Sekarang? Ketika perbaikan finansial
terjadi, ternyata baju baru dan makanan enak kehilangan moment khasnya.
Saya tidak perlu menunggu natal untuk menikmati semua itu. Baju baru
bisa saya pakai kapan saja. Sepatu baru bisa saya pakai tanpa harus
menunggu sepatu lama rusak.
Dan segala makanan
enak bisa saya pilih sesuka hati --kalaupun toh ada kendala untuk menikmatinya,
jelas bukan karena masalah finansial tapi pertimbangan kesehatan dan
berat badan!. Relatif tidak ada kendala untuk memperolehnya. Seandainyapun
persediaan uang tunai terbatas sementara tanggal gajian masih jauh,
toh ada credit card.
Tapi begitulah. Ketika
semua 'asesoris natal' itu bisa diperoleh tanpa harus menunggu hari
natal, maka natal saya juga jadi kehilangan salah satu kenangannya.
Namun begitu, natal akan terus datang sesuai jadwal. Begitu juga tahun
ini. Dan agenda natal sayapun tersusun seperti biasanya.
Gereja
Tua
Tahun ini, menjelang hari-h
seorang teman mengajak saya untuk pergi menghadiri misa natal bukan
di gereja saya. Tawaran yang tadinya tidak menarik. Namun kawan itu
adalah seseorang yang tahu kelemahan saya. "Misanya di gereja tua
di sebuah desa
"
Tergodalah saya. Pertama,
bangunan tua selalu menarik minat saya. Apalagi gereja tua di desa.
Wow, imajinasi saya langsung mengembara kemana-mana. Cerita seorang
sahabat tentang sebuah gereja desa di Irlandia pun sempat membuat saya
terinspirasi, dan kini ada tawaran untuk mengalaminya langsung; misa
natal di sebuah gereja tua di sebuah desa. Saya pun tak bisa menolaknya.
Tapi cerita tentang
gereja tua ternyata bohong belaka. Gereja itu sama bahkan terkesan baru.
Gaya arsitekturnya masa kini, walau dengan materi natural dan sederhana
semacam batu kali dan terakota.
Lokasinya pun, meski
memang di desa dan harus melewati kebun jagung yang sedemikian panjang,
tapi bukan seperti apa yang saya bayangkan. Dan tertipulah saya.
Sudahlah. Hari natal
adalah saat untuk berbagi kasih dan bukannya berbagi kemarahan, maka
sayapun harus menghentikan kekecewaan. Dan misapun dimulai.
Gereja itu kecil,
hanya mampu menampung sekitar 100 orang. Peserta misa terbagi jelas
dalam dua kategori. Jemaat tamu seperti saya, dan jemaat 'tuan rumah'
yaitu penduduk desa sekitar. Klasifikasi jemaat itu terlihat jelas dari
penampakan. Jemaat tamu pastilah datang bermobil, karena lokasinya jauh
dari jalan raya Solo-Semarang, dan tidak ada kendaraan umum. Dan tampilan
jemaat tamu sangat kentara bergaya kota. Baju rapi, sepatu hak tinggi
dan, yang lebih penting, wangi.
Sedangkan jemaat tuan
rumah tampil dengan kebaya sederhana, bersanggul cepol dengan aroma
khas minyak kelapa untuk merapikan rambut. Sandal jepit mereka dihiasi
Lumpur karena sedang musim hujan.
Saya memilih duduk
di antara 'jemaat tuan rumah.' Menghirup aroma 'ndeso' sembari mendengarkan
khotbah yang disajikan dengan bahasa sederhana, dengan contoh pengandaian
kehidupan dari kegiatan mereka sehari-hari seperti beternak dan bertanam.
Sungguh jauh berbeda dengan khotbah gereja kota yang banyak menyinggung
masalah korupsi, selingkuh, dan kejahatan-kejahatan busuk kaum kota
lainnya.
Sembari mendengarkan
renungan natal, sesuatu menyita tatapan saya. Tepat di depan saya, seorang
Ibu duduk dengan menggendong anak di punggungnya,dengan menggunakan
selendang batik kumal. Anak kecil itu kira-kira berumur dua tahun, kurus
dan hitam.
Dia tertidur pulas
di punggung Ibunya ; sangat pulas mulai dari awal misa hingga ketika
misa nyaris berakhir. Ketika paduan suara biarawati terdengar di akhir
misa, barulah dia terbangun. Matanya bulat besar dan dia langsung tertawa-tawa
mendengar nyanyian itu. Ajaib. Mungkinkah nyanyian itu bagai suara malaikat
dalam tidurnya tadi.
Pada akhirnya saya memang tidak menemukan gereja tua di desa terpencil
seperti yang saya bayangkan. Tapi ternyata saya mendapat lebih; saya
mendapatkan kesempatan untuk merasakan kembali --meski sesaat-- keharuan
natal seperti natal saya dulu di masa kanak-kanak.
