sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 6, Rabu 21 Februari 2001

    ceritanet                                                                          
          situs nir-laba untuk karya tulis

 

cerpen Buruk Perilaku Jangan Shin-Chan Dicerca
Lenah Susianty

Bukan hanya di Indonesia, di negeri asalnya Jepang pun, si Bandel Crayon Shin-chan banyak dimusuhi orang tua. Bocah tokoh komik --atau manga-- Jepang yang sedang ngetop di Indonesia ini, baik dalam bentuk buku bacaan ataupun dalam bentuk film animasi yang bisa dilihat di RCTI atau lewat VCD, dianggap bukan tokoh yang pantas jadi panutan bagi anak-anak pembaca komik ini. Pasalnya Crayon Shin-chan, karakter ciptaan dan digambar oleh Yoshito Usui ini dianggap bukan hanya menggambarkan kenakalan anak-anak usia 5 tahun semata-mata (misalnya menyalakan kembang api di kompor, atau menangis mengerang-ngerang jika minta sesuatu dan tidak dibelikan), tapi juga sering berbicara meniru orang dewasa (komentarnya tentang ibunya: "ibuku dadanya rata dan bokongnya besar") serta acap kali pemikiran dan perbuatannya berbau porno dan dianggap bukan hal yang wajar dilakukan oleh anak-anak.

Akibatnya oleh harian The Wall Street Journal pun komik ini dianggap mirip dengan kartun Beavis and Butthead yang disiarkan oleh MTV, walaupun tentunya pendapat harian itu masih bisa diperdebatkan. Mungkin memang betul, komik ini jika dibaca anak-anak yang terlalu kecil yang biasanya suka meniru bisa berakibat tidak baik.

Namun pengalaman saya sendiri punya argumentasi lain. Keponakan saya yang berusia 6 tahun ternyata tidak begitu menikmati film Crayon Shin-chan dan sering kali ia masih tidak bisa mengerti kelucuan atau pun kenakalan Crayon yang dalam banyak hal hanya bisa ditangkap oleh orang dewasa atau remaja. Dalam kasus keponakan saya ini, meniru Crayon kelihatannya juga agak tak mungkin dilakukan karena ia pada dasarnya tidak melihat 'asyik' nya atau 'menarik'nya perbuatan ataupun perkataan Shin-chan.

Namun ini tidak menisbikan kemungkinan ada anak-anak yang mengerti dan meniru tingkah laku Shin-chan. Tapi untuk sampai pada pengertian semacam itu, tentulah pula diperlukan satu pengalaman atau ruang lingkup dalam kehidupan anak yang membuatnya bisa mengerti tingkah laku Shin-chan, yang dianggap prematur bagi anak usia 5 tahun. Anak-anak yang misalnya dihadapkan pada orang tua atau keluarga yang bebas mengeluarkan sumpah serapah atau mengeluarkan lepasan-lepasan kata jorok di depan anak-anaknya misalnya tentu akan lebih mudah mengerti komentar nakal dan porno yang dikeluarkan Shin-chan, sedangkan yang tidak terbiasa dalam lingkungan itu mungkin tidak akan mengerti.

Shin-chan sendiri dalam beberapa episode komiknya jelas mengatakan bahwa apa yang ia lakukan hanyalah meniru ayahnya. Misalnya ia mengatakan 'hmm...boleh juga' saat melihat gambar sexy seorang wanita, dan kemudian di komik itu ada rujukan sang ayah yang ternyata juga suka berkomentar demikian di depan anaknya.

Dalam kata lain banyak pendewasaan Shin-Chan sebenarnya tidak lepas dari tingkah laku orang tua. Kalau karena hal-hal itu komik Shin-chan atau film kartunnya dianggap sangatlah buruk, maka juga banyak buku atau tontonan lain di televisi atau lewat VCD yang juga bisa dianggap buruk dan tak cocok bagi anak-anak tapi toh tetap diberikan kepada mereka.

Sebagian anak-anak Indonesia sekarang sudah bisa dengan bebas menyantap film-film penuh kekerasan atau pun film tentang mistik yang kini banyak disajikan di televisi atau lewat VCD. Atau yang paling mencemaskan adalah makin menjamurnya penyanyi cilik yang bergaya bak orang dewasa di layar televisi. Bahkan kuantitas penyajian hal-hal semacam ini ke dalam kehidupan anak-anak Indonesia bisa dikatakan sudah melampaui batas. Setiap hari dan berkali-kali dalam satu hari kita bisa melihat gaya para penyanyi cilik yang beraksi seperti orang berusia 20 tahun.

Anak-anak yang diekpos kepada tontotan semacam itu pun bisa mendapatkan pengaruh pendewasaan yang prematur, sama halnya dengan membaca komik Shin-chan. Atau menonton iklan di televisi yang sering menyerempet-nyerempet dengan innuendo seksualnya. Itu pun pasti ada dampaknya pada anak-anak. Masalahnya Crayon Shin-chan tampil dalam bentuk komik atau animasi yang langsung saja sering dianggap sebagai konsumsi anak-anak, sehingga langsung menjadi sasaran. Artinya, kalau komik ini memang tidak boleh dibaca anak-anak karena pengaruh buruknya, semestinya orang tua pun konsisten juga dengan tidak membiarkan anak-anaknya menonton televisi atau membaca buku lain tanpa saringan.
***

situs nir-laba
untuk
karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar