sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 6, Rabu 21 Februari 2001

ceritanet
          situs nir-laba untuk berbagi karya tulis

 

esei Ternyata Deng Xiaoping Dan Li Peng
I Wibowo

Gempar! Itulah reaksi segera sesudah terbitnya buku The Tian'anmen Papers awal tahun 2001. Kegemparan ini masuk akal karena dalam buku ini untuk pertama kalinya diungkap segala "isi perut" dalam lingkaran paling elit di Cina. Siapa nyana bahwa pada suatu hari akan ada orang yang dapat memperlihatkan bagaimana para pemimpin tertinggi di Cina yang jumlahnya hanya satu dosin itu berdebat mengenai perkara-perkara sensitif. Tak pelak lagi buku ini dapat disandingkan dengan buku-buku yang membocorkan rahasia.

Persoalannya, peristiwa yang terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu itu hingga kini memang tetap diliputi kabut misteri. Misalnya, siapa sebenarnya yang memberi perintah untuk mengirim tank-tank ke Lapangan Tian'anmen? Apakah benar Deng Xiaoping? Ataukah Li Peng? Lalu, apakah dalam pengambilan keputusan itu, benar diadakan voting? Siapa-siapa saja yang menolak penggunaan kekerasan terhadap mahasiswa? Atau, ini merupakan hasil keputusan konsensus dari Dewan Harian Politbiro? Yang tak kalah menarik: apa sebenarnya kesalahan Zhao Ziyang? Sebagai seorang Sekjen Partai, sebagai orang satu Partai, mengapa ia begitu mudah dijatuhkan?

Menurut struktur kekuasaan di Cina, kekuasaan tertinggi tidak ada di "Konggres Rakyat Nasional" sebagaimana ditulis dalam UUD mereka. Kekuasaan tertinggi ada di tangan Dewan Harian Politbiro (chang wei zhengzhi ju), yang diketuai oleh Sekretaris Jendral. Pada tahun 1989 itu dewan yang berkuasa itu terdiri dari Zhao Ziyang, Li Peng, Qiao Shi, Hu Qili, dan Yao Yilin. Pada ketika itu Zhao Ziyang memegang tampuk pimpinan tertinggi partai, yaitu Sekjen Partai. Di luar lima orang ini ada 10 orang lain yang bersama-sama dengan lima yang tertinggi itu membentuk yang disebut "Politbiro." Menurut kebiasaan Partai, Politbiro harus bersidang untuk menghadapi persoalan-persoalan mendesak. Dua nama penting dari Politbiro adalah Wan Li dan Yang Shangkun, keduanya dapat dianggap sebagai seangkatan dengan Deng Xiaoping.

Di mana Deng Xiaoping pada waktu itu? Tokoh tua ini sebenarnya sudah pensiun, tidak berada dalam struktur resmi Partai. Ia mengundurkan diri sebagai anggota Politbiro sejak tahun 1987 (Konggres XIII), dan hanya memegang Ketua Komite Urusan Militer yang masih bagian dalam struktur Partai. Dengan kata lain, Deng Xiaoping sebenarnya tidak mengurus kehidupan Partai sehari-hari. Demikian pula "orang tua" lainnya yang ikut lengser bersama Deng, seperti Chen Yun, Ye Jianying, Li Xiannian, dsb. Meski demikian, Deng Xiaoping masih dianggap sebagai seorang yang punya kekuasaan besar, yang sering diacu oleh pemimpin generasi yang lebih muda.

Krisis yang datang pada bulan April, pada saat mantan Sekjen Hu Yaobang wafat secara mendadak, sungguh di luar dugaan. Dari buku itu nampak bahwa para pemimpin yang tergabung dalam Komite Harian terus-menerus mendapat informasi mengenai gerakan mahasiswa, terutama yang dari Universitas Peking. Di samping itu, Komite Partai kota Beijing juga dibuat sibuk. Chen Xitong sebagai Wali kota, dan Li Ximing sebagai Sekretaris Partai, terus-menerus ditelpon oleh anggota Komite Harian. Yang menarik dari seluruh lalu-lintas informasi selama krisis ini adalah bahwa para petinggi Partai itu saling menelpon dan mengekspresikan pendapatnya. Tatanan hirarki agaknya tidak penting. Misalnya, Peng Zhen yang bukan lagi anggota Politbiro ataupun Komite Harian Politbiro, dapat menelpon Chen Xitong dan memberikan peringatan. "Dengan makin kacaunya kota Beijing seperti ini, kita mesti waspada terhadap terjadinya 'Revolusi Kebudayaan yang kedua." Atau, Tian Jiyun sebagai anggota biasa Politbiro dapat menelpon Sekjen Partai, Zhao Ziyang, dan mengusulkan agar Zhao menunda rencanan perjalanan ke Korea Utara (23 April).

Suasana saling mengingatkan ini terus berlangsung di antara pemimpin sementara di Lapangan Tian'anmen mahasiswa makin lama makin radikal dengan tuntutan-tuntutan mereka. Ketika demonstrasi mahasiswa makin menjadi-jadi, bahkan sampai kepada tuntutan untuk membubarkan Partai Komunis Cina, nampak bahwa pertemuan-pertemuan anggota Politbiro juga makin intensif. Tapi yang lebih menarik adalah di sekitar akhir April, Deng Xiaoping mulai makin terlibat. Misalnya, ia ikut terlibat dalam pengambilan keputusan untuk mengecam demonstrasi mahasiswa sebagai "kerusuhan" (luan). Pertemuan itu diadakan di rumah kediaman Deng Xiaoping. Harap dicatat bahwa kediaman Deng ada di luar kompleks kediaman para petinggi partai yang disebut Zhongnanhai.

Dalam pertemuan itu Li Peng tidak hanya memberi laporan tentang hiruk-pikuk demonstrasi mahasiswa, tapi juga menafirkannya. Tafsiran inilah yang ternyata cukup menggerakan hati Deng. Li Peng: "Poster-poster dan slogan yang diteriakkan oleh mahasiswa sepanjang jalan bersifat anti-Partai dan anti-sosialis. Mereka meneriakkan tuntutan dicabutnya kecaman polusi rohani dan liberalisasi borjuis. Tombak itu sekarang diarahkan kepada diri Anda dan generasi tua pejuang proletar revolusioner." (hlm. 71)

Deng semakin dibakar dengan ucapan Li Peng bahwa para mahasiswa telah mendirikan organisasi mahasiswa ilegal, dan bahwa mahasiswa Universitas Peking telah mendirikan organisasi meniru Solidaritas Polandia. Beberapa orang angkat bicara dan menambahkan tafsirannya. Deng akhirnya tiba pada kesimpulan. "Ini adalah komplotan yang terencana yang bertujuan menolak Partai Komunis Cina dan sistem sosialis. Kita mesti menerangkan kepada segenap anggota Partai dan bangsa bahwa kita menghadapi pertarungan politik yang amat serius. Kita mesti bicara terus terang menolak kerusuhan ini."

Tajuk rencana yang diterbitkan oleh Harian Rakyat pada hari berikutnya, 26 April 1989, ditolak oleh para mahasiswa. Mereka tidak mau dikatakan penyebab "kerusuhan." Tajuk rencana itu justru menyulut demonstrasi yang lebih besar tidak hanya di Beijing, tetapi di kota-kota besar lain di seluruh Cina, dari utara sampai selatan, dari barat hingga timur. Pada ketika ini "para tetua Partai" lain mulai terlibat: Li Xiannian, Deng Yingchao, Wang Zhen, Bo Yibo, Song Renqiong. Mereka menanyai Li Peng tentang apa yang terjadi. Nampak bahwa Li Peng mulai terdesak.

Ketika Zhao Ziyang pulang dari lawatannya ke Korea Utara (30 April 1989), suasana di kalangan petinggi Partai masuk fase "panas." Perlahan-lahan nampak muncul dua pendapat yang menjadi dua kubu: ingin memenuhi tuntutan mahasiswa dan ingin menghentikan gerakan mahasiswa. Pada pertemuan Komite Harian Politibiro yang paling lengkap, 1 Mei 1989, Zhao bertabrakan keras dengan Li, dan keduanya tidak terdamaikan lagi sejak itu.

