Cerita
penangkapan dilaporkan lewat ; "Kijang sudah di tangan," lapor
Sang Kapten. Toyota Kijang itu dipacu kencang-kencang menuju
kantor polisi. Sampai di sana, seseorang yang berpakaian preman,
bermuka sedikit kumal, berusaha memukulku. ''Oh, ini yang kabur,
bikin susah aja luh,'' sambil tangannya berusaha mau memukul.
Aku menghindar. Tak kena. Ia juga tak meneruskan pukulannya,
walau polisi yang menggiringku tak mencegah.
Aku dibawa dan ditemukan
kepada seorang lelaki berkumis dan bertubuh tambun, berpangkat
Mayor. Haji Abdullah namanya. Polisi lain biasanya memanggil
Haji Mayor. Ia kepala seksi reserse. Tak lama kemudian, aku dibawa
menghadap atasannya, Sang Kepala, Kolonel Nurfaizi. Pria berpakaian
putih itu tampak berusaha untuk menjaga wibawa, walau ia tampak
baru saja terpaksa bangun tidur. Wajahnya masih kuyu.
Ia langsung bertanya-tanya
seadanya, dan menuduh aku kabur dari kantor polisi tanpa izin.
Aku menyangkal. "Saya ijin ke piket. Lagipula, memangnya saya
ditangkap?"
"Ijin, ijin siapa, ayo tunjukkan orangnya,"ujar Sang Kepala mendesak.
"Ya, ijin polisi yang ada dipiket,''jawabku lagi.
''Haji Mayor, coba antarkan ke piket, suruh tunjuk siapa orangnya yang
mengijinkan dia dari kantor ini," perintah Sang Kepala pada Haji Mayor.
Aku dibawa oleh Haji
Mayor, ke ruang piket. "Ayo, tunjukkan yang mana orangnya,"desaknya.
Aku melihat- lihat. "Ayo, yang mana?" desaknya lagi. "Wah, nggak
ada, tapi kalau lihat label namanya saya ingat," ujar ku santai.
Aku tahu ada orangnya di ruang jaga itu, tapi tidak tega mengorbankan
orang kecil hanya karena ingin bebas atau menyenangkan atasannya.
Akupun kembali dibawa
ke ruang Sang Kepala. "Bagaimana, ada orangnya?" tanya Sang Kepala. "Nggak
ada, pak, katanya," sambut Haji Mayor cepat. Lalu keluar lagi
seorang polisi, yang sempat membawakan teh waktu aku disekap
di ruang data Sang Kepala tadi malam. "Ini orangnya bukan," kata
Sang Kepala lagi sambil menyelidik. "Oh, bukan, saya nggak kenal
orang ini," kata ku berbohong. Aku yakin berbohong seperti ini
dibenarkan Tuhan.
Polisi
kelas bawah ini bukan termasuk orang-orang yang berbuat zalim
untuk kepentingan dirinya. Para atasannya yang tanpa segan-segan
mengorbankan bawahannya untuk kenaikan pangkat. Aku yakin itu.
Waktu masih jadi wartawan di Bandung aku sering bertugas di kepolisian.
Padahal sesungguhnya aku kenal polisi yang baik itu, tapi aku
diam saja.
Ia
kelihatan gemas melihatku, karena kabarnya ia sempat diperiksa
provoost gara-gara aku menghilang aku dari kantor polisi. "Kenapa
kamu kabur?" tanya Sang Kepala lagi. "Saya merasa tersinggung
dibawa kesini, lalu didiamkan di sebuah ruangan selama tiga jam,
tanpa ditanyai, ataupun diberitahu akan diapakan," sambungku
lagi. Lalu Sang Kepala meminta Haji Mayor menulis segala keterangan
yang aku berikan.
Ia
tanya lagi soal buletin yang kami terbitkan. Ia menekankan soal
penerbitan tanpa izin. "Ini penerbitan tanpa SIUPP, kamu yang
menerbitkan, ya?" desak Sang Kepala. "Bukan," jawabku singkat. "Ah,
bohong. Di buletin itu ada nomor rekening atas nama kamu,'' kata
Sang Kepala, langsung menuduh dan mengambil kesimpulan bahwa
dengan adanya nomor rekening atas namaku berarti aku penanggung
jawab atas buletin itu.
"Pokoknya
kamu orang yang bertanggung jawab. Kan, ada nama kamu disitu!" putus
Sang Kepala, sok kuasa. Aku hanya tertawa getir. "Susah berbicara
sama orang yang merasa berkuasa. Apa mau dikata. Ia sudah bilang,
pokoknya, berarti kekuasaannya yang berbicara bukan lagi soal
hukum dan aturan yang ada, presumtion of innoncence. Semau kamulah!" makiku.
"Ah, dasar wartawan!"sergah Sang Kepala terperangah atas jawabanku. Aku jadi
ingat lagu Rhoma Irama, kunyanyikan keras-keras di hadapan Sang Kepala, "hei...jangan
mentangg-mentang kuasa...lalu seenaknya..." Lagu dangdut yang pas rupanya.
***
Aku
lalu dibawa kembali ke ruang Haji Mayor. Lalu, Aku minta ijin
untuk sholat subuh. Aku ingin sedikit bersopan-sopan minta ijin,
tapi rupanya dianggap sebagai ketertundukan. Polisi yang lain
melarang. "Nggak usah, nggak usah sholat,''cegahnya. "Eee, enak
aje, melarang orang sholat, ini melanggar HAM, tahu!" kataku. "Tuh,
lihat matahari sudah mulai nongol dari ufuk timur. Masak bodoh,
aku mau sholat. Ayo, mana kamar mandi tunjukkan?" mulutku nyerocos
sendiri tak terkendali.
Sambil
ditunggui polisi lainnya. Aku kencing, dan berwudhu. Lalu shalat
di ruang Haji Mayor. Setelah shalat dua rakaat, aku mengantuk
dan tak enak badan, jadi tidur di bangku panjang. "Badan saya
lemas, pak, saya mau tidur dulu,''kataku pada Haji Mayor. "Jangan,
mau ditanya dulu,"ujar Haji Mayor berusaha mencegah. "Ah, saya
ngantuk, percuma saja,"kataku tak perduli dan tidur di bangku
panjang.
Setelah
bangun aku terus diperiksa hingga hampir tengah malam. Sebuah
pemeriksaan yang melelahkan. Dan polisi penyidik yang tampak
bodoh mengulang-ngulang pertanyaan. Tampak bahwa memang sudah
jadi kebiasaan mereka untuk menggunakan kekerasan dalam mendapatkan
keterangan. Tapi menghadapi aku mereka sepertinya tak berani
melakukan kekerasan.
***
Setengah jam menjelang tengah malam aku dibawa ke ruang bawah tanah,
ke ruang tahanan kantor polisi. Jaket, sepatu, baju dan celana disuruh
lepas dan aku serahkan pada polisi penjaga ruang tahanan. Dompetku juga
diambil, dibuka-buka isinya. Ada empat lembar dua puluh ribu perak dan
tia seribuan. Dua orang polisi berpangkat Sersan memaksa aku membuka
celana panjang, karena dalam tahanan tak boleh pakai celana panjang.
"Takut digunakan
buat bunuh diri, pernah ada kejadian,"ujar polisi itu menakuti-nakuti.
Aku disuruh memakai celana pendek bekas yang terongggok di sudut
ruang periksa tahanan. "Nggak mau, nanti budukan,"kataku tegas. "Ya,
sudah, pokoknya, kamu harus pakai celana pendek. Nih silet, jangan
buat motong urat nadi, ya,"kata polisi itu lagi. Silet yang tinggal
sepotong itu diberikan padaku. Dan aku memotong celana panjangku
menjadi celana pendek sedikit di bawah lutut. Sang Sersan kembali
menakut-nakuti aku soal tahanan yang dicampur dengan tahanan
lain dan akan terjadi 'sesuatu' yang menyeramkan.
"Nah, ini duit,
kami simpan dulu ya. Di dalam sel, nggak boleh bawa duit. Nanti
kamu di kompas," ujar polisi itu. Sempat juga aku. Seumur-umur
belum pernah aku masuk penjara sebagai penghuni, walau berulang
kali mengunjungi penjara untuk wawancara. Aku sempat berunding
untuk mendapat tempat yang lebih baik, agar tak dicampur dengan
tahanan lain. "Boleh, asal kamu memberi mereka uang. Untuk keamanan," sambut
polisi cepat. Nyatanya janji itu tak pernah dipenuhi tapi uangnya
sudah mereka terima. Aku tetap digiring ke kamar penampungan. "Kamu
disini dulu. Tempat lain penuh," kata polisi yang tadi menerima
uangku.
Perasaan seram menyelimutiku
ketika memasuki lorong gelap melalui jeruji-jeruji besi, sel-sel.
Aku membayangkan, seperti di film-film, ratusan tahanan berteriak-teriak
dan seolah-olah mau memakan kami. Seperti Dr. Hanibal Lecter
di Silence of The Lamb. Tapi ternyata bukan seperti itu.
Tepat di pojok ruang
A-13 yang gelap dan bau pesing aku dimasukkan. Di sana sudah
ada 18 tahanan lain yang tergeletak tak beraturan di lantai berlantai
tripleks tipis. Beberapa diantaranya bermuka lebam, matanya biru,
dan ada juga yang hanya pakai celana dalam saja. Oman namanya.
Aku langsung menyalami semua penghuni sel A-13 sebelum berjalan
ke ujung tripleks. "Permisi, ya, aku ngantuk, tidur duluan," kataku
mengambil tempat di pojok.
Kulihat para tahanan
itu tidur di atas tripleks berdesak-desakan bercampur baur pasal
kejahatannya dan juga baunya. "Ya, disini aja, disitu bau pesing,''
kata seorang penghuni yang belakangan aku dengar preman pembunuh
asal Pasar Minggu. Aku akhirnya ikut tidur di atas triplek bersama
pembunuh, pencuri, pemabuk, penipu, narkotik dan pelaku kriminal
lainnya, yang aku pikir ternyata punya sesuatu yang lebih mulia
dibanding para polisi.
Polisi yang sudah
menerima uang dengan janji menempatkanku ke tempat yang lebih
baik, cuma bilang. "Hei, titip ini, ya?" katanya langsung pergi.
Suara Handy Talky yang dibawanya berbunyi: "kreek...kreek...kijang
sudah di kandang?".
"Huh, dasar tikus!" maki Oman. "Siapa, yang bilang itu!"teriak polisi berbalik
ke sel. "Gue, mau apa lu?" tantang Oman dengan mata melotot. Polisi itu
diam saja, meloyor pergi.***
Rutan
Salemba
17 Desember 1995