edisi 69
rabu 7 januari 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 69
memoar D Seks
Hendri Kremer

memoar Catatan Tak Selesai
Selma Hayek

memoar D Seks
Hendri Kremer

laporan Sepakbola Mistis
Dodiek Adyttya Dwiwanto

cerpen Di Malam Ujung Tahun
Syam Asinar Radjam


ceritanet

©listonpsiregar2000

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

''Syukur ia pergi! Nah, kau boleh dengarkan dia kalau mau, tapi percayalah ia cuma main sandiwara. Kita bicara dengannya dan kita anggap dia orang dusun tolol, nampaknya dungu amat, tapi sementara itu diam-diam diasahnya goloknya --hanya saja siongok kurang ajar ini belum menentukan benar-benar untuk siapa goloknya itu."

"Apa itu tak terlalu dicari-cari? Kurasa ia mabuk, cuma itu soalnya."

"Aku ingin tahu kapan siumannya. Betapa juga aku jemu dengan dia. Yang kukuatirkan ialah Sasha mungkin tidur lagi sebelum kau lihat. Asal saja tak ada kutu-kutu tyhpus di kereta api... Kau tak bawa kutu-kutu?"

"Kukira tidak. Kompartemenku mewah behar-benar dari sebelum perang. Tapi baiklah aku cuci saja cepat-cepat. Nantinya aku cuci dengan seksama. Jalan mana? Tak lewat kamar tamu lagi?"

"O ya, kau belum tahu. Aku timbang-timbang dengan ayah dan akhirnya kami putuskan memberikan sebagian tingkat bawah kepada Akademi Pertanian,. Terlalu luas juga untuk dipanaskan di musim dingin. Jadi kami tawarkan keapda mereka. Belum dipakai, tapi mereka tempatkan di situ perpustakaan, herbarium serta koleksi biji-jbiji, hanya kuharap tak akan masuk tikus-tikus dengan adanya biji-biji itu, sebab padi-padian bukan? Tapi sekarang kamar-kamar itu dijaga dengan rapih sekali. O ya kita tak lagi memakai nama kamar, itu sekarang disebut ruang hidup. Mari lewat sini. Jangan pelan-pelan di saluran asap ini. Kita naik tangga belakang. Ikutlah, kutunjukan jalannya."

"Aku senang sekali, kamar-kamar ini kau serahkan. Rumah sakit yang kudiami tempo hari juga rumah partikelir. Deretan kamar tak berujung yang masih ada lantai parketnya sedikit. Dalam pot-pot ada palma yang menjulurkan cakar-cakarnya di atas ranjang malam hantu, sampai ada beberapa orang luka-luka dari daerah pertempuan yang bangun menjerit-jerit --tentunya mereka tak lagi normal sepenuhnya-- lalu pohon-pohon kami pindahkan. Yang kumaksudkan ialah ada sesuatu yang tak sehat dalam cara hidup orang kaya. Kelimpahan barang-barang yang tak beguna. Terlampau banyak perabot dan kamar dan kemegahan dan ekspresi diri. Aku senang sekali mengurangi kamar-kamar kita. Mestinya kita lepaskan lebih banyak lagi."

"Itu bungkusan apa? Apa yang mencolok keluar, rupanya seperti paruh burung. O, bebek! Bagus! Bebek jantan liar! Di mana kau dapat? Hampir tak kupercaya mataku. Harganya tah bernilai sekarang."

"Pemberian orang di kereta api. Kelak kututurkan ceritanya panjang. Apa mesti kubuat? Kutaruh saja di dapur?"

"Ya, tentu saja. Segera kusuruh si Nyusha nanti untuk mencabut bulunya dan mencucinya. Kata orang musim dingin akan timbul macam-macam kengerian --kelaparan hawa dingin."

