Tiga orang pendaki gunung bercelana
pendek sudah sampai pada mata air dua Gunung Dempo. di pelataran dalam
jepitan Dempo dan Merapi tenda-tenda tumbuh seperti jamur-jamur rumah
liliput. Di sana gerimis, uap keluar dari mulut-mulut yang berbicara,
susu coklat panas dan batang-batang kretek bercengkeh banyak. Dekat
shelter dua tiga grup merangkak terus menuju atas. Satu keluarga kesal
tak dapat kamar bagus di villa kebun teh.
Malam nanti akan betul-betul ramai.
Malam ini menyediakan alasan bagi banyak orang, sebut saja hampir semuanya,
untuk berhura, berpora; tahun baru. Keceriaan pangkal tahun dan harapan-harapan,
meniadakan alasan tuhan menyediakan hari berikutnya.
Orang-orang melihat jam, kemudian
sebagian memaki arloji. Pada beberapa kota tua, orang-orang akan mengitari
menara-menara berlonceng atau berjam dinding yang besar. Saat dentang
sebanyak duabelas kali tepat ditengah gelap kelat malam, orang-orang
membuat terompetnya menjerit, melolong, bersorak dan bersahutan.
Di kota gadis resepsionis hotel,
tak ada menara yang berjam dinding seperti kota-kota tua.
Seorang bini muda yang sedang beranak
di rumah sakit tertidur lelah. Tiang infus yang berdiri dan pispot yang
bersembunyi di satu tiang ranjang Suaminya tak datang. Emak perempuan
itu yang petani menikmati tawa cucu pertamanya, satu dari tiga saat
paling bahagia. Dua lagi saat mengawinkan anaknya, dan mengetam padi.
... Malam seperti sudah berjanji
akan datang.
* * *
Gadis resepsionis itu menunduk saja
dekat pukul sembilan. Bed nama di yang menempel dekat dadanya tertulis;
LUSYA. Tak ada bunyi dering spesial yang ditunggu dinanti-nanti yang
diharap dari seseorang yang teman yang menempati penuh ruang hampa pada
hatinya.
Kota kotak-kotak dengan belitan
jalan-jalan sempit mulai kian tak mirip Venesia. Kerak Venesia pun tidak.
Meski, jalan-jalan menjadi mirip
sungai dengan aliran orang-orang dan kendaraan. Percayalah kota ini
sering menjadi mirip Venesia; membuat kota seolah-olah akan hanyut.
Dan cahaya kota penyambut malam kota, menjadi lebih mirip gadis nakal
di etalase klub malam ketimbang penerang.
* * *
Prabumulih, 21.58 WIB, seorang laki-laki
duapuluh lima tahun turun dengan lesu dari kamarnya di lantai dua rumah
toko tingkat empat. Dia mulai lelah merenung, seperti malam-malam sebelumnya,
tentang kegagalan dalam ujian jadi pegawai negeri. Jalan-jalan dan kerumunan
orang diharapkannya menjadi semacam ramuan yang paling mujarab. Dua
jam langit akan menyaksikan ribuan jabat tangan, teriakan, ciuman, pelukan,
dan rangkulan para sahabat, orang-orang tak saling kenal. Langit akan
diserang kiriman beribu-ribu do'a.
Mengenakan sweater tebal warna tanah,
sang calon pegawai negeri yang telah menjadi pengangguran lagi mengayunkan
langkahnya sepanjang kios-kios kelontong kaki lima. Mengaitkan dua telapak
tangan kiri di lengan kanan belakang punggung.
Bergumam mengeluarkan bunyi tak
pasti. Kemudian membelok kekanan, sebuah lorong yang setiap pagi berbau
mie pangsit. Lalu tak kelihatan lagi. Dia adalah satu dari beberapa
orang yang percaya, bahwa gerimis malam itu akan disambar nyala kembang
api.
