"Orang tua saya
telah mengalami, betapa nestapa hidup di bawah tirani pemerintah komunis.
Mula-mula ayah saya yang berpaling ke Cekoslovakia. Ingat, saat itu
Ceko dan Slovakia masih satu negara. Ayah melihat percik api di sana,
melihat harapan. Revolusi Beludru, you know, juga apa yang disebut
orang dengan gemilang, Musim Semi Praha. Kebebasan mulai bersembulan
bagai pucuk-pucuk daun. Muda dan bertenaga. Ayah saya ingin melibatkan
diri dalam pembentukan surga baru itu. Maka, secara diam-diam ia tinggalkan
nerakanya di Moskwa. Kedatangan kami diterima masyarakat di sini karena
Ayah ikut berjuang melawan invasi Rusia. Ayah saya percaya, badai salju
tak akan mampu menghalangi geliat musim semi. Dan ungkapan itu tak keliru.
Hanya dalam waktu satu kuartal, sejak penjarahan Rusia, seorang pemuda
menjadikan dirinya 'suluh nomor satu', mengguyur badan dengan bensin
dan menyalakan latu, demi mengobarkan Cekoslovakia dari ancaman rasa
putus asa. Setiap pribadi di negeri ini jadi menyadari, betapa sebagai
bangsa, mereka bisa terseka dari peta dunia. Jan Palach pemuda itu,
21 tahun, you know, saya menghormatinya melebihi ayah saya."
Api sang martir agaknya terus menyala dalam diri Vladimir.
"Bagaimana kalau
kita cari makan?"
"O, Alias Estwo, hari ini saya bukan saja bertemu dengan tamu istimewa,
lebih dari itu saya berjumpa dengan seorang saudara." Vladimir
mengangkat botol rakia, "Bukankah kita telah sepakat merayakannya?
Bagaimana kalau aku memasak untukmu? Tapi, maaf, saya seorang vegetarian
murni. Saya tidak makan keju dan tidak minum susu. Kecuali susu kedelai,
ya. Di rumah hanya ada roti, selai nanas dan strawberry, olive, dan
sedikit sayuran. Cukup untuk berdua. Suka sayur?"
"Oya," jawabku sekenanya. Sudah bisa kubayangkan bagaimana
rasa makanan yang bakal ia hidangkan. Kurang merangsang. Tapi, selain
tak sopan menampik maksud baik, aku penasaran ingin melihat tempat tinggalnya,
ingin tahu gaya hidupnya.
Segera kami tinggalkan
plaza, memasuki lorong penuh orang, melewati toko-toko pakaian, bar,
tempat biliar, patung batu seorang santu, perempuan gelandangan dekil
memangku dua ekor anjing mungil sambil menadahkan tangan mengharap uang
kecil, gedung opera, rumah hiburan penari telanjang, lantas berkelok
ke gang yang lengang, dan dua blok kemudian kami berhenti di depan sebuah
rumah kusam.
"Sudah sampai,"
katanya. Ia membuka pintu dan menyalakan lampu. Ia rogoh sesuatu dari
dalam saku jaketnya dan ia lempar ke atas kursi busa yang telah koyak.
Sebuah boneka katak. Tanpa mempersilakan aku masuk, langkahnya terus
mengertap di atas lantai kayu menuju ruang belakang. Kujejakkan kakiku
ke ruang tamu dan seketika perhatianku dibetot oleh berlusin boneka
binatang yang bergelantungan di dinding.
"Ke mari, brother,
saya ingin tunjukkan sesuatu padamu," ia mengundangku sambil menyalakan
lampu di ruang lain yang pintunya terbuka. Kamar tidurnya. Serakan buku,
onggokan pakaian kotor, ranjang bersprai kusut masai. "Lihat,"
tangannya mengembang ke sederetan boneka binatang yang terpajang di
samping dan belakang ranjang. Kucing, kelinci, kera, kura-kura, burung,
beruang, rusa..... "Mereka semua adalah mantan kekasih saya."
Ada nada bangga dalam suaranya. Kuperhatikan lebih cermat para kekasih
itu, pada masing-masing lehernya melingkar kalung kertas bertuliskan:
Rose, Evaluna, Virginia, Olivskaya, Lauren, Ursula, Tamina, Ivanka,
Onile, Nanette.
"Masih berhubungan dengan mereka?"
"O, come on. Saya bilang mantan. Tak ada lagi hubungan. Cukup.
Saya hanya butuh sepuluh dan huruf pertama nama mereka harus sesuai
dengan urutan yang saya tetapkan."
Kuamati lagi tiap
huruf pertama dan urutan nama mereka: R-E-V-O-L-U-T-I-O-N. Unik juga,
pikirku. Kubayangkan betapa rumit menemukan sepuluh gadis yang masing-masing
namanya diawali dengan huruf sebagaimana kita maui, bagaimana menjadikannya
kekasih, kapan memutuskan hubungan agar bisa berkencan dengan gadis
yang punya nama sesuai nomor urut berikut, dan seterusnya. Gila! Namun,
sebelum aku bertanya tentang maksud di balik pilihan dan urutan huruf
itu, Vladimir, seakan tahu isi kepalaku, menerangkan lebih dulu. Kali
ini diawali dengan nada datar dan suara gemetar, "Kalau kau hidup
di negeri ini, my brother, kau akan senantiasa merasa seperti sedang
jatuh cinta. Jantungmu akan selalu berdebar. Darahmu mengarus antara
harapan di bagian hulu dan kecemasan di hilir nadimu. Di sini orang
pernah mengagungkan revolusi, tapi di mana pun, revolusi tak lebih lama
ketimbang musim birahi. Bergolak, sepenuh rindu-dendam, sudah itu: padam!"
Sejenak Vladimir terdiam.
Ia tengadahkan wajah ke lelangit kamar, lalu kembali berujar, "Setelah
saya hentikan kedunguan saya sebagai pelukis, saya coba merenung, mencari
ekspresi jitu yang mampu mewakili kondisi negeri ini. Saya melihat setiap
orang telah menjelma boneka. Ya, boneka-boneka yang bermimpi tentang
revolusi, yang jantungnya berdebaran antara harapan dan kecemasan. Saya
anggap boneka bisa mewakili ungkapan saya. Tapi saya berpikir, bagaimana
ungkapan itu tetap artistik dan asyik, karena, bagi saya, seni adalah
keasyikan. Dan kau tahu, brother, saya berhasil memecahkannya dengan
ke-ka-sih. Tak ada yang mengasyikkan melebihi kekasih." Ia dekati
boneka-boneka binatang itu, ia elus satu per satu.
bersambung
"Tapi kau berhenti berkekasih
dan mengapa kaupilih binatang untuk mewakili orang-orang yang kaucinta?"