edisi 69
rabu 7 januari 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


tulisan edisi 69
memoar D Seks
Hendri Kremer

laporan Natalnya Window Shopping
Sanie B. Kuncoro

cerpen Di Malam Ujung Tahun
Syam Asinar Radjam

laporan Sepakbola Mistis
Dodiek Adyttya Dwiwanto

novel Dokter
Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

memoar Catatan Tak Selesai
'Orang Hutan' Kamarada, Eks Falintil
Selma Hayek

Delta Comoro, Dili
''Aku bunuh delapan orang, tentara Indonesia dan milisi, September 1999, di Kuluhun'', tajam mata Makikit ketika mengatakan sebaris kalimat itu. Sementara tangannya menyorongkan sekaleng serveja Tiger ke mulutnya.

Harus kuakui, tatapan matanya tajam sekali, menghadirkan sebuah kepercayaan diri yang berlebihan, di suatu malam ketika kami menghabiskan waktu bersama-sama.

Rambut lurus, tak tersentuh sisir, tak keriting seperti kebanyakan orang Timor Lorosa'e, dan tato naga di lengan kanannya, macan di dada kanannya, dan satu tato naga di punggungnya, berperawakan sedang, kulit hitam karena panasnya matahari Timor Lorosa'e. Tatapan matanya yang tajam, toh tak mengurangi keramahan wajahnya ketika tersenyum, tertawa keras, atau saat mengalunkan lagu-lagunya Iwan Fals.

Siapa yang menyangka wajah 'ramah, tak garang' dan tubuh kecilnya menyimpan cerita sejarah perjuangan pembebasan Bangsa Timor Lorosa'e. Jari-jemari tangan kanannya telah menarik akrab pelatuk M16, tak terhitung. Sementara hati dan kriyanya telah menginjak hutan-hutan di Los Palos dan jalanan di Dili: satu komitmen, merdeka!

''Wuih, siapa sangka wajah manis gini ternyata mampu membunuh juga, dasyat juga'', sempat terlontar komentar dariku, disambut ketawa kamarada-kamarada yang duduk di sebelah kami. Persis di sebelah Makikit ada kamarada Malev dengan tubuh tinggi tegapnya, rambut keriting panjang di bawah bahu, berkulit hitam, dan tentu saja bertato; teman seperjuangan di hutan Los Palos. Sekilas, siapapun pasti menyangka, justru si Malev-lah yang lebih garang dibanding si Makikit.

''Aku tak mampu menarik pelatuk senjataku, makanya aku sempat bertugas sebagai kurir penyampai pesan saja selama di hutan'', kalimat pengakuan dari Malev.

Hah, kami berlima yang duduk bersila mengelilingi satu kardus serveja Tiger tertawa, seusai Malev mengakhiri kalimatnya.

Malam itu kami penuhi dengan cerita Makikit dan Malev semasa mereka di hutan. Satu dua orang kamarada menambahi dan melengkapi cerita mereka, karena mereka berempat bertugas di hutan dan regiaun I Falintil di Los Palos.

ceritanet
©listonpsiregar2000

Makikit, nama dan sosok itu tiba-tiba muncul di otak dan hatiku, ketika aku bertemu kembali dengannya di Bulan Oktober lalu di Dili. Selama dua tahun aku tinggal di Dili, aku hanya mengenalnya sebagai pekerja ornop yang didukung Serikat Buruh Australia, ACTU, dan fokus pada penyiaran radio komunitas di distrik-distrik.

Aku kenal nama asli dan panggilannya, dan seringkali bertemu di rumahku ketika dia dengan Land Cruiser dan boot kebanggaan made in Australia, menjemput satu teman serumah yang bertugas bersama-samanya ke distrik untuk mobile broadcasting. Entahlah, waktu itu Aku tak pernah mengajaknya bicara secara serius. Malah, aku cenderung mengabaikannya.

Akhirnya satu malam di akhir Bulan Oktober itulah yang mempertemukan kami kembali, dan menghabiskan waktu hingga dini hari dengan satu kardus serveja dan segudang cerita heroik dari masa gerakan pembebasan.

Kelakuan yang biasa di Timor Lorosa'e, serveja, tuak sabu, tuak mutin, dan sigaru Gudang Garam, Sampoerna dan Dji Sam Soe sepanjang waktu ketika berkumpul. Biasanya, obrolan malam semakin indah dengan bulan purnama dan alunan gitar akustik di sela-sela cerita-cerita perjuangan seperti yang Makikit dan Malev lakukan malam itu.

Waktu ternyata hanya memberiku sedikit untuk mengenal 'sang pejuang' lewat kata-kata dan kesan yang ia tinggalkan. Ia telah mati dengan ambisinya sebagai rakitan tulang, berbalut kulit, tanpa hati, dan pengabdian di masa kemerdekaan kepada eks komandan di hutan, lengkap dengan senjata dan kekerasan yang ia legalkan.
***

"Pantai Kelapa, 27 Oktober 2003 Malam ini ada sweeping keamanan di Bebunuk, Pojok Pertamina, dan Comoro. Aku ingatkan kawan-kawan untuk berhati-hati dan membawa ID kalau pulang malam. Berempat kami menikmati bulan purnama dan jagung bakar di Pantai Kelapa. Ketika waktu melewati tengah malam, kami bertemu dengan adikku, sang komandan di Kepolisian Distrik Dili dengan kawan-kawannya dengan Tata Sumo reotnya. Duh, lihat adikku, sang komandan sangat bangga dengan HT, seragam biru dengan lencana kepolisiannya, dan sibuk dengan HP Siemens. Sementara itu penjual jagung bakar itu tertegun memandang para aparat kepolisian negara. Apa yang harus kuperbuat, Aku terlalu bangga dengan adikku. Kami tinggalkan Pantai, tepat pukul 01.30 dengan harapan listrik telah hidup di tempat tinggal kami." Tertanda, M.

''Ada senjata yang hilang. Kami harus mencari pelakunya''. M

''Aku melihat Komandanku dengan perempuan selingkuhannya. Butuh kamera untuk membuktikannya''. M

''Tanpa tanggal: Setiap malam sekitar delapan polisi meminta daging kerbau gratis di dekat rumahmu. Setiap orang dapat jatah satu kilogram''. Tertanda, M.

''Tanpa tanggal. Adikku, sang komandan mendapat jatah kamar gratis di sebuah hotel di Audian. Sayang, Aku tak bisa memakainya untuk beristirahat''. Tertanda, M.

''Tanpa tanggal: Aku mau menulis CV malam ini untuk melamar pekerjaan di GTZ. Tapi aku sendiri tak yakin. Kubiarkan waktu habis di depan TV hingga pagi dan tidur hingga tengah hari tanpa melakukan pekerjaan yang berarti. Biasa saja''. Tertanda, M.

Di lain hari Makikit sempat menulis:

''Tanpa tanggal: Aku bertugas malam ini hingga pagi, tak bisa ketemu. Tinggalkan sejenak jagung bakar, ombak Pantai Kelapa dan bulan purnama. Listrik semakin memburuk, selalu dapat jatah mati hingga pagi. Masa transisi yang menyedihkan, keamanan yang selalu mengkuatirkan. Tak masalah, aku ada pistol yang selalu bisa kubawa kemana-mana, meski Aku tak tugas. Toh, riwayat sebagai orang hutan mampu memberiku kekuasaan dan kekuatan untuk dihormati aparat resmi muda''. Tertanda, M

''12 Nopember 2003, Peringatan Pembunuhan Massal Santa Cruz oleh Tentara Indonesia. Aku bertugas malam ini, dengan pistol di tangan: mengamankan konser di depan Palacio atau Gedung Putih. Aku sempat mengamankan satu orang, tentu dengan kekuatan tanganku. Tak ada yang kukuatirkan, semua lancar dengan dukungan aparat berseragam resmi kepolisian. Komando tetap di tanganku''. Tertanda, M

***
Kuluhun, Dili

''6 Desember 2003, Aku baru pulang dari tempat teman di Farol, menghabiskan malam dengan cerita kerjaanku dan tuak sabu. Menjelang malam kubawa perempuan, tentu bukan istriku, bukan pula pelacur, ke rumahku. Gelap, tanpa listrik. Ada saudaraku yang selalu siap tutup mulut dengan kelakuanku. Malam ini, Aku bebas tugas''. Tertanda, M

''Penjara di Bandung itu tak akan pernah hilang di memoriku. Aku dikasih makan dicampur dengan tanah, gimana Aku bisa makan. Di sela-sela waktu, Aku membayangkan dengan bangga, bagaimana kami mengubah kamar menjadi markas dengan keamanan yang khusus oleh kawan-kawan untuk menjaga spanduk-spanduk dan selebaran-selebaran tuntutan kemerdekaan'', cerita Makikit di malam selanjutnya ketika kami makan malam dan minum tuak sabu di belakang rumahnya, di bawah pohon mangga.

''Waktu itu kami mempersiapkan aksi di depan Konferensi APEC di Bogor, 1994, edan.'' Lucu juga mendengar makian-makian Jawa di Dili di sela-sela Bahasa Tetum dan Bahasa Indonesia. ''Walah, di Bandung, Aku pernah kelaparan, karena tak ada uang sesen pun untuk beli makanan. Malah, akhirnya, karena Bandung tak aman, Aku diselamatkan ke Jakarta. Baru di Jakarta itulah Aku makan nasi, sial'', lanjutnya sambil ketawa ngakak. Melas sekali, kawan, komentar kawan-kawannya yang bergabung dengan kami.

Cerita aksi APEC pun melompat ke aksi di depan Kedutaan Rusia. ''Ini lagi, wah payah. Kawan-kawan payah, sira la dehan ba hau sei sira atu organisa protes iha Embaisada Rusia ne'e'', kata Makikit sambil membakar Sampoernanya (Mereka nggak bilang ke Aku kalau mereka mau mengorganisir protes di Kedutaan Rusia, terjemahan dari Bahasa Tetum).

''Aku ndak bisa bayangkan wajahku, tiap kali aku harus berbohong, pura-pura tidak tahu mengenai strategi dan nama kawan-kawan, sementara polisi sudah bawa daftar nama-nama kawan-kawan. Hah, hau mati ona (Mati sudah Aku, terjemahan dari Tetum). Ya, akhirnya Aku minta kiriman uang untuk pulang ke Dili. Kuputuskan jadi orang hutan, angkat senjata bergabung dengan Falintil.''

Aku baru sadar, Makikit tinggal bersama hampir 10 kawan mane muda pengangguran di rumahnya di kawasan pinggiran Dili, di belakang sungai tanpa air. Dia yang menanggung makan mereka tanpa pekerjaan yang mendukungnya. Jika ada uang, mereka makan nasi, Supermi (sebutan mereka untuk mie instant, merek apapun), daging anjing, babi atau ayam potong Brasil.

Meski makan seadanya, tuak sabu atau tuak mutin pasti tersedia. Tak lengkap tanpa minuman beralkohol. Malam itu, mereka menyantap sayur nangka, ayam potong Brasil goreng, dan ai-manas yang super pedas.

Lihat, Makikit melahap nasinya cepat sekali. ''Hah, cepat sekali kau makan,'' kataku. Jawaban dia terdengar militan sekali: ''Falintil kawan, mantan orang hutan.'' Aku tak bisa menahan ketawa, dasar Falintil, komentarku.

Jawaban ini juga berlaku ketika Aku menampakkan wajah heran dan kagum karena kawan-kawan lain di bawah komandonya memasak hidangan makan malam itu. Orang hutan, bagiku sebuah jawaban yang terlalu militan karena toh di manapun, siapapun bisa makan dengan cepat. Namun satu hal, jawaban itu merupakan manifestasi rasa bangga yang dalam akan peran mereka dalam masa perjuangan dengan bergabung Falintil.

Kenangan Aksi aktivis Timor Lorosa'e di Jawa di Kedutaan Rusia, Belanda, Konferensi APEC, dan aksi besar seusai Soeharto lengser dari mulut si Makikit kadang-kadang terhenti untuk lagu Serdadu, Sumbang, Lonteku, hingga Yang Terlupakan milik Iwan Fals.

Pada saat mengenang ketololan ABRI, mereka pun menyanyikan Mars ABRI yang telah diubah syair aslinya dengan berakhir…..''…lebih baik diganti Pramuka''. Tentu saja, sebagai satu-satunya orang Jawa berkebangsaan Indonesia, Aku tertawa melihat kelakuan mereka saat mereka menudingku sambil bernyanyi.

''4 Desember 2003. Petinggi UNMISET dan pejabat lainnya mengumumkan kegagalan investigasi mereka atas kerusuhan besar setahun lalu. Kegagalan mereka bukan hal yang aneh bagiku. Dua orang meninggal dunia, ribuan balistik diperiksa, tak mampu membuktikan siapa yang melakukan penembakan. Hebat benar si sniper itu. Tak kudengar komentar dari kawan- kawan aktivis mengenai hasil temuan tim investigasi itu''. Tertanda, M

''Fretilin berkoalisi dengan Partaiku. Keputusan ini reaksi atas oposisi lain yang mengkampanyekan bahwa Partaiku komunis di distrik-distrik. Sialan, kok mereka membunuh kami dari belakang''. M

''18 Desember 2003: Public Hearing Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi mengenai peristiwa 1974-1979. Kay Rala Xanana Gusmao, Marie Alkatiri, Joao Carascalao mewakili UDT, Ramos Horta, Mario Carascalao mantan Gubernur di masa pendudukan Indonesia telah memberikan kesaksian dan minta maaf atas peristiwa di tahun itu. Rekonsiliasi macam apa yang dihasilkan dari kesaksian mereka, toh masih banyak masyarakat yang marah atas kejadian itu. Kesaksian mereka tak menyelesaikan persoalan antar masyarakat. Rekonsiliasi hanya bagi para pemimpin dan penguasa''. Tertanda M

''Tanpa tanggal: Aku tugas malam ini. Jam 22.00 Aku harus ke markas''. Tertanda, M

Kata-kata 'tugas' dan analisanya mengenai keamanan menghasilkan sebuah analisa balik pada otakku. Sebuah pertanyaan: Apakah tugas itu? Pekerjaan apa yang membebani malamnya? Yakin, kuperoleh jawaban, intelejen alias intel. Entah untuk siapa.

Aku sendiri yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Timor Lorosa'e merasa tak pernah ada informasi dari Pemerintah yang dipimpin Commandante Xanana mengenai lembaga intelejen. Hingga Bulan Desember, Aku simpan kesimpulanku ini sendiri dan hanya mendiskusikannya dengan beberapa kawan.
***
bersambung