sajak
Entah
Hendri
Kremer
Terkadang sepi seperti
menikam, terkadang seperti mau bertandang ke demensi lain. Meski tidak
berjamah yang pasti aku bukan siapa-siapa lagi. Datang tak diundang
meski sengatan semakin dalam. Bunuh mimpi dalam kenangan, duduk berhadapan.
Bertanya, kebingungan, karena terlalu banyak orang pandai berkata-kata.
Pekan ini, bunga merekah.
Tak, tau telah seminggu aku mengungguli. Cuman pasti, aku begitu seda
dan sunyi. Tenggorokanku kering, hawa panas meringis. Ku caci alam ini,
namun tak kutemui.
Bila teringat susah
di sana sini. Mungkin aku bukan manusia lagi. Dimanakah ku kini, berdiri
dalam mimpi atau sepi. Tak mungkin lagi, bait ini kutulis tanpa pikir
dan renungan di hati. Yang kutahu hanya mengalir, tanpa arti. Bukan
hanya sekian kali, tapi beribu kali.
Mungkin manusia terlahir
untuk tidak berdiri di bumi, tapi untuk menggapai mimpi para pendahulu
yang tak kunjung sampai. Teringat aku, kisah mertuaku, Mestinya, hidup
iku mati dalam wayang yang selalu bergoyang. Mengikuti irama dalam sekam,
mesti mati dalam arti hidup. Perenungan bukan ketegangan, perenungan
adalah bait diri. Mungkin berminggu-minggu, mungkin berbulan-bulan,
atau mungkin bertahun-tahun menjalankan hidup ini.
Cemara di depan rumah,
kering sebagian tak kuhiraukan dulunya. Tapi, kini ia tumbuh menunjukan
diri. Mengakui kehadirannya. Aku tercenung sebentar. Indah rupanya,
di mana aku berdiri seperti aku lupa sekililingku, ada tumbuhan yang
melindungi. Rumah pertamaku kutanami dengan pohon jambu air, entah kini
sudah tumbuh besar dan subur, mungkin?
Kutinggalkan semuanya,
setelah bumi ini gonjang-ganjing tak menentu. Aku tinggalkan semuanya,
termasuk diriku yang lama dan tak menyatu. Mencari lagi, tak berhenti
mengulang kata. Kemana aku kau bawa kini, dingin
,
gumamku.
Manik-manik pantulan
lautan di selat Phillip yang berbatas langsung dengan Singapura terhampar
dari kejauhan. Terlempar aku, kala itu kau dengan dingin senyum berbagi
memeluku tanda kasih. Cinta yang tak pernah kau temui, cinta yang berkecamuk
dari hati, sedih, sendiri, sepi, dan mati.
Terus kita lalui,
sampai akhirnya kita menangis kehilangan mutiara di hati. Terkubur dalam
bayangan indah kilatnya semangat. Kau dan aku tidak akan pernah mati
entah apa pun bahasanya kini, yang pasti gelayut di sukmaku tak pernah
pergi. Kembalikan manik-manik itu lagi.
Dengan tulus
diriku mencintai, itu ucapmu yang terdalam. Aku tergurai, terbelah,
tertunduk, tertampar, terpukul, dan seketika itu aku sadari aku tidak
bernyawa untuk sesaat ini. Butuh kekuatan untuk menjawab. Entah kenapa,
harus kulalui lorong ini. Mungkin harusnya kita tak pernah mau tinggal
di bumi. Mestinya, kita berdua dan mutiara bahagia di demensi lain lagi.
***