Benarkah, kamarada?
Apakah kau murni hanya meneruskan perkawanan ini tanpa mengikutsertakan
pekerjaanmu sebagai intelejen? Bagaimana kami bisa melihat konsistensimu,
sementara kau selalu mendengarkan analisa-analisa kritis kami terhadap
para petinggi di pemerintahan, termasuk kekerasan negara yang dilakukan
oleh aparat kepolisian yang kamu komandoi? Apakah kau tidak pernah setor
informasi dari obrolan kita malam-malam ditemani tuak sabu? Jujurkah
kau?
Lihat, Adik Malev
dipukul keras oleh adikmu sang komandan tanpa penyelidikan awal yang
jelas. Lihat kekecewaan Malev, pedulikah kau? Akh, kau hanya diam tanpa
ada niatan mempercakapkan persoalan ini dengan Malev: kau menghindar!
Bagaimana juga dengan dua orang yang tinggal di Lahane yang hilang empat
hari dan ditemukan babak belur di Kantor Kepolisian Comoro?
Lihat, kau suburkan
kekerasan, kau bangga kekerasan yang kau lakukan. Lupakah kau akan rintihan
bunda ketika anak perempuannya diperkosa Tentara Indonesia? Lupakah
kau berapa kamarada hilang dan mati diberondong peluru tanpa mata di
Santa Cruz? Lupakah cerita tentang laki-lakiku yang hilang diculik Tentara
Indonesia?
''20 Desember 2003. Akh mereka
perusuh-perusuh yang tidak mendukung Pemerintah. Jadi, pukul aja tho.
Entah berapa kali kugunakan popor pistolku untuk menghantam kepala
orang-orang yang dianggap membahayakan keamanan. Entah berapa kali,
kutamparkan telapak tanganku dan kuhantamkan dengkulku kepada muka-muka
bangsat itu''. Tertanda, M.
''Aku larang seseorang yang
pernah kuhabiskan malam bersamanya untuk datang ke rumah. Bahaya buat
Aku, kelaki-lakianku. Soal perempuan, Aku lelaki yang bisa mengatur
semua urusan dengan mudah. Entah dengan melarikan diri, keangkuhan,
atau mendiamkan saja persoalan itu. Atau gampang saja, kuciptakan
argumen-argumen yang membenarkan diriku''. M
Kau takut, Makikit? Pertanyaan itu kulontarkan tepat di tatapan matanya.
Lari bola matanya dan palingan mukanya, juga diamnya tak mampu menutupi
ketakutannya. Aku sempat tertawa melihat kelakuannya, kok bisa seorang
bersandang peluru, bergenggam pistol dan kekerasan, dan kepalan tangan
diselimuti rasa takut.
Dua luapan sikap yang
tanpa disadarinya muncul dari kelakuannya sehari-hari. Tak pernah Ia
pikirkan kembali detik-detik yang Ia isi dengan wajah bingungnya, kata-kata
yang tidak konsisten, dan kebanggaan yang berlebihan. Saat Makikit mengucapkan
kalimat terakhirnya itu dan kutulis di secarik kertas, kudapatkan kepengecutan
pada dirinya. Tak ada hati. Dia semata-mata hanya mengatakan, Tentara,
kok dilawan, semboyan yang tepat untuk dirinya.
Menjelang Natal, tak
kutemui lagi Makikit. Entah, terbang kemana. Langit biru Dili pun semakin
gelap dengan hujan yang terus turun di siang hari. Ia terbangkan dirinya
dengan pertanyaan dan persoalan untuk dirinya. Mengecewakan, sangat
tak bertanggung jawab, kata Malev.
''Aku harus ke luar distrik,
tiga hari''. M
''Malam ini Aku harus balik
ke Dili, ada pencegatan di Baucau. Mobil rusak di Aileu, tangki minyak
bocor. Aku butuh uang untuk membeli solar. Lumayan, dapat kucuran
dana $40, gratis. Kuperintahkan adikku, sang komandan untuk menjaga
kawan-kawan yang mabuk di salah satu tempat hiburan di pusat Kota
Dili. Jam 05.00 Aku baru kembali''. M
***
Tak ada kabar apapun dari Makikit
hingga usainya 2003. Tak ada. Siapapun tak bisa memberikan jawaban kemana,
apa yang Ia lakukan, dan kondisinya.
''Aku persiapkan paspor. Aku
ke Portugal dengan istriku. Aku tak bisa berkata apa-apa atas keputusan
mama. Tak ada yang harus kubicarakan lagi dengan Pantai Kelapa, Pasir
Putih, gunung-gunung atau hutan-hutan yang pernah memelukku''. Tertanda
M.
Itu saja yang ada. Pulpenku tak
lagi menulis. Di atas Sakura Tower catatanku berakhir di malam pergantian
tahun di tengah pekik dan kilatan petasan yang menyeramkan di seluruh
kota Dili. Ia telah pergi tanpa hati, justru dengan rasa takut dan angkuhnya,
meninggalkan catatan dengan koma, entah kapan Ia selesaikan.
***
Dili, 4 Januari 04: Memoria Waktu
dengan si Makikit.
Kutulis untuk Maun Mawi di Negeri Belanda dan petani `kecil Nini di
L Palos.
Daftar Istilah:
FDTL: Forsa Defeca de Timor Lorosa'e (Perubahan dari Falintil)
Kamarada: Kawan seperjuangan, Komrade
Mane: laki-laki
Makikit: Burung Elang
Regiaun: wilayah (region, Bahasa Inggris)
Serveja: bir (Bahasa Portugis)
Sigaru: rokok
Tuak sabu: arak hasil penyulingan air enau. Kadar alkoholnya lebih tinggi
dari tuak mutin.
Tuak mutin: arak hasil enau
Tiu: paman