edisi 68
rabu 3 desember 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


buku
non-fiksi

Living to Tell the Tale
Gabriel Garxia Marquez, trans. by Edith Grossman
(Jonathan Cape)

Who Killed Daniel Pearl?
Bernard-Henry Levy
(Duckworth)

fiksi
The Radetzky March
Joseph Roth (Granta)

The Dark Tower
Stephen King
(Hodder)


terbitan Ketika Tohari Menyelamatkan Lasi
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Tohari memang lebih suka menulis tentang keseharian orang-orang kecil yang tinggal di pedesaan. Gambaran tentang pegunungan, hamparan sawah yang terbentang luas dan kicau burung yang berdendang menjadi pemanisnya. Dalam bahasanya mendiang YB Mangunwijaya, Ahmad Tohari adalah sang novelis spesialis kaum desa dengan segala drama kehidupannya.
selengkapnya

cerpen Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok Srengenge
"Tapi kau berhenti berkekasih dan mengapa kaupilih binatang untuk mewakili orang-orang yang kaucinta?" "Karena bagi saya, cinta itu urusan gagasan, you know. Di dalam cinta kita mendapat ekspresi yang paling kuat. Dan ekspresi itu saya gunakan untuk menyatakan gagasan saya, semacam satir terhadap impian revolusi-sebuah utopi di mana terkandung emosi, ambisi," ia peragakan tangan layaknya sedang menggenggam kemaluan, pinggul dan pantatnya menghentak keras ke depan ke belakang, "seperti birahi!" tandasnya.
selengkapnya

sajak Berlin
Lily Glroida Nababan
kau masih disana dan tak berubah,
         berlin....
                kota impian malam sepi...
gereja kaiser william tiga masih tegak tak bergeming
            dengan luka lama di pucuknya..
tatapanku padanya tak bergerak saat berdiri di pelataran
                     zoological garten hauptbahnhof...
selengkapnya

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), terbitan Djambatan, Maret 1960
Selama ia duduk di kereta api, bagi Yury seolah hanya kereta api yang berjalan, seolah waktu berhenti dan hari masih tengah siang saja. Tapi sebetulanya sudah sore benar, keritka keretanya jalan pelan-pelan dari stasiun ke tengah khalayak ramai di Pelataran Smolensky. Entah bagaimana sebenarnya, ataupun ingatan Yury teruruk oleh pengalaman dari tahun-tahun lainnya, tapi sewaktu ia kelak mengenangkannya kembali ia merasa bahwa khlayaka itu berkerumun di pasar hanyalah karena kebiasaan belaka, bahwa sudah tak ada alasan untuk berda di sana, sebab toko-toko di selubungi , bahkan tak dikunci , dan tak ada lagi yang dapat dibeli atau dijual dipelataran kotor yang tak ada orang menyapanya lagi.
selengkapnya



proyek buku
Memoar Orang Jalanan
ceritanet
©listonpsiregar2000