Ada
banyak nama perempuan di dalam telepon genggamnya, sebagian besar didapatnya
dari kenalan di chatting sehabis kerja dan itu biasanya di atas pukul
02.00. Kadang, habis chatting ia juga nelepon wanita itu. Ada yang di
Singapura, Medan, Bandung, Jakarta, atau di Banjarmasin sendiri. Tapi
untuk di Banjarmasin ia sangat jarang. Ia lebih menyukai kenalan dengan
wanita yang jauh, kalau perlu di luar negeri. Bahasa Inggrisnya juga
lumayan jago. Ia ngobrol ngalor ngidul, kebanyakan ia bercerita tentang
dirinya sendiri. Tentang pekerjaannya, tentang temannya, tentang keluarganya,
tentang perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya, atau cuma tentang
kesepian malam-malamnya.
Ia
memang cukup pandai ngobrol. Lawan bicaranya selalu dibikin betah dengan
bicara dan candanya. Terlebih lagi bila ia bicara tentang bagaimana
wanita yang harus menjadi calon istrinya. Dan biasanya, wanita memang
suka bila membicarakan sesamanya, dan mungkin karena itu pula setiap
wanita yang diteleponnya betah saja mendengar ocehannya.
I
can't help myself
I've got to see you again
Saat
lagu Norah Jones, I've Got to See You Again di side B itu mengalun,
jam sudah pukul dua belas malam. Pekerjaannya masih belum selesai. Ia
juga semakin gelisah memandang setiap sepuluh menit telepon genggamnya
yang tak juga berderit. Seorang perempuan yang diharapkannya SMS atau
menelepon, tak jua terkabul. Telepon mungil itu masih tergeletak rapi
di sisi keyboard komputernya, seperti batu.
Malam-malam
yang lewat, di saat ia sangat mengharapkan ada SMS atau telepon dari
wanita yang diharapkannya, atau wanita mana saja dari belahan dunia
ini, ternyata yang SMS adalah teman kantornya sendiri yang menanyakan
tentang pekerjaan. Padahal di hati ia sudah bersorak gembira ketika
telepon genggamnya berderit. Dan saking kesalnya, SMS-SMS yang tak diharapkan
itu sengaja tak dibalasnya.
Ia
lebih sering membayangkan SMS itu dari wanita yang mengajaknya kenalan,
atau malah kencan.
Eh,
sedang ngapain? aku lagi kesepian nih, datang dong ke Motel B, kamar
243
Ia
tersenyum sendiri merangkai isi SMS itu yang diharapkannya masuk ke
dalam telepon genggamnya. Dan setiap membayangkan itu, ia pun melirik
lagi ke telepon genggamnya yang masih saja membatu. Kadang ia elus-elus
telepon genggamnya, atau malah didekap, dan sedetik itu ia kembali berharap
ada SMS masuk atau telepon sehingga dia bisa merasakan getaran telepon
genggamnya itu. Namun, khayalan-khayalan itu seringkali gagal. Dan telepon
genggamnya kembali tergeletak diam seperti biasa di samping kiri keyboard-nya.
Memang,
pacarnya ada kala menelpon. Tapi itu dianggapnya berbeda bila SMS atau
suara di seberang sana adalah dari kerongkongan perempuan yang tak dikenalnya.
Atau dikenalnya tapi ia belum pernah bertemu secara tatap mata. Ia memang
sering terobsesi juga dengan suara-suara perempuan di dalam telepon.
Menurutnya, suara perempuan itu lebih indah didengar dengan tanpa harus
bertatapan langsung dengan si pemilik suara. Sebab itu pula mengapa
ia gemar menelepon teman-teman perempuannya yang kenal lewat chatting
semalam.
Ia
tahu, teleponnya jarang juga dihubungi oleh rekan kerjanya. Kendati
begitu, kemana-mana telepon genggam itu selalu dibawa-bawa, sekalipun
ke dalam WC. Saat di WC ini khayalannya semakin liar lagi. Keseringan
ia sambil menelepon wanita, atau setidaknya berharap ada telepon dari
wanita entah siapa saja.
***
Sudah
hampir pukul dua dini hari. Kegelisahannya terus memuncak. Tampak berbeda
dengan malam-malam sebelumnya, kali ini ia terlihat semakin suntuk meski
pekerjaan sudah rampung. Ia putar kencang-kencang lagu Metallica terbaru,
St. Anger, lewat tape sambil menggebuk-gebuk mejanya sendiri dengan
mata yang tetap tak pernah lepas dari telepon genggamnya yang masih
saja terbujur kaku. Ia terus berharap ada perempuan entah dari mana
saja yang tiba-tiba mengirimkan SMS atau telepon salah sambung. Ia ingin
menggodanya dan bahkan kalau perlu mengajaknya kencan. Ketika telepon
genggamnya hanya diam membatu, ia semakin kesal dan marah. Gebukan tangannya
semakin keras sampai lagu berakhir.
Ia
tampak menyandar lelah di kursinya. Matanya masih terpaku pada telepon
genggamnya yang kali ini menampilkan wujud aslinya sebagai benda mati.
Tergeletak kaku tanpa berderit sekali pun jua. Sebentar dia rapikan
mejanya yang tampak berantakan. Ia bersiap-siap pulang, atau mungkin
di jalan nanti bisa saja dia akan berbelok ke bar. Dengan malas diraupnya
telepon genggamnya sambil bangkit dari kursi menuju keluar.
Sebelum
menutup pintu ruang kerja, ia terpaku sejenak. Lantas menimang-nimang
telepon genggamnya, tampak ada kebimbangan. Sejenak seulas senyum tersungging
di bibir tebalnya, dan sedetik kemudian dicemplungkannya telepon genggamnya
ke dalam akuarium yang tergelak di samping pintu. Senyumnya kini semakin
mekar. Sambil bersiul, ia melenggang keluar.
Bipp
Bipp
.Bipp
..
***
Banjarmasin, Oktober 2003