Makikit, nama dan sosok itu tiba-tiba
muncul di otak dan hatiku, ketika aku bertemu kembali dengannya di Bulan
Oktober lalu di Dili. Selama dua tahun aku tinggal di Dili, aku hanya
mengenalnya sebagai pekerja ornop yang didukung Serikat Buruh Australia,
ACTU, dan fokus pada penyiaran radio komunitas di distrik-distrik.
Aku kenal nama asli dan panggilannya,
dan seringkali bertemu di rumahku ketika dia dengan Land Cruiser dan
boot kebanggaan made in Australia, menjemput satu teman serumah yang
bertugas bersama-samanya ke distrik untuk mobile broadcasting. Entahlah,
waktu itu Aku tak pernah mengajaknya bicara secara serius. Malah, aku
cenderung mengabaikannya.
Akhirnya satu malam di akhir Bulan
Oktober itulah yang mempertemukan kami kembali, dan menghabiskan waktu
hingga dini hari dengan satu kardus serveja dan segudang cerita heroik
dari masa gerakan pembebasan.
Kelakuan yang biasa di Timor Lorosa'e,
serveja, tuak sabu, tuak mutin, dan sigaru Gudang Garam, Sampoerna dan
Dji Sam Soe sepanjang waktu ketika berkumpul. Biasanya, obrolan malam
semakin indah dengan bulan purnama dan alunan gitar akustik di sela-sela
cerita-cerita perjuangan seperti yang Makikit dan Malev lakukan malam
itu.
Waktu ternyata hanya memberiku sedikit
untuk mengenal 'sang pejuang' lewat kata-kata dan kesan yang ia tinggalkan.
Ia telah mati dengan ambisinya sebagai rakitan tulang, berbalut kulit,
tanpa hati, dan pengabdian di masa kemerdekaan kepada eks komandan di
hutan, lengkap dengan senjata dan kekerasan yang ia legalkan.
***
"Pantai
Kelapa, 27 Oktober 2003 Malam ini ada sweeping keamanan
di Bebunuk, Pojok Pertamina, dan Comoro. Aku ingatkan kawan-kawan
untuk berhati-hati dan membawa ID kalau pulang malam. Berempat kami
menikmati bulan purnama dan jagung bakar di Pantai Kelapa. Ketika
waktu melewati tengah malam, kami bertemu dengan adikku, sang komandan
di Kepolisian Distrik Dili dengan kawan-kawannya dengan Tata Sumo
reotnya. Duh, lihat adikku, sang komandan sangat bangga dengan HT,
seragam biru dengan lencana kepolisiannya, dan sibuk dengan HP Siemens.
Sementara itu penjual jagung bakar itu tertegun memandang para aparat
kepolisian negara. Apa yang harus kuperbuat, Aku terlalu bangga dengan
adikku. Kami tinggalkan Pantai, tepat pukul 01.30 dengan harapan listrik
telah hidup di tempat tinggal kami." Tertanda, M.
''Ada senjata yang hilang.
Kami harus mencari pelakunya''. M
''Aku melihat Komandanku dengan perempuan selingkuhannya. Butuh kamera
untuk membuktikannya''. M
''Tanpa tanggal: Setiap malam sekitar delapan polisi meminta daging
kerbau gratis di dekat rumahmu. Setiap orang dapat jatah satu kilogram''.
Tertanda, M.
''Tanpa tanggal. Adikku, sang komandan mendapat jatah kamar gratis
di sebuah hotel di Audian. Sayang, Aku tak bisa memakainya untuk beristirahat''.
Tertanda, M.
''Tanpa tanggal: Aku mau menulis CV malam ini untuk melamar pekerjaan
di GTZ. Tapi aku sendiri tak yakin. Kubiarkan waktu habis di depan
TV hingga pagi dan tidur hingga tengah hari tanpa melakukan pekerjaan
yang berarti. Biasa saja''. Tertanda, M.
