Aku terbengong-bengong baca isi
surat itu. Jangankan ngerti, bacanya saja aku harus nguras tenaga dan
pikiran. Habis satu jam, aku lalui untuk memahami maknanya. Kalau pun
ada respon dari dia, minimal ada kata-kata I like you, gitu kek. Dia
pikir aku orang batak kali ya? Aku menduga.
"Ah entahlah." Ku lipat
surat itu. Kudongakan kepalaku di pelataran parkir motor. "Mungkin
Sianturi bisa nolongku," pikirku. Tiba-tiba.
"Mek!...Mek!," panggil
suara dari belakangku. Biasanya, yang selalu memanggilku dengan panggilan
di SD itu hanya orang dekat saja. Kutoleh ke belakang, pucuk dicinta
ulam busuk. Sianturi rupanya.
"Apa kau? Kalau orang lain dengar, kau panggil aku dengan panggilan
itu, mereka kira aku jual memek, tau!" hardikku.
"Ah, lo gitu aja marah, eh kapan lo pulang Batam? Gue nitip ya?
Kayaknya gu ndak pulang tahun ini, mungkin langsung ke Medan, tempat
Ompungku," jelas Sianturi.
"Oi, tungau. Engkau tu sejak kite kecil hingge sekarang cakap sama
aku Melayu. Jangan pulak, engkau tukar bahase lepak pulau tu ke bahase
tak betamadun," jawabku.
Di senggol kayak begitu, bahasa asli yang biasa kami gunakan saat di
Batam pun keluar.
"Taik dikau! Aku baru nak minta tolong sikit aje. Sudah belagu,"
balasnya.
"Nitip apa."
"Nitip salam buat mamakku."
Dasar Sianturi, ngak ada yang lurus
mau diucapin Karena aku butuh penterjemah bahasa batak ke bahasa Indonesia,
tanpa banyak cerita kurangkul tangan teman satu SD-ku ini.
"Yuk, minum dulu, nanti kita
ngomong," bujukku. Sianturi biasanya, kalo gratis laju, lansung
menjawab "Ha."
Dalam kantin aku tanyakan kepadanya,
apakah dia masih ngerti bahasa Ompungnya. Dia ngangguk. "Ada pulak
bahase di rumah yang aku tak tau. Ya tau lah. Kenape?" tanyanya
balik.
"Tak ade, aku cuman mau dikau terjemahkan sedikit kerjaan puisi
kawanku," elakku untuk menghindari kecurigaannya.
Tapi, perasaanku terhadap Sianturi
yang telah sejak kecil tinggal di Kepulauan Riau curiga. 'Mungkin saja
dia sudah lupa akan bahasa ibunya.' Apalagi, dia cenderung mengaku sebagai
pemuda tempatan Melayu daripada mengakui bahwa dia orang batak. 'Ah
biarlah, nggak mungkin dia bohong, apalagi mau ngerjai aku,' pikirku.
"Ini puisi kawanku, cube lah
engkau bace dulu," terangku.
Sianturi mengangguk-ngangguk sejenak,
sekali-kali melirik ke langit-langit kantin seperti berpikir. Dengan
gayanya seperti itu siapa yang tak yakin. Aku tentunya paling seneng,
ketika dia sudah habis membaca surat Dewi S itu.
"Apa maksudnya, ri," tak
sabar aku mendengar ucapan dari mulut Sianturi. Namun, tetap saja aku
berlagak tenang.
"Artinya, banyak Mek. Hanya saja intinya, si penulis puisi kesepian."
Mendengar itu rasanya aku mau meloncat.
Bisa kubanyangkan si Dewi S pasti dalam kesepian, hayalku entah kemana
'ah. ah...,' aku mau muncrat rasanya.
"O gitu." balasku dengan
nada berwibawa. Setelah kubayar minuman, aku pisah dengan Sianturi.
Dari jauh, aku melihat dia tertawa kecil menutup mulut. Tapi tidak terlalu
kuperhatikan si borjong itu.
Kuhubungi Doni, dan aku alihkan
ke bahasa pergaulan di Pekanbaru ; bahasa Padang.
"Don kama ang malam ko?" kutanya ditelepon.
