sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 6, Rabu 21 Februari 2001

            ceritanet                                                                 tentang ceritanet
          situs nir-laba untuk karya tulis                                    

 

esei Ternyata Deng Xiaoping Dan Li Peng
I. Wibowo
Gempar! Itulah reaksi segera sesudah terbitnya buku The Tian'anmen Papers awal tahun 2001. Kegemparan ini masuk akal karena dalam buku ini untuk pertama kalinya diungkap segala "isi perut" dalam lingkaran paling elit di Cina. Siapa nyana bahwa pada suatu hari akan ada orang yang dapat memperlihatkan bagaimana para pemimpin tertinggi di Cina yang jumlahnya hanya satu dosin itu berdebat mengenai perkara-perkara sensitif. Tak pelak lagi buku ini dapat disandingkan dengan buku-buku yang membocorkan rahasia. Persoalannya, peristiwa yang terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu itu hingga kini memang tetap diliputi kabut misteri. Misalnya, siapa sebenarnya yang memberi perintah untuk mengirim tank-tank ke Lapangan Tian'anmen? Apakah benar Deng Xiaoping? Ataukah Li Peng? Lalu, apakah dalam pengambilan keputusan itu, benar diadakan voting? Siapa-siapa saja yang menolak penggunaan kekerasan terhadap mahasiswa? Atau, ini merupakan hasil keputusan konsensus dari Dewan Harian Politbiro? Yang tak kalah menarik: apa sebenarnya kesalahan Zhao Ziyang? Sebagai seorang Sekjen Partai, sebagai orang satu Partai, mengapa ia begitu mudah dijatuhkan?
Selengkapnya



laporan Makan Sianglah Sambil Bekerja
Dhamayanti Suhita
Makan siang, yang bercampur dengan salah satu ritual bisnis, sering tidak mengenal batas-batas. Praktek-praktek gaya hidup yang kental bau bisnisnya, termasuk makan siang, rasanya sama saja di Jakarta, Delhi, Tokyo, atau London. Di Jakarta bisa dengan tempura, sedang di London sambil makan bakmi goreng, walau memang gado-gado masih belum masuk dalam jaringan ritual bisnis global. Di permukaan nyaris tidak ada lagi yang membedakan perilaku pekerja ekonomi dunia. Di dalamnya jelas ada perbedaan mencolok, persisnya ketika makan siang mengabdi pada misi utama ; perut dan sekaligus pula membawa, sebutlah, budaya perut itu sendiri. Faktor penyeragaman global sama sekali tidak bisa menyingkirkan faktor lokal, apalagi di tempat-tempat dan di kalangan orang-orang yang masih berada dalam lapis kedua, lapis ketiga, atau di luar lapis globalisasi. Di sini juga ada makan siang dan bekerja. Makan siang yang lain.
Selengkapnya
komentar Petualangan ke Ceritanet
Susy Bunanta
Suatu hari yang lalu, saya sudah duduk di kantor sejak jam tujuh pagi, mencoba menyelesaikan projek yang harus selesai sebelum tanggal 13 Maret. Semua orang dikantor sudah saya caci-maki karena semuanya banyak bicara dan tak satupun yang menyelesaikan tugasnya. Saya lihat sudah jam tujuh malam, dan saya masih duduk di depan komputer. Sedemikian jenuhnya, saya membuka Kompas.com. Berita yang selalu saja sama, bosan Lalu saya berpikir, "Oh, saya mau baca artikel di cerita.net, pasti lebih seru." Lalu tanpa ragu saya ketik : cerita.net di location box. Voila, tiba-tiba komputer screen saya penuh dengan reklame pornography!
Selengkapnya

 

memoar Tikus dan Kijang
Ahmad Taufik
Cerita penangkapan dilaporkan lewat ; "Kijang sudah di tangan," lapor Sang Kapten. Toyota Kijang itu dipacu kencang-kencang menuju kantor polisi. Sampai di sana, seseorang yang berpakaian preman, bermuka sedikit kumal, berusaha memukulku. ''Oh, ini yang kabur, bikin susah aja luh,'' sambil tangannya berusaha mau memukul. Aku menghindar. Tak kena. Ia juga tak meneruskan pukulannya, walau polisi yang menggiringku tak mencegah.
Aku dibawa dan ditemukan kepada seorang lelaki berkumis dan bertubuh tambun, berpangkat Mayor. Haji Abdullah namanya. Polisi lain biasanya memanggil Haji Mayor. Ia kepala seksi reserse. Tak lama kemudian, aku dibawa menghadap atasannya, Sang Kepala, Kolonel Nurfaizi. Pria berpakaian putih itu tampak berusaha untuk menjaga wibawa, walau ia tampak baru saja terpaksa bangun tidur. Wajahnya masih kuyu.
Selengkapnya

 

esei Buruk Perilaku Jangan Shin-Chan Dicerca
Lenah Susianty

Bukan hanya di Indonesia, di negeri asalnya Jepang pun, si Bandel Crayon Shin-chan banyak dimusuhi orang tua. Bocah tokoh komik --atau manga-- Jepang yang sedang ngetop di Indonesia ini, baik dalam bentuk buku bacaan ataupun dalam bentuk film animasi yang bisa dilihat di RCTI atau lewat VCD, dianggap bukan tokoh yang pantas jadi panutan bagi anak-anak pembaca komik ini. Pasalnya Crayon Shin-chan, karakter ciptaan dan digambar oleh Yoshito Usui ini dianggap bukan hanya menggambarkan kenakalan anak-anak usia 5 tahun semata-mata (misalnya menyalakan kembang api di kompor, atau menangis mengerang-ngerang jika minta sesuatu dan tidak dibelikan), tapi juga sering berbicara meniru orang dewasa (komentarnya tentang ibunya: "ibuku dadanya rata dan bokongnya besar") serta acap kali pemikiran dan perbuatannya berbau porno dan dianggap bukan hal yang wajar dilakukan oleh anak-anak.
Selengkapnya

 

novel Dokter Zhivago 6
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

"Inilah minyak keramat," pikir Nicky dengan geramnya, sambil mencari jalan ke luar dari kamar. Suara tamu-tamu sudah di balik pintu, hingga ia tak dapat berbalik. Dalam kamar ada dua ranjang, kepunyaan dia dan Voskoboynikov. Belum habis kilatan pikirannya, ia sudah merangkak di bawah ranjang pertama. Ia dengar mereka memanggilnya serta mencarinya di luar, heran bahwa ia menghilng, akhirnya masuklah mereka dalam kamar tidur itu. "Apa boleh buat,'' ujar Nikolai Nikolayevich. "Larilah Yura. Kukira kawanmu akan muncul juga dan kau bisa main-main dengannya nanti." Mereka bicara tentang kerusuhan mahasiswa di Petersburg dan Moskow, hingga Nicky hampir setengah jam tinggal terpenjara secara tak layak dan tak nyaman itu. Akhirnya mereka keluar ke beranda. Pelan-pelan Nicky membuka jendela, melompat dan pergi ke taman besar.
Selengkapnya

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar