Makan
siang, yang bercampur dengan salah satu ritual bisnis, sering
tidak mengenal batas-batas. Praktek-praktek gaya hidup yang
kental bau bisnisnya, termasuk makan siang, rasanya sama saja
di Jakarta, Delhi, Tokyo, atau London. Di Jakarta bisa dengan
tempura, sedang di London sambil makan bakmi goreng, walau
memang gado-gado masih belum masuk dalam jaringan ritual bisnis
global.
Di
permukaan nyaris tidak ada lagi yang membedakan perilaku pekerja
ekonomi dunia. Di dalamnya jelas ada perbedaan mencolok, persisnya
ketika makan siang mengabdi pada misi utama ; perut dan sekaligus
pula membawa, sebutlah, budaya perut itu sendiri. Faktor penyeragaman
global sama sekali tidak bisa menyingkirkan faktor lokal, apalagi
di tempat-tempat dan di kalangan orang-orang yang masih berada
dalam lapis kedua, lapis ketiga, atau di luar lapis globalisasi.
Di sini juga ada makan siang dan bekerja. Makan siang yang lain.
Di India, misalnya,
orang-orang amat serius memperhatikan dietnya . Vegitarian ketat,
setengah ketat, non-vegetarian dibungkus dengan fanatisme terhadap
makanan rumah. Wujudnya adalah tradisi rantangan. Makanan rumah
itu dimasak istri atau ibunya, dan harus sampai kantor persis
pada jam makan siang. Untuk mempertahankan budaya makanan segar
rantang memang tidak dibawa sejak pagi. Dengan jaringan distribusi
dan labor intensive yang luar biasa, budaya segar itu paling
tidak diusahakan semaksimal mungkin untuk bisa dijamin.
Pertama-tama rantang-rantang
diambil dari pintu rumah yang satu ke pintu rumah yang lain ,
kemudian dikumpulkan di suatu tempat sebelum dibagikan sesuai
dengan lokasi tujuan tempat kerja. Dan semua distribusi mengandalkan
sepeda, kecuali untuk tempat tujuan yang jauh yang membutuhkan
kereta api. Dan nantinya jaringan kereta api masih didukung lagi
dengan distribusi manual. Sorenya, selepas jam kerja rantang-rantang
itu dibawa pulang masing-masing. Tradisi rantang segar ini memang
tidak ada lagi di kota-kota besar seperti Mumbai, Delhi atau
Calcuta, apalgi di perusahaan-perusahaan besar yang cenderung
menerapkan faktor penyeragaman sebagai standard mutlak, disamping
alasan pragmatis. Kantin-kantinpun tersedia.
Tapi ketika saya
dalam perjalanan dari Delhi ke Agra , saat melewati kota-kota
kecil dan perkampungan sekitar jam 10 hingga jam 11 siang --menjelang
jam makan siang-- terlihat barisan sepeda berbondong-bondong
membawa rantang. Sepeda itu sudah dilengkapi dengan rancangan
tangkai penggantung rantang dan mereka mengebut mengayuh sepedanya
untuk mengejar deadline jam makan siang. Hampir semua rantang-rantang
itu, paling tidak menurut penglihatan saya, sama saja. Namun
semua pemilik kelak mendapatkan rantang yang memang miliknya,
yang memang dimasak sesuai dengan dietnya. Sempat juga terbayang
kekacauan yang terjadi jika rantang-rantang itu salah distribusi.
Di
Jepang makna budaya segar lebih fleksibel dibanding dengan masakan
India. Ini membuat para pekerja membawa sendiri bekal dari rumah,
yang disebut 'bento.' Para pria pekerja di kota-kota kecil Jepang,
karena sedikit sekali wanita yang bekerja, dengan ringan membawa
bento di dalam tempat yang khas ; kontainer plastik yang dibungkus
serbet cantik warna warni, tidak ketinggalan sumpitnya! Dan sebenarnya
bukan hanya para pekerja yang doyan membawa bento, tapi mewarnai
segala kegiatan makan siang di luar rumah.
Di
pertokoan tersedia pula bermacam-macam bentuk peralatan makan
luar rumah , termasuk ukuran serbet dan pernik-pernik lainnya,
mulai dari tempat minum, tempat sendok garpu, sampai tempat tusuk
gigi dan sikat gigi seusai makan. Sebagian para pekerja pria
itu juga tidak segan-segan menyantap bentonya di taman, walaupun
sebagian besar di depan komputer. Orang Jepang memang terkenal
dan terbukti gila kerja .
Rutinitas
makan siang ini juga mencakup pekerjaan mencuci karena sebelum
dibawa pulang bau bekas makanan sudah harus dilenyapkan. Bisa
juga karena cuma sekedar takut sama istri. Soalnya tanpa bekal
makan siang dari istri dan tanpa tambahan uang saku, selain uang
transport dan uang rokok, jelas para semut hitam pekerja Jepang
tidak sanggup untuk beli makan siang. Di Jepang para istri menerima
100 % gaji suami dan istrilah yang mengatur rincian pengeluaran
suami, termasuk uang saku harian.
Di
Indonesia, dulu, sebelum masa kerja lima hari seminggu dan delapan
jam sehari, orang masih bisa pulang ke rumah untuk makan siang.
Kini makan siang sering juga disediakan kantor tapi jajan di
sela-sela makan utama tetap saja ada. Makanya gaji selalu mempertimbangkan
komponen uang makan.
Tapi
tradisi 'ciesta' di negara-negara Amerika Latin masih dinikmati
dengan seksama. Ini mungkin bukan lagi sekedar urusan perut dan
makanan rumah, juga rasa kantuk yang menyerang seusai makan siang.
Saya sendiri suka membayangkan ayah saya yang dulu selalu pulang
ke rumah saat makan siang. Indah dan nikmat. Tapi itu cuma tinggal
kenangan saja karena saya berkantor di kawasan segi tiga emas
Jakarta, berumah di Jatibening, dan berlalulintas di Jakarta
yang tak punya sarana transport umum memadai. Dan tugas saya
mendorong saya terlempar jauh dari rumah. Sayapun terperangkap
pada ritual makan siang pekerja ekonomi dunia.
***