"Ya, itu disebut
orang dimana-mana. Tadi aku melihat dari jendela kereta api --kupikir,
adakah diantero dunia yang lebih berharga dari keluarga, penghidupan
dan pekerjaan yang damai? Selebihnya tiada kita kuasai. Menurut gelagatnya,
akan datang jaman susah. Ada orang yang hendak keluar, katanya ke Selatan
ke Kaukasus atau lebih jauh lagi. Aku tak akan ingin begitu. Lelaki
dewasa diharapkan menunjukkan gigi dan ikut dengan apa saja yang datang
ke tanah air. Tapi lain halnya dengan kau. Kudoakan, kau tak akan mengalami
semuanya. Ingin kukirim kau ke tempat yang aman --boleh jadi Finlandia.
Tapi jika kita bergunjing setengah jam pada tiap langkah, kita tak akan
tiba di atas."
"Tunggu
sebentar. Aku lupa sama sekali mengatakan. Kudapat kabar hebat untukmu.
Nikolay Nikolayevich sudah pulang."
"Siapa
itu Nikolayevich?"
"Paman
Kolya."
"Tonya!"
Mustahil! Bagaimana mungkin?"
"Betul.
Ia dulu di Swiss. Jalannya memutar lewat London, melalui Finlandia."
"Tonya!
Kau tak main-main? Kau ketemu dia? Dimana ia? Bisa kita jumpai dia sekarang
juga?"
"Jangan
buru-buru. Ia tinggal di rumah orang di dusun. Ia janji akan kembali
lusa. Ia banyak berubah. Kau bakal kecewa. Di tengah jalan ia singgah
di Petesburg, ia jadi bolsjewik. Ayah sampai parau berdebat dengan dia.
Kita agaknya macet pada tiap langkah. Mari. Jadi kau dengar pula jaman
susah akan datang. Apa kata orang? Kesulitan, bahaya, ketidaktentuan?"
"Pendirianku
begitu juga. Biarlah. Kita akan tahan, bukan itulah akhir segala. Kita
tunggu saja, tak ubahnya dengan orang-orang lain."
"Kata
orang tak akan ada kayu bakar, air atau lampu. Uang dibatalkan. Perbekalan
tak masuk. Tapi kita berhenti lagi! Ayo. Dengar, konon dijual tungku
besi yang hebat di Arbat. Kecil. Bisa bakar surat kabar untuk memasak.
Kutahu alamatnya. Kita mesti beli sebuah, sebelum habis semua."
"Benar.
jadilah. Akal baik itu. Tapi Paman Kolya, coba pikir! Tak dapat kulupakan."
"Kututurkan
saja maksudnya. Di puncak rumah kita pisahkan satu sudut, umpamanya
dua-tiga kamar yang bersambungan itu untuk kita sendiri, ayah dan Sahsa
bersama Nyusha, sisanya kita lepaskan saja. Kita pasang satu sekatan
dan bikin pintu sendiri seperti dalam flat. Salah satu perapian logam
itu kita pasang di tengah kamar, pipanya lewat ke jendela, semua cucian,
masakan, hiburan, semuanya kita kerjakan dalam satu kamar ini. Dengan
begitu kita pergunakan bahan bakar sehemat-hematnya dan siapa tahulah,
dengan kemurahan Tuhan akan kita lewati musim dingin."
"Tentu
kita lewati. Itu tak soal. Baguslah gagasanmu itu. Dan coba dengarkan!
Rumah ini kita bikin hangat, kita masak bebek dan kita undang Paman
Kolya."
"Bagus
sekali. Akan kuminta Gordon membawa sedikit minuman keras. Dapat dimbilnya
dari salah satu laboratorium. Tengok, inilah kamar yang kupikirkan tadi.
Setuju? Letakkan tasmu, pergi ke bawah dan ambillah kopormu. Bisa kita
minta Dudorov dan Shura Schlesinger juga, kalau rumah hangat nanti.
Tak keberatan? Belum lupa, dimana kakusnya? Taruhlah sedikit obat untuk
disinfeksi. Sedang kau buat itu, aku ke Sasha dan kusuruh Nyusha ke
bawah, kalau mau selesai kupanggil kau."
*** bersambung