edisi 67
selasa 18 november 2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


komentar Nyata; Preman Ancam Negara
Deny Suwarja

Masih ingat kasus pemukulan wartawan Tempo beberapa waktu lalu? Atau keputusan menggusur kantor Tempo oleh pengadilan beberapa waktu lalu? Salah seorang teman sempat mengirim SMS kepada saya;"begitulah jadinya kalau negara dikuasai oleh...." Kebetulan hari itu saya sedang ikut berkunjung ke Istana Negara dan tidak sempat menyimak berita di koran atau TV.

Namun siangnya saya baru mengerti maksudnya, yaitu pengadilan memutuskan penggusuran kantor Tempo. Baru saya mengerti maksud dari SMS. Saya menangkap pesan yang lebih luas dari SMS itu; bahwa ternyata negara Indonesia telah dikuasai oleh preman.

Dan itu terjadi di semua tingkat negara. Saya ingat kembali pengalaman ketika mencoba menghadap pejabat di daerah. Menarik sekaligus bikin hati miris.

Hari itu saya dan perwakilan dari satu desa di sebuah Kabupaten sedang menunggu panggilan menghadapi seorang pejabat. Penantian di lantai 2 gedung Kabupaten itu sangat membosankan, karena sudah 3 jam kami menunggu, dan belum juga dipanggil. Tapi berhubung sangat perlu dan mendesak, dengan sangat terpaksa akhirnya saya meneruskan penantian tersebut. Sambil merasakan rasa kantuk dan lapar di hari pertama puasa.
***

Tiba-tiba dari tangga, muncul wajah-wajah seram yang berperut buncit, dengan tangan bertato. Wajahnya kotor, lusuh dan mata beringas. Jumlah mereka ada 4 orang. Satu memakai jaket kulit, satu berkaos oblong bergambar kepala singa, dan satu lagi berkaos lengan panjang warna merah bertuliskan Ice Cream Meiji.

Salah seorang dari mereka, yang tampaknya pimpinan mereka, bertubuh gempal, padat berisi. Dia tanpa permisi, apalagi sopan santun, langsung duduk di sofa. Padahal di sofa tersebut telah duduk dua orang tua, satu berusia 70-an tahun dan satunya lagi sekitar 60-an. Dengan enaknya, dia menyandar pada si Kakek, dan nyerocos ngomong tak karuan. Penuh kata-kata jorok. Sepertinya dia lagi ngeboat!

Si kakek hanya bisa tersenyum pahit dan tak berdaya.

tulisan edisi 67

cerpen Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok Srengenge

terbitan Istriku
Martin Siregar

sajak Entah
Hendri Kremer

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

Ruangan yang tadinya sepi itu tiba-tiba menjadi seperti di terminal, penuh suara tawa bekakan dan umpatan-umpatan kotor. Sempat saya mendengar pengakuan bahwa mereka adalah tim sukses dari pejabat tersebut yang untuk kedua kalinya mencalonkan jadi pejabat.

Saya melihat, mengamati, dan menyimpulkan bahwa mereka sangat berpengaruh di ruangan pejabat itu. Semua staf kantor sepertinya amat ketakutan pada mereka. Ekspresi ketakutan yang terpancar dari wajah mereka, atau perilaku otomoatis untuk selalu menepi atau miris bila melewati mereka.

Dengan pongahnya keempat pria berwajah seram tadi keluar masuk kantor staf pejabat itu tanpa ada yang berani mencegah. Karena penantian cukup lama, salah seorang dari mereka akhirnya tidur di atas sofa dengan lelapnya dengan berselonjor. Sementara sosok yang satunya terus nyerocos tanpa henti.
***

Akhirnya karena kesal menunggu, si pimpinannya membangunkan temannya yang tertidur. Bersamaan dengan itu, muncul lagi 3 orang tambahan dengan penampilan tidak jauh berbeda dari rombongan pertama.

Saya merasalah aroma suasana yang makin menyeramkan. Sempat terlintas untuk keluar dari ruangan dan membatalkan janji yang telah diagendakan oleh ajudan sang pejabat. Tapi isteri saya tetap bertahan.

Tiba-tiba sosok yang tertidur dan dibangunkan oleh pimpinannya bangkit berdiri. Dari mulutnya keluar kata-kata kotor, yang semakin terdengar dramatis karena bermunculan bebas pada saat bulan puasa. Ia bersungut-sungut marah, dan masuk ke ruang staf. Dia memaksa untuk segera masuk bertemu pejabat. Seluruh staf tidak berdaya dan dengan bebas akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan pejabat itu.

Kami yang sudah menunggu sekitar tiga setengah jam, terpaksa menunggu lebih lama lagi karena giliran kami diserobot. Namun, hati kami sedikit terhibur ketika ajudan pejabat tersebut dengan simpatik dan penuh rasa penyesalan meminta maaf atas kejadian tersebut. Dia mengatakan maklum banyak orang seperti itu, dan merek tidak berdaya atas kehadiran mereka. Mereka bukan tim sukses pejabat itu, tapi preman.

Ketika kami sedang berbincang dengan ajudan tersebut, masuklah ke ruangan salah seorang Kepala Seksi Kabupaten, yang dipanggil sehubungan dengan kehadiran saya di kantornya. Si ajudan dan si Kepala Seksi tersebut kemudian membahas kelakukan para preman tersebut, yang nyatanya --menurut mereka-- sangat sering datang ke kantor-kantor pemerintahan dan mengatasnamakan organisasi LSM atau kepemudaan untuk minta 'jatah.' Mereka, kata ajudan dan Kepala Seksi tadi, tidak akan meninggalkan kantor kalau belum mendapat jatah, atau kalaupun meninggalkan kantor pastilah ada sesuatu ruangan yang pecah!
***

Setelah beberapa lama kemudian rombongan preman tersebut akhirnya keluar dari ruangan dengan wajah yang jauh lebih ramah. Entah apa yang dibicarakan, tapi jelas wajah-wajah seram tadi menjadi penuh senyum. Bahkan saat berpamitan mereka sempat memberi salam. Rasa puas terpancar dari wajah mereka, seperti anak saya yang baru diberi uang jajan untuk membeli 'cilok' (makanan ringan dari tepuk tapioka). Riang gembira, setengah berlari penuh keceriaan

Saya menggumam dalam hati, "Ah, kirain kata-kata teman saya bahwa preman menguasai negara hanya bualan belaka! Ternyata dengan mata kepala sendiri saya melihatnya, hari ini!

***