Di lain hari Makikit sempat menulis:
''Tanpa tanggal: Aku bertugas
malam ini hingga pagi, tak bisa ketemu. Tinggalkan sejenak jagung
bakar, ombak Pantai Kelapa dan bulan purnama. Listrik semakin memburuk,
selalu dapat jatah mati hingga pagi. Masa transisi yang menyedihkan,
keamanan yang selalu mengkuatirkan. Tak masalah, aku ada pistol yang
selalu bisa kubawa kemana-mana, meski Aku tak tugas. Toh, riwayat
sebagai orang hutan mampu memberiku kekuasaan dan kekuatan untuk dihormati
aparat resmi muda''. Tertanda, M
''12 Nopember 2003, Peringatan
Pembunuhan Massal Santa Cruz oleh Tentara Indonesia. Aku bertugas
malam ini, dengan pistol di tangan: mengamankan konser di depan Palacio
atau Gedung Putih. Aku sempat mengamankan satu orang, tentu dengan
kekuatan tanganku. Tak ada yang kukuatirkan, semua lancar dengan dukungan
aparat berseragam resmi kepolisian. Komando tetap di tanganku''. Tertanda,
M
***
Kuluhun,
Dili
''6 Desember 2003, Aku baru
pulang dari tempat teman di Farol, menghabiskan malam dengan cerita
kerjaanku dan tuak sabu. Menjelang malam kubawa perempuan, tentu bukan
istriku, bukan pula pelacur, ke rumahku. Gelap, tanpa listrik. Ada
saudaraku yang selalu siap tutup mulut dengan kelakuanku. Malam ini,
Aku bebas tugas''. Tertanda, M
''Penjara di Bandung itu tak akan
pernah hilang di memoriku. Aku dikasih makan dicampur dengan tanah,
gimana Aku bisa makan. Di sela-sela waktu, Aku membayangkan dengan bangga,
bagaimana kami mengubah kamar menjadi markas dengan keamanan yang khusus
oleh kawan-kawan untuk menjaga spanduk-spanduk dan selebaran-selebaran
tuntutan kemerdekaan'', cerita Makikit di malam selanjutnya ketika kami
makan malam dan minum tuak sabu di belakang rumahnya, di bawah pohon
mangga.
''Waktu itu kami mempersiapkan
aksi di depan Konferensi APEC di Bogor, 1994, edan.'' Lucu juga mendengar
makian-makian Jawa di Dili di sela-sela Bahasa Tetum dan Bahasa Indonesia.
''Walah, di Bandung, Aku pernah kelaparan, karena tak ada uang sesen
pun untuk beli makanan. Malah, akhirnya, karena Bandung tak aman, Aku
diselamatkan ke Jakarta. Baru di Jakarta itulah Aku makan nasi, sial'',
lanjutnya sambil ketawa ngakak. Melas sekali, kawan, komentar kawan-kawannya
yang bergabung dengan kami.
Cerita aksi APEC pun melompat ke
aksi di depan Kedutaan Rusia. ''Ini lagi, wah payah. Kawan-kawan payah,
sira la dehan ba hau sei sira atu organisa protes iha Embaisada Rusia
ne'e'', kata Makikit sambil membakar Sampoernanya (Mereka nggak bilang
ke Aku kalau mereka mau mengorganisir protes di Kedutaan Rusia, terjemahan
dari Bahasa Tetum).
''Aku ndak bisa bayangkan wajahku,
tiap kali aku harus berbohong, pura-pura tidak tahu mengenai strategi
dan nama kawan-kawan, sementara polisi sudah bawa daftar nama-nama kawan-kawan.
Hah, hau mati ona (Mati sudah Aku, terjemahan dari Tetum). Ya, akhirnya
Aku minta kiriman uang untuk pulang ke Dili. Kuputuskan jadi orang hutan,
angkat senjata bergabung dengan Falintil.''
Aku baru sadar, Makikit tinggal
bersama hampir 10 kawan mane muda pengangguran di rumahnya di kawasan
pinggiran Dili, di belakang sungai tanpa air. Dia yang menanggung makan
mereka tanpa pekerjaan yang mendukungnya. Jika ada uang, mereka makan
nasi, Supermi (sebutan mereka untuk mie instant, merek apapun), daging
anjing, babi atau ayam potong Brasil.