"Indak kama-kama. Manga Ndi," jawabnya.
"A den nio pinjam motor ang sabanta, ado paralu saketek,"
kataku.
"Jam bara, kalau malam hari indak bisa Ndi. Di bawo jo kakak den,
ngeles komputer, patang ajo, nio ndak?" tawar Doni kepadaku untuk
meminjamkan motornya pada sore hari saja, karena akan digunakan kakaknya
untuk ngeles komputer.
"indak ba a lah," ujarku tanpa pikir panjang.
Pukul 17.00 WIB, pintu rumah Doni
di Jalan Sultan Syarief Kasim, Kuantan Indah, sudah ku ketuk. Dia rupanya
baru habis mandi. "Tunggu sabanta Ndi, masuak la dulu. Kan indak
sasak bana kan"
"Indak. Ado soal famili, jadi awak di suruh pa i ka rumah inyo,"
sahutku.
Setelah Doni menyerahkan kunci motornya,
aku pun tancap gas. Targetku satu. Tempat kos Dewi S. Tak kubanyangkan
wajah itu akan kuremas. Badannya? 'Ah tak kuat.'
Aku baru ingat, dari kabar yang
sering kudengar dari teman-teman dekatnya di semester satu. Dewi paling
seneng sama gorengan dan buah jeruk. Kusinggahi sebentar pasar pusat,
untuk membeli dua hal yang akan kuprediksikan sebagai salah cara aku
memperhatikan dia selama ini.
Dua tentengan itu kuselipkan disamping
motor Doni. Dalam perjalanan ke tempat kosnya bayangku tak terlepas
dari gadis pujaanku itu. Belum pernah aku, benar-benar memuja gadis
seperti ini, bahkan hingga saat ini pun aku masih memujanya.
"Permisi," sapaku kepada
penjaga kos. "Mau ketemu Dewi, mas."
Si penjaga kos senyum, dan mempersilahkan duduk. "Tunggu ya!"
katanya.
"Wi! Wi! Ada tamu," panggil si penjaga kos sambil mengetuk
pintu kamar Dewi.
"I ya, tunggu sebentar," sahutnya. Mendengar suara itu, rasanya
bergetar badanku. Naik turun kemaluanku.
Beberapa menit kemudian, dia keluar.
Taburan wangi dari tubuhnya. Membuatku megap-megap.
"Eh bang," sapanya terkejut
ketika melihatku. "Ada apa bang," tanyanya.
Ditanya seperti itu, aku balik salah tingkah. Dan bertanya dalam hati.
'Yang nulis surat dia
Jika aku datang tentunya dia memberikan
sedikit respon positif,' batinku. Ini tidak, dia hanya terpaku berdiri,
sepertinya keberatan menerima kedatanganku.
Daripada, tidak jelas kemana arah
tujuannya. Langsung saja, aku tembak dia.
"Wi, yang nulis puisi dalam bahasa batak itu, dari adik, kan?"
Kutanyai begitu, dia bengong.
"?Surat yang mana bang, Dewi nggak pernah nulis surat sama abang."
Aku kaget banget mengdengar perkataan Dewi itu.
"Loh, jadi kamu ngak pernah nulis puisi dan lalu mengirimkannya
kepada saya," tukasku.
"Tidak, siapa yang nulis, ngaca dong!"
Dikatai begitu, aku sudah tak bermaya
lagi, dalam hati aku memaki-maki. Brengsek Sianturi, pasti dia yang
ngerjain.
"Kalo begitu permisi, kribo!"
ucapku kesel, dan itu buat kali terakhirnya aku bertemu dengannya.
Sedangkan nasib gorengan dan buah
yang kubeli untuknya dalam perjalanan pulang kubuang begitu saja.
Setelah jelang beberapa tahun lamanya,
gadis yang dulu kupuja itu secara tak sengaja kulihat di pelabuhan Dumai,
Riau. Sudah tidak sehebat dulu lagi. Dia mungkin sudah tidak mengenalku,
aku akan ingat rambutnya yang kriting dan panjang itu sampai kapan pun.
***
potongan dari Kumpulan Memoar
ceritanet yang akan diterbitkan