Zhao: "Partai harus mampu menyesuaikan diri dengan jaman baru dan situasi baru dan belajar bagaimana memakai demokrasi dan hukum untuk menyelesaikan masalah-masalah baru. ... Singkatnya, kita harus dapat membuat rakyat itu merasa bahwa di bawah pimpinan Partai Komunis dan sistem sosialis mereka benar-benar dapat menikmati demokrasi dan kebebasan."

Li: "Negara-negara sosialis mengadakan reformasi politik ketika konflik dalam masyarakat itu amat tajam dan ketika Partai tak berdaya apa-apa. Akibatnya hampir mustahil mengendalikan seluruh proses. Maka langkah pertama adalah stabilitas. Setelah ada stabilitas, baru kita bicara tentang reformasi sistem politik." (hlm. 107)

Bentrok antara Li dan Zhao ini ternyata membelah Komite Harian Politibiro: Qiao Shi dan Hu Qili ada pada pihak Zhao, sedang Yao Yilin di pihak Li. (hlm. 124) Untuk keluar dari kebuntuan ini, Zhao meminta Yang Shangkun, sahabat Deng, untuk menyampaikan pikiran-pikirannya kepada Deng. Ketiganya bahkan sempat bertemu dan mendiskusikan pendekatan apa yang kiranya paling manjur. Tapi polarisasi di antara para petinggi tidak terhindarkan lagi. Bukan hanya terjadi di kalangan Politibiro tetapi juga pada Para Tetua Partai. Deng Xiaoping terombang-ambing di antaranya.

Kekacauan di sekitar kunjungan Gorbachev mendorong terjadinya pertemuan Komite Harian Politibiro pada 17 Mei 1989, yang juga dihadiri oleh delapan Tetua Partai. Pada ketika itulah Deng Xiaoping menggeser posisinya, dan melawan Zhao Ziyang. Deng memutuskan diterapkannya UU Darurat Militer, sebuah keputusan yang merupakan isyarat keadaan makin gawat. Para yang hadir setuju, tetapi Zhao menentang dan mengatakan: "Memang lebih baik ada keputusan daripada tidak ada sama sekali. Tetapi, Kawan Xiaoping, tidak mudah bagi saya untuk menjalankan rencana ini. Saya menghadapi kesulitan dengan rencana ini." (hlm. 189) Deng menukas: "Minoritas taat kepada mayoritas," sebuah prinsip terkenal sentralisme demokrasi. Malam harinya, Komite Harian mengadakan voting: Li Peng dan Yao Yilin mendukung, Zhao Ziyang dan Hu Qili menentang, dan Qiao Shi absten.

Saat itu Zhao sudah tahu bahwa posisinya sudah gawat, tetapi ia makin yakin akan pendiriannya. Keesokan harinya, Zhao telah menulis surat pengunduran diri sebagai Sekjen, tetapi surat itu urung dikirimkan karena dicegah oleh Yang Shangkun. Lalu Zhao masih berusaha untuk negosiasi dengan Deng soal Tajuk Rencana 26 April 2001 yang ditolak oleh para mahasiswa. Kembali Yang menasehati agar membatalkan rencana itu.

Sebuah pertemuan antara Tetua Partai dan Komite Harian Politbiro terjadi lagi pada pagi hari 18 Mei 2001. Zhao tidak hadir karena alasan sakit. Pada ketika itulah para Tetua Partai, termasuk Chen Yun, melabrak Zhao Ziyang secara terbuka. Ia dipersalahkan untuk dua hal: bahwa ia membuat pidato di depan delegasi Asian Development Bank yang isinya bertentangan dengan Tajuk Rencana 26 April, dan bahwa ia menolak rencana UU Darurat Militer. Ia bahkan dipersalahkan telah menimbulkan perpecahan dalam tubuh Komite Harian Politbiro. Selesailah peran Zhao dalam politik Cina. Untuk terakhir kalinya ia muncul di depan mahasiswa pada malam hari, dan di situ ia menitikan air mata. "Saya datang terlambat," katanya penuh simpati.

