|
tentang
ceritanet
sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku
kirim
tulisan
ikut
mailing list
buku
non-fiksi
Living
to Tell the Tale
Gabriel Garxia Marquez, trans. by Edith Grossman (Jonathan
Cape)
Who Killed
Daniel Pearl?
Bernard-Henry Levy
(Duckworth)
fiksi
The Radetzky March
Joseph Roth (Granta)
The
Dark Tower
Stephen King
(Hodder)
|
terbitan
Ketika
Tohari Menyelamatkan Lasi
Dodiek
Adyttya Dwiwanto
Tohari
memang lebih suka menulis tentang keseharian orang-orang kecil yang
tinggal di pedesaan. Gambaran tentang pegunungan, hamparan sawah yang
terbentang luas dan kicau burung yang berdendang menjadi pemanisnya.
Dalam bahasanya mendiang YB Mangunwijaya, Ahmad Tohari adalah sang novelis
spesialis kaum desa dengan segala drama kehidupannya.
selengkapnya
cerpen
Secangkir
Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok
Srengenge
"Tapi
kau berhenti berkekasih dan mengapa kaupilih binatang untuk mewakili
orang-orang yang kaucinta?" "Karena
bagi saya, cinta itu urusan gagasan, you know. Di dalam cinta kita mendapat
ekspresi yang paling kuat. Dan ekspresi itu saya gunakan untuk menyatakan
gagasan saya, semacam satir terhadap impian revolusi-sebuah utopi di
mana terkandung emosi, ambisi," ia peragakan tangan layaknya sedang
menggenggam kemaluan, pinggul dan pantatnya menghentak keras ke depan
ke belakang, "seperti birahi!" tandasnya.
selengkapnya
sajak
Berlin
Lily
Glroida Nababan
kau
masih disana dan tak berubah,
berlin....
kota
impian malam sepi...
gereja kaiser william tiga masih tegak tak bergeming
dengan
luka lama di pucuknya..
tatapanku padanya tak bergerak saat berdiri di pelataran
zoological
garten hauptbahnhof...
selengkapnya
novel
Dokter
Zhivago
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), terbitan Djambatan, Maret
1960
Selama
ia duduk di kereta api, bagi Yury seolah hanya kereta api yang berjalan,
seolah waktu berhenti dan hari masih tengah siang saja. Tapi sebetulanya
sudah sore benar, keritka keretanya jalan pelan-pelan dari stasiun
ke tengah khalayak ramai di Pelataran Smolensky. Entah
bagaimana sebenarnya, ataupun ingatan Yury teruruk oleh pengalaman
dari tahun-tahun lainnya, tapi sewaktu ia kelak mengenangkannya kembali
ia merasa bahwa khlayaka itu berkerumun di pasar hanyalah karena kebiasaan
belaka, bahwa sudah tak ada alasan untuk berda di sana, sebab toko-toko
di selubungi , bahkan tak dikunci , dan tak ada lagi yang dapat dibeli
atau dijual dipelataran kotor yang tak ada orang menyapanya lagi.
selengkapnya
proyek buku
Memoar
Orang Jalanan
ceritanet
©listonpsiregar2000
|