edisi 71
jumat 6 februari 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 71
novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

cerpen Penyesalan
Nyoman Dani

  ceritanet
       situs nir-laba untuk karya tulis

sajak Di Luar Angkasa
Pedje
Untuk Anakku, Langit Biru

Langit masih menyisakan warna jingga ketika kau tertawa
mengempas sunyi yang dibangun dari berjuta sungai air mata
yang hilang arah menuju muara

"Kita akan menepi," katamu dengan tawa yang telah berubah
menjadi garis tipis yang entah apa maknanya

Tapi, di manakah tepi sebenarnya
di ruang angkasa ini, ketika ilusi cakrawala
seakan moksa

"Kita akan ciptakan tepi sendiri seperti matahari
mencipta lewat ujung-ujung garis sinarnya," katamu
dengan nada lelah tapi tetap ingin terlihat gagah.

Langit tak lagi memiliki warna jingga
dan kenangan pada bumi
berkejaran dengan hujan asteroid
sunyi pun terbangun kembali
Menteng, 2001

ceritanet
©listonpsiregar2000

Belajar Bercanda
Untuk Lia, Istriku

Kita pun akhirnya menatap langit-langit dari atas kasur tipis di kamar kecil rumah kontrakan pengap berjendela yang tak mampu mengusir lembap setelah seharian berputar-putar di tengah kota melempar takjub ke setiap jejak tangan manusia yang bergerak menuju langit dengan cahaya yang setiap saat berubah dan memancarkan keajaiban yang mirip bocah kembar berpakaian sama dan sewarna, berkaus merah bercelana panjang garis-garis putih-biru, berlari di sebuah taman rumput sambil berteriak-teriak menghampiri matahari yang tertancap di pucuk sebuah cemara.
                      Jangan menatapku, lihat saja langit-langit dari asbes berwarna kelabu itu. Aku suka mendadak merasa sunyi jika terpeleset masuk ke bening telaga matamu dan kemudian kepayahan untuk menepi karena, kau tahu, aku tak pandai berenang meski lama berdiam di pinggir sungai yang sering memboyong sampah entah dari mana dan kini nyaris menjadi lempengan hitam panjang bagai garis arang yang diguratkan bocah-bocah sepanjang gang-gang semen di kampung kita sambil mengejar bayang-bayang yang sebentar lagi menghilang seiring kepergian matahari yang tampak lelah setelah menatap bumi yang gelisah karena hanya ada sedikit sekali udara yang berpindah.
                     Kalau kau mau, kupadamkan saja lampu itu yang sejak tadi menyaksikan kita tak henti-hentinya seperti sedang menginterogasi pencuri yang tertangkap basah di pagi hari karena tak tahan lagi makan nasi basi yang dibuang para pembantu dari rumah-rumah mewah milik para tuan dan nyonya yang suka menangis jika melihat akting para bintang film seperti pernah kubaca pengakuan mereka pada sebuah majalah wanita yang suka menganjurkan kaum hawa menyiksa diri dengan berbagai eksperimen dan bahan-bahan kimiawi mirip para profesor di komik-komik yang jadi bacaan favorit kita ketika masih di sekolah dasar yang di halamannya ada pohon-pohon sengon tua yang entah berapa usia pastinya tapi kata ibuku sudah sedemikian besar waktu ia juga bersekolah di tempat yang sama namun mataharinya bisa terlihat dari sela-sela bilik kelasnya yang pada zaman kita telah berubah menjadi dinding bata yang dicat warna merah muda dan dari jendelanya tak lagi tampak matahari itu karena begitu banyaknya dinding menjulang menyembunyikan kehadirannya.
1 Maret 2003

Siapa

Siapa yang tiba-tiba cemburu melihat kita mengisap luka dan menebar begitu banyak benih cinta di atasnya? Siapa yang kemudian tersenyum malu mengintip kita menari-nari dan menyanyi ketika hujan berkerumun bertepuk tangan seolah anak-anak yang diberi kembang gula? Siapa pula yang berbisik ingin ikut sambil meniupkan aroma purba yang dibawa Adam dan Hawa ketika terpaksa turun dari surga?
Menteng, Januari 2002