Meski makan seadanya, tuak sabu
atau tuak mutin pasti tersedia. Tak lengkap tanpa minuman beralkohol.
Malam itu, mereka menyantap sayur nangka, ayam potong Brasil goreng,
dan ai-manas yang super pedas.
Lihat, Makikit melahap nasinya cepat
sekali. ''Hah, cepat sekali kau makan,'' kataku. Jawaban dia terdengar
militan sekali: ''Falintil kawan, mantan orang hutan.'' Aku tak bisa
menahan ketawa, dasar Falintil, komentarku.
Jawaban ini juga berlaku ketika
Aku menampakkan wajah heran dan kagum karena kawan-kawan lain di bawah
komandonya memasak hidangan makan malam itu. Orang hutan, bagiku sebuah
jawaban yang terlalu militan karena toh di manapun, siapapun bisa makan
dengan cepat. Namun satu hal, jawaban itu merupakan manifestasi rasa
bangga yang dalam akan peran mereka dalam masa perjuangan dengan bergabung
Falintil.
Kenangan Aksi aktivis Timor Lorosa'e
di Jawa di Kedutaan Rusia, Belanda, Konferensi APEC, dan aksi besar
seusai Soeharto lengser dari mulut si Makikit kadang-kadang terhenti
untuk lagu Serdadu, Sumbang, Lonteku, hingga Yang Terlupakan milik Iwan
Fals.
Pada saat mengenang ketololan ABRI,
mereka pun menyanyikan Mars ABRI yang telah diubah syair aslinya dengan
berakhir
..''
lebih baik diganti Pramuka''. Tentu saja, sebagai
satu-satunya orang Jawa berkebangsaan Indonesia, Aku tertawa melihat
kelakuan mereka saat mereka menudingku sambil bernyanyi.
''4 Desember 2003. Petinggi
UNMISET dan pejabat lainnya mengumumkan kegagalan investigasi mereka
atas kerusuhan besar setahun lalu. Kegagalan mereka bukan hal yang
aneh bagiku. Dua orang meninggal dunia, ribuan balistik diperiksa,
tak mampu membuktikan siapa yang melakukan penembakan. Hebat benar
si sniper itu. Tak kudengar komentar dari kawan- kawan aktivis mengenai
hasil temuan tim investigasi itu''. Tertanda, M
''Fretilin berkoalisi dengan
Partaiku. Keputusan ini reaksi atas oposisi lain yang mengkampanyekan
bahwa Partaiku komunis di distrik-distrik. Sialan, kok mereka membunuh
kami dari belakang''. M
''18 Desember 2003: Public
Hearing Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi mengenai peristiwa
1974-1979. Kay Rala Xanana Gusmao, Marie Alkatiri, Joao Carascalao
mewakili UDT, Ramos Horta, Mario Carascalao mantan Gubernur di masa
pendudukan Indonesia telah memberikan kesaksian dan minta maaf atas
peristiwa di tahun itu. Rekonsiliasi macam apa yang dihasilkan dari
kesaksian mereka, toh masih banyak masyarakat yang marah atas kejadian
itu. Kesaksian mereka tak menyelesaikan persoalan antar masyarakat.
Rekonsiliasi hanya bagi para pemimpin dan penguasa''. Tertanda M
''Tanpa tanggal: Aku tugas
malam ini. Jam 22.00 Aku harus ke markas''. Tertanda, M
Kata-kata 'tugas' dan analisanya
mengenai keamanan menghasilkan sebuah analisa balik pada otakku. Sebuah
pertanyaan: Apakah tugas itu? Pekerjaan apa yang membebani malamnya?
Yakin, kuperoleh jawaban, intelejen alias intel. Entah
untuk siapa.
Aku sendiri yang telah menjadi
bagian dari kehidupan masyarakat Timor Lorosa'e merasa tak pernah ada
informasi dari Pemerintah yang dipimpin Commandante Xanana mengenai
lembaga intelejen. Hingga Bulan Desember, Aku simpan kesimpulanku ini
sendiri dan hanya mendiskusikannya dengan beberapa kawan.
*** bersambung