Ruangan yang tadinya
sepi itu tiba-tiba menjadi seperti di terminal, penuh suara tawa bekakan
dan umpatan-umpatan kotor. Sempat saya mendengar pengakuan bahwa mereka
adalah tim sukses dari pejabat tersebut yang untuk kedua kalinya mencalonkan
jadi pejabat.
Saya melihat, mengamati,
dan menyimpulkan bahwa mereka sangat berpengaruh di ruangan pejabat
itu. Semua staf kantor sepertinya amat ketakutan pada mereka. Ekspresi
ketakutan yang terpancar dari wajah mereka, atau perilaku otomoatis
untuk selalu menepi atau miris bila melewati mereka.
Dengan pongahnya keempat pria berwajah seram tadi keluar masuk kantor
staf pejabat itu tanpa ada yang berani mencegah. Karena penantian cukup
lama, salah seorang dari mereka akhirnya tidur di atas sofa dengan lelapnya
dengan berselonjor. Sementara sosok yang satunya terus nyerocos tanpa
henti.
***
Akhirnya karena kesal
menunggu, si pimpinannya membangunkan temannya yang tertidur. Bersamaan
dengan itu, muncul lagi 3 orang tambahan dengan penampilan tidak jauh
berbeda dari rombongan pertama.
Saya merasalah aroma
suasana yang makin menyeramkan. Sempat terlintas untuk keluar dari ruangan
dan membatalkan janji yang telah diagendakan oleh ajudan sang pejabat.
Tapi isteri saya tetap bertahan.
Tiba-tiba sosok yang tertidur dan dibangunkan oleh pimpinannya bangkit
berdiri. Dari mulutnya keluar kata-kata kotor, yang semakin terdengar
dramatis karena bermunculan bebas pada saat bulan puasa. Ia bersungut-sungut
marah, dan masuk ke ruang staf. Dia memaksa untuk segera masuk bertemu
pejabat. Seluruh staf tidak berdaya dan dengan bebas akhirnya mereka
masuk ke dalam ruangan pejabat itu.
Kami yang sudah menunggu sekitar tiga setengah jam, terpaksa menunggu
lebih lama lagi karena giliran kami diserobot. Namun, hati kami sedikit
terhibur ketika ajudan pejabat tersebut dengan simpatik dan penuh rasa
penyesalan meminta maaf atas kejadian tersebut. Dia mengatakan maklum
banyak orang seperti itu, dan merek tidak berdaya atas kehadiran mereka.
Mereka bukan tim sukses pejabat itu, tapi preman.
Ketika kami sedang berbincang dengan ajudan tersebut, masuklah ke ruangan
salah seorang Kepala Seksi Kabupaten, yang dipanggil sehubungan dengan
kehadiran saya di kantornya. Si ajudan dan si Kepala Seksi tersebut
kemudian membahas kelakukan para preman tersebut, yang nyatanya --menurut
mereka-- sangat sering datang ke kantor-kantor pemerintahan dan mengatasnamakan
organisasi LSM atau kepemudaan untuk minta 'jatah.' Mereka, kata ajudan
dan Kepala Seksi tadi, tidak akan meninggalkan kantor kalau belum mendapat
jatah, atau kalaupun meninggalkan kantor pastilah ada sesuatu ruangan
yang pecah!
***
Setelah beberapa
lama kemudian rombongan preman tersebut akhirnya keluar dari ruangan
dengan wajah yang jauh lebih ramah. Entah apa yang dibicarakan, tapi
jelas wajah-wajah seram tadi menjadi penuh senyum. Bahkan saat berpamitan
mereka sempat memberi salam. Rasa puas terpancar dari wajah mereka,
seperti anak saya yang baru diberi uang jajan untuk membeli 'cilok'
(makanan ringan dari tepuk tapioka). Riang gembira, setengah
berlari penuh keceriaan
Saya menggumam dalam hati, "Ah, kirain kata-kata teman saya bahwa
preman menguasai negara hanya bualan belaka! Ternyata dengan mata kepala
sendiri saya melihatnya, hari ini!
***