novel Dokter
Zhivago 6
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin
sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan
ejaan baru
"Inilah
minyak keramat," pikir Nicky dengan geramnya, sambil mencari
jalan ke luar dari kamar. Suara tamu-tamu sudah di balik pintu,
hingga ia tak dapat berbalik. Dalam kamar ada dua ranjang,
kepunyaan dia dan Voskoboynikov. Belum habis kilatan pikirannya,
ia sudah merangkak di bawah ranjang pertama. Ia dengar mereka
memanggilnya serta mencarinya di luar, heran bahwa ia menghilng,
akhirnya masuklah mereka dalam kamar tidur itu.
"Apa
boleh buat,'' ujar Nikolai Nikolayevich. "Larilah Yura.
Kukira kawanmu akan muncul juga dan kau bisa main-main dengannya
nanti." Mereka bicara tentang kerusuhan mahasiswa di Petersburg
dan Moskow, hingga Nicky hampir setengah jam tinggal terpenjara
secara tak layak dan tak nyaman itu. Akhirnya mereka keluar
ke beranda. Pelan-pelan Nicky membuka jendela, melompat dan
pergi ke taman besar.
Semalam
ia tak tidur dan kini merasa tak senang. Ia berumur empat belas
tahun, kesal hati dan jemu dengan keadaannya, sebagai kanak-kanak.
Semalam suntuk ia bangun, lalu keluar waktu sudah subuh. Surya
fajar melemparkan bayang-bayang pohon yang panjang dan berembun,
berleret-leret di taman. Bayangan itu tidak hitam, melainkan
abu-abu tua seperti beledu tercelup dalam air dan agaknya dari
bayangan lembab di tanah inilah, garis-garis cahaya di dalamnya
seperti jari-jari gadis, maka terhambur bau sedap dinihari yang
memusingkan kepala. Sekonyong-konyong ada kilatan putih berpendar
seperrti embun di rumput yang menyambar dan lewat beberapa langkah
dari padanya, terus mengalir, tak terhisap oleh tanah. Kemudian
dengan gerak-gerik yang tak tersangka tajamnya ia membelok ke
samping, lalu bersembuhnyi. Itulah ular rumput. Nicky menggigil.
Dalam
tabiatnya ada beberapa keganjilan. Kalau hatinya rusuh, ia bicara
keras pada diri sendiri dengan meniru ibunya yang memilih buah
pembicaraan serba luhur dan suka pada paradoks.
"Hidup
ini agung," pikirnya. "tapi mengapa mesti penuh kepedihan?
Tuhan pastilah ada. Tapi kalau Ia ada, akulah Dia itu." Ia
menengadah ke pohon populir yang bergetar dari kaki sampai puncaknya
dengan daun-daun basah seperti lempengan timah sepotong-potong. "Kusuruh
ia berhenti bergerak." Seacra kegila-gilaan ia kerahkan
tenaga sekuat-kuatnya, diam-diam ia berhasrat sepenuh jiwanya
dengan tiap raup daging dan darah: "Berhenti," maka
pohon itupun segera menurut, beku tak bergerak. Nicky ketawa
riang dan lari ke sungai dengan senang untuk mandi.
Ayahnya
adalah teroris Dementiy Dudorov yang dihukum mati gantung tapi
diampuni Tsar dan sekarang kerja paksa. Ibunya seorang putri
Georgia dari keluarga Eristov, wanita cantik lagi manja, masih
muda dan selalu terlibat dalam sesuatu buah minatnya --kerusuhan,
pemberontakan serta kaum pemberontaknya, teori-teori ekstrim
ataupun artis-artis termashur dan orang-orang malang yang gagal
hidupnya.
Ia memuja
Nicky, merubah namanya, Inokentivy menjadi pelbagai nama timangan
mesra yang menggelikan, misalnya Inochek dan Nochenka, dan membawanya
ke Tiflis untuk dipamerkan pada keluarganya. Apa yang sangat
mengesan pada anak-anak itu di sana ialah sebatang pohon yang
tumbuh liar di pelataran dalam di rumah mereka. Pohon ini berasal
dari negeri panas, besar, dengan daun-daun seperti kuping gajah
yang meneduhi pelataran terhadap matahari terik di daerah Selatan
itu. Nicky tak dapat luput dari gagasan bahwa ia pohon dan bukan
binatang
Berbahayalah
bagi Nicky untuk memakai nama ayahnya yang mengerikan itu. Ivan
Ivanovich ingin supaya ia memakai nama ibunya dan setelah disetujui
ibunya iapun hendak memohon pada Tsar untuk membuat perobahan
itu. Tatkala Nicky berbaring di bawah ranjang dengan rasa mendongkol
kepada seluruh duinia, iapun berpikir tentang hal itu. Voskoboynikov
telah meremehkannya dengan mencampuri hidupnya sejauh itu! Ia
akan menunjukkan gigi.
Natasha
pula! Mentang-mentang umurnya lima belas tahun, ia merasa berhak
menjengit hidung serta bicara merendah-rendah padanya, seolah
ia masih kanak-kanak. Ia akan mengajarnya. "Kubenci dia," ujarnya
berkali-kali dalam batin. "Kubunuh dia. Kubawa dia ke perahu
dan kukaramkan dia."
Ibunyapun
dingin pula! Pastilah ia telah membohongi dia dan Voskoboynikov,
ketika ia pergi. Ia tak pernah sampai dekat pegunungan Kaukasus,
tapi di stasiun penghubung yang pertama ia balik, lalu pergi
ke Petersburg dan kini bersama para mahasiswa sesuka-sukanya
menembaki polisi, sedangkan dia boleh membusuk hidup-hidup dalam
kubang dina ini. Tapi ia bukanlah si dungu seperti yang mereka
sangka. Ia akan membunuh Nadya, meningalkan sekolahnya, lari
ke ayahnya di Siberia dan membangkitkan pemberontakan.
***