* * *
Mad Mohae, nama sebenarnya Ahmad
Muhaimin, mantan pekerja yang gagal merebut greencard di Memphis, Tenesse,
tak berpikir tentang malam ini. Hanya berputar soal kebun karet, Hevea
braziliensis, yang baru dibukanya. Kebun karet di atas lahan yang ditukar
dengan tabungan dollar-nya akan menghidupinya enam tahun kurang lebih
nanti.
Hingga dia tak perlu lagi dikejar-kejar
petugas imigrasi, tak perlu berdiri depan gerai waralaba me-rockandroll-kan
lagu-lagu tentang kampung halaman. Berharap beberapa recehan melompat
masuk ke tas gitar dari kulit yang tergeletak dekat tiang telepon umum.
Dulu barangkali dia punya pemaknaan
khusus tentang malam tahun baru; adalah libur kerja satu hari atau kerja
dengan upah empat lipat. Tak ada makna khusus, seperti hari minggu saja.
Biasanya dia memilih tidur sampai tengah hari setelah malamnya merendam
lelah pada genangan bir di bar. Sebab tanggal 2 Januari kehidupan berbalik
lagi menjadi berat dan melelahkan.
Dia tersenyum malam ini, dalam bilik
pondok tengah kebun. Besok pagi-pagi sekali lubang-lubang sebesar tipi
lama empatbelas inchi akan ditutup dengan bibit-bibit karet. Dahulu
apa yang akan dilakukan Mad besok pagi adalah lambang penguasaan atas
tanah yang hidup secara turun temurun. Di luar cahaya menyenggol pucuk-pucuk
pohon merawan.
* * *
"Tak ada yang bekerja lagi
satu detik setelah pukul sebelas!" Ada yang berteriak dari menara.
Banyu, buruh minyak berdiri dengan memukul-mukulkan kunci inggris besar
ke besi-besi. Dibawah krunya mendengarkan dengan bersorak menimpal bunyi
besi terpukul kunci.
Di bawah menara, mandor pengawas
berteriak-teriak mengingatkan. Tapi kawan-kawan Banyu, sesama kru penambangan
minyak menyuruh sang mandor berhenti bicara. Malam itu di lokasi sumur
gas baru yang nanti akan dialirkan ke pipa sampai singapura, demi satu
alasan yang mirip jargon, 'Ketahanan Energi Asean,' padahal untuk kebutuhan
negara industri. Tempat ini sejauh 40 kilo masuk dari pedalaman prabumulih.
Hampir satu minggu mereka manda
di lokasi ini. Tak ada cuti malam tahun baru, bahkan mereka tak mengantongi
kontrak kerja bertanda tangan dua pihak, tak ber-perjanjian kerja bersama.
23.00 WIB, Banyu meminta kawan-kawannya
berhenti bekerja, dengan tetap sekali-sekali harus mengontrol rig. Banyu
masuk setengah berlari ke camp bekas peti kemas. Tak seperti biasanya
melepas wearpack berlumpur dan berciprat minyak mentah dan merendamnya
pada ember berisi kondensat. Banyu terlebih dulu menengok telepon selular
yang dikaitkan ke antena dekat jendela kontainer. Tak ada pesan, tak
ada panggilan masuk, sekedar ucapan basa-basi sekalipun.
Wearpack yang basah oleh peluh dilemparkan
saja ke sudut bilik, lalu mencuci muka dengan sabun. Keringatnya dilap
saja dengan kaos oblong.
Di luar camp, kawan-kawannya sesama
kaum pemburu minyak telah menyiram tumpukan kayu yang disipakna sebelum
maghrib dengan kondensat. Kurak, sang restabout melemparkan sepotong
nyala korek api. Dari dekat camp, Asan membagi-bagikan kaleng bir dengan
cara melempar seperti pemain base-ball.
Tak ada mandor, tak ada tenaga
un-skill malam itu, tak ada perintah. Mess-boy, operator crane, mekanik,
elektrik, cutting boy, restabout, kaleng-kaleng bir, menara rig yang
kaku, menunggu detik yang barangkali langit akan meniupkan terompet.
Mandor telah larut dalam tenggak-tenggak bir, dan vodka dioplos sari
buah. Mulut mandor menyeracau saja, tentang upah yang naik menyamai
gaji pegawai perusahaan negara.
