edisi 66
rabu 5 november2003

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list


cerpen Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok Srengenge

"Maaf, my brother, kembalilah ke bumi," kata lelaki itu sambil menggoyang-goyang rokoknya di depan mataku. Lalu ia sodorkan tangan kanan sebagai isyarat perkenalan, "Saya Vladimir. Vladimir Barakovsky."

Sambil tersipu kusambut perkenalan itu, "Alias. Alias Estu."
"Aa, Elias....," ia berusaha meniru ucapanku.
"A-lias. Pakai /A/, bukan /E/."
"Aa, I see, Alias Astwo."
"Estu, sekarang pakai /E/, bukan /A/."
"/A/ and /E/, Alias Estwo, it sounds good. Whatever. Tapi mengapa kau melamun, my brother?"
"Mungkin karena rokok ini, membuatku terkenang pada tanah kelahiran."
"Really? Aa, dekat Bali, ya? Maaf, apa namanya tadi? Say again, please!"
"In-do-ne-si-a."
"That's it. Saya tidak pernah terkenang pada tanah kelahiran. Sudah lupa. Saya lahir di Moskwa, tapi ketika saya masih kecil, lima atau enam tahun, saya ikut orang tua saya bermigrasi ke Brno. Kurang-lebih tujuh bulan sebelum invasi Rusia ke negeri ini. Aa, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"

Aku diam saja, tapi kuturuti juga langkahnya. Langkah yang sedikit limbung yang tentu saja bukan karena saku jaket panjangnya yang, entah apa isinya, menggembung. Menyusuri lorong-lorong di antara deretan gedung-gedung tua, di mana para pedagang kaki lima menjajakan aneka cindurmata. Mataku tergoda oleh benda-benda logam yang tertayang dalam kotak kaca: korek api, paples, jam tangan, timang ikat pinggang-semua berlambang palu-arit bersilang. Dan seperti seorang guide, Vladimir menerangkan barang-barang yang sedang kuperhatikan.

"Konsumsi para turis, brother. Dulu para pedagang di sini cukup mengulaknya dari dalam negeri. Sekarang persediaan kian menipis. Sebagian harus mereka impor dari eks-Jerman Timur. Sama dengan sistem pemerintahan komunis, orang sini tak memerlukannya lagi. Mau beli?"
Kugelengkan kepala, "Di negeriku pun tak ada gunanya."
"Kenapa tidak? Kualitasnya cukup bagus."
"O, maksudku, barang-barangnya tentu saja berguna, andai tanpa lambang jelek itu." Kuucapkan anak kalimat terakhir dengan setengah berbisik, agar si penjual tak mendengar, seraya kucolek tangan Vladimir sebagai ajakan untuk melanjutkan perjalanan. Ia terbahak, beberapa orang menoleh ke arah kami, tapi Vladimir tak peduli.
"Di negerimu komunisme telah jadi fosil, ha?" ujarnya setelah bahaknya mereda. "Tidak di sini. Kau tahu, brother, negeri ini pernah menjadi bagian penting sistem besar itu. Sekarang segalanya telah berubah, tapi komunisme belum sepenuhnya mati. Hanya tidak populer lagi."

Tiba-tiba ditariknya aku ke sebuah tikungan. Gang yang kemudian kami lalui sedikit lebih lebar, lebih banyak orang berlalu-lalang, memandangi etalase-etalase yang seakan berlomba merebut perhatian, atau keluar-masuk kafe dan bar. Beberapa langkah di depan kami terhampar sebuah plaza dengan kios-kios di seputar tepiannya. "Lihat, brother." Dan aku melihat seorang gadis bermata sayu bersandar pada pilar batu, memandang ke kejauhan seakan sedang menunggu seseorang.

"Hei, bukan yang itu, brother, yang itu!" Telunjuk Vladimir mengarah ke sederet huruf kuning-C o m m u n i s t C a f e-pada selembar spanduk merah yang membentang sekitar dua meter di atas kepala gadis itu. "Aa, boleh minta sebatang rokok lagi? Saya akan menggantinya dengan minuman istimewa," katanya.

