"Pertama-tama,
semua orang baik-baik saja?"
"Ya, ya jangan kuatir.
Semua beres. Kutulis padamu banyak hal yang bukan-bukan, maaflah. Tapi
kelak saja kita bicarakan itu. Mengapa tak berkirim telegram? Markel
akan membawa barang-barangmu ke atas. Kuduga engkau kuatir, waktu Yegorovna
tak membuka pindu. Dia ke dusun."
"Kau lebih kurus. Tapi
alangkah muda, dan manis pula! Tunggu sebentar, kubayar kereta."
Yegorovna pergi mencari
tepung. Semua bujang lainnya sudah disuruh pergi. Sekarang hanya tinggal
seorang gadis, Nyusha, belum kau kenal, ia menjaga Sasha; tak ada oranglain.
Tiap orang sudah diberi tahu, kau akan datang, semua ingin bertemu kau,
Gordon, Dudorov, tiap mereka.
"Sasha apa kabarnya?"
"Berkat Tuhan baik. Ia
baru bangun. Kalau kau tidak baru datang dari kereta api, sedang ada
typhus dimana-mana, kita boleh segera melihatnya.
"Ayah di rumah?"
"Tak ada yang menulis
padamu? Ia di dewan kota dari pagi sampai malam, ia ketuanya. Ya percayalah!
Kereta suda dibayar? Markel! Markel!"
Mereka berdiri di tengah
jalan dengan kopor kayu dan tas Yury yang merintangi jalan; orang-orang
yang lewatpun berhenti dan melihat mereka dari kepala sampai kaki, memandangi
kereta yang sedang melepaskan diri dari tepi trotoar serta pintu depan
yang terbuka lebar, guna menyaksikan apa akan terjadi.
Tapi
Markel dengan rompi di atas kemeja kapasnya dan dengan pil jurukunci
di tangan, sedang lari dari gerbang untuk menyambut majikan mudanya,
sambil berseru-seru :
"Allah Yang Maha
Kuasa, itulah Yurochka! Wah itulah buah hati kita sendiri! Yury Andreyevich,
cahaya mataku, jadi tak kamu lupakan kami, kami yang tiap hari berdoa
untukmu! Kamu hormati kamu, kamu pulang! Kalian mau apa?" tukasnya
pada para penonton. "Apa yang luar biasa? Enyah! Mengapa melotot?"
"Apa kabar Markel!?"
Yury memeluknya. "Pakailah picimu, keledai. Apa kabar? Bagaimana
istrimu? Dan anak-anak?"
"Bagaimana lagi? Mereka
tumbuh, berkah Ilahi. Soal kabar dapat kamu lihat sendiri, sewaktu kamu
pergi berbuat yang jaya, kamipun sibuk. Semua kacau melarat, setanpun
tak mampu memilih, jalanan kotor, atap tiris, perut kosong macam di
bulan Puasa, dan semua ini tanpa anexasi atau pajak."*
"Aku keluhkan pada Yury
Andreyevich tentang kau, Markel Yurochka, ia selalu begitu. Aku tak
betah omong kosong macam itu. Semuanya untuk kepentinganmu, disangkanya
kau suka itu, akibat merekalah ia setajam itu. Baik, baiklah, Markel,
jangan berbantahan denganku, kukenal kau. Kau tak dikenal orang, Markel.
SUdah waktunya kau belajar berpikir sehat sedikit. Jangan membual pada
kami, seolah kami tukang warung!"
Merekapun masuk. Markel
mengangkut bayrang-barang Yury ke dalam, mengunci pintu depan di belakangnya
dan bicara lagi secara akrab.
"Antonina Alexandrovna
marah, kamu dengar ucapannya. Selalu begitu. Katanya, batinmu hitam
melulu. Markel, macam pipa perapian ini. Sekarang, ujarnya, tiap anak
kecil barangkali bahkan tiap monyet atau anjing timangan tahu apa soalnya.
Itu tentu benar, tapi meskipun begitu, Yurochka, percaya atau tidak,
orang yang tahu telah melihat buku itu, buku Tukang Batu** seratus empat
puluh tahun buku itu letaknya di bawah batu, tapi sekarang --inilah
pendapatuku yang sudah kupertimbangkan Yurochka-- kami telah kena tipu.
Tapi aku tak boleh omong; lihatlah Antonina Alexandrovna geleng-geleng
kepala kepadaku."
"Tak heran. Cukup Markel.
Letakkan barang-barang itu dan sekian sajalah, Kalau Yury Andreyevich
perlu apa-apa, ia akan memanggilmu.
***
*Damai tanpa anexasi atau pajak
adalah semboyan kaum sosialis kiri
** Buku Tukang Batu, yakni Para Protokol Kaum Tua-tua Zion.