cerpen
Secangkir
Kopi Untuk Vladimir Barakovsky
Sitok
Srengenge
"Maaf,
my brother, kembalilah ke bumi," kata lelaki itu sambil menggoyang-goyang
rokoknya di depan mataku. Lalu ia sodorkan tangan kanan sebagai isyarat
perkenalan, "Saya Vladimir. Vladimir Barakovsky."
Sambil
tersipu kusambut perkenalan itu, "Alias. Alias Estu."
"Aa,
Elias....," ia berusaha meniru ucapanku.
"A-lias. Pakai /A/, bukan /E/."
"Aa, I see, Alias Astwo."
"Estu, sekarang pakai /E/, bukan /A/."
"/A/ and /E/, Alias Estwo, it sounds good. Whatever. Tapi mengapa
kau melamun, my brother?"
"Mungkin karena rokok ini, membuatku terkenang pada tanah kelahiran."
"Really? Aa, dekat Bali, ya? Maaf, apa namanya tadi? Say again,
please!"
"In-do-ne-si-a."
"That's it. Saya tidak pernah terkenang pada tanah kelahiran. Sudah
lupa. Saya lahir di Moskwa, tapi ketika saya masih kecil, lima atau
enam tahun, saya ikut orang tua saya bermigrasi ke Brno. Kurang-lebih
tujuh bulan sebelum invasi Rusia ke negeri ini. Aa, bagaimana kalau
kita jalan-jalan?"
Aku
diam saja, tapi kuturuti juga langkahnya. Langkah yang sedikit limbung
yang tentu saja bukan karena saku jaket panjangnya yang, entah apa isinya,
menggembung. Menyusuri lorong-lorong di antara deretan gedung-gedung
tua, di mana para pedagang kaki lima menjajakan aneka cindurmata. Mataku
tergoda oleh benda-benda logam yang tertayang dalam kotak kaca: korek
api, paples, jam tangan, timang ikat pinggang-semua berlambang palu-arit
bersilang. Dan seperti seorang guide, Vladimir menerangkan barang-barang
yang sedang kuperhatikan.
"Konsumsi para turis, brother. Dulu para pedagang di sini
cukup mengulaknya dari dalam negeri. Sekarang persediaan kian menipis.
Sebagian harus mereka impor dari eks-Jerman Timur. Sama dengan sistem
pemerintahan komunis, orang sini tak memerlukannya lagi. Mau beli?"
Kugelengkan kepala, "Di negeriku pun tak ada gunanya."
"Kenapa tidak? Kualitasnya cukup bagus."
"O, maksudku, barang-barangnya tentu saja berguna, andai tanpa
lambang jelek itu." Kuucapkan anak kalimat terakhir dengan setengah
berbisik, agar si penjual tak mendengar, seraya kucolek tangan Vladimir
sebagai ajakan untuk melanjutkan perjalanan. Ia terbahak, beberapa orang
menoleh ke arah kami, tapi Vladimir tak peduli.
"Di negerimu komunisme telah jadi fosil, ha?" ujarnya setelah
bahaknya mereda. "Tidak di sini. Kau tahu, brother, negeri
ini pernah menjadi bagian penting sistem besar itu. Sekarang segalanya
telah berubah, tapi komunisme belum sepenuhnya mati. Hanya tidak populer
lagi."
Tiba-tiba
ditariknya aku ke sebuah tikungan. Gang yang kemudian kami lalui sedikit
lebih lebar, lebih banyak orang berlalu-lalang, memandangi etalase-etalase
yang seakan berlomba merebut perhatian, atau keluar-masuk kafe dan bar.
Beberapa langkah di depan kami terhampar sebuah plaza dengan kios-kios
di seputar tepiannya. "Lihat, brother." Dan aku melihat
seorang gadis bermata sayu bersandar pada pilar batu, memandang ke kejauhan
seakan sedang menunggu seseorang.
"Hei, bukan yang itu, brother, yang itu!" Telunjuk Vladimir
mengarah ke sederet huruf kuning-C o m m u n i s t C a f e-pada selembar
spanduk merah yang membentang sekitar dua meter di atas kepala gadis
itu. "Aa, boleh minta sebatang rokok lagi? Saya akan menggantinya
dengan minuman istimewa," katanya.
