tamu mereka tak memeperolah banyak hiburan. Gordon dulu menyenangkan,
ketika ia mempunyai pikiran-pikiran berat yang diungkapkannya dengan
kata-kata muram lagi bimbang. Dia teman terbaik bagi Yury dan iapun
digemari orang di sekolah.
Tapi
sekarang ia tak menyukai lagi bayangan batinnya sendiri; ia mencoba
memperbaikinya, tapi gagal semata-mata, Ia berusaha menjadi gembira,
mengisahkan cerita berturut-turut yang dianggapnya jenaka dan selalu
berkata: "Lucu!" dan " Menggembirakan sekali!" kata-kata
yang dulu tak berjumpa dalam kamusnya sebab Gordon tak pernah memandang
penghidupan sebagai hiburan.
Sambil
menunggu Dudorov, diceritakannya gunjingan yang berlaku tentang perkawinan
Dudorov. Yury belum pernah mendengarnya.
Ternyata
Dudorov telah kawin kira-kira setahun lamanya, kemudian cerai dari istrinya.
Lelucon dalam cerita ini sealu dicari-cari, mulai dengan ketika Dudorov
secara khilaf dimasukkan dinas militer. Tatkala ia berdinas dan persoalannya
sedang diselidiki, ia harus mengalami banyak kesukaran, karena linglung
dan lupa menyalami para perwira.
Berbulan-bulan
sesudah lepasnya ia masih saja melihat epolet dimana-mana dan mengangkat
tangan; ia lebih bingung lagi dan nyaris jatuh sakit urat syaraf. Justru
waktu itulah, demikian menurut ceritanya, ia ketemu dua orang gadis
bersaudara di stasiun di tepi Sunga Wolga --mereka menunggu kapal yahg
sama-- maka dalam saat kebingungan waktu dilihatnya banyak uniform berkeliaran
di sekitar mereka dan karena kenangannya masa dinas dalam tentara, iapun
jatuh cinta pada yang termuda, lantas buru-buru meminangnya.
"Lucu,
bukan?" kata Gordon, tapi ia terpaksa memotong penguncian certanya,
sebab suara pelaku utamanya terdengar di pintu. Dudorov masuk.
Perobahan
dia kebalikan dari perobahan Gordon,. Dulu dia suka bimbang dan tak
menentu pikirannya; kini ia bersungguh-sungguh laksana sarjana.
Sebagai
anak muda ia diusir dari sekolahan karena berkomplot untuk melarikan
seorang tawanan politik, lantas pindahlah ia dari sekolah kesenian yang
satu ke sekolah kesenian lainnya, tapi akhirnya hinggap di Fakultas
Sejarah Klasik. Ia mencapai gelarnya kemudian dari kawan-kawnanya, lalu
terus bekerja sebagai lektor dalam Sejarah Rusia
dan Sejarah Dunia. Sekarang ia menulis buku tentang politik agraria
Ivan Yang Dashyat dan sebuah lagi tentang Santo Just.
Ia
bercakap ramah-tamah tentang tiap objek, suaranya tak pernah turun atau
naik dari tingkat nada yang tenang dan agak sengau, sedang matanya nanar
terpancang ke satu titik, seolah ia sedang mengajar.
Menjelang
penutupan, ketika pesta mencapai puncak keramaiannya dan tiap orang
berseru-seru dan bebantahan, tiba-tiba masuklah Shura Schlesinger yang
sebagai biasanya mengusik mereka semua, hingga semuanya bertambah riuh
dan besemangat. Dudurov yang sejak kecilnya menjadi teman Yury namun
tak pernah menyapa dengan 'tuan' masih menegurnya dengan 'kau' dengan
menanyakan berkali-kali sudah dibacanya Mayakovsky; Perang dan Damai
serta Tulang Punggungku adala Suling.
Sebab
tak mendapat jawaban Yury di tengah keriuhan itu, sejurus kemudian ia
bertanya lagi: "Sudah kau baca Tulang Punggungku adalah Suling
dan Manusia?"
"Sudah
kujawab tapi tak kau dengar. Aku selalu suka Mayakovsky. Ia semacan
penerusan dari Dostoyevsky. Atau lebih tepat ia seorang tokoh Dostoyevsky
yang menulis lirik atay Hippolyte atau Raskolnikov. Daya puisinya menelan
segala-galanya! Dan caranya menyatakan sesuatu: betul-betul tak mau
damai, terus terang! Dan yang paling hebat keberanaiannya melontarkan
semuanya kewajiban masyarakat, bahkan lebih jauh lagi, ke alam semesta!
Tapi
yang paling menarik malam itu tentulah Paman Kolya. Tonya salah sangka
bahwa ia ke luar kota, ia telah kembali pada hari kemenakannya pulang.
Mereka sudah ketemu berulang-ulang, sudah pula mengungkapkan segala
'O' dan 'Ah' pada mulanya dan omong-omong serta ketawa sesuka hati.
Pertama
kalinya adalah pada malam kelabu yang menjemukan, waktu ada gerimis
selembut debu cair. Yury mencarinya di hotel-hotel. Hotel-hotel sudah
tak hendak menerima orang kecuali kalau didesak oleh para penguasa kota,
tapi Nikolay Nikolayevich sudah dikenal dam masih ada beberapa kenalannya
di situ.
Hotel
itu seperti perlindungan orang sakit jiwa yang diserahkan pada pasien-pasiennya,
kosong, kacau, dan dipasrahkan pada nasib.
Pelatarannya
yang besar seolah meninjau ke dalam kamar tak tersapu itu lewat jendela
besar, lenggang lagi mengerikan, lebih mirip pada pelataran dalam mimpi
malam dari pada pelataran yang biasa nampak di depan hotel.
Bagi
Yury pertemuan itu peristiwa hebat tak terlupakan. Ia ketemu dengan
yang didewa-dewakannya semasa kecil, guru yang menguasai pikirannya
waktu remajanya.
Uban
Paman Kolya patut baginya, pun pakaian asingnya yang longgar itu serasi
dengannya; menilik usianya, ia sangat muda lagi tampan.
Tak
dapat disangkal lagi bahwa ia dibayangi oleh keraguan peristiwa-peristiwa,
di samping mana ia kehilangan perbawa Tapi Yuri tak pernah hendak mengukurnya
dengan ukuran begitu.
Ia
heran menyaksikan ketenangan Paman Kolya serta nada suaranya yang ringan
lagi objektif, bila bicara tentang politik. Ia lebih tenang dari kebanyakan
orang Rusia waktu itu, tanda bahwa ia orang baru, suatu hal yang nampaknya
kolot dan sedikit memalukan.
Tapi
perduli apa itu selama jam-jam pertama dalam pertemuan kembali yang
mempesona itu? Bukan politiknya, tapi hal yang lain sekali yang membikin
mereka ketawa dan menangis dan saling memeluk leher dan bicara menggagap
dan tercenung kegairahan.
Yang
mempertemukan mereka adalah kenyataan bahwa kedua-duanya berwatak seniman
kreatif dan sungguhpun mereka juga sekerabat dan jaman lampau muncul
dan hidup lagi dan mereka tuturkan segala kejadian serta keadaan dalam
hidup masing-masing, namun dalam saat mereka sampai pada soal terpenting
yang hanya dikenal oleh orang yang sanggup bekreja kreatif maka lenyaplah
segenap perbedaan seta pertalian lainnya antara mreka, tak lagi paman
dan kemenakan atau orang yang lebih tua dan lebih muda, yang tinggal
hanyalah kekerabatan tenaga dengan tenaga, prinsip utama dengan prinsip
utama.
Sepuluh
tahun lamanya, Nikolay Nikolayevitch tiada bicara tentang masalah mengarang
serta arti tugas pengarang seara cepat mengenai soalnya ataupun dengan
seseorang yang pendapatnya secocok itu dengan gagasanya sendiri. Tiada
pula Yury menemukan sebanyak itu kesenyawaan, rangsangan, atau dorongan.
Demikianlah
mereka berseru-seru, mundar-mandir resah dalam kamar dan memegang kepala,
ataupun berdiri hening di depan jendela seraya mengetuk-ngetuk kaca,
yang satu tergoncang dan terbius oleh instuisi yang lain dan oleh mendalamnya
kesepahaman yang terbukti dengan begitu.
***
bersambung