"Maaf, boleh tahu,
kau kerja di mana?"
Diraihnya dua gelas dari para-para dan memindahkannya ke atas meja,
"O, my brother, negeri ini telah membuka diri. Lihat, para pelancong
berdatangan dari seluruh pelosok dunia. Ada banyak kerja untuk melayani
mereka. Kemarin saya masih bekerja paruh waktu di McDonald. Tapi hari
ini, mungkin seterusnya, saya tak bekerja."
"Mengapa?"
"Dammit, fucking America!
Saya tak bisa menjadi mesin. Saya biasa bekerja dengan inspirasi. Saya
seniman. Tidakkah kau lihat, ada seni dalam diri ini." Ia menunjuk
dadanya sendiri. "Saya dulu melukis, karena saya bodoh. Saya merasa
lukisan saya original. Saya seorang maestro. Tetapi, brother, semua
yang saya anggap sebagai penemuan, yang unik dan otentik, telah diciptakan
Kupka, jauh sebelum saya berbentuk setitik sperma. Benar-benar dungu!
Dan celakanya, di dunia ini banyak seniman yang lebih dungu daripada
saya. Bagaimana dengan kau?"
"Aku seorang pengangguran."
"Oh, come on!"
"Ya. Aku seorang warga
dari negeri yang kaya raya. Setiap orang di sana bisa hidup sejahtera
tanpa harus bekerja," kataku membual, tak peduli ia percaya atau
tak.
"Really? That sounds
good. Dan kau tak melakukan sesuatu yang mungkin bisa memberi arti lebih
bagi hidupmu?"
"Aku sedang menyiapkan
diri. Seorang cenayang dari Curaçao, Kepulauan Antillen, pernah
meramal aku kelak jadi presiden."
"Really? That's nice.
Semoga peramal itu bukan orang gila."
Malam itu Vladimir
bermaksud mengantarku, tapi aku cukup memintanya menerangkan peta kota
yang kubawa. Aku hanya perlu petunjuk arah dari rumahnya ke Jembatan
Karlomost, karena dari sana aku sudah tahu jalan ke hotelku. Ia berusaha
menahanku tinggal lebih lama ketika aku berpamitan. Bisa kubayangkan
betapa hidupnya kesepian, tinggal seorang diri di sebuah rumah tua,
tanpa keluarga, hanya ditemani berlusin boneka.
"Saya masih suka
keluar-masuk toko mainan, pasar swalayan, pasar pagi, pasar malam, menyusuri
kios-kios kaki lima," katanya ketika kami melewati jajaran boneka
di dinding ruang tamunya.
"Apa yang kaulakukan di sana?"
"Ada yang saya cari, you know."
"Boneka?"
"Emm, ya. Bukan boneka biasa."
Tiba di beranda, ingin
sekali aku mengucapkan selamat malam dan segera meninggalkannya. Tapi
itu pun ternyata tidak gampang, lantaran ia terus saja bercerita tentang
boneka. Katanya, ia bahkan telah mengirim surat kepada orang tuanya,
juga meminta tolong teman-temannya yang kebetulan pergi ke manca negara,
untuk membelikan boneka yang mirip dengannya. Hasilnya nihil. Tak seorang
pun berhasil.
"Tak ada binatang
yang wujud dan wataknya seburuk kau," kataku bergurau.
"Tentu saja, itu pertanda saya makhluk istimewa," kilahnya
bangga.
Ia pun bercermin saban
hari untuk lebih mengenal diri sendiri, lalu setiap pulang kerja ia
akan menyusuri tempat-tempat penjual boneka, namun tak kunjung ia dapati
boneka yang dicari.
Suatu hari pernah datang ke rumahnya seseorang tak dikenal dan mengabarkan
bahwa nun di Sebuah Entah, ada ahli membuat boneka yang sudah kondang
di seluruh dunia, terutama dikenal di negara-negara yang penduduknya
beragama. Ia pun lantas bekerja keras, dua-tiga jam lebih lama dari
ketentuan jam kerja, agar dapat menyimpan lebih banyak uang. Setelah
cukup, segera dicarinya alamat yang diberikan oleh orang tak dikenal
itu. Akan dipesannya sebuah boneka istimewa, boneka yang dapat mewakili
dirinya. "Saya bayangkan, boneka itu mustinya merupakan gabungan
dari semua binatang," katanya.
