sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 6, Rabu 21 Februari 2001

  ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis

 

laporan Makan Sianglah Sambil Bekerja
Dhamayanti Suhita

Makan siang, yang bercampur dengan salah satu ritual bisnis, sering tidak mengenal batas-batas. Praktek-praktek gaya hidup yang kental bau bisnisnya, termasuk makan siang, rasanya sama saja di Jakarta, Delhi, Tokyo, atau London. Di Jakarta bisa dengan tempura, sedang di London sambil makan bakmi goreng, walau memang gado-gado masih belum masuk dalam jaringan ritual bisnis global.

Di permukaan nyaris tidak ada lagi yang membedakan perilaku pekerja ekonomi dunia. Di dalamnya jelas ada perbedaan mencolok, persisnya ketika makan siang mengabdi pada misi utama ; perut dan sekaligus pula membawa, sebutlah, budaya perut itu sendiri. Faktor penyeragaman global sama sekali tidak bisa menyingkirkan faktor lokal, apalagi di tempat-tempat dan di kalangan orang-orang yang masih berada dalam lapis kedua, lapis ketiga, atau di luar lapis globalisasi. Di sini juga ada makan siang dan bekerja. Makan siang yang lain.

Di India, misalnya, orang-orang amat serius memperhatikan dietnya . Vegitarian ketat, setengah ketat, non-vegetarian dibungkus dengan fanatisme terhadap makanan rumah. Wujudnya adalah tradisi rantangan. Makanan rumah itu dimasak istri atau ibunya, dan harus sampai kantor persis pada jam makan siang. Untuk mempertahankan budaya makanan segar rantang memang tidak dibawa sejak pagi. Dengan jaringan distribusi dan labor intensive yang luar biasa, budaya segar itu paling tidak diusahakan semaksimal mungkin untuk bisa dijamin.

Pertama-tama rantang-rantang diambil dari pintu rumah yang satu ke pintu rumah yang lain , kemudian dikumpulkan di suatu tempat sebelum dibagikan sesuai dengan lokasi tujuan tempat kerja. Dan semua distribusi mengandalkan sepeda, kecuali untuk tempat tujuan yang jauh yang membutuhkan kereta api. Dan nantinya jaringan kereta api masih didukung lagi dengan distribusi manual. Sorenya, selepas jam kerja rantang-rantang itu dibawa pulang masing-masing. Tradisi rantang segar ini memang tidak ada lagi di kota-kota besar seperti Mumbai, Delhi atau Calcuta, apalgi di perusahaan-perusahaan besar yang cenderung menerapkan faktor penyeragaman sebagai standard mutlak, disamping alasan pragmatis. Kantin-kantinpun tersedia.

Tapi ketika saya dalam perjalanan dari Delhi ke Agra , saat melewati kota-kota kecil dan perkampungan sekitar jam 10 hingga jam 11 siang --menjelang jam makan siang-- terlihat barisan sepeda berbondong-bondong membawa rantang. Sepeda itu sudah dilengkapi dengan rancangan tangkai penggantung rantang dan mereka mengebut mengayuh sepedanya untuk mengejar deadline jam makan siang. Hampir semua rantang-rantang itu, paling tidak menurut penglihatan saya, sama saja. Namun semua pemilik kelak mendapatkan rantang yang memang miliknya, yang memang dimasak sesuai dengan dietnya. Sempat juga terbayang kekacauan yang terjadi jika rantang-rantang itu salah distribusi.

Di Jepang makna budaya segar lebih fleksibel dibanding dengan masakan India. Ini membuat para pekerja membawa sendiri bekal dari rumah, yang disebut 'bento.' Para pria pekerja di kota-kota kecil Jepang, karena sedikit sekali wanita yang bekerja, dengan ringan membawa bento di dalam tempat yang khas ; kontainer plastik yang dibungkus serbet cantik warna warni, tidak ketinggalan sumpitnya! Dan sebenarnya bukan hanya para pekerja yang doyan membawa bento, tapi mewarnai segala kegiatan makan siang di luar rumah.

Di pertokoan tersedia pula bermacam-macam bentuk peralatan makan luar rumah , termasuk ukuran serbet dan pernik-pernik lainnya, mulai dari tempat minum, tempat sendok garpu, sampai tempat tusuk gigi dan sikat gigi seusai makan. Sebagian para pekerja pria itu juga tidak segan-segan menyantap bentonya di taman, walaupun sebagian besar di depan komputer. Orang Jepang memang terkenal dan terbukti gila kerja .

Rutinitas makan siang ini juga mencakup pekerjaan mencuci karena sebelum dibawa pulang bau bekas makanan sudah harus dilenyapkan. Bisa juga karena cuma sekedar takut sama istri. Soalnya tanpa bekal makan siang dari istri dan tanpa tambahan uang saku, selain uang transport dan uang rokok, jelas para semut hitam pekerja Jepang tidak sanggup untuk beli makan siang. Di Jepang para istri menerima 100 % gaji suami dan istrilah yang mengatur rincian pengeluaran suami, termasuk uang saku harian.

Di Indonesia, dulu, sebelum masa kerja lima hari seminggu dan delapan jam sehari, orang masih bisa pulang ke rumah untuk makan siang. Kini makan siang sering juga disediakan kantor tapi jajan di sela-sela makan utama tetap saja ada. Makanya gaji selalu mempertimbangkan komponen uang makan.

Tapi tradisi 'ciesta' di negara-negara Amerika Latin masih dinikmati dengan seksama. Ini mungkin bukan lagi sekedar urusan perut dan makanan rumah, juga rasa kantuk yang menyerang seusai makan siang. Saya sendiri suka membayangkan ayah saya yang dulu selalu pulang ke rumah saat makan siang. Indah dan nikmat. Tapi itu cuma tinggal kenangan saja karena saya berkantor di kawasan segi tiga emas Jakarta, berumah di Jatibening, dan berlalulintas di Jakarta yang tak punya sarana transport umum memadai. Dan tugas saya mendorong saya terlempar jauh dari rumah. Sayapun terperangkap pada ritual makan siang pekerja ekonomi dunia.
***

 

situs nir-laba
untuk
karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000