sajak
Berlin
Lily
Glroida Nababan
kau masih disana dan
tak berubah,
berlin....
kota
impian malam sepi...
gereja kaiser william tiga masih tegak tak bergeming
dengan
luka lama di pucuknya..
tatapanku padanya tak bergerak saat berdiri di pelataran
zoological
garten hauptbahnhof...
kau masih disana...
satu dua bangunan
baru tak membuat kau berganti rupa, berlin....
kurfustendamm
bermandi daun linden hijau cerah
s-bahn
melintasi friedrichstrasse
menjelajahi
sisa-sisa kenangan pahit
menyeberangi
sungai spree
tinggalkan friedrich platz yang berdandan cerah menyambut
malam,
lalu menyusuri oranienburgstrasse
yang sesak oleh gedung-gedung berdinding coklat,
kumuh namun misterius...
(ada yang menyisakan bekas bom di temboknya)
ramai
oleh kafe dan restoran di lantai dasarnya...
kau tak tampak lelah,
berlin...
kendati
pejalan kaki kerap menjejaki petak-petak trotoar di sisi
jalan
bergegas
dengan jaket tebal dan kedua tangan di dalam sakunya
melangkah
pelahan hanya saat sinar matahari menyentuh hangat..
kau tampak cerah namun menggigilkan
tubuh,
berlin...
begitu
murung engkau di kala rinai hujan
namun
tetap memukau ketika mata mengembara
ke
pucuk-pucuk bangunan berwarna abu-abu, merah bata, coklat
muda......
aku tetap merindukanmu,
berlin...
hingga
waktu berhenti berputar
april 28,
2003
Paritser Platz
(I can see Brandenburg Tor from my chair)