Makna natal selalu
berkisar soal kasih dan kedamaian, dan saya merasakan kasih itu pada
seorang Ibu yang menggendong anaknya. Dan kedamaian saya temukan pada
seraut wajah yang tertidur pulas di punggung Ibunya.
Selesai urusan religi,
agenda sosialnya adalah berkunjung ke panti asuhan anak-anak dengan
kemampuan terbatas. Kemampuan apa? Ekonomi, intelektual atau fisik?
Jawabnya : intelektual. 'Kemampuan terbatas' sebagai bahasa kamuflase
dari embisil.
Owing
yang sabar
Sejak awal saya dan teman-teman sudah bersiap-siap untuk menemui anak-anak
berwajah tipe mongoloid dengan tingkah laku yang barangkali aneh, lucu
atau apa saja. Ternyata persiapan tidak akan pernah cukup karena ketika
berhadapan dengan mereka, selalu saja ada hal tak terduga.
Begitu datang, seorang
anak menyambut kami justru dengan ajakan untuk keluar kembali.
" Owing, owing
" katanya sembari menunjuk mobil kami.
Owing yang dia maksud
ternyata adalah kata ganti untuk mobil. Dia ingin kami membawanya naik
mobil. Kemana? Pulang. Pulang kemana? Mestinya ke sebuah rumah tempat
dia pernah dibesarkan bertahun-tahun lalu. Tapi tidak ada yang tahu
di mana rumah itu.
Rupanya, sekian tahun
lalu --ketika keluarganya membawanya ke panti itu-- ada janji.bahwa
dia akan tinggal dip anti untuk sementara waktu saja. Mereka, keluarganya,
berjanji akan menjemputnya pulang kembali ke rumah dengan mobil.
Jadi begitulah, setiap
hari dia menunggu.Setiap kali ada orang datang, dia melakukan ritual
itu, yaitu mengajak orang itu untuk pergi lagi sambil berkata owing-owing.
Dia mengira bahwa jemputan untuknya sudah datang, bahwa dia akan pulang
dengan naik mobil. Dan setiap kali itu pula dia harus dibujuk-bujuk
untuk menerima bahwa itu bukan mobil jemputan untuknya. Bertahun-tahun
dia melakukan ritual itu, begitu setia dia menunggu, dan begitu teguh
dia memegang janji yang pernah diberikan kepadanya.
Dengan kemampuan
yang terbatas itu bagaimana dia akan memahami arti kata 'sebentar' dalam
tanda petik itu kepadanya ? Bagaimana pula kita harus memberikan pemahaman
kepadanya untuk 'berhenti berharap?'
Kalau toh kemudian
dia memahami arti kata itu, apa yang akan terjadi padanya sesudah itu?
Owing tidak sendirian.
Ada sekitar 40 anak di panti itu dengan kondisi yang tidak berbeda jauh.
Satu kata yang tepat untuk mereka : No body's child. Mereka adalah anak-anak
yang lahir untuk kemudian tumbuh sebagai duri dalam daging bagi keluarga.
Dan selayaknya duri,
maka mereka harus disingkirkan, ditaruh pada suatu tempat yang jauh
untuk kemudian dilupakan. Tidak peduli betapa mereka begitu setia memegang
janji 'pulang' yang pernah diberikan. Nyaris tidak ada keluarga yang
menjenguk anak-anak itu.
Kami sendiri? Ternyata
tidak ada yang kami lakukan. Kami hanyalah orang-orang yang datang dan
pergi. Sesaat memang terharu dan bahkan menangis. Tapi urusan sosial
selesai dan kami kembali pada rutinitas hidup masing-masing sambil menunggu
setahun kemudian untuk menyusun agenda sosial mendatang di tahun berikutnya.
Saya sadar bahwa
sesungguhnya kami hanya melakukan 'window shopping'; melihat, memperhatikan
sesaat, dan pergi begitu saja. Tidak lebih. Padahal ibaratnya ada cukup
uang dan credit card untuk mendapatkan apa yang dipajang di etalase
.
Ada banyak kekecewaan
dan penyesalan dalam kehidupan saya. Seringkali saya berpikir bahwa
seharusnya saya tidak berada di sini, bahwa seharusnya saya ada di sana.
Bahwa seharusnya dulu saya menjawab ya untuk pertanyaan A dan menjawab
tidak untuk pertanyaan B. Bahwa seharusnya saya mengambil keputusan
begini dan bukannya begitu. Dan sebagainya bla
..bla
.bla
.
Tapi melihat apa
yang dialami Owing dan kawan-kawannya, dan membandingkannya dengan segala
yang saya alami, maka selayaknya penyesalan dan kekecewaan dalam hidup
saya itu harus dipertimbangkan kembali.
Natalpun berlalu
sudah.
***