Sesampai di tempat
yang dituju Vladimir keheranan, melihat Si Pembuat Boneka ternyata sama
persis dengan sesuatu yang sejak kanak ia bayangkan senantiasa.
"Tolong bikinkan
boneka yang persis saya," pintanya.
"Aku tak akan mencipta boneka yang sama untuk kedua kalinya,"
jawab Si Pembuat Boneka.
Menyadari bahwa keinginannya tak akan terpenuhi, dalam benaknya serta-merta
terbit perasaan benci. Lalu muncul gagasannya untuk menyelipkan boneka
Si Pembuat Boneka di dinding kakusnya, di antara tokoh-tokoh yang tak
ia suka.
"Kalau begitu, saya pesan boneka yang persis anda."
"Itu pun sudah kucipta. Bahkan, tampaknya kini mulai rusak, saatnya
kumasukkan ke dalam kotak."
"Boleh saya sekadar melihatnya di sini?"
"Kau telah memandanginya di cermin setiap hari."
Bagaimana aku mesti
percaya pada kisahnya? Di mataku Vladimir adalah seorang pengkhayal
dengan selera artistik yang cukup baik. Seandainya sejak dulu ia menulis,
barangkali akan lebih berhasil daripada mencoba jadi pelukis. Sayup-sayup
kudengar lonceng berkeleneng sepuluh kali. Itulah kesempatanku untuk
membubuhkan tanda titik pada lanturannya yang mulai tidak menarik. Kutepuk
bahunya agar berhenti berkata-kata dan berjanji akan bertemu dengannya
lagi.
"O, my brother,
besok siang saya harus ke Brno. Ibu saya terserang stroke dan selalu
memanggil-manggil saya. Yeah, kerewelan orang tua, you know. Tapi, jika
kau tak keberatan, besok pagi masih ada waktu untuk minum kopi bersama?"
Jam sembilan esok paginya
kami bertemu di kafe Pushkin. Aku memesan double espresso, Vladimir
minta secangkir capuccino. Barangkali lantaran kurang tidur atau sedang
memikirkan ibunya yang tua dan sakit, keceriaan seakan menyingkir dari
wajah Vladimir. Matanya yang hijau tampak bagai pucuk daun gandum yang
alum dan pelupuk bawahnya semakin menggelembung seakan menampung bergram-gram
rasa murung. Lebih dari satu jam kami duduk berhadapan. Ia tak banyak
bicara, kecuali berkali-kali menyatakan kebahagiaannya lantaran bertemu
denganku yang, katanya, telah ia anggap sebagai saudara.
Ketika kami keluar
kafe, ia memelukku begitu erat, begitu khidmat. Aku merasa sedikit risi
ketika kusadari beberapa orang memandangi kami, tapi Vladimir tak peduli.
***
Suatu siang, seminggu kemudian. Aku baru saja meninggalkan apartemen
Elena Tsvetaeva (gadis bermata sayu yang pertama kali kutemu di depan
kafe komunis itu), sebuah rumah susun yang sederhana serupa pagupon
burung dara, di dataran tinggi Mala Strana. Ketika aku memasuki lobi
hotel, seorang resepsionis menyerahkan kunci kamar beserta sepucuk surat
kilat, tanpa nama pengirim, tanpa perangko, bercap pos Brno. Aku maklum
ketika ia dengan agak ragu bertanya, apakah benar surat itu untukku,
sebab pengirimnya keliru menuliskan namaku. To: Mr. Alias Estwo, 109
Ambassador Zlata Husa, Vaclavske Namesti 5-7, Prague.
Dari siapa lagi kalau
bukan Vladimir Barakovsky? Langsung terbayang olehku kata-kata pembukanya:
Dear my brother, lalu bla-bla-bla. Dengan perasaan riang, setelah memasuki
kamar, amplop putih itu kubuka dan lipatan kertas di dalamnya pun kugelar.
Ada dua lembar surat yang berbeda. Surat pertama cukup singkat, hurufnya
besar-besar, seperti ditulis oleh tangan yang gemetar.
Dear Mr. Alias
Estwo;
Kami kirimkan
surat Vladimir Barakovsky,
karena ia tak sempat mengirimkannya kepada anda.
Kami harap anda belum meninggalkan Praha
dan sempat membaca ungkapan perasaan yang ditulisnya,
sehari sebelum ia membakar diri.
Terima kasih atas
persahabatan anda yang tulus dengan anak kami.
Salam,
Leonid Barakovsky
Aku tak punya cukup
daya untuk membaca surat kedua.
tamat