* * *
Malam di ujung tahun. Lumut-lumut
memegang dinding-dinding perumahan kota tambang yang sudah mati. Tak
lagi berpenghuni. Atap-atap dari kayu sirap yang mahal membebani rangka
kayunya, pada beberapa tempat atap mulai membusuk dibekap dahan serta
daun kayu yang meliar.
Jika ada pokok dahan yang jatuh
karena telah mati dan tak terpegang lagi oleh pokok utamanya, maka atap
yang membusuk itu jatuh terhenyak, lalu kayu-kayu penyangga atap dari
kayu kelas bagus limbung dan menabrak plafon berayap, kemudian mereka
jatuh bersama-sama pada lantai ubin yang dingin.
Bekas-bekas kompleks perumahan telah
pernah mengantarkan penghuninya menjadi warga kelas utama di pasar-pasar.
Perempuan-perempuan mereka menjadi idaman penyepuh emas, pedagang kue-kue
mentega, tokoh permen coklat dan penyewaan kaset video. Anak-anak mereka
mendapatkan komik yang mereka sukai setiap bulan. Saat ini tak tak ada
lagi gas bernyala api di halaman belakang tempat penghuni rumah membakar
apa saja yang mereka anggap sampah.
Tak ada lagi perayaan malam tahun
baru dan hari-hari besar agama di rumah Bapak Kepala Lapangan. Para
employe itu telah lama pergi atau dipindahkan. Rumah-rumah mewah telah
menjadi puing yang hilang atap dan berlumut di dinding. Dan jalan-jalan
beraspal kelas utama yang pernah licin telah pecah-pecah. Terompet-terompet
telah lama menjadi lempam di kota mati ini. Satu gereja protestan dan
mesjid di dataran yang agak tinggi juga mengalami kesepian dan mulai
melapuk.
Kota mati itu tak lagi berpetugas
stuan pengamanan. Malam tahun baru kini sama dengan malam sebelumnya,
diisi remaja-remaja tanggung dalam kelompok pemabuk atau mereka yang
berpasang-pasangan. Untuk sekedar memenuhi hasrat pergelian masing-masing
kelamin.
Berbeda lagi, kampung minyak. Namanya
memang begitu. Penduduk sana masih sempat memburu burung di ujung tahun.
Seperti sejak kebingungan orang-orang tua mereka pertama pindah ke kawasan
ini. Mereka adalah keturunan dari petani yang dipindahkan Belanda sampai
penguasa negeri sendiri ketika kampung dan kebun-kebun, hutan buah dan
kampungan yang penuh durian dan damar, talang-talang tempat mereka menunggu
musim panen dan kebun-kebun kopi tua, segala kekayaan yang mereka punya
semua tanah yang mereka miliki harus ditukar dengan lubang pengeruk
batu bara.
Barangkali mereka adalah tak peduli
dengan almanak. Sejak tanah ditempat dekat-dekat sumur minyak telah
mengerikil, mereka tak tahu bertanam apa yang bagus. Atau mereka lupa
membawa benih-benih padi talang manakala mereka pindah kali pertama.
Angka pada almanak hanya menjadi agak penting jika ada pasaran burung
atau pesanan tiang-tiang pagar yang dipesan pembeli. Sebab musim telah
berhujan, banyak pesanan tak terpenuhi.
* * *
Gadis resepsionis, Lusya. Sendiri
saja di balkon hotel. Senyap. Menunggu dering telepon spesialnya berupa
potongan dari lagu yang sangat terkenal, 'Lilibus dan Vodka.'
Matanya sepi. Jika tak ada nada
dering khusus itu berarti tak ada pertemuan malam ini. Detak jam sudah
berteriak mengingatkan detik terakhir tahun ini 10 menit 29 detik. Banyu,
pemburu minyak dalam larutnya pada bir, sesekali dengan lamban masuk
ke camp memeriksa sekedar pesan sekedar ucapan selamat yang malas datang.
* * *
Perjalanan,
16 Desember 2004