Anak- anak itu bepesta
pora. Tapi setelah itu aku jadi korban cerewet istriku. Pasti anak-anak-anak
aubiarkan lagi mengambil jambu. Lihat !! Halaman rumah jadi kotor. Sekarang
ambil sapu lidi, kau yang sapu semua ini. Cepat! Aku seakan jadi pesakitan
yang tak kuasa bela diri. Aku bagaikan kerbau dicucuk hidung saja, patuh
seratus persen terhadap garis komando yang keluar dari mulut istriku.
Anak anak itu sudah tak tahu lagi
bahwa bos-nya ternyata punya atasan yang berdisiplin tegas. Dia adalah
Mamak si Jati, istriku tercinta. Dan mereka sama seperti aku yang sudah
tak ngerti lagi sejarahnya kenapa menyebut aku yang gendut ini dengan
jabatan 'Bos.' Tapi, yang jelas aku memang demen juga menyebut semua
orang dengan kata 'Bos.' Kepada anak-anak, para muda, tukang sayur yang
lewat rumah, bapak, ibu baik dalam pembicaraan basa-basi atau ngobrol
panjang. Pasti kata Bos keluar dari mulutku Mungkin ini yang lengket
di mulut banyak orang ketika bertemu aku.
Sambil iseng pernah juga ku tanya
gadis Ipah yang dulunya panggil aku Om. Katanya memang badan Om besar
layaknya seorang Bos. "Oh, begitu," tanggapku. Karena ini
bukan sesuatu yang prinsipil maka semua pihak bebas merdeka menyebut
aku Bos. Aku tidak keberatan walaupun isi kantongku bertolak belakang
dengan isi kantong seorang Bos.
Pada minggu pertama
jambu berbuah, Bu Nizir biasanya ke rumah. 'Mak Jati, boleh beli jambunya,'
begitu dia biasanya mengawali. 'Silahkan bu...Bu Nizir,' itu jawaban
klise yang diputar ulang sang isteri. Bu Nizir masih berani memanjat
jambu untuk dibikin manisan dibungkus plastik untuk dijual kepada anak-anak.
Patokan harga jambu tak ada. Ada bapak yang bawa goni besar hanya kasih
duit Rp 5000.- Padahal goninya penuh sesak.
Waktu bu Lina datang
bawa goni yang sama dengan isi yang sama banyaknya, ternyata beratnya
19 kilo dan harganya di pasaran Rp 1.300 per kilonya. Bu Lina membayar
Rp 10.000.- Ya oke juga. Hal ini tidak menjadi persoalan, kami memang
sudah bertekad bahwa pohon jambu ini bukan untuk cari duit. Jambu air
untuk bantu keluarga keluarga pedagang kecil seputaran rumah.
Tapi, hal ini sering
disalah tafsirkan. Sekali, si Tompel anak SD kelas 3 datang ke rumah
jam sepuluh pagi. "Mak Jati, mamak minta jambu," katanya
to the point. Kemarin kan sudah minta, kenapa sekarang minta lagi?
Akh agak bussyet juga. Dengan lancar dia lanjut saja:"Kata mamak
nanti siang mau ke rumah bibi di kota baru. Mamak mau bawa jambu air
ke sana." Kurang ajar! Awak yang punya jambu dia yang berpesta.
"Bilang sama mamak, jambu tak boleh diambil, titik," terdengar
suara Mak Jati. Kali ini nadanya tidak bersahabat. Tompel angkat kaki
dengan langkah seribu, membiarkan istriku geram naik darah dengan emosi
melambung.
Di musim yang lalu,
kami tak mau menerima uang dari para ibu yang minta jambu. Ini justru
membuat mereka jadi tidak berani meminta jambu. Kami segan karena kami
minta bukan untuk dimakan, tapi untuk diolah jadi manisan untuk dijual
kembali. Jadi, wajarlah kalau kami harus membeli. Istriku mendengar
kabar dari ibu ibu waktu belanja pagi. Berita itulah yang mendasari
kami mengambil kebijakan keluarga untuk menjual jambu tersebut kepada
orang orang tertentu. Sedangkan untuk ibu yang minta hanya sekantong
kecil kebijakan menjual ditiadakan.
