edisi 69
rabu 7 januari 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 69
memoar D Seks
Hendri Kremer

memoar Catatan Tak Selesai
Selma Hayek

laporan Sepakbola Mistis
Dodiek Adyttya Dwiwanto

cerpen Di Malam Ujung Tahun
Syam Asinar Radjam

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

laporan Natalnya Window Shopping
Sanie B. Kuncoro

Biasanya Natalnya saya berlalu begitu saja. Meskipun saya, seperti umat nasarani lain, merayakan natal dengan sederet acara. Puncaknya adalah kebaktian di gereja, dengan khotbah, lagu wajib Malam Kudus, doa panjang, dan menyalakan lilin. Itulah puncak acara religiusnya.
Berikutnya acara sosial. Bersama sekelompok teman, saya mempunyai jadwal khusus untuk berkunjung ke panti asuhan, panti jompo dan semacamnya.

Tahun lalu kami memilih ke panti jompo dan kunjungan yang seremonial itu sempat membuat kami berdebat gara-gara muncul ide untuk membuat panti jompo khusus perempuan lajang.

Ide yang sebenarnya sama sekali tidak relevan, paling tidak menurut saya ketika perdebatan itu dan sampai sekarang sekalipun. Alasannya, ketika seseorang sudah jompo dan memerlukan panti, maka bisa dipastikan bahwa sesungguhnya dia telah menjadi 'lajang' kembali. Jadi apa perlunya mengklasifikasikan status marital sebagai salah satu syarat untuk menjadi anggota panti jompo?

Acara setelah aksi sosial, yang tentu saja tidak boleh dilewatkan, adalah perayaan natal yang sebenarnya. Disebut sebenarnya karena berlangsunglah layaknya sebuah perayaan --tentu saja saya bersama teman-teman memang merancangnya sedemikian rupa. Makan enak (lupakan diet), baju baru, dan tukar kado.

Begitulah. Acara natal saya sesungguhnya cukup lengkap. Ibarat menu makanan standard gizi, maka natal saya termasuk 'tiga sehat' meskipun belum lima sempurna. Ada acara rohani, acara sosial, dan acara hura-hura. Tapi, bertahun-tahun saya melewatinya biasa saja. Tidak ada rasanya yang tertinggal.

Amat jauh berbeda dengan kenangan natal di masa kanak-kanak yang begitu membekas sampai hari ini. Seringkali kenangan itu datang kembali dan memunculkan rasa haru.

Dulu, saya selalu menunggu natal dengan antusias. Mengisinya dengan doa yang bertubi-tubi dan berkepanjangan. Masa itu Natal berarti kesempatan untuk mendapat baju dan sepatu baru, yang cuma setahun sekali.

Juga kue dan permen yang enak-enak. Saya ingat betul, masa Natal adalah salah satu peluang langka untuk menikmati permen dan kue enak, selain pesta HUT teman -kalau kita masuk dalam daftar undangan.
Selebihnya uang saku yang pas bandrol itu hanya cukup untuk sebungkus kerupuk atau sepotong es lilin.

Belum lagi kalau saya menginginkan mainan atau buku tertentu, maka berarti saya harus menahan keinginan jajan karena uang saku harus ditabung. Itu dulu. Natal adalah sebuah momen yang amat khusus.

ceritanet
©listonpsiregar2000

Sekarang? Ketika perbaikan finansial terjadi, ternyata baju baru dan makanan enak kehilangan moment khasnya. Saya tidak perlu menunggu natal untuk menikmati semua itu. Baju baru bisa saya pakai kapan saja. Sepatu baru bisa saya pakai tanpa harus menunggu sepatu lama rusak.

Dan segala makanan enak bisa saya pilih sesuka hati --kalaupun toh ada kendala untuk menikmatinya, jelas bukan karena masalah finansial tapi pertimbangan kesehatan dan berat badan!. Relatif tidak ada kendala untuk memperolehnya. Seandainyapun persediaan uang tunai terbatas sementara tanggal gajian masih jauh, toh ada credit card.

Tapi begitulah. Ketika semua 'asesoris natal' itu bisa diperoleh tanpa harus menunggu hari natal, maka natal saya juga jadi kehilangan salah satu kenangannya. Namun begitu, natal akan terus datang sesuai jadwal. Begitu juga tahun ini. Dan agenda natal sayapun tersusun seperti biasanya.