Malam 21 Mei 1989 delapan Tetua Partai bertemu di rumah Deng Xiaoping dengan agenda utama mencopot Zhao Ziyang. Mereka semua setuju pencopotan Zhao Ziyang dan sekaligus juga Hu Qili. "Saya senang kaum tua-tua masih berguna bagi Partai dan negara. Kalau kalian setuju, kita dapat menyelesaikan masalah Zhao Ziyang, Hu Qili, dan dua anggota lain dari Sekreitariat dengan cara membebaskan mereka dari tugas mereka untuk sementara sampai Komite Sentral mengambil keputusan." (hlm. 263) Keputusan para Tetua Partai ini kemudian dibawa kepada pertemuan besar ketika Komite Harian Politbiro memberi perintah kepada Komite Harian Konggres Rakyat dan pejabat tinggi negara lainnya. Di situ dengan jelas dan tegas diumumkan pencopotan Zhao Ziyang.

Sampai di sini menjadi jelas betapa pentingnya para Tetua Partai yang berjumlah delapan orang. Li Peng mempersalahkan Zhao ketika kepada Gorbachev dikatakan bahwa meski Deng telah pensiun, tetapi ia tetap mengambil keputusan-keputusan penting. Terbukti ucapan Zhao itu tidak salah. Deng Xiaoping sendiri pernah pula merasa beruntung bahwa ia dan kawan-kawannya yang sama tua masih "berguna bagi Partai dan negara." Dalam peristiwa-peristiwa berikutnya para Tetua Partai itu juga yang mengambil prakarsa. Pengangkatan Jiang Zemin juga dibicarakan di kalangan para Tetua Partai (hlm. 308), demikian pula keputusan untuk "membersihkan" Lapangan Tian'anmen dari para demonstran pada subuh 4 Juni. (hlm. 354).

Para Tetua Partai dalam buku ini nampak masih sangat aktif meskipun mereka rata-rata sudah berumur lebih dari 80 tahun. Ketika mereka mendengar bahwa demonstrasi mahasiswa makin besar dan makin radikal, para kakek itu sempat meluap-luap melepaskan amarah mereka.

Bo Yibo, misalnya, mengatakan: "Kita harus mencegah gerakan mahasiswa menjadi lebih besar! Mahasiswa itu tengah menjalin jaringan di seluruh negeri. Ini perkara serius! Kita tidak akan membiarkan tragedi Revolusi Kebudayaan berulang lagi."

Wang Zhen: "Bajingan tengik. Mereka pikir mereka itu siapa? Menduduki tanah suci Tian'anmen begitu lama! Mereka memang cari penyakit. Kita mesti kirim pasukan sekarang juga, dan tnagkap orang-orang kontra-revolusi, Kawan Xiaoping! Apa gunanya Pasukan Pembebasan Rakyat? Apa gunanya pasukan UU Darurat Perang? Mereka tidak boleh hanya duduk-duduk dan makan. ... Siapa saja yang menggulingkan Partai Komunis pantas dihukum mati dan tak usah dikubur."

Deng Xiaoping, ketika memberikan keputusannya, juga tidak kalah keras: "Sementara kita menjalankan pembersihan, kita mesti menjelaskan kepada penduduk dan mahasiswa, meminta mereka untuk pergi, berusaha sebaik-baiknya untuk membujuk mereka. Tetapi jika mereka tidak mau pergi, tanggung jawab ada di tangan mereka."

Di luar para Tetua Partai, Li Peng nampak sebagai orang yang kokoh pada pendiriannya. Sudah sejak awal dia ingin menghentikan demonstrasi mahasiswa, tetapi setiap kali ia harus mengalah kepada Zhao Ziyang. Li Peng tidak setuju dengan pendekatan damai dari Zhao. Baginya yang penting adalah stabilitas. Ketika nampak bahwa Zhao makin terdesak, Li Peng makin berani mendesak bahkan mengucapkan kata-kata kasar. "Saya pikir Kawan Ziyang harus memikul tanggung jawab atas terjadinya eskalasi gerakan mahasiswa, maupun kenyataan bahwa situasi menjadi tak terkendali." (hlm. 185)