Upacara ngerumpi sore
haripun akan berubah kalau sedang panen jambu. Bu Gimin akan datang
sambil menenteng dua buah nenas besar yang belum dikupas. Lalu Bu Yanti
muncul melengkapi group dengan kedondong dan bengkuang. Bu Nurul hadir
pula dengan keakhlian khususnya, ahli 'menggiling cabe.' Bu Linda bertugas
membuat minuman. Pokoknya peralatan dapur pindah mendadak ke teras depan
rumah. Semua heboh mengolah buah-buahan sambil terus mengdiskusikan
perkembangan kerja sama mereka dengan PKM. Tak ketinggalan limun es
batu dan gelas gelas menambah hiruk-pikuk di beranda depan rumah.
Sementara itu anak
anak bermain macam cacing kepanasan. Naik sepeda kecil roda tiga seputar
tempat merujak. Kadang bertengkar. Ada yang jatuh kemudian main ayunan,
saling dorong. Acara tambahan ini merupakan music back ground
acara pokok
kaum ibu kelompok cilik itu. Serentak bermainnya para anak-anak, diskusi
para ibu jalan terus.
Pak guru samping rumah
yang baru saja melangsungkan perkawinan kemarin, sudah ambil cangkokan
jambu air. Dia yang punya perhatian terhadap tanaman akan tanam jambu
air cangkokan di samping pohon pisang dan kedodong yang di bonsay, katanya.
Tangannya memang manjur soal bercocok tanam. Lantas,kawan kawannya sesama
guru yang sering main ke rumah sudah tanpa beban saja ambil jambu kami.
Mereka sudah paham bahwa kami tak keberatan kalau jambu ini dikeroyok
ramai-ramai. Bahkan mungkin mereka tahu kami sangat gembira kalau saja
jambu air dapat menggembirakan banyak orang. Apakah jambu airnya juga
gembira sama seperti kami? Ah! Itu pertanyaan personifikasi yang berlebihan
barangkali kan?
Sudah ada lima orang kawan pak guru
yang juga mencangkok jambu air ini. Belum termasuk Nekwan, Bu Riska,
Pak Linus, bu Hamdani, Bu Panjaitan, dll, dll. Kenapa upacara mencangkok
ini populer sekali di rumah kami? Ternyata usut punya usut, rupanya
jambu air yang ditanam oleh Nekpur pernah diminta cangkok oleh tetangga.
Walaupun hasilnya tak sehebat jambu air kami para pencangkok harus membayar
Rp10.000. Nekpur mata duitan, kata istriku sinis. Nekwan juga marah
ketika dia dengan penuh kekeluargaan pernah minta mencangkok. Dipikirnya
tak bayar, ternyata bayar. Maka dihujatnya Nekpur: "Nanti dikutuk
Tuhan dia tu." Aku terhenyak. "Ah, jangan begitu Nekwan, masya
gara gara jambu mengutuk orang."
Lalu aku mencoba memberikan sepotong
nasihat kepada orang tua itu. Ternyata tidak juga langsung berterima,
demikian isteriku. "Habis, minta itu saja harus bayar. Itu kan
jahat?" Begitu Nekwan membela diri. Istriku senyum senyum manis
waktu menceritakan petikan kisah Nekwan itu.
Di samping makanan iseng, jambu
air manjur juga melancarkan urusan ke toilet, alias urusan belakang.
Pernah satu malam aku begadang keasyikan membaca dan mulut kepingin
nguyah sesuatu. Kulihat di kulkas ada jambu air yang disimpan Mak Jati
untuk dikasih sama Susan besok pagi di rumah sakit Santo Antonius. Jambu
air inilah sasaran mulutku tengah malam. Kuhabiskan enam buah yang besar
sampai perut terasa padat.
Besok paginya belum ada air dan
makan yang masuk perut, aku langsung menuju kamar mandi. Buka celana,
jongkok santai menghisap rokok, plek,plek plek, seluruh isi perut rasanya
marathon ke hole one, perut terasa ringan dan nyaman. Baru saja
selangkah keluar dari kamar mandi terdengarlah radio rusak alias sapaan
mesra istriku: "Kenapa kau habiskan jambu yang mau kuantar ke Susan?
Dasar! Cepat ambil lagi jambu dari pohon, satukan dengan yang kausisakan
di kulkas. Lalu masukkan dalam palstik besar."
Maka akupun tak begitu mampu lagi
menikmati kepuasan perutku. Garis komando jauh lebih penting dari pada
kenikmatan perut. Penglamanku beol pasca jambu air sama dengan pak Dheo.
Cita citanya setelah makan banyak jambu adalah agar dapat 'ke belakang'
yang nikmat. Nikmat sekali, itu makanya setiap malam selera atau tidak
selera enam buah jambu air harus masuk perutku dengan damai. Agar besok
pagi cita cita waktu 'ke belakang', tercapai...
***