sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 6, Rabu 21 Februari 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

novel Dokter Zhivago 6
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

"Inilah minyak keramat," pikir Nicky dengan geramnya, sambil mencari jalan ke luar dari kamar. Suara tamu-tamu sudah di balik pintu, hingga ia tak dapat berbalik. Dalam kamar ada dua ranjang, kepunyaan dia dan Voskoboynikov. Belum habis kilatan pikirannya, ia sudah merangkak di bawah ranjang pertama. Ia dengar mereka memanggilnya serta mencarinya di luar, heran bahwa ia menghilng, akhirnya masuklah mereka dalam kamar tidur itu.

"Apa boleh buat,'' ujar Nikolai Nikolayevich. "Larilah Yura. Kukira kawanmu akan muncul juga dan kau bisa main-main dengannya nanti." Mereka bicara tentang kerusuhan mahasiswa di Petersburg dan Moskow, hingga Nicky hampir setengah jam tinggal terpenjara secara tak layak dan tak nyaman itu. Akhirnya mereka keluar ke beranda. Pelan-pelan Nicky membuka jendela, melompat dan pergi ke taman besar.

Semalam ia tak tidur dan kini merasa tak senang. Ia berumur empat belas tahun, kesal hati dan jemu dengan keadaannya, sebagai kanak-kanak. Semalam suntuk ia bangun, lalu keluar waktu sudah subuh. Surya fajar melemparkan bayang-bayang pohon yang panjang dan berembun, berleret-leret di taman. Bayangan itu tidak hitam, melainkan abu-abu tua seperti beledu tercelup dalam air dan agaknya dari bayangan lembab di tanah inilah, garis-garis cahaya di dalamnya seperti jari-jari gadis, maka terhambur bau sedap dinihari yang memusingkan kepala. Sekonyong-konyong ada kilatan putih berpendar seperrti embun di rumput yang menyambar dan lewat beberapa langkah dari padanya, terus mengalir, tak terhisap oleh tanah. Kemudian dengan gerak-gerik yang tak tersangka tajamnya ia membelok ke samping, lalu bersembuhnyi. Itulah ular rumput. Nicky menggigil.

Dalam tabiatnya ada beberapa keganjilan. Kalau hatinya rusuh, ia bicara keras pada diri sendiri dengan meniru ibunya yang memilih buah pembicaraan serba luhur dan suka pada paradoks.

"Hidup ini agung," pikirnya. "tapi mengapa mesti penuh kepedihan? Tuhan pastilah ada. Tapi kalau Ia ada, akulah Dia itu." Ia menengadah ke pohon populir yang bergetar dari kaki sampai puncaknya dengan daun-daun basah seperti lempengan timah sepotong-potong. "Kusuruh ia berhenti bergerak." Seacra kegila-gilaan ia kerahkan tenaga sekuat-kuatnya, diam-diam ia berhasrat sepenuh jiwanya dengan tiap raup daging dan darah: "Berhenti," maka pohon itupun segera menurut, beku tak bergerak. Nicky ketawa riang dan lari ke sungai dengan senang untuk mandi.

Ayahnya adalah teroris Dementiy Dudorov yang dihukum mati gantung tapi diampuni Tsar dan sekarang kerja paksa. Ibunya seorang putri Georgia dari keluarga Eristov, wanita cantik lagi manja, masih muda dan selalu terlibat dalam sesuatu buah minatnya --kerusuhan, pemberontakan serta kaum pemberontaknya, teori-teori ekstrim ataupun artis-artis termashur dan orang-orang malang yang gagal hidupnya.

Ia memuja Nicky, merubah namanya, Inokentivy menjadi pelbagai nama timangan mesra yang menggelikan, misalnya Inochek dan Nochenka, dan membawanya ke Tiflis untuk dipamerkan pada keluarganya. Apa yang sangat mengesan pada anak-anak itu di sana ialah sebatang pohon yang tumbuh liar di pelataran dalam di rumah mereka. Pohon ini berasal dari negeri panas, besar, dengan daun-daun seperti kuping gajah yang meneduhi pelataran terhadap matahari terik di daerah Selatan itu. Nicky tak dapat luput dari gagasan bahwa ia pohon dan bukan binatang

Berbahayalah bagi Nicky untuk memakai nama ayahnya yang mengerikan itu. Ivan Ivanovich ingin supaya ia memakai nama ibunya dan setelah disetujui ibunya iapun hendak memohon pada Tsar untuk membuat perobahan itu. Tatkala Nicky berbaring di bawah ranjang dengan rasa mendongkol kepada seluruh duinia, iapun berpikir tentang hal itu. Voskoboynikov telah meremehkannya dengan mencampuri hidupnya sejauh itu! Ia akan menunjukkan gigi.

Natasha pula! Mentang-mentang umurnya lima belas tahun, ia merasa berhak menjengit hidung serta bicara merendah-rendah padanya, seolah ia masih kanak-kanak. Ia akan mengajarnya. "Kubenci dia," ujarnya berkali-kali dalam batin. "Kubunuh dia. Kubawa dia ke perahu dan kukaramkan dia."

Ibunyapun dingin pula! Pastilah ia telah membohongi dia dan Voskoboynikov, ketika ia pergi. Ia tak pernah sampai dekat pegunungan Kaukasus, tapi di stasiun penghubung yang pertama ia balik, lalu pergi ke Petersburg dan kini bersama para mahasiswa sesuka-sukanya menembaki polisi, sedangkan dia boleh membusuk hidup-hidup dalam kubang dina ini. Tapi ia bukanlah si dungu seperti yang mereka sangka. Ia akan membunuh Nadya, meningalkan sekolahnya, lari ke ayahnya di Siberia dan membangkitkan pemberontakan.

***

 

situs nir-laba untuk
karya tulis
ceritanet

kirim karya tulis
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar