edisi 67
selasa 18 november 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Esok paginya Yury tidur sampai siang, bangun lewat pukul sebelas. "Prince, Prince," tetangganya dengan lembut memanggil anjingnya yang tak senang., Yury heran bahwa di kompartemen masih hanya mereka sendiri saja; tidak ada penumpang lain yang masuk.

Propinsi Kaluga sudah lewat, mereka sudah sampai di Propinsi Moskow. Nama stasiun-stasiun sudah di kenal Yury sejak kecil.

Ia cuci muka dan cukur dengan komfor dari sebelum perang dan kembali pada waktunya dalam kompartemen untuk sarapan yang ditawarkan padanya oleh kawannya yang aneh itu. Sekarang ia dapat lebih jelas melihatnya.

Yang paling mengesankan ialah bahwa ia suka sekali omong dan tak sesaatpun tenang. Ia senang bicara dan yang paling disukainya bukanlah menghubungkan serta menukar pikiran, melainkan fungsi percakapan sendiri, yakni melafaskan kata-kata dan mengeluarkan bunyi. Sambil bicara ia selalu melonjak-lonjak seakan berpegas; ketawanya membisingkan dan tanpa alasan, ia menggaruk-garuk tangan dengan cepat sekali dan apabila segala hal lainnya tak sanggup mengutarakan perasaannya, ia memukul lututnya keras-keras, ketawa bergoncang-goncang sampai memekik.

Dalam percakapannya ada keganjilan seperti semalam. Anehnya, ia tidak konsekuen; sekali ia berbuat pengakuan yang tak diminta, sekali ia tak menjawab pertanyaan yang paling tidak berarti. Diobralkannya hal-hal tentang dirinya sendiri yang bukan-bukan dan tak ada hubungannya. Barangkali ia sedikit bohong; tapi pastilah ia ingin mengesankan dengan pendirian-pendiriannya yang keluar batas dan dengan mengingari apa saja yang sudah menjadi pendapat umum.

Semua itu mengingatkan Yury pada sesuatu. Begitulah suasana radikal daei kaum nihilis pada abad terakhir dan agak kemudian dari beberapa tokoh Dostoyewsky; lebih dekat lagi ke zaman sekarang, suasana anak cucu mereka sendiri, yakni para intelektural propinsial yang sering mendahaului ibukota-ibukota, karena mempertahankan kesungguhan hati yang oleh kota-kota besar dianggap kolot.

Pemuda itu menceritakan bahwa ia kemenakan seorang revolusioner terkemuka, tapi orang tuanya sudah terlanjur reaksioner, orang-orang pra-sejarah menurut istilahnya. Merka punya tanah milik besar di sebuah distrik yang kini berdekatan dengan medan perang. Di situlah si anak muda dibesarkan. Seumur hidup orang tuanya bermusuhan dengan pamannya, tapi pamannya tak betah dan kini menggunakan pengaruhnya untuk menghindarkan mereka dari banyak kesusahan.

tulisan edisi 67

cerpen Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok Srengenge

terbitan Istriku
Martin Siregar

komentar Nyata; Preman Ancam Negara
Deny Suwarja

sajak Entah
Hendri Kremer

ceritanet
©listonpsiregar2000

Pendiriannya sendiri tak ubahnya dengan pendirian pamannya; dalam segala hal ia seorang ekstrimis, dalam hidup, politik, maupun kesenian. Inipun mengingatkan Yury pada Peter Verkhovensky*, bukan karena kirinya, melainkan karena kebobrokan dan bombasmenya. "Nanti ia sebut dirinya seorang futuris," pikir Yury dan memanglah percakapan beralih ke futurisme. "Berikut soal olah raga, pacuan kuda, gelanggang skat atau gulat Perancis," tapi sebenarnya dibicarakan hal tembak menenbak.

Pemuda itu telah berburu dekat rumahnya. Ia penembak berpengalaman, ujarnya bangga; andaikan tak ada penyakit jasmani yang menghalangi dia masuk tentara, pastilah ia ternama sebagai penembak ulung. Menangkap pandangan Yury yang ingin tahu, berserulah ia: "Tuan tak melihat apa-apa? Saya sangka tuan telah menerka cacat saya."

Diambilnya dua kartu dari kantong yang diulurkannya pada Yury. Yang selembar kartu pengenalannya. Ia mempunyai dua nama majemuk, yaitu Maxim Aristakhovich Klintsov Pogorevshikh, atau Pogorevshikh saja, begitu ia minta Yury memanggilnya untuk menghormati pamannya yang memiliki nama itu.

Kartu lainnya terbagi dalam persegi-persegi dan dalam tiap persegi bergambar dua tangan yang ditangkupkan secara berlainan, pun jari-jarinya dilipat dengan cara aneka ragam. Itulah abjad untuk orang bisu tuli. Mara teranglah segala-galanya. Pogorevshikh adalah murid yang berbakat luar biasa dari sekolah Hartman atau Ostrogadov, seorang bisu tuli yang mencapai kesempurnaan tak terduga dalam hal berbciara tidak dengan mendengar, melainkan dengan melihat dan memperhatikan otot-otot kerongkongan guru-gurunya, metode inipn memungkinkan dia mengerti ucapan orang lain.

Dengan menjalinkan ceritanya tantang daerah asalnya, dan tentang pemburuannya, berkatalah Yury:

"Maaf, kalau kurang patut dan tuanpun tak usah menjawab. Apa ada hubungan tuan dengan pembentukan Republik Zabushino?

"Bagaimana tuan bisa menerka? Tuan kenal Blazheiko? Ya, ya! Memang ada hubungan itu," Pogorevshikh berceloteh ketawa, menggoncangkan seluruh tubuhnya dan memukul-mukul lututunya.

Pogorevshikh mengatakan bahwa Blazheiko adalah kedoknya dan Zabushino kesempatan setempat untuk mengejar cita-citanya sendiri. Yury tak selalu dapat mengikuti uraian filsafatnya yang agaknya campuran anarkisme dengan kebohongan seorang pemburu belaka.

Tak tergugat bagi orakel, diramalkannya akan ada perobahan-perobahan penuh bencana di Rusia dalam masa sangat dekat. Secara pribadi Yury mengakui bahwa ini bukanb arang mustahil, tapi ia dibuat geram oleh keseombongan anak sekolah yang tak sedap yang ada pada segala keterangannya.

"Tunggu," ujarnya secara menguji. "Semua ini mungkin benar yang tuan katakan itu bisa terjadi. Tapi saya pikir, dengan segala hal yang berlaku sekarang, kekacauan, disintegrasi, tekanan dari musuh, bukanlah saatnya untuk memulai percobaan-percobaan yang berbahaya. Tanah air mesti mengatasi satu perubahan lebih dulu sebelum terjun dalam perubahan lain. Perlu damai dan tertib dulu."

"Itu pernyataan yang naif sekali," kata Pogorevshikh. "Yang tuan sebut kekacauan itu adalah keadaan biasa seperti ketertiban yang tuan dambakan. Segala pemusnahan ini adalah taraf yang tepat dan wajar dari rencana pembinaan yang luas,. Masyarakat belum cukup mengalamai disintengrai. Harus pecah berantakan lalu pemerintahan revolusioner yang murni akan menyusun kembali pecahan-pecahan itu atas dasar yang baru sama sekali."

Yury mual. Ia masuk gang.

Kereta api yang tambah kencang itu mendekati Moskow, larinya lewat hutan-hutan berk penuh vila musim panas. Peron-peron kecil tak beratap dengan banyak laki-laki dan perempuan di atasnya terayun jauh ke samping dalam kepulan debu, berpusing seperti di atas jentera. Kereta api membunyikan peluit berulang-ulang dan gema geram seperti suling mengerang di hutan bersama peluit itu.

Tiba-tiba pertama kali selama berhari-hari, Yury sadar sejelas-jelasnya dimana ia berada, apa yang terjadi dengannya dan apa menantinya sejurus lebih sedikit dari sedikit jam lagi.

Tiga tahun penuh percobaan, gerakan, ketidak-tentuan, keruntuhan, perang, revolusi, adegan pembinasaan, aegan maut, penggranatan, jembatan yang diledakkan, kebakaran, reruntuhan, kosong, tandus. Kejadian nyata yang pertama sejak selingan panjang itu ialah kepulangannya penuh pusingan dengan kereta api ini dan pengetahuan bahwa rumahnya masih aman, masih ada di suatu tempat dengan tiap batu sekecil-kecilnya yang disayanginya. Inilah soal hidup, ini pengalaman, inipun yang dicari petualang, yang digagas oleh seniman, pulang ke keluarga ke diri sendiri, pembaruan hidup.

Kereta api lolos dari kerimbunan daun-daun, masuk ke lapangan terbuka. Padang landai naik dari lembah sampai ke tanggul yang lebar. Padang ini digoresi horisontal oleh banyak persemaian kentang hijau tua; di seberangnya, di puncak tanggul ada kotak-kotak penangas dari kaca. Menghadap ke lapangan di belakang ekor kereta api yang berbelok-belok, mendung muram merah menutup separoh langit; sinar matahari menembusnya, berpencaran bagai jari-jari roda dengan cerlang tak tertahankan mengkilat di kaca kota penangas.

Sekonyong-konyong hujan lebat hangat, berpendaran dalam cahaya surya, jatuh dari mendung tadi. Hujan ini sama pesatnya dengan kereta api yang laju, menghantam bantalan rel serta mengguruh di atasnya, seolah takut ketinggalan dan hendak mengejar.

Baru saja Yury melihatnya, nampaklah Gereja Kristus Sang Juruselamat** di atas punggung bukit dan sesaat kemudian dilihatnya berbagai kubah, cerobong asap, atap serta rumah rumah di kota.

"Moskow," kata Yury kembali ke kompartemen. "Kini saat berkemas."

Pogorevshikh meloncat mencari-cari dalam tas perburuannya dan mengeluarkan seekor bebek gemuk. "Ambillah," ujarnya, "sebagai tanda mata. Jarang saya mendapat kawan yang menyenangkan seperti tuan."

Bantahan Zhivago sia-sia. Akhirnya berkatalah ia. "Baiklah saya terima sebagai hadiah untuk istri saya dari tuan."

"Bagus, bagus, istri tuan," dengan riangnya Pogorevshikh mengulanginya terus, seakan didengarnya kata itu pertama kalinya; ia meloncat dan ketawa berkali-kali sampai Princepun melompat serta ikut bergembira.

Kereta api masuk stasiun,. Kompartemen jadi gelap, seakan sudah malam. Si bisu tuli menggeluarkan bebek liarnya yang terbungkus dalam kertas koran yang lebar.
***
*Tokoh dalam sebuah novel Dostoyevsky
**Gerje Santa Juruselamat yang menandai Moskow dibangun guna memperingati Perang Napoleon dan berdiri di tengah kota. Dirombak sehabis revolusi, hendak diganti dengan Istana Soviet yang sampai sekarang belum dibangun.