Lasi yang kehilangan
arah akhirnya memutuskan untuk pulang kampung, ke Karangsoga. Di sini
ia bertemu dengan Kanjat, teman sepermainannya yang kini telah menjadi
insinyur dan berprofesi dosen di sebuah universitas negeri terkenal
di Purwokerto, Jawa Tengah. Kenangan masa lalu pun terkuak kembali.
Kenangan saat mereka berdua masih bocah dan bermain-main bersama. Kanjat
adalah satu-satunya teman sebaya yang tidak pernah memanggil Lasi dengan
nama Lasi-pang-ejekan bahwa Lasi adalah anak blasteran lokal dengan
Jepang.
Lasi mengungkapkan keinginannya
untuk bersembunyi di rumah pamannya, Paman Ngalwi di Sulawesi Tengah.
Lasi ingin menghindar dari kejaran Bambung yang mabuk kepayang kepadanya.
Kanjat pun langsung menawarkan bantuannya untuk mengantar Lasi. Untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Lasi dan Kanjat dinikahkan
secara agama.
Sayangnya ketika Kanjat dan Lasi
baru berada di Surabaya, muncul Bu Lanting untuk menyeret paksa Lasi
kembali ke Jakarta sebagai perempuan simpanan Bambung. Lasi pun akhirnya
'disimpan' Bambung di salah satu rumah mewahnya di Jakarta. Lasi yang
tengah mengandung anak dari benih Kanjat ini secara tidak sengaja ikut
ke dalam praktik kekuasaan negara yang dikendalikan oleh Bambung-yang
kelak akan nyaris menyeretnya ke meja hijau atas tuduhan korupsi, kolusi
dan nepotisme (KKN). Bermacam-macam surat sakti bisa diutak-atik oleh
Bambung yang memang dikenal sebagai pelobi ulung. Semua orang datang
kepadanya bila ingin menjadi pejabat negara, ketua partai politik, anggota
parlemen dan juga kalau ingin membuka usaha perbankan.
***
Secara keseluruhan,
novel Belantik ini masih bercirikan gaya khas Ahmad Tohari yaitu tentang
kehidupan orang-orang kecil tetapi kali ini dengan latar belakang yang
suasana perkotaan yang kosmopolitan. Ini agak sedikit di luar pakem
Ahmad Tohari meski sebenarnya adalah hal yang wajar mengingat novel
ini menceritakan tentang kelanjutan hidup Lasi sebagai perempuan simpanan
pejabat kelas atas, yang tentunya berbeda dengan Bekisar Merah yang
menceritakan bahwa kala itu Lasi masih menjadi istri dari seorang penyadap
nira di Karangsoga.
Sedangkan yang masih
tetap ada dalam novel-novel Tohari adalah ciri khas perempuan yang dilukiskan
benar-benar tipikal perempuan Jawa yang lugu, nrimo, dan sejenisnya
yang bisa dilihat dari tokoh Srintil dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
atau tokoh Sanis dalam Di Kaki Bukit Cibalak.
Mungkin yang benar-benar
di luar dugaan adalah tokoh utama lelaki yang menjadi pemenang bak film-film
Hollywood. Kalau dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, tokoh Rasus tidak
bisa berbuat apa-apa untuk menolong Srintil dan begitu pula dalam novel
Di Kaki Bukit Cibalak, tokoh Pambudi gagal mendapatkan perempuan idamannya
Sanis maka kali ini tokoh Kanjat muncul sebagai pahlawan dengan mempersunting
Lasi-meskipun sebenarnya Kanjat juga tidak mampu berbuat banyak kala
Lasi dibawa pergi oleh Bu Lanting dan kemudian 'disimpan' oleh Bambung.
Padahal sebelumnya dalam novel Bekisar Merah, tokoh Kanjat juga tidak
berdaya.
Hal ini membuat derajat
Lasi pun terangkat kembali karena Lasi pernah dua kali menjanda sedangkan
Kanjat masih perjaka tulen. Lagi-lagi ini di luar pakem Ahmad Tohari
yang biasanya 'menelantarkan' tokoh perempuan dan terlihat dengan jelas
pada tokoh Srintil di Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.
***