Sebelum
sempat aku memenuhi permintaannya, Vladimir telah menggelandangku memasuki
kafe itu. Sebuah ruangan yang bersahaja dengan bangku-bangku dan meja-meja
kayu tua, di bagian ujung melingkar sebuah bar, di atasnya bermacam
gelas bergelantungan pada para-para, botol-botol minuman di rak belakang,
dan pada tiga sisi dinding-kiri-kanan dan depan-terpampang poster-poster
besar para dedengkot komunisme dunia: Karl Marx, Lenin, Stalin, Mao
Tse-tung, Kim Il-sung, Fidel Castro, juga Che Guevara. Sebuah kedai
minum yang murung dengan hanya sedikit pengunjung. Di salah satu pojokan,
di bawah lampu yang menyala remang, seorang lelaki tua menghadapi segelas
bir dan secawan roti panggang sambil mengisi teka-teki silang. Di dekat
jendela yang menghadap plaza, sepasang muda-mudi, mungkin sepasang kekasih
yang sedang marahan, hanya duduk diam berhadapan, tanpa makanan ataupun
minuman. Selebihnya, seorang bartender berbadan kerempeng memaksakan
senyum keramahan kepada Vladimir yang entah bicara apa kepadanya, dan
seorang pemetik gitar yang dengan suara menyayat melantunkan lagu-lagu
rakyat setempat.
Kami meninggalkan tempat itu setelah Vladimir mendapatkan sebotol minuman
dalam bungkusan kertas buram. Ia keluarkan botol itu dan menunjukkannya
kepadaku, "Lihat, brother, ini rakia. Minuman rakyat,
khas Bulgaria."
"Kau
lihat gadis di kafe tadi?" tanyaku.
"Gadis? Aa, ya, sepintas. Kenapa?"
"Nasibnya akan lebih baik jika ia hidup di negaraku. Ia bisa jadi
pemain sinetron."
"Pemain... what? Say again, please!"
"Si-ne-tron, itu akronim yang ngawur dari sinema elektronik, semacam
opera sabun di televisi."
"Aa, I see, that sounds good. Kau punya mata yang cerdas
dalam menilai perempuan. Whatever. To hell with the fucking movie
star! Ke arah sini."
Kami berbelok ke kiri. Toko-toko sudah menutup pintu. Kafe-kafe sudah
menyalakan lampu. Kulirik arloji, jam enam lewat tiga belas menit. Langit
benderang. Tak ada lagi taburan serbuk salju, tinggal jejaknya membasah
di jalan-jalan batu. Kutatap gereja tua di sudut plaza. Aku tahu, pada
jam-jam tertentu, dari puncak menaranya terdengar lonceng berkeleneng
dan jendela di bawahnya akan membuka, lalu muncul karikatur Kristus
beserta para muridnya, the twelve apostles, seakan mereka sedang
melintas di sebuah balkon sembari melambaikan tangan kepada sekelimun
domba. Kukira orang-orang yang menyaksikan adegan itu, sebagaimana aku,
tak merasakan getaran magis yang menyentuh rasa keimanan, kecuali kelucuan
dari parodi tentang sebabak dongeng Kristiani. Entah terbuat dari apa
boneka-boneka itu, sepintas tampak tak beda dengan figur-figur Marionette,
juga mengingatkanku pada Pulcinella dan wayang golek Asep Sunarya. Di
sudut lainnya, seorang lelaki tua tekun mencangkung di bawah tenda,
menjaga dan menjaja lempeng-lempeng gobang, uang logam usang, di mana
tertatah huruf dan tanda.
"Tunggu,"
pintaku. Vladimir menunda langkah, menoleh. "Seorang penyair di
negeriku, penulis yang dihormati, mungkin pernah mendapat ilham di sini."
"Really? Apa katanya?"
"Ia menulis di sebuah puisi, begini: huruf-huruf gemerincing bagai
uang logam."
"And then?"
"Selebihnya semacam solilokui tentang kali bawah tanah, mimpi yang
terselip, cahaya yang raib."
"Aa, rahasia. Misteri, maksud saya."
"Juga tentang payudara, arus birahi, denyut kelentit, maut yang
menguntit. Kukira ia sedang menduga cinta."
"He's a genius! Uang, misteri, cinta. Amazing! Bukankah
cinta memang misterius dan sakral, mungkin juga profan, terutama jika
dikaitkan dengan uang, okay? No money no honey, haha!"
***
bersambung
Ngawur arek
ini, kataku dalam hati. Tiba-tiba Vladimir menjawil lenganku dan melangkah
lebih dulu. "Kau penikmat sastra, my brother, dan Praha menyebut
dirinya city of literature, you know.