Gereja Tua
Tahun ini, menjelang hari-h seorang teman mengajak saya untuk pergi menghadiri misa natal bukan di gereja saya. Tawaran yang tadinya tidak menarik. Namun kawan itu adalah seseorang yang tahu kelemahan saya. "Misanya di gereja tua di sebuah desa…"

Tergodalah saya. Pertama, bangunan tua selalu menarik minat saya. Apalagi gereja tua di desa. Wow, imajinasi saya langsung mengembara kemana-mana. Cerita seorang sahabat tentang sebuah gereja desa di Irlandia pun sempat membuat saya terinspirasi, dan kini ada tawaran untuk mengalaminya langsung; misa natal di sebuah gereja tua di sebuah desa. Saya pun tak bisa menolaknya.

Tapi cerita tentang gereja tua ternyata bohong belaka. Gereja itu sama bahkan terkesan baru. Gaya arsitekturnya masa kini, walau dengan materi natural dan sederhana semacam batu kali dan terakota.

Lokasinya pun, meski memang di desa dan harus melewati kebun jagung yang sedemikian panjang, tapi bukan seperti apa yang saya bayangkan. Dan tertipulah saya.

Sudahlah. Hari natal adalah saat untuk berbagi kasih dan bukannya berbagi kemarahan, maka sayapun harus menghentikan kekecewaan. Dan misapun dimulai.

Gereja itu kecil, hanya mampu menampung sekitar 100 orang. Peserta misa terbagi jelas dalam dua kategori. Jemaat tamu seperti saya, dan jemaat 'tuan rumah' yaitu penduduk desa sekitar. Klasifikasi jemaat itu terlihat jelas dari penampakan. Jemaat tamu pastilah datang bermobil, karena lokasinya jauh dari jalan raya Solo-Semarang, dan tidak ada kendaraan umum. Dan tampilan jemaat tamu sangat kentara bergaya kota. Baju rapi, sepatu hak tinggi dan, yang lebih penting, wangi.

Sedangkan jemaat tuan rumah tampil dengan kebaya sederhana, bersanggul cepol dengan aroma khas minyak kelapa untuk merapikan rambut. Sandal jepit mereka dihiasi Lumpur karena sedang musim hujan.

Saya memilih duduk di antara 'jemaat tuan rumah.' Menghirup aroma 'ndeso' sembari mendengarkan khotbah yang disajikan dengan bahasa sederhana, dengan contoh pengandaian kehidupan dari kegiatan mereka sehari-hari seperti beternak dan bertanam. Sungguh jauh berbeda dengan khotbah gereja kota yang banyak menyinggung masalah korupsi, selingkuh, dan kejahatan-kejahatan busuk kaum kota lainnya.

Sembari mendengarkan renungan natal, sesuatu menyita tatapan saya. Tepat di depan saya, seorang Ibu duduk dengan menggendong anak di punggungnya,dengan menggunakan selendang batik kumal. Anak kecil itu kira-kira berumur dua tahun, kurus dan hitam.

Dia tertidur pulas di punggung Ibunya ; sangat pulas mulai dari awal misa hingga ketika misa nyaris berakhir. Ketika paduan suara biarawati terdengar di akhir misa, barulah dia terbangun. Matanya bulat besar dan dia langsung tertawa-tawa mendengar nyanyian itu. Ajaib. Mungkinkah nyanyian itu bagai suara malaikat dalam tidurnya tadi.

Pada akhirnya saya memang tidak menemukan gereja tua di desa terpencil seperti yang saya bayangkan. Tapi ternyata saya mendapat lebih; saya mendapatkan kesempatan untuk merasakan kembali --meski sesaat-- keharuan natal seperti natal saya dulu di masa kanak-kanak.

Makna natal selalu berkisar soal kasih dan kedamaian, dan saya merasakan kasih itu pada seorang Ibu yang menggendong anaknya. Dan kedamaian saya temukan pada seraut wajah yang tertidur pulas di punggung Ibunya.

