Bukan hanya di Indonesia,
di negeri asalnya Jepang pun, si Bandel Crayon Shin-chan banyak
dimusuhi orang tua. Bocah tokoh komik --atau manga-- Jepang yang
sedang ngetop di Indonesia ini, baik dalam bentuk buku bacaan
ataupun dalam bentuk film animasi yang bisa dilihat di RCTI atau
lewat VCD, dianggap bukan tokoh yang pantas jadi panutan bagi
anak-anak pembaca komik ini. Pasalnya Crayon Shin-chan, karakter
ciptaan dan digambar oleh Yoshito Usui ini dianggap bukan hanya
menggambarkan kenakalan anak-anak usia 5 tahun semata-mata (misalnya
menyalakan kembang api di kompor, atau menangis mengerang-ngerang
jika minta sesuatu dan tidak dibelikan), tapi juga sering berbicara
meniru orang dewasa (komentarnya tentang ibunya: "ibuku dadanya
rata dan bokongnya besar") serta acap kali pemikiran dan perbuatannya
berbau porno dan dianggap bukan hal yang wajar dilakukan oleh
anak-anak.
Akibatnya oleh harian
The Wall Street Journal pun komik ini dianggap mirip dengan kartun
Beavis and Butthead yang disiarkan oleh MTV, walaupun tentunya
pendapat harian itu masih bisa diperdebatkan. Mungkin memang
betul, komik ini jika dibaca anak-anak yang terlalu kecil yang
biasanya suka meniru bisa berakibat tidak baik.
Namun pengalaman saya
sendiri punya argumentasi lain. Keponakan saya yang berusia 6 tahun
ternyata tidak begitu menikmati film Crayon Shin-chan dan sering
kali ia masih tidak bisa mengerti kelucuan atau pun kenakalan Crayon
yang dalam banyak hal hanya bisa ditangkap oleh orang dewasa atau
remaja. Dalam kasus keponakan saya ini, meniru Crayon kelihatannya
juga agak tak mungkin dilakukan karena ia pada dasarnya tidak melihat
'asyik' nya atau 'menarik'nya perbuatan ataupun perkataan Shin-chan.
Namun ini tidak menisbikan
kemungkinan ada anak-anak yang mengerti dan meniru tingkah laku Shin-chan.
Tapi untuk sampai pada pengertian semacam itu, tentulah pula diperlukan
satu pengalaman atau ruang lingkup dalam kehidupan anak yang membuatnya
bisa mengerti tingkah laku Shin-chan, yang dianggap prematur bagi
anak usia 5 tahun. Anak-anak yang misalnya dihadapkan pada orang
tua atau keluarga yang bebas mengeluarkan sumpah serapah atau mengeluarkan
lepasan-lepasan kata jorok di depan anak-anaknya misalnya tentu akan
lebih mudah mengerti komentar nakal dan porno yang dikeluarkan Shin-chan,
sedangkan yang tidak terbiasa dalam lingkungan itu mungkin tidak
akan mengerti.
Shin-chan sendiri dalam
beberapa episode komiknya jelas mengatakan bahwa apa yang ia lakukan
hanyalah meniru ayahnya. Misalnya ia mengatakan 'hmm...boleh juga'
saat melihat gambar sexy seorang wanita, dan kemudian di komik itu
ada rujukan sang ayah yang ternyata juga suka berkomentar demikian
di depan anaknya.
Dalam kata lain banyak
pendewasaan Shin-Chan sebenarnya tidak lepas dari tingkah laku orang
tua. Kalau karena hal-hal itu komik Shin-chan atau film kartunnya
dianggap sangatlah buruk, maka juga banyak buku atau tontonan lain
di televisi atau lewat VCD yang juga bisa dianggap buruk dan tak
cocok bagi anak-anak tapi toh tetap diberikan kepada mereka.
Sebagian anak-anak
Indonesia sekarang sudah bisa dengan bebas menyantap film-film
penuh kekerasan atau pun film tentang mistik yang kini banyak
disajikan di televisi atau lewat VCD. Atau yang paling mencemaskan
adalah makin menjamurnya penyanyi cilik yang bergaya bak orang
dewasa di layar televisi. Bahkan kuantitas penyajian hal-hal
semacam ini ke dalam kehidupan anak-anak Indonesia bisa dikatakan
sudah melampaui batas. Setiap hari dan berkali-kali dalam satu
hari kita bisa melihat gaya para penyanyi cilik yang beraksi
seperti orang berusia 20 tahun.
Anak-anak yang diekpos
kepada tontotan semacam itu pun bisa mendapatkan pengaruh pendewasaan
yang prematur, sama halnya dengan membaca komik Shin-chan. Atau
menonton iklan di televisi yang sering menyerempet-nyerempet
dengan innuendo seksualnya. Itu pun pasti ada dampaknya pada
anak-anak. Masalahnya Crayon Shin-chan tampil dalam bentuk komik
atau animasi yang langsung saja sering dianggap sebagai konsumsi
anak-anak, sehingga langsung menjadi sasaran. Artinya, kalau
komik ini memang tidak boleh dibaca anak-anak karena pengaruh
buruknya, semestinya orang tua pun konsisten juga dengan tidak
membiarkan anak-anaknya menonton televisi atau membaca buku lain
tanpa saringan.
***