Perilaku pemuda itu
rupanya mengganggu pikiran gadis tersebut. Sikap gentleman --merasa
bersalah dan minta maaf-- yang mengusiknya.
Rasa menyesal timbul
dihati si gadis karena melemparkan kata-kata yang cukup kasar kepada
pemuda itu dan sekaligus terbayang ekspresi wajah seorang pemuda yang
jujur sebagai gambaran dari jiwanya yang suci.
Si gadis ingin rasanya
langsung mencari pemuda itu dan meminta maaf atas sikapnya yang tidak
bersahabat tadi, namun hati ini yang didalamnya masih berperang antara
gengsi dan menyesal, tak kunjung dapat memberi keputusan.
Akhirnya, pulang kerumah
adalah jalan yang dipilihnya.
Dalam perjalanan pulang
dengan mobil mewahnya, si gadis dibayang-bayangi pertanyaan "Mungkinkah
kiranya bisa bertemu dengan pemuda itu lagi?" Andaikata bisa, pasti
si gadis akan minta maaf. Segala rupa gengsi dan emosi akan dilupakannya.
Begitulah yang ada didalam pikirannya.
Tapi bagaimana caranya
untuk bertemu? Memang si gadis tahu kemana arah pemuda itu pergi. Ia
pergi menuju salah sebuah gang diseberang pompa bensin itu. Pada saat
peristiwa itu terjadi si pemuda sedang membawa sebuah buku di tangan
kirinya dan menjinjing tas punggung di tangan kanannya. Dengan jarak
sejauh itu mata si gadis tak kuasa menyimak buku apa yang dibawanya.
Rasa ingin tahunya akan buku itu muncul untuk menganalisa pemuda macam
apakah dia.
Hanya dengan sebuah
arah saja, jelas tidak menjamin akan memberikan informasi yang cukup
untuk melacak kemana bisa menemukan pemuda itu, apalagi belum pasti
apakah memang gang tersebut adalah jalan yang menuju tempatnya bermukim.
Belum lagi apabila
ia ke tempat itu hanya berkunjung ke tempat temannya. Maka pupuslah
harapannya akan melacak keberadaan pemuda itu mulai dari menyelidiki
gang tersebut.
Begitulah selama perjalanan
pulangnya semua teka-teki tetap belum terjawab.
Sementara itu, si pemuda yang nyaris
tanpa beban, dengan tenang mmenyelesaikan tugas-tugas kuliah dirumah
pondokan-nya, di gang tempat menghilang senja itu dari pandangan si
gadis. Dia bahkan tidak ingin sama sekali mengingat kejadian tersebut.
Memang ia sudah 2 tahun ini tinggal
disitu. Kamar yang sederhana namun bersih itu ia dapatkan dari menggantikan
kawan karibnya yang terpaksa keluar dan pindah karena harus mengikuti
jejak orang tuanya di kampung yang hijrah keluar pulau demi tugas yang
diemban orang tuanya, seorang pegawai Bank pemerintah.
Bagi pemuda itu, melintasi area
pompa bensin tersebut memang merupakan hal yang sering ia lakukan mengingat
jalur itu sebagai jalan pintas menuju pemberhentian bus menuju dan pulang
dari pondokan ke tempat kuliah dan sebaliknya.
Rupanya diam-diam si gadis tidak
mau putus asa dalam mencari jejak si pemuda itu. Sepulang dari kerjanya,
sesekali ia melewati pompa bensin itu dengan harap-harap cemas bahwa
suatu saat ia akan melihat pemuda itu lagi.
Entah apa yang mendorongnya sampai
sebegitu penasaran untuk secepatnya menemukan pemuda itu. Padahal ia
tidak tahu siapa pemuda itu. Kalaupun ia lupakan, apa peduli pemuda
itu terhadapnya? Namun si gadis tidak ingin melupakan kejadian di senja
itu. Ia harus minta maaf. Ia ingin menyampaikan penyesalannya langsung
didepan pemuda itu.
Beberapa kali dicobanya melewati
pompa bensin itu dan bahkan ia coba masuk dan mengisi bensin mobilnya
pada waktu dan jam yang sama seperti waktu kejadian itu, namun tak juga
berhasil sehingga ia nyaris putus asa.
Orang tua si gadis pun heran melihat
kelakuan anaknya yang belakangan sering tampak murung dan jarang mau
berkomunikasi. Ditanyai berkali-kali apa sebabnya, namun tak juga keluar
jawaban yang memuaskan. Rasa
bersalahnya dipendam sendiri demi pertanggungjawaban terhadap Yang Maha
Kuasa.
Waktupun berlalu, namun bagi si
gadis waktu ini serasa diam ditempat. Setiap hari tak henti hentinya
berharap semua ini bisa cepat berakhir. Begitu besar niatnya untuk menemui
pemuda itu sehingga akhirnya iapun memutuskan untuk mendatangi gang
tempat pemuda itu menghilang.
Tak mudah baginya memulai pencariannya
karena tidak sedikitpun data dari pemuda tersebut yang ada padanya.
Namun ia tetap memberanikan diri dan dicobanya juga bertanya-tanya kepada
siapapun di gang itu dengan hanya bemberikan informasi minimum berupa
gambaran postur tubuh dan wajah saja.
Tak ada hasil samasekali yang diperoleh
pada usahanya yang pertama. Kemudian disusul dengan usaha usaha berikutya
setelah selang beberapa hari, dan belum menunjukkan tanda-tanda yang
menggembirakan hatinya.
Si gadis mencoba untuk melupakan
peristiwa itu, namun hanya berhasil beberapa hari saja. Tak biasa-biasanya
ia susah melupakan hal-hal seperti itu. Watak yang spontan dan keras
namun jujur memang sulit dirubahnya. Bukan hanya sekali itu saja ia
mengalami hal serupa, tetapi sekali ini memang betul-betul mengganggu
pikirannya.
Beberapa hari kemudian dicobanya
lagi berkunjung ke gang tersebut, Sebenarnya ia kurang merasa nyaman
berjalan di sepanjang gang sempit itu tanpa tempat yang pasti untuk
ditujunya. Namun, hatinya sudah bertekad bulat untuk segera melampiaskan
niatnya menjumpai pemuda itu. Bukan karena ia tertarik kepada pemuda
itu, dan bukan pula karena ingin berteman, tetapi rasa bersalahnya dan
ingin minta maaf yang mendorongnya bersikeras untuk mencarinya.
Suatu informasi yang boleh menjadi
awal dari titik terang datang dari seorang bocah yang sedang bermain-main
bulutangkis di gang tersebut bersama kawan-kawannya. Kebetulan anak
tersebut mengenali pemuda itu karena telah beberapa kali ia dan kawan-kawannya
sempat memperoleh pembagian permen dan kue-kue.
Tapi keterangan lebih lanjut dari
anak tersebut kembali membuatnya kecewa karena si pemuda ternyata sedang
pulang ke kampungnya. Si gadis mencoba menerka-nerka dalam hati akan
tujuan kepulangan pemuda itu kekampungnya. Mungkin saja sedang berlibur?
Atau cuti? Atau mungkin juga ada urusan pribadi? Lagi-lagi teka-teki
tanpa jawaban. Makin lama makin bertumpuklah teka-teki yang tak terselesaikan
didalam pikirannya.
Sepuluh hari telah berlalu sejak
ia datang ke gang itu. Hari ini Minggu sore dengan cuaca yang kurang
bersahabat. Matahari sepertinya segan menampakkan dirinya, ditambah
pula dengan hujan rintik-rintik yang tampaknya tidak mau berkompromi
untuk memberikan kesempatan kepada siapapun termasuk si gadis untuk
bersenang senang. Namun walau demikian ia bersikeras untuk keluar rumah
juga, tanpa menghiraukan keadaan cuaca.
Dicobanya sekali lagi usaha untuk
mencari pemuda itu. Mobilpun diparkir dekat gang tersebut. Turun dari
mobil, dengan mengenakan jaket panjang penangkal gerimis, mulailah ia
berjalan menyusuri gang itu.
Berbeda dengan penampilan sehari-hari yang mengenakan gaun formil ketempat
kerja, sore ini ia mengenakan celana jean, shirt ketat berwarna orange
pastel dan sepatu sport berwarna abu-abu muda.
Tubuhnya yang berisi dan cukup tinggi
untuk ukuran seorang perempuan dengan postur yang proporsional serta
kulit wajah yang putih, halus dan gaya rambut ekor kuda menampakkan
figur seorang gadis yang energik dan menarik.
Kecantikannya mengundang setiap
pasang mata di gang itu untuk mencari kesempatan melayangkan pandangan
kearahnya.
Langkah yang tenang membawanya ke
arah rumah pondokan pemuda itu dimana hari-hari sebelumnya salah satu
bocah pernah menunjukkan padanya.
Gang yang cukup lembab oleh air
hujan itu menambah suasana menjadi lebih muram. Sesampai di rumah yang
dituju, pintupun diketuknya dan tak beberapa lama kemudian pintu dibuka
oleh seorang wanita setengah baya, pemilik rumah pondokan itu.
Berdebar rasa hatinya berhadapan
dengan wanita itu, namun diberanikannya memulai pembicaraan dengan memberi
salam selamat sore, memperkenalkan diri, kemudian dilanjutkan dengan
maksud kedatangannya.
Wanita itu dengan cepat dapat mengerti
siapa yang dicari gadis itu karena tidak ada pemuda lainnya dirumah
itu dan mempersilahkan gadis tersebut masuk, kemudian mereka duduk di
ruang tamu.
Melihat sikap yang tampaknya tidak
sabar menunggu, maka tanpa ingin menunda-nunda waktu, wanita itupun
memulai ceritanyat. "Nak Dimas mendapat musibah. Bus yang ditumpanginya
saat ia kembali dari kampung beberapa hari yang lalu mengalami kecalakaan
berat. Nyawanya tak tertolong," ujarnya lirih dan terputus-putus.
Wanita itupun tak kuasa menyembunyikan
kesedihannya diikuti dengan matanya yang berkaca-kaca sambil meneruskan
ucapannya: "Nak Dimas mahasiswa yang baik sekali"
Bagaikan disambar petir si gadis
terkejut mendengar berita itu. Wajahnya menunduk kuyu, sambil berucap:
"Ya Tuhan, haruskah Kau biarkan aku menyesal seumur hidupku?"
Suasana sedih meliputi ruang tamu rumah pondokan tersebut di Minggu
sore yang muram itu.
Si gadis pamit dengan sopan dan
hati-hati untuk segera meninggalkan wanita itu. Kembali ia meyusuri
gang dan kembali menuju mobilnya, dengan langkah yang berat dan muka
tetap tertunduk sepanjang jalan.
Didalam perjalanan pulang kerumahnya,
tanpa disadari air matanya telah membasahi kedua pipinya: air mata penyesalan.
***