Selesai urusan religi, agenda sosialnya adalah berkunjung ke panti asuhan anak-anak dengan kemampuan terbatas. Kemampuan apa? Ekonomi, intelektual atau fisik? Jawabnya : intelektual. 'Kemampuan terbatas' sebagai bahasa kamuflase dari embisil.

Owing yang sabar
Sejak awal saya dan teman-teman sudah bersiap-siap untuk menemui anak-anak berwajah tipe mongoloid dengan tingkah laku yang barangkali aneh, lucu atau apa saja. Ternyata persiapan tidak akan pernah cukup karena ketika berhadapan dengan mereka, selalu saja ada hal tak terduga.

Begitu datang, seorang anak menyambut kami justru dengan ajakan untuk keluar kembali.

" Owing, owing " katanya sembari menunjuk mobil kami.

Owing yang dia maksud ternyata adalah kata ganti untuk mobil. Dia ingin kami membawanya naik mobil. Kemana? Pulang. Pulang kemana? Mestinya ke sebuah rumah tempat dia pernah dibesarkan bertahun-tahun lalu. Tapi tidak ada yang tahu di mana rumah itu.

Rupanya, sekian tahun lalu --ketika keluarganya membawanya ke panti itu-- ada janji.bahwa dia akan tinggal dip anti untuk sementara waktu saja. Mereka, keluarganya, berjanji akan menjemputnya pulang kembali ke rumah dengan mobil.

Jadi begitulah, setiap hari dia menunggu.Setiap kali ada orang datang, dia melakukan ritual itu, yaitu mengajak orang itu untuk pergi lagi sambil berkata owing-owing. Dia mengira bahwa jemputan untuknya sudah datang, bahwa dia akan pulang dengan naik mobil. Dan setiap kali itu pula dia harus dibujuk-bujuk untuk menerima bahwa itu bukan mobil jemputan untuknya. Bertahun-tahun dia melakukan ritual itu, begitu setia dia menunggu, dan begitu teguh dia memegang janji yang pernah diberikan kepadanya.

Dengan kemampuan yang terbatas itu bagaimana dia akan memahami arti kata 'sebentar' dalam tanda petik itu kepadanya ? Bagaimana pula kita harus memberikan pemahaman kepadanya untuk 'berhenti berharap?'

Kalau toh kemudian dia memahami arti kata itu, apa yang akan terjadi padanya sesudah itu?

Owing tidak sendirian. Ada sekitar 40 anak di panti itu dengan kondisi yang tidak berbeda jauh. Satu kata yang tepat untuk mereka : No body's child. Mereka adalah anak-anak yang lahir untuk kemudian tumbuh sebagai duri dalam daging bagi keluarga.

Dan selayaknya duri, maka mereka harus disingkirkan, ditaruh pada suatu tempat yang jauh untuk kemudian dilupakan. Tidak peduli betapa mereka begitu setia memegang janji 'pulang' yang pernah diberikan. Nyaris tidak ada keluarga yang menjenguk anak-anak itu.

Kami sendiri? Ternyata tidak ada yang kami lakukan. Kami hanyalah orang-orang yang datang dan pergi. Sesaat memang terharu dan bahkan menangis. Tapi urusan sosial selesai dan kami kembali pada rutinitas hidup masing-masing sambil menunggu setahun kemudian untuk menyusun agenda sosial mendatang di tahun berikutnya.

Saya sadar bahwa sesungguhnya kami hanya melakukan 'window shopping'; melihat, memperhatikan sesaat, dan pergi begitu saja. Tidak lebih. Padahal ibaratnya ada cukup uang dan credit card untuk mendapatkan apa yang dipajang di etalase….

Ada banyak kekecewaan dan penyesalan dalam kehidupan saya. Seringkali saya berpikir bahwa seharusnya saya tidak berada di sini, bahwa seharusnya saya ada di sana. Bahwa seharusnya dulu saya menjawab ya untuk pertanyaan A dan menjawab tidak untuk pertanyaan B. Bahwa seharusnya saya mengambil keputusan begini dan bukannya begitu. Dan sebagainya bla…..bla….bla….

Tapi melihat apa yang dialami Owing dan kawan-kawannya, dan membandingkannya dengan segala yang saya alami, maka selayaknya penyesalan dan kekecewaan dalam hidup saya itu harus dipertimbangkan kembali.

Natalpun berlalu sudah.
***