sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 6, Rabu 21 Februari 2001

    ceritanet                                                                          
          situs nir-laba untuk karya tulis

 

memoar Tikus dan Kijang
Ahmad Taufik

Cerita penangkapan dilaporkan lewat ; "Kijang sudah di tangan," lapor Sang Kapten. Toyota Kijang itu dipacu kencang-kencang menuju kantor polisi. Sampai di sana, seseorang yang berpakaian preman, bermuka sedikit kumal, berusaha memukulku. ''Oh, ini yang kabur, bikin susah aja luh,'' sambil tangannya berusaha mau memukul. Aku menghindar. Tak kena. Ia juga tak meneruskan pukulannya, walau polisi yang menggiringku tak mencegah.

Aku dibawa dan ditemukan kepada seorang lelaki berkumis dan bertubuh tambun, berpangkat Mayor. Haji Abdullah namanya. Polisi lain biasanya memanggil Haji Mayor. Ia kepala seksi reserse. Tak lama kemudian, aku dibawa menghadap atasannya, Sang Kepala, Kolonel Nurfaizi. Pria berpakaian putih itu tampak berusaha untuk menjaga wibawa, walau ia tampak baru saja terpaksa bangun tidur. Wajahnya masih kuyu.

Ia langsung bertanya-tanya seadanya, dan menuduh aku kabur dari kantor polisi tanpa izin. Aku menyangkal. "Saya ijin ke piket. Lagipula, memangnya saya ditangkap?"
"Ijin, ijin siapa, ayo tunjukkan orangnya,"ujar Sang Kepala mendesak.
"Ya, ijin polisi yang ada dipiket,''jawabku lagi.
''Haji Mayor, coba antarkan ke piket, suruh tunjuk siapa orangnya yang mengijinkan dia dari kantor ini," perintah Sang Kepala pada Haji Mayor.

Aku dibawa oleh Haji Mayor, ke ruang piket. "Ayo, tunjukkan yang mana orangnya,"desaknya. Aku melihat- lihat. "Ayo, yang mana?" desaknya lagi. "Wah, nggak ada, tapi kalau lihat label namanya saya ingat," ujar ku santai. Aku tahu ada orangnya di ruang jaga itu, tapi tidak tega mengorbankan orang kecil hanya karena ingin bebas atau menyenangkan atasannya.

Akupun kembali dibawa ke ruang Sang Kepala. "Bagaimana, ada orangnya?" tanya Sang Kepala. "Nggak ada, pak, katanya," sambut Haji Mayor cepat. Lalu keluar lagi seorang polisi, yang sempat membawakan teh waktu aku disekap di ruang data Sang Kepala tadi malam. "Ini orangnya bukan," kata Sang Kepala lagi sambil menyelidik. "Oh, bukan, saya nggak kenal orang ini," kata ku berbohong. Aku yakin berbohong seperti ini dibenarkan Tuhan.

Polisi kelas bawah ini bukan termasuk orang-orang yang berbuat zalim untuk kepentingan dirinya. Para atasannya yang tanpa segan-segan mengorbankan bawahannya untuk kenaikan pangkat. Aku yakin itu. Waktu masih jadi wartawan di Bandung aku sering bertugas di kepolisian. Padahal sesungguhnya aku kenal polisi yang baik itu, tapi aku diam saja.

Ia kelihatan gemas melihatku, karena kabarnya ia sempat diperiksa provoost gara-gara aku menghilang aku dari kantor polisi. "Kenapa kamu kabur?" tanya Sang Kepala lagi. "Saya merasa tersinggung dibawa kesini, lalu didiamkan di sebuah ruangan selama tiga jam, tanpa ditanyai, ataupun diberitahu akan diapakan," sambungku lagi. Lalu Sang Kepala meminta Haji Mayor menulis segala keterangan yang aku berikan.

Ia tanya lagi soal buletin yang kami terbitkan. Ia menekankan soal penerbitan tanpa izin. "Ini penerbitan tanpa SIUPP, kamu yang menerbitkan, ya?" desak Sang Kepala. "Bukan," jawabku singkat. "Ah, bohong. Di buletin itu ada nomor rekening atas nama kamu,'' kata Sang Kepala, langsung menuduh dan mengambil kesimpulan bahwa dengan adanya nomor rekening atas namaku berarti aku penanggung jawab atas buletin itu.

"Pokoknya kamu orang yang bertanggung jawab. Kan, ada nama kamu disitu!" putus Sang Kepala, sok kuasa. Aku hanya tertawa getir. "Susah berbicara sama orang yang merasa berkuasa. Apa mau dikata. Ia sudah bilang, pokoknya, berarti kekuasaannya yang berbicara bukan lagi soal hukum dan aturan yang ada, presumtion of innoncence. Semau kamulah!" makiku.

"Ah, dasar wartawan!"sergah Sang Kepala terperangah atas jawabanku. Aku jadi ingat lagu Rhoma Irama, kunyanyikan keras-keras di hadapan Sang Kepala, "hei...jangan mentangg-mentang kuasa...lalu seenaknya..." Lagu dangdut yang pas rupanya.
***

Aku lalu dibawa kembali ke ruang Haji Mayor. Lalu, Aku minta ijin untuk sholat subuh. Aku ingin sedikit bersopan-sopan minta ijin, tapi rupanya dianggap sebagai ketertundukan. Polisi yang lain melarang. "Nggak usah, nggak usah sholat,''cegahnya. "Eee, enak aje, melarang orang sholat, ini melanggar HAM, tahu!" kataku. "Tuh, lihat matahari sudah mulai nongol dari ufuk timur. Masak bodoh, aku mau sholat. Ayo, mana kamar mandi tunjukkan?" mulutku nyerocos sendiri tak terkendali.