Lip Peng : "Saya ingin bicara tentang Kawan Zhao Ziyang. Alasan Kawan Zhao Ziyang tidak datang pada hari ini adalah karena ia menentang UU Darurat Militer. Ia memberi semangat kepada mahasiswa sejak awal. Ketika ia pulang dari Korea Utara, ia memberikan pidato Empat Mei kepada Asian Development Bank tanpa minta pendapat orang lain dalam Komite Harian. ... Sejak saat itu kami melihat dengan jelas bahwa Kawan Zhao Ziyang punya pendapat yang berbeda dari pendapat Kawan Xiaoping maupun pendapat mayoritas kawan dalam Komite Harian. Setiap orang dengan pengalaman politik dapat melihat hal ini, pasti mereka yang menyebabkan kerusuhan juga dapat melihatnya." (hlm. 205)

Li Peng memang selalu yang pertama mendukung kebijakan keras dari para Tetua Partai. Termasuk di antaranya keputusan untuk membersihkan Lapangan Tian'anmen. Tetapi, menariknya, kendati perannya yang sedemikian penting itu, Li Peng tidak masuk dalam nominasi untuk menggantikan Zhao sebagai Sekretaris Jendral. Menurut urutan hirarki Partai, Li Peng adalah orang kedua sesudah Zhao, semestinyaa ia lah yang naik menggantikan Zhao. Kalau catatan ini dapat dipercaya, di sini nampak bahwa Li Peng sebenarnya bukan tokoh yang dapat diandalkan oleh para Tetua Partai. Apa salah Li Peng? Tak ada yang tahu persis.

Buku Tian'anmen Papers ini merupakan hasil seleksi dari sebuah onggokan besar dokumen yang diselundupkan ke Amerika Serikat. Ada laporan dari daerah, laporan dari tentara, laporan intelijens, notulen rapat, surat pribadi, surat keputusan resmi, dsb. Benar-benar sebuah dokumen yang campur aduk, yang bertanggal antara bulan April 1989 hingga akhir Juni 1989. Pembawa dokumen itu bernama Zhang Liang, yang tentu sebuah nama samaran.

Editor dari edisi bahasa Inggris ini adalah seorang profesor ilmu politik dari Columbia University, Andrew Nathan, dan seorang profesor sastra Cina dari Princeton University, Perry Link. Mereka dibantu oleh Orville Schell dari University of California, Berkeley. Ketika dokumen itu jatuh ke tangan Andrew Nathan, sudah barang tentu ia tidak begitu saja percaya akan otentisitas dokumen itu. Ia tentu masih ingat pengalaman masa lalu ketika cerita tentang Lin Biao yang dikira benar ternyata hanya isapan jempol (The Conspiracy and Death of Lin Biao). Demikian pula cerita tentang kehidupan pribadi Mao Zedong yang konon ditulis oleh dokter pribadinya (The Private Life of Chairman Mao). Kalau sampai ia terkecoh, alangkah malunya dia. Karirnya hancur, begitu pula nama universitas yang disandangnya.

Tak jelas berapa lama, cuma dikatakan "selama beberapa tahun," dokumen itu diperiksa dengan teliti. Tanggal, tempat, nama orang, peristiwa, semua diperiksa dan dicocokkan. Nathan tiba pada kesimpulan bahwa dokumen-dokumen itu genuine. Kalau penilaian Nathan ini dapat diterima, dokumen ini benar-benar telah membuka tabir gelap yang menyelimuti proses pengambilan keputusan di kalangan pejabat tinggi di Cina. Ternyata struktur politik formal itu tidak penting. Yang penting adalah Deng Xiaoping dan para Tetua Partai, sekalipun mereka telah di luar struktur Partai maupun Negara. Bukan hanya itu, Li Peng ternyata merupakan orang kunci di balik kebijakan keras Partai. Tak meleset bahwa para mahasiswa pada waktu itu meneriakkan slogan "Ganyang Deng Xiaoping!" "Ganyang Li Peng!"
***

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet
 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar