edisi 68
rabu 3 desember 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


terbitan Ketika Tohari Menyelamatkan Lasi
Dodiek Adyttya Dwiwanto.

Judul Buku : Belantik (Bekisar Merah II)
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : November 2001
Tebal : 142 halaman

Kehidupan wong cilik di pedesaan. Itulah ciri khas seorang Ahmad Tohari dalam menulis, tidak hanya novel-novelnya tetapi juga dalam menulis kolomnya. Tengok saja novel-novelnya terdahulu seperti Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala), Kubah, Di Kaki Bukit Cibalak dan Bekisar Merah dan juga kumpulan kolomnya yang bertajuk Mas Mantri Gugat dan Mas Mantri Menjenguk Tuhan atau kumpulan cerpennya Senyum Karyamin.

Tohari memang lebih suka menulis tentang keseharian orang-orang kecil yang tinggal di pedesaan. Gambaran tentang pegunungan, hamparan sawah yang terbentang luas dan kicau burung yang berdendang menjadi pemanisnya. Dalam bahasanya mendiang YB Mangunwijaya, Ahmad Tohari adalah sang novelis spesialis kaum desa dengan segala drama kehidupannya.

Belantik merupakan sekuel alias kelanjutan dari novel sebelumnya yaitu Bekisar Merah. Hanya kali ini Tohari tidak lagi menceritakan tentang keindahan kehidupan pedesaan tetapi justru tentang 'keindahan' dan gemerlapnya kehidupan kaum superkaya alias jetset di kota metropolitan Jakarta.

Kalau dahulu tokoh Lasi digambarkan hanya menjadi gundik Handarbeni maka kini ia meningkat statusnya menjadi wanita simpanan Bambung, seorang pria berkuasa yang mampu menentukan a sampai z-nya negeri ini. Sebenarnya Bambung hanya mau 'meminjam' Lasi sebentar saja dari Handarbeni tetapi akhirnya Lasi menjadi milik Bambung --ini tentunya dengan campur tangan dari Bu Lanting, seorang penyalur alias germo perempuan-perempuan simpanan kelas atas.

Handarbeni sendiri tidak bisa berbuat banyak karena Bambung adalah orang yang sangat berkuasa. Peminjaman ini juga dihargai dengan kompensasi berupa kenaikan pangkat bagi Handarbeni yaitu jabatan direktur sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang perkapalan! Handarbeni pun akhirnya tidak berkeberatan melepas Lasi karena ia bisa naik pangkat dan mencari 'mainan baru' yang lebih baik dari Lasi!.

Meski diberikan berbagai macam hadiah yang supermahal dari Bambung yang super berkuasa ini tetapi Lasi yang lugu tetap tidak mau menerima begitu saja karena ia masih menganggap dirinya sebagai istri sah dari Handarbeni. Tetapi Lasi harus menerima kenyataan kalau Handarbeni sudah melepaskannya begitu saja bak barang dagangan.

tulisan edisi 68

cerpen Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok Srengenge

sajak Berlin
Lily Glroida Nababan

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 


ceritanet

©listonpsiregar2000


Lasi yang kehilangan arah akhirnya memutuskan untuk pulang kampung, ke Karangsoga. Di sini ia bertemu dengan Kanjat, teman sepermainannya yang kini telah menjadi insinyur dan berprofesi dosen di sebuah universitas negeri terkenal di Purwokerto, Jawa Tengah. Kenangan masa lalu pun terkuak kembali. Kenangan saat mereka berdua masih bocah dan bermain-main bersama. Kanjat adalah satu-satunya teman sebaya yang tidak pernah memanggil Lasi dengan nama Lasi-pang-ejekan bahwa Lasi adalah anak blasteran lokal dengan Jepang.

Lasi mengungkapkan keinginannya untuk bersembunyi di rumah pamannya, Paman Ngalwi di Sulawesi Tengah. Lasi ingin menghindar dari kejaran Bambung yang mabuk kepayang kepadanya. Kanjat pun langsung menawarkan bantuannya untuk mengantar Lasi. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Lasi dan Kanjat dinikahkan secara agama.

Sayangnya ketika Kanjat dan Lasi baru berada di Surabaya, muncul Bu Lanting untuk menyeret paksa Lasi kembali ke Jakarta sebagai perempuan simpanan Bambung. Lasi pun akhirnya 'disimpan' Bambung di salah satu rumah mewahnya di Jakarta. Lasi yang tengah mengandung anak dari benih Kanjat ini secara tidak sengaja ikut ke dalam praktik kekuasaan negara yang dikendalikan oleh Bambung-yang kelak akan nyaris menyeretnya ke meja hijau atas tuduhan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Bermacam-macam surat sakti bisa diutak-atik oleh Bambung yang memang dikenal sebagai pelobi ulung. Semua orang datang kepadanya bila ingin menjadi pejabat negara, ketua partai politik, anggota parlemen dan juga kalau ingin membuka usaha perbankan.
***

Secara keseluruhan, novel Belantik ini masih bercirikan gaya khas Ahmad Tohari yaitu tentang kehidupan orang-orang kecil tetapi kali ini dengan latar belakang yang suasana perkotaan yang kosmopolitan. Ini agak sedikit di luar pakem Ahmad Tohari meski sebenarnya adalah hal yang wajar mengingat novel ini menceritakan tentang kelanjutan hidup Lasi sebagai perempuan simpanan pejabat kelas atas, yang tentunya berbeda dengan Bekisar Merah yang menceritakan bahwa kala itu Lasi masih menjadi istri dari seorang penyadap nira di Karangsoga.

Sedangkan yang masih tetap ada dalam novel-novel Tohari adalah ciri khas perempuan yang dilukiskan benar-benar tipikal perempuan Jawa yang lugu, nrimo, dan sejenisnya yang bisa dilihat dari tokoh Srintil dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk atau tokoh Sanis dalam Di Kaki Bukit Cibalak.

Mungkin yang benar-benar di luar dugaan adalah tokoh utama lelaki yang menjadi pemenang bak film-film Hollywood. Kalau dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, tokoh Rasus tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Srintil dan begitu pula dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak, tokoh Pambudi gagal mendapatkan perempuan idamannya Sanis maka kali ini tokoh Kanjat muncul sebagai pahlawan dengan mempersunting Lasi-meskipun sebenarnya Kanjat juga tidak mampu berbuat banyak kala Lasi dibawa pergi oleh Bu Lanting dan kemudian 'disimpan' oleh Bambung. Padahal sebelumnya dalam novel Bekisar Merah, tokoh Kanjat juga tidak berdaya.

Hal ini membuat derajat Lasi pun terangkat kembali karena Lasi pernah dua kali menjanda sedangkan Kanjat masih perjaka tulen. Lagi-lagi ini di luar pakem Ahmad Tohari yang biasanya 'menelantarkan' tokoh perempuan dan terlihat dengan jelas pada tokoh Srintil di Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.
***