 

"Ya, itu disebut orang dimana-mana. Tadi aku melihat dari jendela kereta api --kupikir, adakah diantero dunia yang lebih berharga dari keluarga, penghidupan dan pekerjaan yang damai? Selebihnya tiada kita kuasai. Menurut gelagatnya, akan datang jaman susah. Ada orang yang hendak keluar, katanya ke Selatan ke Kaukasus atau lebih jauh lagi. Aku tak akan ingin begitu. Lelaki dewasa diharapkan menunjukkan gigi dan ikut dengan apa saja yang datang ke tanah air. Tapi lain halnya dengan kau. Kudoakan, kau tak akan mengalami semuanya. Ingin kukirim kau ke tempat yang aman --boleh jadi Finlandia. Tapi jika kita bergunjing setengah jam pada tiap langkah, kita tak akan tiba di atas."

"Tunggu sebentar. Aku lupa sama sekali mengatakan. Kudapat kabar hebat untukmu. Nikolay Nikolayevich sudah pulang."

"Siapa itu Nikolayevich?"

"Paman Kolya."

"Tonya!" Mustahil! Bagaimana mungkin?"

"Betul. Ia dulu di Swiss. Jalannya memutar lewat London, melalui Finlandia."

"Tonya! Kau tak main-main? Kau ketemu dia? Dimana ia? Bisa kita jumpai dia sekarang juga?"

"Jangan buru-buru. Ia tinggal di rumah orang di dusun. Ia janji akan kembali lusa. Ia banyak berubah. Kau bakal kecewa. Di tengah jalan ia singgah di Petesburg, ia jadi bolsjewik. Ayah sampai parau berdebat dengan dia. Kita agaknya macet pada tiap langkah. Mari. Jadi kau dengar pula jaman susah akan datang. Apa kata orang? Kesulitan, bahaya, ketidaktentuan?"

"Pendirianku begitu juga. Biarlah. Kita akan tahan, bukan itulah akhir segala. Kita tunggu saja, tak ubahnya dengan orang-orang lain."

"Kata orang tak akan ada kayu bakar, air atau lampu. Uang dibatalkan. Perbekalan tak masuk. Tapi kita berhenti lagi! Ayo. Dengar, konon dijual tungku besi yang hebat di Arbat. Kecil. Bisa bakar surat kabar untuk memasak. Kutahu alamatnya. Kita mesti beli sebuah, sebelum habis semua."

"Benar. jadilah. Akal baik itu. Tapi Paman Kolya, coba pikir! Tak dapat kulupakan."

"Kututurkan saja maksudnya. Di puncak rumah kita pisahkan satu sudut, umpamanya dua-tiga kamar yang bersambungan itu untuk kita sendiri, ayah dan Sahsa bersama Nyusha, sisanya kita lepaskan saja. Kita pasang satu sekatan dan bikin pintu sendiri seperti dalam flat. Salah satu perapian logam itu kita pasang di tengah kamar, pipanya lewat ke jendela, semua cucian, masakan, hiburan, semuanya kita kerjakan dalam satu kamar ini. Dengan begitu kita pergunakan bahan bakar sehemat-hematnya dan siapa tahulah, dengan kemurahan Tuhan akan kita lewati musim dingin."

"Tentu kita lewati. Itu tak soal. Baguslah gagasanmu itu. Dan coba dengarkan! Rumah ini kita bikin hangat, kita masak bebek dan kita undang Paman Kolya."

"Bagus sekali. Akan kuminta Gordon membawa sedikit minuman keras. Dapat dimbilnya dari salah satu laboratorium. Tengok, inilah kamar yang kupikirkan tadi. Setuju? Letakkan tasmu, pergi ke bawah dan ambillah kopormu. Bisa kita minta Dudorov dan Shura Schlesinger juga, kalau rumah hangat nanti. Tak keberatan? Belum lupa, dimana kakusnya? Taruhlah sedikit obat untuk disinfeksi. Sedang kau buat itu, aku ke Sasha dan kusuruh Nyusha ke bawah, kalau mau selesai kupanggil kau."
*** bersambung