Sambil ditunggui polisi lainnya. Aku kencing, dan berwudhu. Lalu shalat di ruang Haji Mayor. Setelah shalat dua rakaat, aku mengantuk dan tak enak badan, jadi tidur di bangku panjang. "Badan saya lemas, pak, saya mau tidur dulu,''kataku pada Haji Mayor. "Jangan, mau ditanya dulu,"ujar Haji Mayor berusaha mencegah. "Ah, saya ngantuk, percuma saja,"kataku tak perduli dan tidur di bangku panjang.

Setelah bangun aku terus diperiksa hingga hampir tengah malam. Sebuah pemeriksaan yang melelahkan. Dan polisi penyidik yang tampak bodoh mengulang-ngulang pertanyaan. Tampak bahwa memang sudah jadi kebiasaan mereka untuk menggunakan kekerasan dalam mendapatkan keterangan. Tapi menghadapi aku mereka sepertinya tak berani melakukan kekerasan.
***
Setengah jam menjelang tengah malam aku dibawa ke ruang bawah tanah, ke ruang tahanan kantor polisi. Jaket, sepatu, baju dan celana disuruh lepas dan aku serahkan pada polisi penjaga ruang tahanan. Dompetku juga diambil, dibuka-buka isinya. Ada empat lembar dua puluh ribu perak dan tia seribuan. Dua orang polisi berpangkat Sersan memaksa aku membuka celana panjang, karena dalam tahanan tak boleh pakai celana panjang.

"Takut digunakan buat bunuh diri, pernah ada kejadian,"ujar polisi itu menakuti-nakuti. Aku disuruh memakai celana pendek bekas yang terongggok di sudut ruang periksa tahanan. "Nggak mau, nanti budukan,"kataku tegas. "Ya, sudah, pokoknya, kamu harus pakai celana pendek. Nih silet, jangan buat motong urat nadi, ya,"kata polisi itu lagi. Silet yang tinggal sepotong itu diberikan padaku. Dan aku memotong celana panjangku menjadi celana pendek sedikit di bawah lutut. Sang Sersan kembali menakut-nakuti aku soal tahanan yang dicampur dengan tahanan lain dan akan terjadi 'sesuatu' yang menyeramkan.

"Nah, ini duit, kami simpan dulu ya. Di dalam sel, nggak boleh bawa duit. Nanti kamu di kompas," ujar polisi itu. Sempat juga aku. Seumur-umur belum pernah aku masuk penjara sebagai penghuni, walau berulang kali mengunjungi penjara untuk wawancara. Aku sempat berunding untuk mendapat tempat yang lebih baik, agar tak dicampur dengan tahanan lain. "Boleh, asal kamu memberi mereka uang. Untuk keamanan," sambut polisi cepat. Nyatanya janji itu tak pernah dipenuhi tapi uangnya sudah mereka terima. Aku tetap digiring ke kamar penampungan. "Kamu disini dulu. Tempat lain penuh," kata polisi yang tadi menerima uangku.

Perasaan seram menyelimutiku ketika memasuki lorong gelap melalui jeruji-jeruji besi, sel-sel. Aku membayangkan, seperti di film-film, ratusan tahanan berteriak-teriak dan seolah-olah mau memakan kami. Seperti Dr. Hanibal Lecter di Silence of The Lamb. Tapi ternyata bukan seperti itu.

Tepat di pojok ruang A-13 yang gelap dan bau pesing aku dimasukkan. Di sana sudah ada 18 tahanan lain yang tergeletak tak beraturan di lantai berlantai tripleks tipis. Beberapa diantaranya bermuka lebam, matanya biru, dan ada juga yang hanya pakai celana dalam saja. Oman namanya. Aku langsung menyalami semua penghuni sel A-13 sebelum berjalan ke ujung tripleks. "Permisi, ya, aku ngantuk, tidur duluan," kataku mengambil tempat di pojok.

Kulihat para tahanan itu tidur di atas tripleks berdesak-desakan bercampur baur pasal kejahatannya dan juga baunya. "Ya, disini aja, disitu bau pesing,'' kata seorang penghuni yang belakangan aku dengar preman pembunuh asal Pasar Minggu. Aku akhirnya ikut tidur di atas triplek bersama pembunuh, pencuri, pemabuk, penipu, narkotik dan pelaku kriminal lainnya, yang aku pikir ternyata punya sesuatu yang lebih mulia dibanding para polisi.

Polisi yang sudah menerima uang dengan janji menempatkanku ke tempat yang lebih baik, cuma bilang. "Hei, titip ini, ya?" katanya langsung pergi. Suara Handy Talky yang dibawanya berbunyi: "kreek...kreek...kijang sudah di kandang?".

"Huh, dasar tikus!" maki Oman. "Siapa, yang bilang itu!"teriak polisi berbalik ke sel. "Gue, mau apa lu?" tantang Oman dengan mata melotot. Polisi itu diam saja, meloyor pergi.***

Rutan Salemba
17 Desember 1995

 
situs nir-laba
untuk
karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar