Krisis yang datang
pada bulan April, pada saat mantan Sekjen Hu Yaobang wafat secara
mendadak, sungguh di luar dugaan. Dari buku itu nampak bahwa
para pemimpin yang tergabung dalam Komite Harian terus-menerus
mendapat informasi mengenai gerakan mahasiswa, terutama yang
dari Universitas Peking. Di samping itu, Komite Partai kota Beijing
juga dibuat sibuk. Chen Xitong sebagai Wali kota, dan Li Ximing
sebagai Sekretaris Partai, terus-menerus ditelpon oleh anggota
Komite Harian. Yang menarik dari seluruh lalu-lintas informasi
selama krisis ini adalah bahwa para petinggi Partai itu saling
menelpon dan mengekspresikan pendapatnya. Tatanan hirarki agaknya
tidak penting. Misalnya, Peng Zhen yang bukan lagi anggota Politbiro
ataupun Komite Harian Politbiro, dapat menelpon Chen Xitong dan
memberikan peringatan. "Dengan makin kacaunya kota Beijing seperti
ini, kita mesti waspada terhadap terjadinya 'Revolusi Kebudayaan
yang kedua." Atau, Tian Jiyun sebagai anggota biasa Politbiro
dapat menelpon Sekjen Partai, Zhao Ziyang, dan mengusulkan agar
Zhao menunda rencanan perjalanan ke Korea Utara (23 April).
Suasana saling mengingatkan
ini terus berlangsung di antara pemimpin sementara di Lapangan
Tian'anmen mahasiswa makin lama makin radikal dengan tuntutan-tuntutan
mereka. Ketika demonstrasi mahasiswa makin menjadi-jadi, bahkan
sampai kepada tuntutan untuk membubarkan Partai Komunis Cina, nampak
bahwa pertemuan-pertemuan anggota Politbiro juga makin intensif.
Tapi yang lebih menarik adalah di sekitar akhir April, Deng Xiaoping
mulai makin terlibat. Misalnya, ia ikut terlibat dalam pengambilan
keputusan untuk mengecam demonstrasi mahasiswa sebagai "kerusuhan" (luan).
Pertemuan itu diadakan di rumah kediaman Deng Xiaoping. Harap dicatat
bahwa kediaman Deng ada di luar kompleks kediaman para petinggi
partai yang disebut Zhongnanhai.
Dalam pertemuan itu
Li Peng tidak hanya memberi laporan tentang hiruk-pikuk demonstrasi
mahasiswa, tapi juga menafirkannya. Tafsiran inilah yang ternyata
cukup menggerakan hati Deng. Li Peng: "Poster-poster dan slogan
yang diteriakkan oleh mahasiswa sepanjang jalan bersifat anti-Partai
dan anti-sosialis. Mereka meneriakkan tuntutan dicabutnya kecaman
polusi rohani dan liberalisasi borjuis. Tombak itu sekarang diarahkan
kepada diri Anda dan generasi tua pejuang proletar revolusioner." (hlm.
71)
Deng semakin dibakar
dengan ucapan Li Peng bahwa para mahasiswa telah mendirikan organisasi
mahasiswa ilegal, dan bahwa mahasiswa Universitas Peking telah
mendirikan organisasi meniru Solidaritas Polandia. Beberapa orang
angkat bicara dan menambahkan tafsirannya. Deng akhirnya tiba pada
kesimpulan. "Ini adalah komplotan yang terencana yang bertujuan
menolak Partai Komunis Cina dan sistem sosialis. Kita mesti menerangkan
kepada segenap anggota Partai dan bangsa bahwa kita menghadapi
pertarungan politik yang amat serius. Kita mesti bicara terus terang
menolak kerusuhan ini."
Tajuk rencana yang
diterbitkan oleh Harian Rakyat pada hari berikutnya, 26 April 1989,
ditolak oleh para mahasiswa. Mereka tidak mau dikatakan penyebab "kerusuhan." Tajuk
rencana itu justru menyulut demonstrasi yang lebih besar tidak
hanya di Beijing, tetapi di kota-kota besar lain di seluruh Cina,
dari utara sampai selatan, dari barat hingga timur. Pada ketika
ini "para tetua Partai" lain mulai terlibat: Li Xiannian, Deng
Yingchao, Wang Zhen, Bo Yibo, Song Renqiong. Mereka menanyai Li
Peng tentang apa yang terjadi. Nampak bahwa Li Peng mulai terdesak.
Ketika Zhao Ziyang
pulang dari lawatannya ke Korea Utara (30 April 1989), suasana
di kalangan petinggi Partai masuk fase "panas." Perlahan-lahan
nampak muncul dua pendapat yang menjadi dua kubu: ingin memenuhi
tuntutan mahasiswa dan ingin menghentikan gerakan mahasiswa. Pada
pertemuan Komite Harian Politibiro yang paling lengkap, 1 Mei 1989,
Zhao bertabrakan keras dengan Li, dan keduanya tidak terdamaikan
lagi sejak itu.
Zhao: "Partai harus
mampu menyesuaikan diri dengan jaman baru dan situasi baru dan
belajar bagaimana memakai demokrasi dan hukum untuk menyelesaikan
masalah-masalah baru. ... Singkatnya, kita harus dapat membuat
rakyat itu merasa bahwa di bawah pimpinan Partai Komunis dan sistem
sosialis mereka benar-benar dapat menikmati demokrasi dan kebebasan."
Li: "Negara-negara
sosialis mengadakan reformasi politik ketika konflik dalam masyarakat
itu amat tajam dan ketika Partai tak berdaya apa-apa. Akibatnya
hampir mustahil mengendalikan seluruh proses. Maka langkah pertama
adalah stabilitas. Setelah ada stabilitas, baru kita bicara tentang
reformasi sistem politik." (hlm. 107)
Bentrok antara Li dan
Zhao ini ternyata membelah Komite Harian Politibiro: Qiao Shi dan
Hu Qili ada pada pihak Zhao, sedang Yao Yilin di pihak Li. (hlm.
124) Untuk keluar dari kebuntuan ini, Zhao meminta Yang Shangkun,
sahabat Deng, untuk menyampaikan pikiran-pikirannya kepada Deng.
Ketiganya bahkan sempat bertemu dan mendiskusikan pendekatan apa
yang kiranya paling manjur. Tapi polarisasi di antara para petinggi
tidak terhindarkan lagi. Bukan hanya terjadi di kalangan Politibiro
tetapi juga pada Para Tetua Partai. Deng Xiaoping terombang-ambing
di antaranya.
Kekacauan di sekitar
kunjungan Gorbachev mendorong terjadinya pertemuan Komite Harian
Politibiro pada 17 Mei 1989, yang juga dihadiri oleh delapan
Tetua Partai. Pada ketika itulah Deng Xiaoping menggeser posisinya,
dan melawan Zhao Ziyang. Deng memutuskan diterapkannya UU Darurat
Militer, sebuah keputusan yang merupakan isyarat keadaan makin
gawat. Para yang hadir setuju, tetapi Zhao menentang dan mengatakan: "Memang
lebih baik ada keputusan daripada tidak ada sama sekali. Tetapi,
Kawan Xiaoping, tidak mudah bagi saya untuk menjalankan rencana
ini. Saya menghadapi kesulitan dengan rencana ini." (hlm. 189)
Deng menukas: "Minoritas taat kepada mayoritas," sebuah prinsip
terkenal sentralisme demokrasi. Malam harinya, Komite Harian
mengadakan voting: Li Peng dan Yao Yilin mendukung, Zhao Ziyang
dan Hu Qili menentang, dan Qiao Shi absten.
Saat itu Zhao sudah
tahu bahwa posisinya sudah gawat, tetapi ia makin yakin akan
pendiriannya. Keesokan harinya, Zhao telah menulis surat pengunduran
diri sebagai Sekjen, tetapi surat itu urung dikirimkan karena
dicegah oleh Yang Shangkun. Lalu Zhao masih berusaha untuk negosiasi
dengan Deng soal Tajuk Rencana 26 April 2001 yang ditolak oleh
para mahasiswa. Kembali Yang menasehati agar membatalkan rencana
itu.
Sebuah pertemuan
antara Tetua Partai dan Komite Harian Politbiro terjadi lagi
pada pagi hari 18 Mei 2001. Zhao tidak hadir karena alasan sakit.
Pada ketika itulah para Tetua Partai, termasuk Chen Yun, melabrak
Zhao Ziyang secara terbuka. Ia dipersalahkan untuk dua hal: bahwa
ia membuat pidato di depan delegasi Asian Development Bank yang
isinya bertentangan dengan Tajuk Rencana 26 April, dan bahwa
ia menolak rencana UU Darurat Militer. Ia bahkan dipersalahkan
telah menimbulkan perpecahan dalam tubuh Komite Harian Politbiro.
Selesailah peran Zhao dalam politik Cina. Untuk terakhir kalinya
ia muncul di depan mahasiswa pada malam hari, dan di situ ia
menitikan air mata. "Saya datang terlambat," katanya penuh simpati.
Malam 21 Mei 1989
delapan Tetua Partai bertemu di rumah Deng Xiaoping dengan agenda
utama mencopot Zhao Ziyang. Mereka semua setuju pencopotan Zhao
Ziyang dan sekaligus juga Hu Qili. "Saya senang kaum tua-tua
masih berguna bagi Partai dan negara. Kalau kalian setuju, kita
dapat menyelesaikan masalah Zhao Ziyang, Hu Qili, dan dua anggota
lain dari Sekreitariat dengan cara membebaskan mereka dari tugas
mereka untuk sementara sampai Komite Sentral mengambil keputusan." (hlm.
263) Keputusan para Tetua Partai ini kemudian dibawa kepada pertemuan
besar ketika Komite Harian Politbiro memberi perintah kepada
Komite Harian Konggres Rakyat dan pejabat tinggi negara lainnya.
Di situ dengan jelas dan tegas diumumkan pencopotan Zhao Ziyang.
Sampai di sini menjadi
jelas betapa pentingnya para Tetua Partai yang berjumlah delapan
orang. Li Peng mempersalahkan Zhao ketika kepada Gorbachev dikatakan
bahwa meski Deng telah pensiun, tetapi ia tetap mengambil keputusan-keputusan
penting. Terbukti ucapan Zhao itu tidak salah. Deng Xiaoping
sendiri pernah pula merasa beruntung bahwa ia dan kawan-kawannya
yang sama tua masih "berguna bagi Partai dan negara." Dalam peristiwa-peristiwa
berikutnya para Tetua Partai itu juga yang mengambil prakarsa.
Pengangkatan Jiang Zemin juga dibicarakan di kalangan para Tetua
Partai (hlm. 308), demikian pula keputusan untuk "membersihkan" Lapangan
Tian'anmen dari para demonstran pada subuh 4 Juni. (hlm. 354).
Para Tetua Partai
dalam buku ini nampak masih sangat aktif meskipun mereka rata-rata
sudah berumur lebih dari 80 tahun. Ketika mereka mendengar bahwa
demonstrasi mahasiswa makin besar dan makin radikal, para kakek
itu sempat meluap-luap melepaskan amarah mereka.
Bo Yibo, misalnya,
mengatakan: "Kita harus mencegah gerakan mahasiswa menjadi lebih
besar! Mahasiswa itu tengah menjalin jaringan di seluruh negeri.
Ini perkara serius! Kita tidak akan membiarkan tragedi Revolusi
Kebudayaan berulang lagi."
Wang Zhen: "Bajingan
tengik. Mereka pikir mereka itu siapa? Menduduki tanah suci Tian'anmen
begitu lama! Mereka memang cari penyakit. Kita mesti kirim pasukan
sekarang juga, dan tnagkap orang-orang kontra-revolusi, Kawan
Xiaoping! Apa gunanya Pasukan Pembebasan Rakyat? Apa gunanya
pasukan UU Darurat Perang? Mereka tidak boleh hanya duduk-duduk
dan makan. ... Siapa saja yang menggulingkan Partai Komunis pantas
dihukum mati dan tak usah dikubur."
Deng Xiaoping, ketika
memberikan keputusannya, juga tidak kalah keras: "Sementara kita
menjalankan pembersihan, kita mesti menjelaskan kepada penduduk
dan mahasiswa, meminta mereka untuk pergi, berusaha sebaik-baiknya
untuk membujuk mereka. Tetapi jika mereka tidak mau pergi, tanggung
jawab ada di tangan mereka."
Di luar para Tetua
Partai, Li Peng nampak sebagai orang yang kokoh pada pendiriannya.
Sudah sejak awal dia ingin menghentikan demonstrasi mahasiswa,
tetapi setiap kali ia harus mengalah kepada Zhao Ziyang. Li Peng
tidak setuju dengan pendekatan damai dari Zhao. Baginya yang
penting adalah stabilitas. Ketika nampak bahwa Zhao makin terdesak,
Li Peng makin berani mendesak bahkan mengucapkan kata-kata kasar. "Saya
pikir Kawan Ziyang harus memikul tanggung jawab atas terjadinya
eskalasi gerakan mahasiswa, maupun kenyataan bahwa situasi menjadi
tak terkendali." (hlm. 185)
Lip Peng : "Saya
ingin bicara tentang Kawan Zhao Ziyang. Alasan Kawan Zhao Ziyang
tidak datang pada hari ini adalah karena ia menentang UU Darurat
Militer. Ia memberi semangat kepada mahasiswa sejak awal. Ketika
ia pulang dari Korea Utara, ia memberikan pidato Empat Mei kepada
Asian Development Bank tanpa minta pendapat orang lain dalam
Komite Harian. ... Sejak saat itu kami melihat dengan jelas bahwa
Kawan Zhao Ziyang punya pendapat yang berbeda dari pendapat Kawan
Xiaoping maupun pendapat mayoritas kawan dalam Komite Harian.
Setiap orang dengan pengalaman politik dapat melihat hal ini,
pasti mereka yang menyebabkan kerusuhan juga dapat melihatnya." (hlm.
205)
Li Peng memang selalu
yang pertama mendukung kebijakan keras dari para Tetua Partai.
Termasuk di antaranya keputusan untuk membersihkan Lapangan Tian'anmen.
Tetapi, menariknya, kendati perannya yang sedemikian penting itu,
Li Peng tidak masuk dalam nominasi untuk menggantikan Zhao sebagai
Sekretaris Jendral. Menurut urutan hirarki Partai, Li Peng adalah
orang kedua sesudah Zhao, semestinyaa ia lah yang naik menggantikan
Zhao. Kalau catatan ini dapat dipercaya, di sini nampak bahwa Li
Peng sebenarnya bukan tokoh yang dapat diandalkan oleh para Tetua
Partai. Apa salah Li Peng? Tak ada yang tahu persis.
Buku Tian'anmen Papers
ini merupakan hasil seleksi dari sebuah onggokan besar dokumen
yang diselundupkan ke Amerika Serikat. Ada laporan dari daerah,
laporan dari tentara, laporan intelijens, notulen rapat, surat
pribadi, surat keputusan resmi, dsb. Benar-benar sebuah dokumen
yang campur aduk, yang bertanggal antara bulan April 1989 hingga
akhir Juni 1989. Pembawa dokumen itu bernama Zhang Liang, yang
tentu sebuah nama samaran.
Editor dari edisi bahasa
Inggris ini adalah seorang profesor ilmu politik dari Columbia
University, Andrew Nathan, dan seorang profesor sastra Cina dari
Princeton University, Perry Link. Mereka dibantu oleh Orville Schell
dari University of California, Berkeley. Ketika dokumen itu jatuh
ke tangan Andrew Nathan, sudah barang tentu ia tidak begitu saja
percaya akan otentisitas dokumen itu. Ia tentu masih ingat pengalaman
masa lalu ketika cerita tentang Lin Biao yang dikira benar ternyata
hanya isapan jempol (The Conspiracy and Death of Lin Biao). Demikian
pula cerita tentang kehidupan pribadi Mao Zedong yang konon ditulis
oleh dokter pribadinya (The Private Life of Chairman Mao). Kalau
sampai ia terkecoh, alangkah malunya dia. Karirnya hancur, begitu
pula nama universitas yang disandangnya.
Tak jelas berapa lama,
cuma dikatakan "selama beberapa tahun," dokumen itu diperiksa dengan
teliti. Tanggal, tempat, nama orang, peristiwa, semua diperiksa
dan dicocokkan. Nathan tiba pada kesimpulan bahwa dokumen-dokumen
itu genuine. Kalau penilaian Nathan ini dapat diterima, dokumen
ini benar-benar telah membuka tabir gelap yang menyelimuti proses
pengambilan keputusan di kalangan pejabat tinggi di Cina. Ternyata
struktur politik formal itu tidak penting. Yang penting adalah
Deng Xiaoping dan para Tetua Partai, sekalipun mereka telah di
luar struktur Partai maupun Negara. Bukan hanya itu, Li Peng ternyata
merupakan orang kunci di balik kebijakan keras Partai. Tak meleset
bahwa para mahasiswa pada waktu itu meneriakkan slogan "Ganyang
Deng Xiaoping!" "Ganyang Li Peng!"
***