edisi 68
rabu 3 desember 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


sajak Berlin
Lily Glroida Nababan

kau masih disana dan tak berubah,
         berlin....
                kota impian malam sepi...
gereja kaiser william tiga masih tegak tak bergeming
            dengan luka lama di pucuknya..
tatapanku padanya tak bergerak saat berdiri di pelataran
                     zoological garten hauptbahnhof...

kau masih disana...
         satu dua bangunan baru tak membuat kau berganti rupa, berlin....
           kurfustendamm bermandi daun linden hijau cerah
             s-bahn melintasi friedrichstrasse
              menjelajahi sisa-sisa kenangan pahit
                   menyeberangi sungai spree
                            tinggalkan friedrich platz yang berdandan cerah menyambut
malam,
lalu menyusuri oranienburgstrasse
    yang sesak oleh gedung-gedung berdinding coklat,
         kumuh namun misterius...
 (ada yang menyisakan bekas bom di temboknya)
           ramai oleh kafe dan restoran di lantai dasarnya...

kau tak tampak lelah,
         berlin...
                kendati pejalan kaki kerap menjejaki petak-petak trotoar di sisi
jalan
                     bergegas dengan jaket tebal dan kedua tangan di dalam sakunya
                         melangkah pelahan hanya saat sinar matahari menyentuh hangat..

kau tampak cerah namun menggigilkan tubuh,
         berlin...
                begitu murung engkau di kala rinai hujan
                       namun tetap memukau ketika mata mengembara
                                ke pucuk-pucuk bangunan berwarna abu-abu, merah bata, coklat
muda......

aku tetap merindukanmu,
        berlin...
              hingga waktu berhenti berputar

april 28, 2003
Paritser Platz
(I can see Brandenburg Tor from my chair)

tulisan edisi 68

terbitan Ketika Tohari Menyelamatkan Lasi
Dodiek Adyttya Dwiwanto

cerpen Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok Srengenge

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000