Yury
mengangkat tasnya, meletakkan itu atas meja kartu dekat jendela, lalu
mulai mengeluarkan barang-barangnya. Kamar ini telah dipakai untuk apa
saja, pikirnya. Ia tak mengenalnya kembali. Tonya tentu mengganti perabot
atau kertas dindingnya atau mengobah riasnya, entah bagaimana.
Diambilnya
alat cukurnya. Terang bulan yang cemerlang mengambang antara tiang-tiang
menara lonceng, tepat di belakang jendela. Ketika bulan menerangi tumpukan
pakaian dan buku paling atas di dalam tasnya, berobahlah cahaya dalam
kamar, maka sadarlah ia dimana ia berada.
Dulu
kamar ini gudang. Kursi dan meja rusak disingkirkan di situ dan disinipun
Anna menyimpan arsip keluarganya serta kopor-kopor tempat menumpuk pakaian
untuk musim dingin selama musim panas. Selama hidupnya tiap sudut dipenuhi
barang rongsokan sampai ke langit-langit dan anak-anak tak dibolehkan
masuk. Hanya waktu Natal atau Paskah --bila banyak sekali anak-anak
mengunjungi pesta-pesta dan seluruh loteng paling atas dibuka untuk
mereka --kamar ini tak dikunci an anak-anakpun main rampok-rampokan
di situ, sembunyi di bawah meja, berpakaian aneka warna serta menghitamkan
muka mereka dengan gabus terbakar.
Yury
mengenangkan ini semua, kemudian ia turun lewat tangga belakang untuk
mengambil kopor kayunya dari serambi depan. Di dapur Nyusha berjongkok
di depan tungku mencabut bulu bebek atas secabik kertas koran. Waktu
Yury masuk membawa kopornya, Nyusha meloncat dengan gerak malu-malu
yang indah; ia merah padam, mengibaskan bulu-bulu dari apronnya, menyalami
dia, lalu menawarkan bantuannya. Yury mengucapkan terimakasih, mengatakan
ia tak perlu ditolong lantas pergi ke atas. Dari jarak beberpapa
kamar, istrinya memanggilnya. "Kau boleh masuk sekarang, Yury."
Masuklah
ia untuk melihat Sasha.
Kamar
bayi ini bekas sekolah Tonya. Anak lelaki dalam ranjang kecil itu jauh
kurang manis daripada fotonya, tapi dialah penjelmaan ibu Yury almarhun
Marya Nikolayevna Zhivago, lebih mirip padanya dari foto-foto yang disimpan
Yury.
"Inilah
ayah, ini ayahmu lambaikan tanganmu anak manis," kata Tonya. Diturunkannya
dinding ranjang yang sebelah, supaya Yury mudah mencium si anak serta
mengangkatnya.
Sasha
membiarkan orang brewok tak dikenal yang barangkali menakutkan dan tak
menariknya itu mendatangi dia sangat dekat dan melentik di atasnya,
kemudian ia melonjak tegak sambil menggapai bagian depan gaun ibunya
dengan tangan sebelah, lantas di ayunkan dengan marah tangan lainnya
dan menampar muka Yury. Terperanjat oleh keberaniannya sendiri, ia lalu
merebahkan diri dalam pelukan Tonya dan menangis tesedu-sedu.
"Nakal,
nakal!" Tonya memarahinya. "Jangan begitu Sashenka. Apa pikir
ayah? Dia kira Sasha anak jahat. Ayo, tunjukkan kau bisa cium, ciumlah
ayahmu. Jangan menangis, tak apa-apalah."
"Biarlah
Tonya," pinta Yury padanya. "Jangan hiraukan dia dan jangan
kuatir. Kutahu kupikir yang bukan-bukan, bahwa itu tadi ada artinya,
alamat buruk, tapi omongkosong semua. Soalnya wajar sekali. Anak ini
tak pernah melihat aku. Besok ia manis terhadapku dan kami akan bersahabatan,
kau lihat nanti kami dapat begaul sebaik-baiknya."
Namun
ia meninggalkan kamar dengan kecil hati dan firasat buruk.
*** bersambung