edisi 67
selasa 18 november 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


cerpen Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok Srengenge

Ngawur arek ini, kataku dalam hati. Tiba-tiba Vladimir menjawil lenganku dan melangkah lebih dulu.

"Kau penikmat sastra, my brother, dan Praha menyebut dirinya city of literature, you know. Saya harus membawamu ke jantungnya. Lihat di sana!" Ia menuding sebuah museum yang cekli mempesona, bekas tempat tinggal Kafka, tepat ketika aku melangkah di sampingnya.
"Sudah tiga kali aku mengunjunginya."
"Tapi tetap akan kautemu sesuatu yang baru di situ."
"Tapi ada banyak tempat lain yang belum kutahu."

Vladimir sedikit berpaling. Kepalanya yang plontos, dengan kerut pada tengkuk dan kening, tampak serupa figur-figur perunggu Juan Munoz, jika dilihat dari samping. Dan matanya, ah, ia pengidap insomnia, pelupuk bawahnya mengendur tanda tak cukup tidur. Kubiarkan ia melangkah dan terus melangkah. Sengaja kubikin jarak yang cukup darinya, agar aku dapat mengamatinya lebih leluasa. Ia berhenti di depan sebuah prasasti di mana bergolekan kuntum-kuntum kembang. Lebih tujuh menit, kiraku, ia elus batu peringatan itu dengan pandangan sendu. Kemudian ia membungkuk, membetulkan letak kembang yang terserak, lalu berlutut dan menggumamkan entah apa.

Tak hanya sekali kusaksikan pemandangan seperti ini. Saban hari orang-orang berduyun datang, meletakkan kembang dan berdoa, untuk seorang pemuda yang membakar diri pada penghabisan Musim Semi Praha. Tapi, Vladimir Barakovsky melaksanakan upacaranya dengan gaya berbeda. Ia buka botol rakia, ia tuang sedikit ke dalam tutupnya. Sambil mengucapkan keras-keras sejumlah kata dari bahasa Ceko (di telingaku terdengar bagai kredo), tangan kiri mengangkat botol tinggi-tinggi dan tangan kanan mengucurkan cairan rakia ke batu prasasti. Ia melakukan semacam toast, kiraku.

Sempoyongan Vladimir menegakkan badan, setangkai magnolia terselip di sela-sela jemari tangan kanannya, "O, my brother, meski terlambat, saya mengucapkan selamat, karena komunisme telah jadi fosil di negerimu." Ia berikan padaku kembang itu. Kutepuk bahunya perlahan sebagai isyarat untuk meneruskan perjalanan.

tulisan edisi 67

terbitan Istriku
Martin Siregar

komentar Nyata; Preman Ancam Negara
Deny Suwarja

sajak Entah
Hendri Kremer

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

"Orang tua saya telah mengalami, betapa nestapa hidup di bawah tirani pemerintah komunis. Mula-mula ayah saya yang berpaling ke Cekoslovakia. Ingat, saat itu Ceko dan Slovakia masih satu negara. Ayah melihat percik api di sana, melihat harapan. Revolusi Beludru, you know, juga apa yang disebut orang dengan gemilang, Musim Semi Praha. Kebebasan mulai bersembulan bagai pucuk-pucuk daun. Muda dan bertenaga. Ayah saya ingin melibatkan diri dalam pembentukan surga baru itu. Maka, secara diam-diam ia tinggalkan nerakanya di Moskwa. Kedatangan kami diterima masyarakat di sini karena Ayah ikut berjuang melawan invasi Rusia. Ayah saya percaya, badai salju tak akan mampu menghalangi geliat musim semi. Dan ungkapan itu tak keliru. Hanya dalam waktu satu kuartal, sejak penjarahan Rusia, seorang pemuda menjadikan dirinya 'suluh nomor satu', mengguyur badan dengan bensin dan menyalakan latu, demi mengobarkan Cekoslovakia dari ancaman rasa putus asa. Setiap pribadi di negeri ini jadi menyadari, betapa sebagai bangsa, mereka bisa terseka dari peta dunia. Jan Palach pemuda itu, 21 tahun, you know, saya menghormatinya melebihi ayah saya." Api sang martir agaknya terus menyala dalam diri Vladimir.

"Bagaimana kalau kita cari makan?"
"O, Alias Estwo, hari ini saya bukan saja bertemu dengan tamu istimewa, lebih dari itu saya berjumpa dengan seorang saudara." Vladimir mengangkat botol rakia, "Bukankah kita telah sepakat merayakannya? Bagaimana kalau aku memasak untukmu? Tapi, maaf, saya seorang vegetarian murni. Saya tidak makan keju dan tidak minum susu. Kecuali susu kedelai, ya. Di rumah hanya ada roti, selai nanas dan strawberry, olive, dan sedikit sayuran. Cukup untuk berdua. Suka sayur?"
"Oya," jawabku sekenanya. Sudah bisa kubayangkan bagaimana rasa makanan yang bakal ia hidangkan. Kurang merangsang. Tapi, selain tak sopan menampik maksud baik, aku penasaran ingin melihat tempat tinggalnya, ingin tahu gaya hidupnya.

Segera kami tinggalkan plaza, memasuki lorong penuh orang, melewati toko-toko pakaian, bar, tempat biliar, patung batu seorang santu, perempuan gelandangan dekil memangku dua ekor anjing mungil sambil menadahkan tangan mengharap uang kecil, gedung opera, rumah hiburan penari telanjang, lantas berkelok ke gang yang lengang, dan dua blok kemudian kami berhenti di depan sebuah rumah kusam.

"Sudah sampai," katanya. Ia membuka pintu dan menyalakan lampu. Ia rogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya dan ia lempar ke atas kursi busa yang telah koyak. Sebuah boneka katak. Tanpa mempersilakan aku masuk, langkahnya terus mengertap di atas lantai kayu menuju ruang belakang. Kujejakkan kakiku ke ruang tamu dan seketika perhatianku dibetot oleh berlusin boneka binatang yang bergelantungan di dinding.

"Ke mari, brother, saya ingin tunjukkan sesuatu padamu," ia mengundangku sambil menyalakan lampu di ruang lain yang pintunya terbuka. Kamar tidurnya. Serakan buku, onggokan pakaian kotor, ranjang bersprai kusut masai. "Lihat," tangannya mengembang ke sederetan boneka binatang yang terpajang di samping dan belakang ranjang. Kucing, kelinci, kera, kura-kura, burung, beruang, rusa..... "Mereka semua adalah mantan kekasih saya." Ada nada bangga dalam suaranya. Kuperhatikan lebih cermat para kekasih itu, pada masing-masing lehernya melingkar kalung kertas bertuliskan: Rose, Evaluna, Virginia, Olivskaya, Lauren, Ursula, Tamina, Ivanka, Onile, Nanette.
"Masih berhubungan dengan mereka?"
"O, come on. Saya bilang mantan. Tak ada lagi hubungan. Cukup. Saya hanya butuh sepuluh dan huruf pertama nama mereka harus sesuai dengan urutan yang saya tetapkan."

Kuamati lagi tiap huruf pertama dan urutan nama mereka: R-E-V-O-L-U-T-I-O-N. Unik juga, pikirku. Kubayangkan betapa rumit menemukan sepuluh gadis yang masing-masing namanya diawali dengan huruf sebagaimana kita maui, bagaimana menjadikannya kekasih, kapan memutuskan hubungan agar bisa berkencan dengan gadis yang punya nama sesuai nomor urut berikut, dan seterusnya. Gila! Namun, sebelum aku bertanya tentang maksud di balik pilihan dan urutan huruf itu, Vladimir, seakan tahu isi kepalaku, menerangkan lebih dulu. Kali ini diawali dengan nada datar dan suara gemetar, "Kalau kau hidup di negeri ini, my brother, kau akan senantiasa merasa seperti sedang jatuh cinta. Jantungmu akan selalu berdebar. Darahmu mengarus antara harapan di bagian hulu dan kecemasan di hilir nadimu. Di sini orang pernah mengagungkan revolusi, tapi di mana pun, revolusi tak lebih lama ketimbang musim birahi. Bergolak, sepenuh rindu-dendam, sudah itu: padam!"

Sejenak Vladimir terdiam. Ia tengadahkan wajah ke lelangit kamar, lalu kembali berujar, "Setelah saya hentikan kedunguan saya sebagai pelukis, saya coba merenung, mencari ekspresi jitu yang mampu mewakili kondisi negeri ini. Saya melihat setiap orang telah menjelma boneka. Ya, boneka-boneka yang bermimpi tentang revolusi, yang jantungnya berdebaran antara harapan dan kecemasan. Saya anggap boneka bisa mewakili ungkapan saya. Tapi saya berpikir, bagaimana ungkapan itu tetap artistik dan asyik, karena, bagi saya, seni adalah keasyikan. Dan kau tahu, brother, saya berhasil memecahkannya dengan ke-ka-sih. Tak ada yang mengasyikkan melebihi kekasih." Ia dekati boneka-boneka binatang itu, ia elus satu per satu.
bersambung

"Tapi kau berhenti berkekasih dan mengapa kaupilih binatang untuk mewakili orang-orang yang kaucinta?"