Sebelum sempat aku memenuhi permintaannya, Vladimir telah menggelandangku memasuki kafe itu. Sebuah ruangan yang bersahaja dengan bangku-bangku dan meja-meja kayu tua, di bagian ujung melingkar sebuah bar, di atasnya bermacam gelas bergelantungan pada para-para, botol-botol minuman di rak belakang, dan pada tiga sisi dinding-kiri-kanan dan depan-terpampang poster-poster besar para dedengkot komunisme dunia: Karl Marx, Lenin, Stalin, Mao Tse-tung, Kim Il-sung, Fidel Castro, juga Che Guevara. Sebuah kedai minum yang murung dengan hanya sedikit pengunjung. Di salah satu pojokan, di bawah lampu yang menyala remang, seorang lelaki tua menghadapi segelas bir dan secawan roti panggang sambil mengisi teka-teki silang. Di dekat jendela yang menghadap plaza, sepasang muda-mudi, mungkin sepasang kekasih yang sedang marahan, hanya duduk diam berhadapan, tanpa makanan ataupun minuman. Selebihnya, seorang bartender berbadan kerempeng memaksakan senyum keramahan kepada Vladimir yang entah bicara apa kepadanya, dan seorang pemetik gitar yang dengan suara menyayat melantunkan lagu-lagu rakyat setempat.
Kami meninggalkan tempat itu setelah Vladimir mendapatkan sebotol minuman dalam bungkusan kertas buram. Ia keluarkan botol itu dan menunjukkannya kepadaku, "Lihat, brother, ini rakia. Minuman rakyat, khas Bulgaria."

"Kau lihat gadis di kafe tadi?" tanyaku.
"Gadis? Aa, ya, sepintas. Kenapa?"
"Nasibnya akan lebih baik jika ia hidup di negaraku. Ia bisa jadi pemain sinetron."
"Pemain... what? Say again, please!"
"Si-ne-tron, itu akronim yang ngawur dari sinema elektronik, semacam opera sabun di televisi."
"Aa, I see, that sounds good. Kau punya mata yang cerdas dalam menilai perempuan. Whatever. To hell with the fucking movie star! Ke arah sini."

Kami berbelok ke kiri. Toko-toko sudah menutup pintu. Kafe-kafe sudah menyalakan lampu. Kulirik arloji, jam enam lewat tiga belas menit. Langit benderang. Tak ada lagi taburan serbuk salju, tinggal jejaknya membasah di jalan-jalan batu. Kutatap gereja tua di sudut plaza. Aku tahu, pada jam-jam tertentu, dari puncak menaranya terdengar lonceng berkeleneng dan jendela di bawahnya akan membuka, lalu muncul karikatur Kristus beserta para muridnya, the twelve apostles, seakan mereka sedang melintas di sebuah balkon sembari melambaikan tangan kepada sekelimun domba. Kukira orang-orang yang menyaksikan adegan itu, sebagaimana aku, tak merasakan getaran magis yang menyentuh rasa keimanan, kecuali kelucuan dari parodi tentang sebabak dongeng Kristiani. Entah terbuat dari apa boneka-boneka itu, sepintas tampak tak beda dengan figur-figur Marionette, juga mengingatkanku pada Pulcinella dan wayang golek Asep Sunarya. Di sudut lainnya, seorang lelaki tua tekun mencangkung di bawah tenda, menjaga dan menjaja lempeng-lempeng gobang, uang logam usang, di mana tertatah huruf dan tanda.

"Tunggu," pintaku. Vladimir menunda langkah, menoleh. "Seorang penyair di negeriku, penulis yang dihormati, mungkin pernah mendapat ilham di sini."
"Really? Apa katanya?"
"Ia menulis di sebuah puisi, begini: huruf-huruf gemerincing bagai uang logam."
"And then?"
"Selebihnya semacam solilokui tentang kali bawah tanah, mimpi yang terselip, cahaya yang raib."
"Aa, rahasia. Misteri, maksud saya."
"Juga tentang payudara, arus birahi, denyut kelentit, maut yang menguntit. Kukira ia sedang menduga cinta."
"He's a genius! Uang, misteri, cinta. Amazing! Bukankah cinta memang misterius dan sakral, mungkin juga profan, terutama jika dikaitkan dengan uang, okay? No money no honey, haha!"
***

bersambung
Ngawur arek ini, kataku dalam hati. Tiba-tiba Vladimir menjawil lenganku dan melangkah lebih dulu. "Kau penikmat sastra, my brother, dan Praha menyebut dirinya city of literature, you know.

tulisan edisi 66

cerpen Menunggu HP Berderit
Sandi Firly

laporan Novel Tanpa Huruf R; Potret Masyarakat Yang Sakit
Harry Mulyawan

laporan Mengapa Karen Armstrong Meninggalkan Biara
Nigar Pandrianto

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000